RSS

TARBIYAH RUHIYYAH (1)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ikhwah sekalian, pada tahun ke-4 kenabian saat beberapa sahabat Rasulullah SAW dalam suasana “bercanda” sesama mereka, turun ayat yang menegur mereka:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦)
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al-Hadid: 26).
Ini adalah peringatan dini kepada para sahabat yang baru 4 tahun berIslam, karena memang generasi yang akan dibentuk adalah pondasi dari seluruh bangunan Islam yang kita nikmati sampai hari ini, juga adalah generasi yang kuat dari seluruh aspeknya. Ciri utama generasi ini yang menggabungkan kekuatan fisik, kekuatan ruh/iman dan dan pikiran adalah focus yang sangat tajam pada orientasi/tujuan, dan itulah makna khusyu’ yang sebenarnya. Kalau kita melihat ayat yang menegur para sahabat yang dalam suasana bercanda itu menunjukkan bahwa Allah swt ingin agar “sifat kelemahan” ini tidak ada pada generasi yg akan menjadi pondasi bangunan dakwah ini. Belumkah dating saatnya..
Jadi yang dimaksud khusyu’ adalah:
الخُشُوعُ : اَلاِتِّصَالُ الدَّائِمُ بِاللهِ الَّذِي هُوَ غَايَتُنَا (الِاتِّصَالُ الدَّائِمُ بِالْهَدَفِ)
Ketersambungan yang terus-menerus dg Allah swt yang menjadi tujuan kita.
Jadi ada semacam “sense of direction” (perasaan terarah yang terus menerus disertai dg ketekunan, kesungguhan untuk menjadi semua proses mencapai tujuan. Jadi khusyu’ tidak ditandai dengan tampilan yang menunjukkan kita adalah orang yang terus menerus “menunduk”, tetapi ia adalah ingatan yang terus menerus kepada Allah ta’ala, kepada akhirat, kepada tujuan akhir yang membuat kita terus menerus mendapat energy untuk bekerja tanpa henti.
Oleh sebab itu, kalau kita ingin mendefinisikan tarbiyah ruhiyyah dari maraji’ ikhwaniyyah, dan juga turats (warisan) tarbiyah ruhiyyah dari ulama kita yang mereka mengambilnya dari Al-Quran dan Sunnah maka secara sederhana tarbiyah ruhiyyah adalah:
التربية الروحية : فَنُّ الصُّعُوْدِ الْمُسْتَمِرِّ فِي عَالَمِ الْكَمَالِ الْإِنْسَانِيِّ
Seni untuk mendaki secara terus menerus di alam kesempurnaan manusiawi.
Jadi kita ini ibarat mendaki gunung, dan gunung ini gunung kesempurnaan kita sebagai manusia. Proses pendakian itu adalah proses yang terus menerus, semakin kita naik semakin berat situasinya karena oksigennya makin sedikit, bebannya makin banyak. Itu sebabnya Imam Syahid menyebutkan bahwa diantara manusia hanya sedikit yang beriman, dan diantara yang beriman hanya sedikit yg beramal, dan diantara yg beramal hanya sedikit yang berdakwah, dan diantara yang berdakwah itu hanya sedikit yg sabar, dan diantara yang sabar itu hanya sedikit yang benar-benar sampai ke akhir perjalanan. Itu menunjukan bahwa semakin ke atas semakin mengerucut dan semakin sedikit anggotanya. Oleh karena itu Abu Bakar berdoa:
اللَّهُمَّ اْجْعَلْنِي مِنَ القَلِيلِ
Ya Allah jadikanlah aku diantara yang sedikit itu.
Allah juga menyebutkan:
ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (١٣) وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (١٤)
Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian (Al-waqi’ah: 13-14).
Iman yang kita pelihara di dalam diri kita ini mempunyai dua bentuk ekspresi kekuatan:
(1) الْقُوَّةُ الَّتِيْ نَتَحَمَّلُ بِهَا الْوَاجِبَاتِ والطَّاعَاتِ
(2) الْقُوَّةُ الَّتِيْ نَتَصَدَّى بِهَا الأَعْدَاءَ وَالْإِغْرَاءَاتِ
1. Kekuatan yang kita perlukan untuk memikul beban kewajiban dan taat
2. Kekuatan yang kita perlukan untuk menghadapi musuh dan juga godaan
Jadi satu sisi dari kekuatan itu kita perlukan untik memikul beban, dan sisi lainnya untuk menghadapi musuh. Karena selama kebenaran dan kebatilan “fii shira’in daa-im” (senantiasa ada dalam konflik abadi), maka kita selamanya akan punya musuh. Al-Quran menyebutkan:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا (٣١)
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqan: 31)
Ayat ini seharusnya menghidupan dalam diri kita apa yg disebut dengan “sense of war” الْحَسَّاسِيّةُ الْحَرْبِيَّةُ hasasiyah harbiyah, bahwa kita senantiasa ada dalam perang, sebagian dari musuh kita adalah setan yang tidak tampak, dan sebagiannya tampak. Dan yang tampak itu lebih keras dari yg tidak tampak, karena bisa lebih sadis. Iblis hanya berbisik-bisik, tetapi setan yang tampak bisa membunuh, memenjarakan dan seterusnya. Tapi tidak ada seorangpun yang bisa melepaskan diri dari keadaan “mempunyai musuh”.
Dalam dua sisi/ekspresi iman inilah kita harus memfungsikan tarbiyah ruhiyyah itu dalam kehidupan pribadi kita maupun di dalam jamaah. Energi untuk memikul beban dan energi untuk melawan.
Kalau kita membaca buku Madarijus Salikin: ada sisi sebelah kanan kita yaitu “daairah al-wajibaat wal-mustahabbaat” bahwa kita selalu melaksanakan daftar amal-amal yang wajib dan sunnah, sedangkan di sisi kiri kita meninggalkan “daairah al-muharramaat wal makruuhaat” meninggalkan yang haram dan makruh. Nanti kalau kita sudah naik tinggi seluruh waktu kita diisi dengan yang wajib dan sunnah, selanjutnya secara perlahan-lahan kita meninggalkan yang sifatnya mubah supaya semuanya dikonversi menjadi mustahabbaat (yg sunnah/disukai Allah). Dan ini membutuhkan energi yang tidak sedikit, energy utk melaksanakan daftar kebajikan yang begitu banyak. Tetapi pada waktu yang sama kita juga membutuhkan energy untuk melawan, karena waktu kita melaksanakan kewajiban ini kita tidak berjalan mulus, tidak sendirian, ada gangguan. Ada usaha utk mencegah kita melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Usaha inilah yang dilakukan oleh musuh, oleh karena dua sisi keimanan inilah yang harus terus menerus kita picu.
Kalau tarbiyah ruhiyyah itu hanya memberi energy kepada kita untuk melaksanakan kewajiban dan memikul beban tetapi tidak memberi energy utk melawan, pasti ada yang salah dalam proses tarbiyah ini. Begitu juga sebaliknya. Itulah sebabnya kita mengenal istilah “ruhbanun billail wa fursanun bin nahar” , dan itulah dua sisi keimanan. Waktu menjadi ruhban itulah sisi keimanan yang memberinya energy untuk melaksanakan daftar kewajiban yg begitu banyak, saat menjadi fursan itulah sisi keimanan yang memberinya energy untuk melawan.
Jadi ia hanya ada dalam dua warna hidup: ibadah dan perang. Dua hal ini yang memang dihindari oleh tabiat manusia, kita tidak ingin memikul beban dan tidak ingin melawan musuh. Karena pola hidup seperti ini berat, maka kita diajarkan doa dalam al-ma’tsurat:
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ، وأعوذ بك من العجز والكسل ، وأعوذ بك من الجبن والبخل ، وأعوذ بك من غلبة الدين وقهر الرجال
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang dan dominasi kesewenangan orang-orang.
Antum perhatikan urutan doa ini: al-hammu wal hazan itu di dalam hati, inilah racun yang menjadi sumber kerapuhan ruhiyah kita. Nanti penampakkan karakternya pada diri kita ada pada ajz (kelemahan) dan kasal (kemalasan) berhubungan dengan internal individu. Perhatikan selanjutnya al-jubn (sifat penakut) dan al-bukhl (bakhil): ini adalah karakter yang berkaitan dg hubungan social kita, takut menghadapi musuh dan tidak mau berkorban. Jika racun dalam hati itu ada berupa al-hamm wal hazan, dan tampak dalam diri berupa al-‘ajz wal kasal, lalu tampak dalam karakter yang berhubungan dengan relasi social kita yaitu al-jubn wal bukhl, maka penampakan social politik kita secara keseluruhan adalah ghalabatid dayn wa qahrir rijal yaitu ketergantungan ekonomi dan ketergantungan politik, gampang diintimidasi oleh orang lain, tergantung secara finansial kepada orang lain dan gampang diintimidasi. Itulah penampakan umumnya yang berasal dari hati berupa al-hammu wal hazan.
Sekarang insya Allah kita sudah memiliki gambaran tentang pemaknaan tarbiyah ruhiyyah dalam kehidupan jamaah kita. Ikhwah sekalian, setelah kita memasuki dunia politik maka sisi iman berupa sense of war dan energy melawan itu mengambil bentuk dan porsi yang sangat besar. Sisi ini belum kita rasakan betul saat kita masih berada di periode awal dakwah kita. Dan ini yang telah saya jelaskan saat di Makassar tentang makna politik pada sisi prosesnya.
Kalau kita mencoba mengambil intisari dari seluruh konsep, mafahim, manahij, dan juga wasail tarbiyah ruhiyyah yg begitu banyak, kira-kira kita bisa menyimpulkan bahwa factor penguat ruhiyyah dibentuk oleh dua hal:
1- الْمَفَاهِيْمُ الرُّوْحِيَّةُ
2- الأَعْمَالُ التَّعَبُّدِيَّةُ
Pemahaman ruhiyyah dan amalan-amalan ta’abbudiyyah.
Jadi kekuatan ruhiyyah itu dibentuk oleh pemahaman-pemahaman ruhiyyah kita di satu sisi dan di sisi lain oleh amalan-amalan.
Mafahim Ruhiyyah
Jika kita berbicara ttg mafahim ruhiyyah secara sederhana adalah seperti yang disimpulkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-waabil As-Shayyib: bahwa seluruh perjalanan hidup kita sebagai mu’min akan menjadi sempurna ketika kita ada dalam dua kaca mata yang berimbang:
مُشَاهَدَةُ الْمِنَّةِ وَ الاِعْتِرَافُ بِالْقُصُوْرِ
Mempersaksikan semua karunia yang diberikan oleh Allah swt di satu sisi dan di sisi lain adalah pengakuan atas kelalaian-kelalaian kita. Antara apa yg kita persembahkan kepada Allah dengan apa yang diberikan ALLah itu tidak pernah imbang. Kita menerima karunia Allah jauh lebih banyak dari amal yang kita persembahkan kepada Allah swt. Situasi inilah yang membuat kita berada diantara al-khauf wa ar-raja (takut dan berharap), kesadaran yang berkesinambungan bahwa apa yang kita berikan tidak akan pernah bisa mencukupi atau mengimbangi karunia Allah swt.
A’mal Ta’abbudiyyah
Di dalam kesadaran seperti itulah ikhwah sekalian saya ingin mengambil intisari dari wasail/a’mal tarbiyah ruhiyyah itu yaitu focus pada tiga hal yang paling kuat yaitu tilawatul quran, shalat, dan dzikir.
1. Tilawatul Qur’an
Ada dua bentuk tilawah:
التِّلاَوَةُ التَّعَبُّدِيَّةُ وَ التِّلاَوَةُ التَّأَمُّلِيَّةُ
Tilawah ta’abbudiyyah (tilawah ritual ibadah) dan tilawah ta-ammuliyyah (tilawah perenungan).
Tilawah ta’abbudiyyah diwajibkan kepada setiap kader 1 juz setiap hari. Saya ingin menjelaskan sedikit secara amaliyah/praktek: kadang-kadang karena kesibukan implementasi tilawah dalam mutabaah di liqa tarbawi kita tidak sempurna, saya kira kita mengalaminya. Saya ingin memperkenalkan istilah nizham al-qadha (system qadha/ganti): kalau tilawah ta’abbudiyyah kita tidak beraturan, tidak bisa 1 juz setiap hari, kita mesti menyediakan waktu sekali dalam seminggu untuk meng-qadha semua kekurangan tilawah pada pekan itu. Atau karena kesibukan yang sangat padat bisa jadi kita meng-qadha utk sebulan, jadi dalam satu tahun kita tetap minimal mengkhatamkan 12 kali. Dan sebaiknya kalau ada hutang tilawah tidak diganti dengan infaq, tetapi diqadha dengan amal yang sama di waktu senggang yang kita sediakan. Ini solusi supaya kita selalu berada dalam kesinambungan.
Yang kedua, sudah saatnya kita memperbanyak waktu utk tilawah ta-ammuliyyah dengan melakukan pendekatan berbasis tematik, kita mulai membaca quran dengan pendekatan ta-ammul (perenungan mendalam), dan mencoba melakukan istilham (mencari ilham/inspirasi) dari AL-Quran ini. Kita mencoba berimajinasi seperti dahulu Muhammad Iqbal melakukannya, dan juga dalam sejarah Imam Syahid sendiri. Waktu beliau membaca Al-Quran, orang tuanya bertanya: “Apa yang kamu baca?” Saya sedang membaca Al-Quran. Lalu orang tuanya mengatakan: “Bacalah Al-Quran itu seolah-olah ia diturunkan kepadamu.” Karena Al-Quran ini diturunkan pada fase yang lama, tidak sekaligus, oleh karena itu unsur momentum menjadi penting dalam memahaminya. Dan momentum-momentum itu diciptakan oleh Allah berulang dalam kehidupan manusia sehingga kemungkinan kita melakukan qiyas (analogi) kepada momentum-momentum itu sangat banyak walaupun tidak persis sama kejadiannya, tetapi kita tetap bisa mendapatkan ilham dari situ, karena Al-Quran dating dengan kaidah-kaidah umum dan tidak tergantung kepada kehususan sebab peristiwa turunnya. Kaidahnya adalah:
الْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
Ibrah dari ayat itu adalah dengan keumuman lafaznya (teksnya) dan bukan dengan kekhususan sebab turunnya.
Konteks turunnya penting memberikan kita ilham untuk menemukan kesamaan, tetapi ibrahnya tetap saja berlaku umum. Surat-surat Al-Quran itu memiliki kedekatan-kedekatan antara satu dengan lainnya. Seperti surat Al-Anfal, At-Taubah, Muhammad dan Al-Fath adalah surat-surat jihad dari sisi tema suratnya.
Contoh lain: ketika kita melihat kata al-makr (makar) di dalam Al-Quran, maka ayat-ayatnya menjelaskan bagaimana konstruksi konseptual dari makar itu dalam tinjauan Al-Quran. Salah satu yang menarik bahwa semua makar yang disebutkan dalam Al-Quran selalu dihubungkan dengan sifat Allah yang terkait dengan Al-qudrah (kemahakuasaan Allah) dan selalu diletakkan dalam konteks al-qadha wal qadar, supaya kita membaca tentang makar manusia sehebat apapun, tetapi kendali alam semesta ini tetaplah dalam kekuasaan Allah swt seperti ayat yang dibacakan tadi oleh “Hafizh” anak salah seorang ikhwah yg sudah hafal 30 juz:
وَلا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَبَقُوا إِنَّهُمْ لا يُعْجِزُونَ (٥٩)
Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat lolos (dari kekuasaan Allah). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan (Allah).
Begitu juga ayat-ayat yang terkait dengan fakta-fakta alam raya, seperti angin yang dijelaskan sebagai salah satu tentara Allah swt, oleh karena itu sains tidak pernah punya ilmu pasti tentang arah angin, tetapi selalu perkiraan, karena Allah lah yang yusharrifuhu (mengarahkannya) sekehendak-Nya . Bahwa setiap benda ada malaikat yang mengurusnya, waktu kita naik pesawat melalui turbulence, ada malaikat yang khusus mengatur akan dibawa kemana angin itu.
Pembacaan dan perenungan seperti ini akan meningkatkan penghayatan kita dan dengan sendirinya akan memberikan kepada kita pencerahan ruhiyyah, terutama saat kita menghadapi begitu banyak syubuhat (hal-hal yang kabur), atau berhadapan dengan keadaan kritis. Efek dari penghayatan itu akan muncul di saat-saat seperti itu. Dialah yang memberikan kita kepastian, dialah yang juga memberikan kita keteguhan.
Saya kira kita memang memiliki masalah bahasa untuk melakukan tilawah ta-ammuliyyah bagi ikhwah/akhawat yang tidak berbahasa arab. Disamping fakta ini harus disesali (krn dia bahasa ahlul jannah) juga kita harus mengurangi penyesalan ini dengan rajin membaca kitab tafsir yang Alhamdulillah beberapa referensi utamanya sdh diterjemahkan. Kita bersyukur karena gerakan terjemah selama 20 tahun ini luar biasa kemajuannya.
2. Shalat
Shalat adalah imaduddin atau tulang punggung dari tadayyun (religiusitas) kita. Saya ingin menjelaskan sedikit hal-hal yang aplikatif. Kira-kira jumlah rakaat shalat wajib dan sunnah yang kita lakukan sehari berjumlah 42 rakaat: 17 rakaat shalat 5 waktu, 10 rakaat sunnah rawatib (2 sebelum zhuhur, 2 sesudah zhuhur, 2 sesudah isya dan 2 sebelum subuh), 4 rakaat dhuha, 11 rakaat QL.
Yang faraidh (wajib) kita harus berusaha melaksanakannya dalam keadaan berjamaah di masjid atau di kantor atau di perjalanan, agar kita mendapat penggandaan pahala dan keutamaannya. Lalu berusaha menjaga 10 rakaat yang rawatib tadi dan selalu kita menjadikannya sebagai standar. Shalat dhuha saya kira tidak terlalu sulit bagi kita melakukannya karena masih segar di pagi hari.
Tentang QL: kita hidup di era yang tidak terlalu normal, sebagian waktu kita ditentukan oleh orang lain sehingga kita tidak bisa tidur seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah saw di awal malam. Faktor-faktor yang membuat kita bisa tahajjud seperti yang disebutkan oleh Imam Ghazali dalam Al-Ihya seperti qailulah misalnya hampir kita tidak bisa melaksanakannya. Juga kemacetan di kota dll. Ada anjuran yang baik dari ust Salim bahwa witir yang biasa kita lakukan tiga rakaat langsung saja kita laksanakan 11 rakaat. Sehingga kita bisa menggenapkan 42 rakaat dalam sehari.
Ikhwah sekalian sebenarnya yang penting dari ibadah-ibadah ini adalah al-muwazhabah (kesinambungan). Misalnya jika kita belum kuat shalat qiyam dengan waktu dan bacaan yang lama, lakukanlah terus menerus meski dengan surat-surat pendek, terus menerus. Nanti secara perlahan-lahan kita pasti akan menemukan kekuatan-kekuatan baru sambil jalan untuk melakukannya lebih lama. Kalau kita tidak bisa melakukan 11 rakaat, witirnya kita tambah dari 3 menjadi 5 rakaat, naik menjadi 7 dan seterusnya. Sekali lagi yang penting adalah kesinambungan. Insya Allah kalau kita melaksanakan tilawah dan shalat secara berkesinambungan seperti ini kita akan mempunyai tingkat stabilitas ruhiyyah yang bagus.
3. Dzikir (muthlaq)
Yang saya maksudkan adalah dzikir mutlak, kalau wazhifah kubra/ al-ma’tsurat saya piker antum semua sudah tahu. Imam Syahid berijtihad mengumpulkan doa-doa yang bertebaran dari sekian banyak hadits dikumpulkan jadi satu dan dianjurkan untuk dibaca pagi dan petang.
Seandainya karena kesibukan dan lain-lain kita tidak sempat melakukannya, secara umum penggantinya adalah dzikir mutlak ini, misalnya istighfar yang kit abaca seratus kali atau seribu kali, la ilaha illallah seratus atau seribu kali. Dzikir mutlak ini yang kita perbanyak sehingga ini yang mengimbangi wirid-wirid yang kita baca dalam sehari.
Sebenarnya dzikir ini adalah tools untuk menjaga ingatan kita kepada tujuan akhir.
Inilah 3 wasail utama tarbiyah ruhiyyah, mudah-mudahan memberikan kita energi untuk memikul beban dan energi utk melawan musuh insya Allah.
Rata-rata kita sudah terlibat dalam tarbiyah 15 atau 20 tahun, dan dari sisi umur rata-rata kita yg hadir ini juga tidak bisa disebut muda lagi. Kalau kita melihat bahwa umur ummat Rasulullah saw itu antara 60 sd 70 th, maka kita sudah memasuki sepertiga terakhir. Kalau kita melihat hal ini dan lingkungan hidup seperti sekarang ini, hampir bisa dipastikan bahwa kita tidak bisa melakukan amal-amal besar kecuali satu atau dua saja. Umur 0-20 manusia paling kuat perkembangannya pada aspek fisik, mencapai puncaknya di usia 20-an, 20-an sd 40 adalah puncak pencapaian intelektual, 40 – 60 adalah sisi ruhiyahnya. Persimpangan 40-an ini ketika fisik kita masih kuat, intelektualitas mencapai puncaknya, kita sedang memasuki fase spiritual yang kuat. Biasanya ini disebut sebagai tahun-tahun kematangan sekaligus fase terakhir dari hidup kita. Jadi kita kalau kita menggeluti sesuatu seperti tarbiyah ini dari usia 20-an sampai usia 40-an, maka fase 40-an ini adalah “golden age” dari seluruh pencapaian hidup kita semuanya. Kira-kira seperti firman Allah swt:
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (٢٢)
Dan tatkala dia (Nabi Yusuf) cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Oleh karena itu kita berharap di dalam fase hidup ini kita bisa melakukan sesuatu yang besar atau saya sering mengistilahkan dengan amal unggulan yang kita harapkan bisa mengantarkan kita ke surga. Penting agar ini menjadi kesadaran individual kita semua bahwa kita sedang memasuki sepertiga terakhir dari perjalanan hidup kita dan mesti ada pencapaian yang benar-benar besar sekali lagi yang bisa mengantarkan kita ke surga. Semoga bermanfaat.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Agustus 2014 in Uncategorized

 

mempersiapkan diri layak di tolong-Nya

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Selanjutnya, Biarlah Allah yang Berbicara

Akhi dan Ukhti fillah….

Parameter kemenangan dan kekalahan yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah kemenangan atau kekalahan yang berkaitan dengan moral spiritual. Bahwa kesuksesan paling hakiki adalah kesuksesan akhirat. Seseorang tidak dilihat sejauh mana prestasi dunia yang dicapai, akan tetapi sejauh mana ia membangun mahligai kejayaan ukhrawi. Kecerdasan, dalam konteks ini bukan milik orang yang mampu menghapal banyak syair dan memecahkan persoalan-pesoalan hidup secara brilian, akan tetapi sejauh mana ia mampu mengendalikan dirinya dan merajut amal untuk tujuan jangka panjangnya. Bahkan yang berkaitan dengan fisik seseorang, jangan pandang remeh betis Ibnu Mas’ud yang kecil itu, karena betisnya itu lebih berat daripada Gunung Uhud di sisi Allah. Dan jangan pandang sebelah mata Barra’ bin Malik yang kusut masai itu. Sebab, Rasulullah pernah mengomentarinya,

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Bisa jadi seseorang kusut masai yang ditolak di pintu-pintu, namun ketika bersumpah dengan nama Allah Azza wa Jalla, pasti Allah mengabulkannya.”

Paradigma ini selalu beliau jelaskan kepada para sahabat yang kerapkali melihat persoalan berdasarkan pandangan kasat mata. Anas bin Malik meriwayatkan, ketika Allah menurunkan ayat,

`s9(#qä9$oYs?§ŽÉ9ø9$#4Ó®Lym(#qà)ÏÿZè?$£JÏBšcq™6ÏtéB4$tBur(#qà)ÏÿZè?`ÏB&äóÓx«¨bÎ*sù©!$#¾ÏmÎ/ÒOŠÎ=tæÇÒËÈ  

 “Tidaklah kalian mendapatkan kebajikan sampai kalian menginfakkan harta yang kalian cintai….” (Ali Imran: 92). Abu Thalhah berkata kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah kalian mendapatkan kebajikan sampai kalian menginfakkan harta yang kalian cintai…’ dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha, itu jadi sedekah untuk Allah dan aku harapkan kebajikannya dan pahalanya serta simpanannya di sisi Allah Ta’ala. Tempatkanlah, ya Rasulullah, sesuai petunjuk Allah kepadamu.” Rasulullah saw. bersabda, “Bakh bakh…, itu adalah harta yang menguntungkan.”

Ketika akhirat menjadi parameter serta puncak tujuan umat Islam, maka dunia pun berada dalam genggaman mereka.

Akhi dan ukhti fiillah….

Umat Islam berada dalam titik nadir kelemahan di segala bidang: ekonomi, politik, militer, teknologi, media massa, dan lain sebagainya. Dalam percaturan internasional, umat hanya menjadi objek mereka yang memiliki kekuatan itu. Lihatlah betapa tidak berdayanya umat ketika hak-hak mereka dirampas, kekayaan alam mereka dikeruk, bahkan lambang kebanggaan mereka dinodai. Tidak ada reaksi kongkret ketika situs sekitar Masjid Al-Aqsha digali Israel, juga ketika junjungan umat, Rasulullah saw. dilecehkan media massa Denmark.

Ketika kaum Muslimin kuat dan diperhitungkan oleh musuh-musuhnya, jangankan mereka berani menyentuh simbol-simbol yang dihormati kaum Muslimin, melecehkan makhluk lemah pun dapat mengundang turunnya pasukan tempur kaum Muslimin. Ibnul Atsir di kitabnya Al-Kamil meriwayatkan, seorang wanita dari Bani Hasyim menjadi tawanan Romawi, lalu ia berteriak, “Wa Mu’tashimah, (Tolonglah, wahai Mu’tashim…)” Dari istananya ia (Khalifah Mu’tahim) menjawab, “Labbaiki… labbaiki.” Dan serta merta ia mengirim pasukan untuk menolong wanita itu. Maka tejadilah Perang Ammuriyah

Akhi dan ukhti fillah….

Umat ini harus bangkit meraih kejayaannya kembali. Karena, hanya dengan cara itu mereka dapat meneruskan risalah nabinya, yaitu tersebarnya rahmat Allah ke alam semesta, melindungi orang-orang lemah, membela kaum tertindas, mengembalikan hak martabat wanita, dan mengembalikan masing-masing hak kepada yang berhak. Lebih dari itu adalah agar hanya Allah yang disembah dan tidak ada lagi fitnah di muka bumi serta agama hanyalah milik Allah semata.

öNèdqè=ÏG»s%ur4Ó®LymŸwšcqä3s?×puZ÷GÏùtbqà6tƒurß`ƒÏe$!$#¼ã&—#à2¬!4ÂcÎ*sù(#öqygtGR$# cÎ*sù©!$#$yJÎ/šcqè=yJ÷ètƒ×ŽÅÁt/ÇÌÒÈ  

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanyalah milik Allah semata. Jika mereka berhenti, sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39)

Syarat dan prasyarat menuju kebangkitan itu dimiliki umat Islam: sumber daya manusia, sumber daya alam yang tersedia di negeri-negeri Islam, sejarah umat Islam, dan tabiat agama Islam sendiri yang universal, yang selalu relevan bagi setiap bangsa pada setiap kurun sampai hari Kiamat. Islam diturunkan sebagai pedoman hidup dan tidak hanya berlaku untuk manusia pada satu generasi saja tanpa generasi yang lain. Al-Qur’an dan hadits adalah dua pusaka yang menjamin kejayaan umat jika keduanya dijadikan sebagai panduan hidup.

Untuk kembali kepada kejayaan dan kemenangan yang dicita-citakan itu, syarat pertama dan utama adalah kembali kepada Allah. Memurnikan akidah dan penghambaan hanya kepada Allah. Membangun harmonisasi hubungan dengan Allah dan menjadi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Menjalankan kewajiban dan menghiasi diri dengan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Juga menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan kepada Allah.

Memakmurkan masjid dengan ibadah kepada Allah. Menjalin hubungan yang baik dengan tetangga dan kerabat. Tertunaikannya hak-hak Allah dan manusia dalam kehidupan ummat Islam. Juga tidak mengesampingkan kebutuhan akal terhadap ilmu. Menyiapkan kekuatan dalam berbagai bentuknya. Masyarakat yang harmonis dalam bingkai ketaatan kepada Allah.

Masing-masing orang menunaikan amanah yang diembankan kepadanya. Pemimpin menjadi pengayom yang melindungi rakyatnya, juga sebagai teladan dalam amal kebajikan. Rakyat tunduk dan patuh padanya dalam rangka taat kepada Allah. Orang tua menyayangi yang muda dan anak muda menghormati yang tua. Orang lemah merasa menjadi kuat karena mendapat perlindungan. Wanitanya menjaga kehormatan dan aurat terjaga hingga tindakan melampaui batas tidak merajalela. Peluang melakukan kebajikan terbuka lebar, sementara peluang melakukan kejahatan tereliminasi melalui gerakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Akhi dan Ukhti fiillah….

Jika itu semua terpenuhi dalam diri umat Islam, janji Allah yang berupa kemenangan dan kejayaan akan segera datang. Pasukan Allah yang terdiri dari berbagai macam makhluk-Nya akan bahu membahu bersama orang-orang beriman. Air, angin, api, udara, binatang, tumbuh-tumbuhan akan segera berpihak kepada orang-orang beriman. Adalah sunnatullah bahwa langit akan campur tangan ketika ada pergerakan bumi. Bacalah ayat-ayat ini,

$pkš‰r¯»tƒz`ƒÏ%©!$#(#þqãZtB#uäbÎ)(#rçŽÝÇZs?©!$#öNä.÷ŽÝÇZtƒôMÎm6s[ãƒurö/ä3tB#y‰ø%r&ÇÐÈ  

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

z`ƒÏ%©!$#ur(#r߉yg»y_$uZŠÏùöNåk¨]tƒÏ‰öks]s9$uZn=ç7ߙ4¨bÎ)ur©!$#yìyJs9tûüÏZÅ¡ósßJø9$#ÇÏÒÈ  

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)

tA$s%urãNà6š/u‘þ’ÎTqãã÷Š$#ó=ÉftGó™r&ö/ä3s94¨bÎ)šúïÏ%©!$#tbrçŽÉ9õ3tGó¡o„ô`tã’ÎAyŠ$t6Ïãtbqè=äzô‰u‹y™tL©èygy_šúï̍Åz#yŠÇÏÉÈ  

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina-dina.” (Ghafir: 60)

y‰tãurª!$#tûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäóOä3ZÏB(#qè=ÏJtãurÏM»ysÎ=»¢Á9$#óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9’ÎûÇÚö‘F{$#$yJŸ2y#n=÷‚tGó™$#šúïÏ%©!$#`ÏBöNÎgÎ=ö6s%£`uZÅj3uKã‹s9uröNçlm;ãNåks]ƒÏŠ”Ï%©!$#4Ó|Ós?ö‘$#öNçlm;Nåk¨]s9Ïd‰t7ãŠs9ur.`ÏiBω÷èt/öNÎgÏùöqyz$YZøBr&4ÓÍ_tRr߉ç6÷ètƒŸwšcqä.Ύô³ç„’Î1$\«ø‹x©4`tBurtxÿŸ2y‰÷èt/y7Ï9ºsŒy7Í´¯»s9résùãNèdtbqà)Å¡»xÿø9$#ÇÎÎÈ  

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Terhadap ayat tersebut penulis kitab tafsir Fii Dzilalil Qur’an berkomentar, “Itulah janji Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari umat Muhammad saw. bahwa Allah akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, mengokohkan agama yang diridhai dan mengganti ketakutan mereka menjadi keamanan. Itulah janji Allah. Dan janji Allah itu benar. Janji Allah itu terjadi. Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Lalu apa hakikat iman dan hakikat kekuasaan tersebut?

Iman yang akan mendatangkan janji Allah adalah hakikat besar yang menenggelamkan seluruh aktivitas manusia dan mengarahkan semua aktivitas manusia. Keimanan yang dalam dan bersemayam di lubuk hati kemudian diterjemahkan dalam bentuk amal dan kegiatan. Semuanya diarahkan untuk Allah dan tidak ada yang diharapkan selain Allah. Adalah ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah berikut semua perintah-Nya. Jiwa dan hati tidak akan patuh kecuali kepada apa yang pernah dibawa Rasulullah. Iman yang menenggelamkan manusia secara total dengan segenap perasaan dan gejolak hatinya, rindunya, kecenderngan fitrahnya, dan gerakan fisiknya….”

öNn=sùöNèdqè=çFø)s? ÆÅ3»s9ur©!$#óOßgn=tGs%4$tBur|Mø‹tBu‘øŒÎ)|Mø‹tBu‘ ÆÅ3»s9ur©!$#4’tGu‘4u’Í?ö7ãŠÏ9uršúüÏZÏB÷sßJø9$#çm÷ZÏB¹äIxt/$·Z|¡ym4žcÎ)©!$#ìì‹ÏJy™ÒOŠÎ=tæÇÊÐÈ  

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 17).

Diriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan melempar adalah lemparan kerikil yang dilakukan Rasulullah terhadap muka orang-orang musyrik, dan terkenalah orang-orang yang sudah tertulis dalam ilmu Allah akan mati karenanya. Menurut Sayyid Quthb, arahan ayat tersebut lebih umum, yaitu skenario Allah melalui lemparan Nabi dan kelompok Islam bersamanya.

Logika macam apakah kemenangan yang diperoleh 300 orang dengan senjata seadanya melawan 1.000 orang bersenjata lengkap di medan Perang Badar? Kemenengan dari mana yang dicapai 2.000 mukminin melawan 10.000 tentara Quraisy dengan sekutu-sekutunya di Perang Khandaq?

Akhi dan Ukhti fillah….

Jadikan diri kita sebagai umat yang layak mendapat kemenangan Allah melalui keimanan yang kita buktikan dengan amal perbuatan nyata. Selanjutnya, Allah yang bertindak dengan pasukan-pasukan-Nya. Wallahu A’lam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Februari 2014 in Uncategorized

 

SIAPA YANG MAU MEMINJAMI الله ?

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Ba’da tahmid wa shalawat,
Kisah kaum yang banyak dicela didalam al-Qur’an karena keburukan sifat-sifat yang dimiliki oleh mereka adalah sifat tercelanya kaum bani israil, bahkan Allah swt al azizul hakim mengutuk mereka. Hampir disepanjang pemaparan al Qur’an yang dipaparkan adalah sifat tercela mereka. Hal ini bukanlah tanpa alasan dan tujuan, agar ia menjadi ibroh dan tidak terulang disejarah peradaban kaum muslimin, apalagi pengekoran terhadap prilaku mereka. Berita akhir-akhir ini sangat mencengangkan bahwa sebagian pembesar UEA adalah anggota klub-klub zionis, rotary, lion club dll.
Diantara sifat tercela bani israil yang dipaparkan al Qur’an adalah,
                                                          
2:246. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, Yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk Kami seorang raja supaya Kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. mereka menjawab: “Mengapa Kami tidak mau berperang di jalan Allah, Padahal Sesungguhnya Kami telah diusir dari anak-anak kami?”[155]. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang zalim.
Inilah tabiat khusus bani israil dalam mengingkari, khianat terhadap perjanjian, kesepakatan, berkelit tidak mau tha’at, menghindar dari tanggung jawab, berpecah belah, dan meninggalkan kebenaran yang nyata. Tetapi hal ini juga tabi’at jamaah yang belum matang pembinaan imannya. Ia juga tabi’at manusia secara umum yangtidak bisa dirubah kecuali dengan pembinaan iaman yang tinggi, lama dan mendalam pengaruhnya. Ia adalah tabi’at yang harus diwaspadai oleh para qiyadah danharus diperhitungkan didalam perjalanan yang berat, agar tidak terkejut oleh kemunculannya lalu tidak siap menghadapinya! (fi Zhilalil Qur’an)
Al-Qur’an pada dekade berikutnya juga memaparkan prilaku orang-orang yang berpenyakit hatinya juga melukan hal yang serupa,
                    ••              •            •    
4:77. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka[317]: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun[318].
Permulaan redaksi yang sama dengan ayat sebelumnya,menunjukkan persamaan karakter yang diulang, keberadaan kelompok ini dalam barisan Muslim hampir saja menimbulkan semacam keretakkan dan tidak adanya kekompakan antara kelompok yang lemah dan berkeluh kesah ini dengan orang-orang Mu’min yang berhati tegar dan tenang, yang telah siap memikul berbagai beban jihad, apapun resikonya, dengan penuh ketenangan, keyakinan dan tekad yang bulat dan juga semangat yang tinggi, tetapi pada proporsinya yang wajar. Semangat yang muncul ketika pelaksanaan tugas adalah semangat yang hakiki. Adapun semangat yang munculsebelum waktunya, boleh jadi hanya dorongan emosi saja dan akan menguap ketika menghadapi tantangan yang sesungguhnya! (fi Zhilalil Qur’an)
Yang lebih ironis, tak punya rasa malu, hilangnya ihtirom dan kesantunan adalah membiarkan dan menyuruh qiyadahnya bekerja sendirian sementara ia sibuk dengan urusan dunianya dan bersantai duduk-duduk menikmatinya.
      •           
5:24. Mereka berkata: “Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja”.
Demikianlah para pengecut itu merasa berat lalu melakukan keburukan dengan tanpa rasa malu, dan takut menghadapi bahaya lalumenghentakkan kaki mereka seperti keledai tidak mau maju! Sifat pengecut dan tindakan melakukan keburukkan tanpa rasa malu bukan dua hal yang saling berkontradiksi dan berjauhan, bahkan keduanya sering kali berpasangan. Seorang pengecut dihadapkan pada kewajiban lalu dia merasa takut, kemudian dia merasa berat karena takut menghadapi kewajiban sehinggan dia mencela kewajiban itu dan berbuat keburukan tanpa rasa malu terhadap seruan yang membebaninyadengan apa yang tidak dikehendakinya! Inilah kekurangajaran orang lemah yang hanya pandai berbicara lancang! Karena untuk bisa bangkit melaksanakan kewajiban memerlukan kesiapan menghadapi resiko. Mereka tidak bersama Tuhan bila ketuhanan mewajibkan perang kepada mereka.
Mereka mengatakan,” Kami tidak menghendaki kerajaan, kami tidak menginginkan kemuliaan dan kami tidak mengharapkan tanah yang dijanjikan……….jika untuk mendapatkan itu semua kami harus berhadapan dengan orang-orang besar! (fiZhilalil Qur’an)
Jelas ini tidak kita inginkan kemunculannya, namun kita juga harus bersiap-siap jika hal itu dikehendaki Allah swt untuk menguji dan membersihkan jama’ah ini dari kekotoran itu.
Lihatlah kelompok kecil dari mereka,hawariyyun dan bandingkan dengan mereka,
                 •     
3:52. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.
Dan seperti itulah kita diperintahkan Allah swt,
                                      
61:14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Allahu Akbar!
Sekarang marilah kita beralih kepadagenerasi terbaik dari ummat ini yang Allah swt sanjung mereka dengan penghormatan dan pujian yang mulia, dan hendaknya kepada yang demikian kita menambatkan keteladanan.
Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra. Imam Qurthubi didalam tafsirnya juga mengutip kisah ini, juga dalam tafsir Ibnu katsir dan fiZhilalil Qur’an,
•     •            
2:245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
Tatkala ayat tersebut diturunkan, Abu Dahdah segera bertanya kepada Rasulullah saw,” Sungguh tebusanmu ayah dan ibuku ya Rasulullah! Bahwa Allah meminta pinjaman dari kita, padahal Dia sangat tidak membutuhkan pinjaman?” Nabi menjawab,” Ya, Dia ingin memasukkan kalian kesyurga dengan pinjaman itu.” Abu Dahdah berkata,” Kalau sekiranya aku meminjamkan suatau pinjaman kepada Tuhan-ku,apakah Dia pasti memberikan jaminan syurga bagiku dan bagi anakku Dahdahah?” Jawab Nabi,” Ya.” Lalu Abu Dahdah berkata,”Jika begitu,maka ulurkanlah tanganmukepadaku.” Maka Rasulullahpun melakukannya,kemudian Abu Dahdah berkata,” Sesungguhnya aku memiliki dua kebun, yang satu ada di kampong Safilah dan yang satu lagi ada dikampung “Aliyah; demi Allah hanya itu yang aku miliki, dan aku telah berbulat hati untuk meminjamkannya kepada Allah.” Rasulullah saw bersabda,” Salah satunya saja engkau pinjamkan kepada Allah, dan yang satu lagi untuk keperluan hidupmu dan keluargamu.” Abu Dahdah berkata,” Jika begitu, aku menjadikan engkau sebagai saksi,ya Rasulullah, bahwasannya yang paling baik dari kedua kebunku itu yang aku pinjamkan kepada Allah, yaitu kebun yang berisikan 600 pohon kurma.” Lalu Rasulullah bersabda,” Jika begitu, Allah pasti memberikan balasannya syurga.” Lalu Abu Dahdah pulang menjumpai istrinya yang sedang berada dikebun bersama anak-anaknya bernaung dibawah pohon kurma; Abu Dahdah berkata,” Tuhanku telah menunjukkanmu kejalan yang lurus, yaitu jalan kebaikan dan kebenaran; Aku telah menjadikan kebun yang ada di Wadad .sebagai pinjaman untuk selama-lamanya. Aku telah meminjamkannya untuk Allah dengan setulus hati, bukan karena ingin pujian atau sanjungan melainkan harapan balasan berlipat ganda di akhirat kelak. Maka berpindahlah engkau wahai istriku dari sini bersama anak-anak.Kebajikan itu tidak diragukan lagi adalah sebaik-baik bekal yang dipersiapkan seseorang menuju akhirat.”
Lalu Ummi Dahdah menyahut seraya berkata,” Beruntunglah penjualanmu! Semoga Allah selalu memberkahi yang engkau beli.” Kemudian Abu Dahdah menjawab dengan mengatakan,” Allah telah mengabarkan berita kebaikan dan kegembiraan bagimu, orang sepertimu telah mengorbankan apa yang dimiliki dan juga nasihat. Sungguh Allah telah memberikan kenikmatan kepada keluargaku dan mengaruniakan berbagai buah kurma yang terbaik dan yang segar. Seorang hamba hanyalah berusaha dan ia pasti mendapatkan hasil jerihpayahnya sepanjang malam dan ia akan menanggung resiko dari kesalahannya.”
Kemudian Ummu Dahdah menemui anak-anaknya dan mengeluarkan segala apa yang ada dimulut mereka dan yang didalam bungkusan-bungkusan mereka serta membawa mereka kekebun yang satunya.
Demikianlah kisah karakter orang-orang yang berharap dengan sungguh-sungguh mendapatkan syurga. Dan ini harus menjadi keyakinan kita, bahwa siapa saja yang bersungguh meneladani prilaku kebajikan mereka maka ia berhak mendapatkan syurga sebagaiman yang dijanjikan kepada Abu Dahdah dan keluarganya.
Wallahu a’lamu bishowwab.
Banjarbaru,ma’had ar Rosyad,19 juli 2013
Abi Tito

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juli 2013 in Uncategorized

 

KEMENANGAN ITU DARI SISI الله

Hidup adalah pertarungan, menang atau kalah adalah sunatulloh yang tidak mungkin terelakkan. Tidak satupun orang yang mau kalah tapi belum tentu dia tahu apa penyebab kekalahan, dan tidak satupun orang yang tidak mau jadi pemenang hanya masalahnya tidak semua orang tahu jalan kemenangan.

Kemenangan bukan sekedar yang penting menang, meskipun harus menggadaikan kemuliaan. Bukan kemenangan namanya jika harus menjual aqidah dengan harga rendahan, sungguh hina sebuah kemenangan jika harus menukar moral dengan barang gombal, jangan pernah katakan kemenangan yang diperoleh dengan dengan cara-cara pecundang. Tetapi kemenangan yang kita inginkan adalah kemenangan yang mampu mendatangkan berjuta kebaikan karena kemenganan adalah mata air keberkahan.

Tarian dunia agaknya lebih menggiurkan banyak orang, untuk kemudian yakin bahwa bersamanya ada kemenangan. Arus dunia bagi anak manusia sangat dahsyat luar biasa, sehingga kecintaannya kepada dunia terhunjam dalam ke dasar relung jiwa.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨)
“Dan sesungguhnya manusia amat sangat cintanya kepada dunia”
Kecintaannya sedemikian rupa sehingga dunia mengantarkan kepada keyakinan seakan-akan dunia membuat dirinya kekal
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (٣)
“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya”

Sihir dunia sedemikian hebat sehingga hampir semua anak manusia meyakini bahwa faktor utama kemenangan adalah material, ketersediaan SDM, cukupnya finansial dan terpenuhinya kebutuhan logistik.

Sejarah perjalan hidup anak manusia menjadi bukti betapa manusia menjadikan materi adalah segala-galanya. Hidup tanpa materi seakan hampa dan kehilangan daya. Ketika status sosialnya mapan, hartanya banyak dan jabatannya tinggi maka dia merasa memiliki segalanya. Ukuran kemenangan adalah materi, jika materi besar maka peluang menang besar jika materi kecil maka peluang menangnya kecil bahkan tidak ada.

Percaya diri orang yang hubbudunya begitu tinggi kepada materi, dia merasa tidak perlu lagi kekuatasn moral dan kekuatan spiritual. Perasaan ini begitu dalam merasuk ke dalam jiwa sehingga sombong dan melampaui batas dan menentang tuhannya menjadi kelogisan yang tidak dapat dihadang. Inilah buah ketika perasaaan jiwa kenyang dengan santapan dunia. Dengarlah baik-baik firman Dzat yang Maha mengetahui :
كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى (٦)أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (٧)
“Tidak sekali-kali tidak sesunguhnya manusia melampaui batas. Ketika dirinya merasa serba cukup”.
Makanan lain selain dunia membuat dirinya “muntah” karena sangat tidak cocok dengan selera jiwa. Rongga selain rongga dunia tidak memiliki tempat, yang ada hanya satu rongga yaitu rongga dunia.

Sejarah perjalanan hidup manusia mempertontonkan fragmen kehidupan dengan orientasi keduniaan. Ketika Nabiyulloh Nuh AS mengajak putranya Kan’an menaiki bahtera agar selamat dari adzab Alloh, sang anak menolak karena merasa dengan berlindung kepada material dirinya akan selamat dari kebinasaan.
قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ.
“Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang”. dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu Termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”.

Tipu daya materi memang sangat luar biasa, tidak hanya Kan’an yang bertawakal kepada materi untuk beroleh kemenangan, orang sesudahnyapun tidak mampu menjadikan Kan’an sebagai bahan pelajaran. Namrud sang diktator juga merasa gagah dengan harta dan kekuasaannya, keyakinannya mengalahkan Ibrohim AS begitu besar karena dia merasa memiliki segalanya. Api dalam genggamannya seakan mampu melumatkan Ibrohim dan menghabisi segalanya.

Sang Durjana Fir’aun mewarisi pendahulunya yang menjadikan materi segala-galanya. Kekuasaan, harta dan bala tentara menjadi “jimat” yang diandalkan untuk mampu membawanya kepada kemenangan abadi. Ujung semua tontonan penghamba materi, baik harta, status sosial atau kekuasaan adalah kehancuran yang membinasakan pemiliknya dan orang sekitarnya. Tidak titik, di Fir’aun cerita itu akan berakhir karena ternyata mereka yang antri dengan kehancuran masih memanjang. Cerita tersebut bukan monopoli para durjana, mereka para pembawa risalahpun bisa jadi korban dunia penuh getah.

Rangkaian kemenangan yang panjang membuat mabadi kemenangan menjadi kabur, pasukan besar, senjata yang memadai, gelora juang, keberanian nan menakjubkan dan heroisme perjuangan yang tak kunjung padam telah menyihir banyak orang seakan-akan itu semua penentu kemenangan dan tanpa sadar menyelinap dalam jiwa menjadi tuhan baru bagi para pejuang.

Bangga dengan jumlah, bangga dengan senjata, bangga dengan logistik dan bangga dengan perasaan selalu berjaya membuat mereka terpedaya, perasaan “pasti” menang begitu menguasai jiwa. Hunain adalah pelajaran besar namun banyak orang yang gagal mengambil pelajaran, karena kotoran kesombongan telah menjajah fikiran. Rangkaian kisah dan cerita gagal dalam perjuangan akan terus menggelinding sepanjang sejarah kehidupan, namun sayangnya banyak mereka yang tumbang meskipun ibrohnya sudah membentang.

Cerita dan kisah tersebut sebagian kita sudah hafal dan sangat hafal namun daya hafal kita tidak serta merta menjadi vaksin yang membuat kita menjadi kebal. Peristiwa tersebut sudah berulang sepanjang zaman, namun pengulangan tayangan yang terpapar tidak menjamin kita tidak terkapar. Teguran sang Kholiq sudah dalam bentuk tamparan namun berjuta manuisa tak kunjung mampu mengambil pelajaran. Lalu dimana letak sihir material yang katanya mampu mendatangkan segala kebaikan ? lalu apa artinya kekuasaan kalau ujung akhirnya adalah kedurhakaan ? patutkah kita masih berbangga dengan “kemuliaan” jika muaranya adalah kehancuran ?

Hari ini dan hari yang akan datang adalah hari-hari perjuangan, kita akan terus dihadapkan pada medan ma’rokah yang menentukan apakah kita akan beroleh kemenangan atau justru kita harus menelan pil pahit kekalahan. KPU baru saja mengumumkan partai yang bisa ikut pemilu, dan PKS menjadi salah satu pesertanya. Dari sisi modal material kita sudah sangat memiliki namun keyakinan kita bahwa kemenangan dari sisi Allohlah yang akan menentukan kemenangan.

Lawan-lawan politik, lawan-lawan da’wah dan sekutunya sudah lama menjadikan materi sebagai aqidahnya. Tuhan mereka adalah harta, sesembahan mereka adalah kekuasaan dan status sosial, yang jika dikalkulasi sungguh tidak berbilang. Jika tentara Alloh akan melawan mereka dengan bersandar kepada “tuhan mereka” maka sudah bisa dipastikan mereka akan tumbang.

Sungguh kerdil orang yang dibesarkan dalam rumah da’wah jika kemudian luntur mabadi da’wahnya dan beranggapan bahwa materi adalah segalanya. Dengarlah firman Alloh yang agung :
وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ الأنفال: 10
“Dan tidak ada kemenangan kecuali kemengan dari sisi Alloh sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

Sadarilah wahai manusia yang pelupa bahwa waspada itu sepanjang hayat…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2013 in Uncategorized

 

PENGENDALIAN KADER-KADER DAKWAH

hati&mhmdعًنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَقَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللَهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ اْليَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: أَنَا. فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ اْليَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ: أَبُوْ بَكْرٍ : أَنَا. قَالَ : فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ اْليَوْمَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ : أَبُوْ بَكْرٍ : أَنَا.قَالَ : فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ اْليَوْمَ مَرِيْضًا؟ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ: أَََنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَااجْتَمَعَتْ هَذِهَِ اْلخِصَالُ فِيْ رَجُلٍ فِيْ يَوْمٍ إِلاَّ دَخَلَ اْلجَنَّةَ (رواه مسلم)ل
Abu Hurairah ra. berkata,”Rasulullah saw. bertanya,’Siapakah diantara kamu yang pada hari ini berpuasa?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau bertanya,’Siapakah diantara kamu yang pada hari ini mengiringi jenazah?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau bertanya,’Siapakah diantara kamu yang pada hari ini memberi makan fakir miskin?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau bertanya,’Siapakah diantara kamu yang pada hari ini menjenguk orang sakit?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Nabi saw bersabda,’ Tidaklah berkumpul sifat-sifat ini pada diri seseorang dalam satu hari melainkan ia akan masuk syurga.'” (HR Muslim dan Ibnu Huzaimah)

PENILAIAN HADITS
Hadits shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (7/110),Ibnu Huzaimah dalam shahihnya (3/304/2131)
KILAS PENJELASAN
Penyelenggaraan dakwah dikatakan dapat berjalan dengan baik dan efektif apabila tugas-tugas dakwah dan tarbiyah yang telah diamanahkan kepada kader-kader dakwah benar-benar dilaksanakan sesuai dengan rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan. Untuk mengetahui apakah tugas-tugas itu sudah dilaksanakan, bagaimana tugas-tugas itu dilaksanakan, apakah tidak terjadi penyimpangan, seorang pengelola / qiyadah dakwah perlu mengadakan pengendalian dan penilaian. Dengan pengendalian dan penilaian itu, ia dapat mengambil berbagai kebijakan pencegahan terhadap penyimpangan dan mengadakan usaha-usaha peningkatan dan penyempurnaan, sehingga proses dakwah tidak menjadi mandeg, justru semakin meningkat dan maju pesat.
Dalam hadits diatas tampak jelas bahwa Rasulullah saw. menjalankan fungsi pengendalian dan penilaian demi merealisasikan sasaran dan kebijakan yang telah beliau tetapkan.
NILAI – NILAI DA’AWIYYAH
……….etc

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 April 2013 in Uncategorized

 

Mengapa Syaikh Ramadhan Al-Buthi Dibunuh?

Riwayat Hidup
Al-Buthi dilahirkan di kampung Gelika pulau Buthan wilayah Kurdistan, Turki tahun 1929, 5 tahun setelah khilafah Utsmani dibubarkan oleh Attaruk. Ayahnya bernama Syaikh Mala Ramadhan Al-Buthi, seorang alim, takwa, dan memiliki keluasan ilmu.

Hanya 4 tahun Al-Buthi tinggal di kampung kelahirannya. Hingga tahun 1933 ia hijrah dibawa ayahnya ke Syiria, akibat maraknya tindakan pembersihan ulama-ulama Islam oleh Attaturk. Keluarga Al-Buthi menetap di kampung ‘Ain Dewar, dekat perbatasan Turki-Syiria. Akhirnya, kampung inilah yang ditulis di akte lahir Al-Buthi dan adik-adiknya.

Al-Buthi mengenyam pendidikan hingga Doktor di Al-Azhar. Lulus dari Sekolah Agama Islam kesohor Ma’had At-Taujih Al-Islami di Damaskus yang dipimpin oleh Syaikh Hasan Habannakah Al-Maidani. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar tahun 1953 dan berhasil meraih gelar ‘Alamiyah (Syaikh) tahun 1955.

Setelah itu kembali ke kota Homs tahun 1958 dan menetap hingga 1961, menjadi guru di beberapa Sekolah Islam, hingga ditunjuk menjadi dosen pembantu di Fakultas Syariah Universitas Damaskus. Kemudian Al-Buthi dikirim untuk mengambil program Doktor dan meraihnya tahun 1965. Tak lama kemudian ia ditunjuk menjadi dosen penuh di fakultas Syariah, hingga menjadi Dekan.

Al-Buthi memiliki banyak karya ilmiah. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Termasuk bahasa Indonesia. Salah satunya yang masyhur: Sirah Nabawiyah.

Al-Buthi dan Hafez Al-Asad
Sepulangnya dari menimba ilmu di Al-Azhar, Syaikh Al-Buthi bekerja menjadi guru PNS di sekolah-sekolah­ milik pemerintah. Setelah itu diangkat menjadi dosen resmi di Universitas Damaskus.

Ketika Hafez Asad berkuasa tahun 1970, artinya jarak antara Al-Buthi lulus dari Al-Azhar dan Hafez Asad berkuasa sekitar 16 tahun. Hubungan Asad dengan Al-Buthi tentu belum terjalin. Al-Buthi seorang dosen, sedangkan Asad menjadi Presiden Syiria.

Hingga pada tanggal 16 Juni 1979, terjadi peristiwa “pembantaian Sekolah Altileri Darat di Aleppo (300 km Damaskus). Sekolah militer tersebut terletak di wilayah Romusa dekat kota Aleppo sebelah utara Syiria. Pembantaian dilakukan oleh Kapten Ibrahim Yousuf, perwira di bagian Bintal sekolah Altileri dibantu oleh Front Tempur jamaah Ikhwanul Muslimin, sebagai aksi pembalasan atas tindakan represif rezim yang salah satu komandannya adalah Hafez Al-Asad. Peristiwa tersebut menewaskan 32 Taruna dan 54 luka-luka.

Usai peristiwa tersebut, kementrian Informasi meminta Syaikh Muhammad Ramadhan Al-Buthi untuk mengeluarkan fatwa syariah tentang pembantaian. Al-Buthi meresponsnya dengan mengungkapkan dalil-dalil syariat yang mengharamkan aksi pembantaian.

Tak lama berselang, kesempatan Al-Buthi menuju jalan istana terbuka. Tak disangka, setelah tampil di media hubungan Al-Buthi dengan Hafez Al-Asad terbuka. HIngga pada tahuna 1982, Kementrian Wakaf Syiria (Kemenag) yang diwakili menterinya bernama Muhammad Al-Khathib mengundang Al-Buthi untuk menjadi pembicara tunggal dalam acara Festival Menyambut Abad 15 H. Acara tersebut dihadiri oleh Presiden Hafez Asad. Al-Buthi memanfaatkannya­ untuk menyampaikan nasihat dan doa bagi Hafez Asad.

Hubungan Al-Buthi dengan Asad semakin intens. Bahkan Asad suka mengajak Al-Buthi ke istana, berdialog hingga berjam-jam (6-7 jam), membicarakan banyak hal. Saya sempat menjadi saksi sejarah, saat 1998 berkunjung ke Syiria menyaksikan Islamic Book Fair di Damaskus ke-14, Al-Buthi benar-benar dicintai rakyat dan penguasa. Tentu ada juga yang mengkritisi sikap Al-Buthi, salah satunya Syaikh Usamah As-Sayyid yang menulis buku bantahan terhadap pemikiran Al-Buthi berjudul, “Ar-Raddu Al-‘Ilmi ‘Alal Buthi”.

Mengapa Al-Buthi Bersikap Manis dengan Rezim Asad?
Banyak tuduhan yang terlontar terhadap ‘Allamah Al-Buthi. Salah satunya yang menuduh beliau sebagai mucikari, muftin (penebar fitnah), hingga pengawal setia rezim Asad. Bagi kita yang hidup jauh dan tidak mengalami –atau malah mencermati prahara dan tekanan politik di era 60an hingga 80-an, maka pasti akan berkesimpulan seperti di atas. Namun jika kita mau sedikit bijak, maka sikap Al-Buthi itu sangat sah dan dibenarkan syariat.

Di antara landasan Al-Buthi membuka dialog dengan Rezim Asad adalah:
1. Hubungan gerakan Islam yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin di pelbagai Negara Arab, tengah berada di titik nadir. Tindakan represif rejim-rejim dunia Arab, dari mulai Maroko hingga Teluk, Mesir hingga Syam tengah marak. Bahkan terbukti, tindakan Hafez Asad yang membumihanguska­n provinsi Homs dan membunuh seluruh penduduknya yang mendukung gerakan IM, tercatat sejarah sebagai hubungan kelam antara penguasa dan jamaah IM.

2. Al-Buthi memandang, rezim Asad dari ayah hingga anaknya Basyar Asad, sangat kuat dipengaruhi sekte Syi’ah Rafidhah yang cenderung membumihanguska­n Muslim Sunni, seperti yang terjadi di Iran-Iraq. Perlu diperhatikan, Hafez Al-Asad naik tahta seiring dengan maraknya revolusi Khumaeni yang puncaknya terjadi tahun 1979. Al-Buthi memiliki komitmen, untuk menyelamatkan entitas Muslim Sunni di Syiria.

3. Tindakan represif Asad bukan hanya pada gerakan perlawanan secara fisik, namun juga mengarah pada non fisik. Di era Hafez Al-Asad, pengajian-majli­s taklim-dan perkumpulan di atas 3 orang bukan hanya tidak diizinkan, tapi akan dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Jika pun ada, yang berlaku adalah pengadilan militer. Hingga banyak gerakan-gerakan­ Islam yang memilih jalan dakwah dengan gerakan Shufi, yang berkumpul di masjid dan berdzikir ratusan ribu kali sembari berjingkrak-jin­gkrak. Saya pernah mengalami itu di salah satu masjid di Manbej, salah satu kabupaten di wilayah Aleppo. Jelas, selain majlis taklim dilarang, maka penerbitan buku-buku Islam dibatasi.

Hasil Nasihat Al-Buthi
Usaha Al-Buthi untuk menasihati penguasa berbuah di tataran nyata. Tentu dengan pengorbanan tak sedikit, salah satunya, Al-Buthi dituduh tutup mata dengan tindakan Asad. Di antara hasilnya adalah:

1. Al-Buthi pernah diundang selama 7 jam, berdialog dengan Hafez Asad. Al-Buthi lebih banyak menyimak curhatan Asad, hingga akhirnya Al-Buthi menyarankan Hafez Asad untuk membebaskan tokoh-tokoh dan tawanan politik dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Rentang beberapa minggu kemudian, para tapol IM dibebaskan.

2. Saya memprediksi, kesediaan Asad untuk membuka Syiria bagi para pengungsi Palestina setelah peristiwa Pembantaian Sabra dan Shatila terjadi pada September 1982, di Beirut, Lebanon, yang saat itu diduduki oleh Israel adalah hasil dari nasihat yang diberikan oleh Al-Buthi. Bahkan Syiria membuka diri kepada HAMAS untuk membuka satus-satunya kantor Perwakilan HAMAS.

3. Penerbitan buku-buku Islam Sunni termasuk Al-Qur’an, sangat digalakkan. Bahkan saat saya mengunjungi toko-toko buku di Syiria, penerbit-penerb­it Syiria sukses menjadi penerbit-penerb­it buku Islam terkemuka hingga di Mesir. Beberapa penerbit di Mesir, malah justru dimiliki orang-orang Syiria. Termasuk maraknya majlis-majlis Taklim di Damaskus yang didukung penguasa Asad, semisal: Kajian Hadis Bukhari oleh Syaikh Musthafa Bugha, Kajian Fiqh dan Syariah oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaily, Kajian Sirah oleh Al-Buthi, hingga kajian dan Kuliah Singkat di Mujamma’ Abun Nur Al-Islamy yang dipimpin oleh Syaikh Kaftaro. Dimana kurang lebih ada 25 orang mahasiswa/­i Indonesia yang turut menikmati pendidikan di sekolah-sekolah tersebut.

4. Hafez Asad sebelum wafatnya, mengundang Al-Buthi ke kediamannya. Ia berpesan agar saat wafat, Al-Buthi sukahati menjadi imam. Al-Buthi pun menunaikan pesan Asad. Hingga peran ini, banyak yang berpendapat, Hafez Asad telah melunak dari paham Syi’ah Rafidhah-nya. Dan terbukti, dukungan Syiria terhadap Libanon melawan Israel semakin menguat.

Buthi dan Basyar Al-Asad
Hubungan manis Al-Buthi dengan rejim Asad, berlanjut hingga kekuasaan Syiria berpindah kepada Basyar Asad. Singkat kata, hingga menjelang demonstrasi yang mengakibatkan revolusi dan perlawanan senjata, Al-Buthi telah menjalankan fungsinya sebagai penasihat utama rezim Asad.

Al-Buthi bersama rombongan ulama Sunni, mendatangi Asad dan menuntut beberapa hal:
1. Asad membuka diri bagi tuntutan reformasi. Hal ini disanggupi Asad dengan melakukan perubahan birokrasi, mengubah menteri di 6 kementrian, dan memecat PM.
2. Asad diminta untuk tidak menggunakan tindakan represif. Asad menyanggupi, asalkan demonstrasi anti dirinya dihentikan.

Namun mengapa Asad mengajukan sebuah dokumen kepada Al-Buthi, bahwa pihak demonstran telah disusupi anasir-anasir Wahabi yang didukung oleh Saudi Arabia, yang justru didukung oleh AS-Barat. Di sini kembali harus bijak dalam bersikap. Dalam benak Al-Buthi, kesatuan rakyat Syiria lebih diutamakan. Maka dalam pelbagai khutbah Jumat, Al-Buthi menyerukan persatuan dan kesatuan itu. Al-Buthi ingin memahamkan kepada semua elemen termasuk jamaah Ikhwanul Muslimin, di awal-awal demonstrasi untuk menahan diri. Karena demonstrasi dan revolusi sudah ditunggangi. Tak ada yang mengambil manfaat dari kisruh Syiria, kecuali Israel. Bahkan di salah satu khutbahnya, Al-Buthi mengungkapkan hadis shahih tentang keharusan taat kepada pemimpin (amir), terlepas pemimpin itu baik atau jahat, saking pentingnya persatuan dan kesatuan serta stabilitas.

Hadis-hadis yang disampaikan adalah hadis-hadis yang digunakan oleh rejim Al-Sa’ud di Saudi Arabia, rejim Al-Nihyan di UAE, atau Al-Khalifah di Qatar, dll. Sebaiknya kita tengok tanggal dan waktu kapan Al-Buthi menyampaikan khutbah, selain kita pun harus mendengar khutbah tersebut harus utuh, tidak sepotong-sepoto­ng.

Mengapa Al-Buthi Dibunuh?
Peristiwa di Masjid Al-Iman, tempat pengajian Moursi kemarin (22/3/13) sangat tidak masuk akal. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut:

1. Sejak lama, Al-Buthi dikelilingi pengawal dari militer Asad. Kemanapun Al-Buthi pergi, maka puluhan pengawal dan intel, memenuhi setiap langkah Al-Buthi. Asad frustasi dengan semakin banyaknya pejabat-pejabat­ (termasuk Menhan) yang membelot ke pejuang Syiria. Al-Buthi dikhawatirkan membelot. Bahkan saksi mata mengatakan, bahwa masjid sudah dikepung dari empat penjuru.

2. Melihat TKP, ledakan bom dilakukan jauh dari area masjid. Sedangkan di masjid, yang terjadi bukan ledakan tapi penembakan dan pembantaian. Pihak intelejen Asad, langsung datang melakukan pembersihan dan mengangkut seluruh mayat -termasuk korban jamaah yang terluka- ke tempat yang Asad dan intelejen yang mengetahuinya.

3. Dari sejak perjuangan melawan Asad digelorakan, Front Pembebasan Syiria sudah bersepakat tidak menyerang ulama-masjid-te­mpat ibadat- bahkan para pejuang memiliki etika untuk tidak melakukan serangan kecuali setelah pukul 10 malam hari.

Pertanyaannya, MENGAPA AL-BUTHI DIBUNUH? Menarik analisa Samer Muhsin, seorang pemerhati pergerakan Islam yang mengemukakan alasan-alasan dibunuh:

1. Al-Buthi adalah kaatimus sirri (penutup rahasia), pemegang kartu truf rezim Asad. Karena Al-Buthi lama menjadi nasihat Hafez Asad. Ketika Al-Buthi membelot, maka Asad khawatir segala aib dirinya terbongkar. Termasuk membongkar pelbagai kebijakan Asad yang berdamai dengan Israel, risywah, korupsi, dan pembantaian.

2. Al-Buthi paham betul tokoh-tokoh yang berbaju ulama, tapi memiliki rencana busuk untuk menghancurkan kaum Sunni di Syam.

3. Al-Buthi dijadikan alat oleh Asad untuk meraih simpati dari kalangan Sunni, untuk digunakan sebagai propaganda memecah belah kesatuan Front Pembebasan Syiria yang semakin hari semakin banyak menuai sukses.

4. Al-Buthi dijadikan “maf’ul bih” dan “maf’ul liajlih” maksudnya: sinyal bahwa siapapun yang melawan Asad akan dibantai, termasuk orang terdekat sekalipun.

5. Asad melempar 2 burung dengan 1 batu. Maksudnya, mengorbankan Al-Buthi agar rakyat Syiria -terutama Sunni- antipati terhadap para pejuang Front Pembebasan Syiria.

Kesimpulan
Saya yang sempat beberapa kali menghadiri taklim beliau, sangat yakin akan ketulusan, keikhlasan, dan muruah yang dimiliki Syaikh Al-Buthi. Bahkan saya mendengar, Al-Buthi tidak mengambil royalty dari buku-buku yang diterbitkan. Selain berwasiat untuk menginfakkannya­ di jalan Allah. Termasuk buku-buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagai orang yang dekat dengan kekuasaan, Al-Buthi jauh dari kata borju atau memperkaya diri. Hal ini dilatarbelakang­i oleh keadaan beliau sejak kecil yang hidup susah.

Adapun sikap beliau yang mendukung penguasa, bagi saya sangat lumrah dan masuk akal:
1. Beliau adalah salah satu saksi sejarah atas tindakan represif Attaturk di Turki yang membantai para ulama, menghancurkan masjid, memupus B. Arab. Hingga ia dan seluruh keluarganya memilih berhijrah ke Syiria. Pengalaman pahit tindakan bengis penguasa ini, tak akan bisa dihapus. Maka sikap beliau yang memilih loyal kepada pemerintah, dipahami sebagai “dakwah” untuk menjaga generasi muda Islam dan alim ulama dari pembantaian rezim Asad.

2. Beliau memiliki alasan yang didukung Al-Qur’an dan Sunnah tentang kewajiban taat kepada pemimpin, karena beliau melihat dan merasakan, hampir tak ada pemimpin Arab yang peduli terhadap Islam selain Raja Faisal. Seluruh pemimpin Negara Arab adalah pemimpin dictator. Ingat Al-Buthi hidup di 5 generasi. Mulai generasi Raja Farouq di Mesir hingga Moursi. Dari generasi Syah Iran-Khumaeni-h­ingga Ahmadinejad. Beliau paham betul, kepedihan dari praktik zholim penguasa terhadap para ulama dan aktivis gerakan Islam di seluruh negeri Arab. Oleh karena itu, beliau masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dalam rangka menasihati, tidak lebih.

3. Sebagai alim dan mujtahid, saya meyakini, apa yang beliau lakukan dengan mendukung rezim penguasa adalah bagian dari ijtihad. Jika salah mendapatkan 1 pahala, dan jika benar mendapatkan dua pahala. Saya yakin beliau adalah sosok terbaik. Bila ada kekurangan, saya meyakini kekurangan atau khilaf adalah hal yang lumrah dari manusia. Namun kekurangan yang sedikit, tidak boleh membuat kita mencaci maki. Terlebih yang mencaci maki hanyalah bau kencur yang tak memiliki karya, amal shalih, hingga pengalaman hidup setinggi beliau. Wallahu A’lam

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 Maret 2013 in Uncategorized

 

asy-syaja’ah fid dakwah(2)

Macam-macam Syaja’ah
Syaja’ah atau pemberani tentu saja berbeda dengan bersikap nekat, “ngawur” atau tanpa perhitungan dan pertimbangan. Asy-syaja’ah adalah keberanian yang didasari pertimbangan matang dan penuh perhitungan karena ingin meraih ridha Allah. Dan untuk meraih ridha Allah, tentu saja diperlukan ketekunan kecermatan dan kerapian kerja (itqan). Buka keberanian yang tanpa perhitungan, namun juga bukan terlalu perhitungan dan pertimbangan yang melahirkan ketakutan.
Paling tidak ada beberapa macam bentuk asy-syaja’ah (keberanian), yakni:
1. Memiliki daya tahan besar
Seseorang dapat dikatakan memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.
2. Berterus terang dalam kebenaran
“Qulil haq walau kaana muuran” (katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala resiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.
3. Kemampuan menyimpan rahasia
Orang yang berani adalah orang yang bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan terutama dalam persiapan jihad menghadapi musuh-musuh Islam. Kemampuan merencanakan dan mengatur strategi termasuk di dalamnya mampu menyimpan rahasia adalah merupakan bentuk keberanian yang bertanggung jawab.
4. Mengakui kesalahan
Salah satu orang yang memiliki sifat pengecut adalah tidak mau mengakui kesalahan, mencari kambing hitam dan bersikap “lempar batu, sembunyi tangan”
Sebaliknya orang yang memiliki sifat syaja’ah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab.
5. Bersikap obyektif terhadap diri sendiri
Ada orang yang cenderung bersikap over estimasi terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta kekurangan. Sebaliknya ada yang bersikap under estimasi terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan tidak obyektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.
6. Menahan nafsu di saat marah
Seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu bermujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya.

Contoh Figur-figur Sahabat dan Sahabiyah yang Memiliki Sifat Syaja’ah
Berani karena benar dan rela mati demi kebenaran. Slogan tersebut pantas dilekatkan pada diri sahabat-sahabat dan sahabiyah-sahabiyah Rasulullah saw. karena keagungan kisah-kisah perjuangan mereka.
Rasulullah Muhammad saw. sendiri menjadi teladan utama saat beliau tak bergeming sedikit pun ketika disuruh menghentikan dakwahnya. Beliau pun berucap dengan kata-katanya yang masyhur, “Walaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan pernah menghentikan dakwahku ini”.
Keberanian dan keteguhan sikap nampak pula pada diri sepupu dan menantu Nabi saw., Ali bin Abu Thalib r.a. Ali mengambil peran yang sangat beresiko, menggantikan Rasulullah di tempat tidur untuk mengelabui musuh-musuh yang mengepung. Dan benar saja ketika tahu mereka dikelabui, mereka pun marah serta memukuli Ali hingga babak belur.
Khalifah kedua yakni Umar bin Khathab juga sangat terkenal dengan ketegasan sikap dan keberaniannya. Ketika mau hijrah berbeda dengan sahabat-sahabat lain yang sembunyi-sembunyi, Umar malah berteriak lantang, “Umar mau hijrah, barang siapa yang ingin anak istrinya menjadi yatim dan janda, hadanglah Umar”.
Keberanian mempertahankan akidah hingga mati nampak pada Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir. Beliau menjadi syahidah pertama dalam Islam yang menumbuhsuburkan perjuangan dengan darahnya yang mulia.
Begitu pula Khubaib bin Adiy yang syahid di tiang salib penyiksaan dan Habib bin Zaid yang syahid karena tubuhnya dipotong-potong satu demi satu selagi ia masih hidup. Mereka berani bertaruh nyawa demi mempertahankan akidah dan itu terbukti dengan syahidnya mereka berdua.
Bilal dan Khabab bin Al-Irts, yang mantan budak disiksa dengan ditimpa batu besar (Bilal) dan disetrika punggungnya (Khabab) adalah bukti bahwa keberanian tidak mengenal lapisan dan strata sosial.
Ada pula anak bangsawan seperti Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqash yang diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak oleh orangtua mereka karena masuk Islam. Dan akhirnya wanita-wanita perkasa dan pemberani seperti Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw., Nusaibah binti Ka’ab, perisai Rasulullah saw. dan Fatimah, putri Rasulullah saw. yang menjadi bukti wanita tak kalah berani dibandingkan laki-laki dalam mempertahankan kebenaran.

Kiat-kiat Memiliki Sifat Syaja’ah
Dengan segala kesederhanaannya, prajurit muslim Rubyi menemui Panglima besar Persia, Rustum. Pedangnya yang menyembul di pinggangnya menyaruk-nyaruk bentangan karpet mewah Persia yang digelar. Seolah-olah ingin berkata, “Aku tak butuh dan tak silau oleh semua kemewahan ini”.
Rubyi bahkan berorasi dengan lantangnya, “Kami datang untuk membebaskan kalian dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Kami datang untuk membebaskan kalian dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat”.
Keberanian, yang ditunjukkan Rubyi adalah buah dari keimanan dan ketakwaannya. Karena ia meyakini hanya Allahlah Yang Maha Besar dan patut ditakuti, dan manusia sehebat dan sekaya apapun kecil dibandingkan Allah Yang Agung.
Jadi kiat utama untuk memiliki sifat syaja’ah adalah adanya daya dukung ruhiyah berupa keimanan dan ketakwaan yang mantap. Iman dan takwa ini akan membuat seseorang tidak takut pada apapun dan siapa pun selain Allah.
Kemudian bermujahadah melawan segala rasa takut, cemas dan khawatir yang secara manusiawi ada pada setiap manusia.
Berikutnya bisa pula dengan cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saat menasihati Khabbab bin Harits yang berkeluh kesah atas beratnya penderitaan yang dialaminya, beliau mengingatkan Khabbab akan perjuangan para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu yang jauh lebih berat tapi mereka tetap berani dan tabah. Jadi kita bisa memupuk keberanian dan kesabaran dengan berkata, “Ah… cobaan ini belum seberapa dibanding yang pernah dialami orang-orang shaleh terdahulu”.
Dan akhirnya kejelasan misi dan visi perjuangan serta senantiasa mengingat-ingat imbalan optimal berupa ampunan dan surga-Nya kiranya akan memperbesar keberanian dan semangat juang, insya Allah.
Wallahu a’lam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Januari 2013 in Uncategorized