RSS

كلمة النقيب

   
Segalapuji bagi اللهyang telah menurunkan dalam hati hati kita iman, islam, barakah dan kesejahteraan.
Akhunafillah dalam hidup berjamaah di masyarakat tentunya kita akan berinteraksi dengan berbagai jenis ragam,sifat dan karakter manusia,yang semuanya dibingkai dengan aturan,hukum dan norma-norma yg menjadikan interaksi itu berjalan dengan tertib dan saling menghormati. Dan kita,saya yakin semuanya telah menyadari bahwa kita telah berada dalam sebuah rumah alamiyah yang bernama jama’ah….kalau dalam masyarakat ada aturan,hukum dan norma-norma maka begitu pula dalam rumah jama’ah ini.bahkan aturan,adab dan norma itu juga berlaku antar kamar dalam rumah jama’ah tersebut.karena sebuah rumah yang ideal pasti memiliki kamar-kamar,ada kamar bagi yang ahli,ada kamar bagi yang dewasa,ada kamar bagi yang madya,selain itu, mereka yang mudahan diberi hidayah اللهuntuk bergabung dalam rumah mubarakah ini. Ada aurat yang harus dijaga oleh para penghuninya sebagaimana Al-qur’an memberi pengajaran kepada kita
                                                       
24:58. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan Pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu[1047]. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu[1048]. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
[1047] Maksudnya: tiga macam waktu yang Biasanya di waktu-waktu itu badan banyak terbuka. oleh sebab itu Allah melarang budak-budak dan anak-anak dibawah umur untuk masuk ke kamar tidur orang dewasa tanpa idzin pada waktu-waktu tersebut.
[1048] Maksudnya: tidak berdosa kalau mereka tidak dicegah masuk tanpa izin, dan tidak pula mereka berdosa kalau masuk tanpa meminta izin.
Seyogyanya bagi anggota sebuah kamar akan menjaga auratnya agar tidak diketahui oleh kamar sebelah,tidak akan membuka qodoya dan rawai yg terjadi di kamarnya kepada penghuni kamar sebelah yang menyebabkan munculnya perbedaan cara pandang terhadap qodoya dan rawai tersebut,terlebih lagi kalau aurat itu didengar dan diketahui oleh kamar akhwat. Yang paling ahsan ketika kita blm puas dalam pembahasan dalam kamar kita,hendaknya mendatangi pengelola group,berbicara dari hati ke hati. Apalagi saat ini berbagai sarana bisa kita pakai,sms-kah,telephone-kah,chating via facebook-kah..jadi intinya jangan sampai masalah ini meluber kemana-mana.
Wallohu a’lam bi showwab.

Semua Ada Harganya (04 januari 2012)
Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.
________________________________________
Menjadi aktifis dakwah bukanlah sekedar pilihan. Apalagi bagi akhawat al ummahat dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Keterbatasan? Ya, siapa yang dapat memungkiri bahwa ada keterbatasan yang tak dapat ‘diganggu gugat’ dari gerak langkah seorang aktivis dakwah akhawat?
Kita tak hendak membahas soal keterbatasan itu. Biarlah ia menjadi ‘kekhususan, daya tarik sekaligus kekuatan’ kita. Yang lebih penting adalah, bagaimana dengan keterbatasan itu kita tetap dapat dan mampu memberi kontribusi untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.
Dalam kesempatan kunjungan saya ke berbagai tempat, saya bertemu dan berdiskusi dengan para aktivis dakwah akhawat dari berbagai belahan dunia, bukan hanya dari dunia Islam, tapi juga dari Eropa dan Amerika. Banyak persoalan dibahas, tetapi satu persoalan yang menarik bagi saya adalah ternyata ada kesamaan problem di antara semua peserta diskusi. Itulah problem yang saya sering menyebutnya dengan ‘problem khas akhawat, atau problem klasik’. Khas karena problem itu hanya muncul dikalangan akhawat, klasik karena sebenarnya problem seperti ini telah muncul sejak lama, juga telah sering didiskusikan di berbagai forum dan kesempatan, formal maupun informal, tetapi seperti tidak pernah selesai.
Problem apakah itu? Tidak sedikit akhawat kita disini -dan juga akhawat di negara lain- mengeluhkan tentang dukungan dan support suami dalam menjalankan peran sebagai aktivis dakwah. Saya rasa, kita tak perlu tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari keluhan itu. Saya mengajak kita semua untuk berpikir jernih dan sedikit melakukan analisa sederhana terhadap sebab munculnya keluhan itu.
Boleh jadi jika suami kurang memberi dukungan seperti yang diharapkan istrinya yang aktifis itu, karena ada perbedaan persepsi tentang ‘peran akhawat al muslimat’. Saya katakan ‘boleh jadi’, karena mungkin antum wahai ikhwan tidak merasakan itu. Tetapi, cobalah tanya ke para akhawat, mereka akan dengan semangat mengatakan bahwa hal inilah yang mungkin menjadi akar dari semua masalah dukung mendukung itu. Bahkan teman saya, seorang ukhti yang saya cintai karena Allah, yang alhamdulillah memiliki suami yang merelakannya menjadikan dakwah sebagai aktivitas hidupnya, berseloroh mengatakan ‘hari gini masih ngeributin peran akhawat?’
Atau bisa jadi juga, karena suami ‘sangat sayang’ kepada istrinya. Dugaan ini muncul karena beberapa ikhwan tidak mempermasalahkan keaktifan akhawat dalam dakwah…asalkan bukan istrinya. Nah! Jujur, teman-teman saya pernah mendengar komentar dari kalangan ikhwan seperti ini, ‘Silahkan saja, akhawat kan memang harus aktif terlibat dalam dakwah, tapi jangan istri saya deh’.
Kemungkinan lainnya, boleh jadi suami melihat istrinya kurang bisa memanej dengan baik berbagai aktifitasnya. Istilah populernya, sang istri jadi ‘kurang tawazun’. Diantara keluhan suami, istri terlalu banyak keluar rumah sehingga jadi kurang perhatian terhadap urusan rumah, anak-anak dan dirinya.
Disamping tiga sebab di atas, tentu masih ada sebab lainnya, yang jika ditulis bisa menjadi tulisan berlembar-lembar. Sekarang marilah merenung sejenak.
Saya sepakat bahwa tidak semua akhawat harus menjadi aktivis dalam pengertian khusus, memberikan totalitas hidupnya untuk menjadi prajurit dakwah. Keberagaman potensi dan kemampuan di kalangan akhawat harus menjadi pertimbangan penting dalam membuat rancangan peran dan kontribusi akhawat yang pas dan sesuai dalam dakwah. Alangkah indahnya jika akhawat memiliki spesialisasi masing-masing, lalu semua bekerja dan memberi kontribusi sesuai spesialisasi potensinya itu dalam kerangka amal jama’i.
Para akhawat yang punya kesempatan untuk berkonsentrasi menekuni urusan kerumah tanggaan misalnya, dapat meningkatkan kualitas dirinya dalam urusan itu. Misalnya dengan menekuni masak memasak, atau ketrampilan-ketrampilan kerumah tanggaan lainnya, lalu berbagi keahliannya itu dengan akhawat lain. Atau, ia juga dapat memberi kontribusi dalam dakwah dengan ikut membantu saudara-saudaranya yang tidak punya waktu luang sebanyak dirinya. Saya membayangkan, para ummahat yang punya lebih banyak waktu dirumah, dengan ikhlas dan semangat amal jama’i lalu berbondong-bondong membantu menjaga anak-anak saudari-saudarinya yang mendapat amanah dakwah keluar rumah, keluar kota atau keluar negeri. Subhanallah, betapa indahnya! Kita berharap, kontribusi ini menjadi amal shaleh kita yang dapat memberatkan timbangan di yaumil hisab nanti. Amin.
Akan halnya para akhawat yang dengan takdir-Nya menjadi prajurit dakwah, marilah sama-sama kita renungkan hal ini! Kita telah melakukan sebuah transaksi besar dengan Allah, Pemilik dakwah ini. Transaksi itu melibatkan seluruh diri kita, harta, waktu, jiwa, potensi, bahkan darah dan daging, tulang belulang kita, semuanya telah kita ‘jual’ kepada Allah. Maka sejak saat kita melakukan transaksi itu dengan memberikan janji setia kita kepada-Nya, saat itu pula sesungguhnya kita telah menjadi ‘milik Allah’ dengan semua makna yang tercakup dalam kata itu.
Ada makna yang sangat dalam dari transaksi yang kita lakukan dengan ikhlas itu. Kita jual diri kita seutuhnya untuk Allah, dan Dia berikan harga mahal untuk semua itu. Allah Yang Maha Kaya memberikan harga untuk diri yang kita jual kepada-Nya itu -tidak tanggung-tanggung, dengan syurga-Nya!
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar!. At-Taubah:111.
Maka saudariku, semua yang kita lakukan, kita perjuangkan dalam dakwah ini ada harganya. Semua kelelahan, ketakutan, keresahan, kesempitan, pengorbanan yang kita berikan di jalan dakwah ini, semuanya ada harganya. Ada janji Allah berupa syurga yang menunggu, jika kita menepati janji setia kita kepada-Nya. Allah tidak akan mengkhianati janjinya, siapakah yang lebih menepati janji selain Allah? Karena itu, siapkan diri kita untuk punya kemampuan menanggung semua konsekwensi, menghadapi semua tantangan dan rintangan, menjalankan semua kewajiban…sampai Allah memberi kemenangan kepada dakwah ini, atau kita syahid di jalan-Nya!
Wahai akhawat! Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang ada. Kewajiban sebagai anak, istri, ibu, tetangga, anggota masyarakat dan prajurit dakwah, semua menuntut penunaian secara ihsan. Saya mengerti dan merasakan, betapa tidak mudahnya kita mengelola dan melaksanakan berbagai kewajiban itu. Kadang kita ‘tertatih-tatih’ menjalankan semua kewajiban itu. Tetapi, kita tidak ingin mengeluh atas semua itu. Kita juga tidak menuntut pengertian dari orang lain agar memahami tugas kita. Justru di sinilah kita letak keindahannya, kita mendapat kesempatan untuk memberi bukti kepada Allah, bahwa kita siap dengan semua beban-beban itu! Karena kita tahu dan yakin, ada surga yang menunggu! Jadi saudariku, buktikan bahwa kita layak melakukan transaksi dengan Allah!
Sebagai penutup, ingatlah bahwa Allah tidak melihat apa dan bagaimana kedudukan kita, tetapi Dia melihat amal dan kontribusi kita. Karena itu, apapun potensi dan kemampuan kita, beramallah dengannya. Sedangkan yang terbaik dan mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantaramu.” Al-Hujurat:13.
Wallahu’alamu bish-shawab.

Istafti qolbak (mintalah fatwa pada hatimu). Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang memunculkan keraguan dan kegelisahan dalam dada….” Itu jawaban Rasulullah saw saat ditanya tentang definisi al-birr atau kebaikan oleh seorang sahabat bernama Wabishah bin Ma’bad ra. Rasul mengatakannya sambil meletakkan kelima jarinya di dada Wabishah. Dan Wabishah sangat terkesan dengan nasihat Nabi tersebut.

Secara singkat, Rasul memberi definisi tegas untuk membedakan baik dan buruk. Timbangannya ada pada suara hati, ada pada nurani. Hati memiliki kedudukan sangat strategis sehingga setiap muslim dianjurkan untuk mendengarkan, dan mengikuti suara hatinya dalam menentukan sikap. Hadits itu bahkan ditutup dengan perkataan Rasul, bahwa seseorang harus tetap lebih mengutamakan suara hatinya betapapun banyak orang yang memiliki pandangan berbeda. Parameternya kembali pada sabda Rasul bahwa kesalahan dan dosa itu adalah yang membuat hati gelisah. Sementara kebaikan itu adalah yang membuat hati tenteram dan tenang.

Itu sebabnya setiap orang harus bisa melatih diri peka mendengar suara hati nurani. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk tujuan ini.

Pertama, manfaatkan momen-momen sunyi untuk mendengarkan suara hati. Duduk dan tafakkurlah di waktu malam. Istirahatkan, lidah, telinga, mata sejenak, setelah kita menggunakannya selama belasan jam dalam sehari. Dengarkanlah suara hati. Dengarkan pelan-pelan dan hati-hati. Jika tidak ada sesuatu pun yang terdengar, itulah saat terbaik bagi kita untuk menyadari bahwa hati kita telah ditutupi oleh debu yang tebal; debu keserakahan, kedengkian dan kesombongan. Sehingga ia tidak lagi mampu memantulkan gelombang cahaya kebenaran. Seorang ulama dan juru dakwah terkenal asal Mesir, Al Imam Hasan AI-Banna, pernah mengatakan, “Detik demi detik di malam hari itu sangat mahal. Jangan kau sepelekan ia dengan amal-amal yang melalaikan…”

Imam Zainal Abidin Ali bin Husain bin Ali ra mengatakan, “Jika seorang kerap merenungi kebesaran Allah pada saat orang lain tidak ada, maka Allah akan memberitahukan berbagai kesalahan yang dilakukannya sehingga ia lebih sibuk dengan dosa-dosanya ketimbang sibuk dengan kesalahan orang lain.”

Kedua, luangkan waktu untuk terlepas dari kegiatan rutin. Seringkali manusia terlalu sibuk hingga menjadikannya seperti tak pernah terlepas dari belenggu kehidupan duniawi. Padahal bagaimanapun jiwa sebagaimana fisik, perlu istirahat dan ketenangan. Allah swt sebenarnya telah menyediakan waktu-waktu istirahat jiwa yang sangat efektif dan ideal bagi kita. Kesempatan itu ada pada saat setiap seseorang melakukan shalat lima waktu. Hilangkan segala persoalan dan problematika yang melilit hidup, dalam sholat. Tenangkan pikiran, tundukkan hati dan pandangan, satukan perhatian, penuh hanya untuk beribadah dan berdialog kepada Allah swt.

Dialah yang menciptakan kehidupan dan segala dinamika hidup. Melalui shalat lah, seseorang memiliki terminal peristirahatan yang nyaman. Untuk berdialog dengan Allah dan dengan diri sendiri, dan mendengarkan suara hatinya. Mushthofa Shadiq Ar-Rafi’i menyebutkan, “Adalah kesalahan besar bila engkau mengatur kehidupan lahir yang ada di sekelilingmu, sementara engkau biarkan hatimu berantakan.” (Wahyul Qalam, 2/44)

Ketiga, biasakan berpikir sebelum bertindak. Jangan terbiasa melakukan perilaku dengan harus mengorbankan suara hati nurani. Suara hati harus sering-sering diperhatikan dan didengarkan. Ingat sabda Rasulullah, “Dosa itu adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan engkau tidak suka bila prilaku itu diketahui orang lain.” (HR Muslim).

Hanya ada dua indikator dosa menurut Rasulullah. Hati gelisah dan kekhawatiran adanya orang lain yang melihat perbuatan itu. Dan itulah suara hati yang tak boleh diterjang. Terlalu sering melawan suara hati, akan menjadikan orang semakin sulit menangkap getaran hatinya. Karena suara hatinya semakin lemah untuk menyuarakan kebenaran. Seorang ulama hadits bernama Muhammad bin Kunasah dalam bait-bait syairnya mengatakan, “Semakin terbiasa jiwa mengikuti hawa nafsu, semakin berat memutusnya dari ketergantungan hawa nafsu..”

Keempat, lakukanlah perenungan dan penyelaman makna ayat-ayat Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an dan menyelami maknanya, akan semakin mempertajam suara hati, untuk tetap berada pada rel fitrah yang telah Allah ciptakan. Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk banyak membaca dan merenungi hakikat tentang kehidupan dan kematian, menumbuhkan rasa takut, pengharapan dan ketundukan kepada Allah. Al-Qur‘an juga akan membiasakan jiwa untuk selalu mengukur segala sesuatu dengan apa yang diridhai Allah.

Berkata Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zilalil Qur’an, “Orang yang merasakan takut pada Allah tidak akan berani melakukan maksiat kepada-Nya. Jika sesekali ia berbuat maksiat karena dorongan sifat kemanusiaannya yang lemah, perasaan takut akan kebesaran Allah inilah yang akan menegur, memperingatkan dan mengajaknya pada penyesalan atas maksiat tersebut. Beristighfar meminta ampun dan taubat kepada Allah. Dengan begitulah ia akan terikat dengan ketaatan pada Allah, dan mampu mengekang jiwa dari selalu mengikuti kehendak hawa nafsunya.”

Kelima, hindari terlalu banyak bicara yang bisa menyebabkan pengotoran hati. Sikap menyedikitkan bicara dan memperbanyak amal, menandakan seseorang lebih banyak berpikir dan berdialog serta mendengarkan suara hatinya. Menurut ulama shalih di zaman Tabi’in, Fudhail bin Iyadh, terlalu banyak bicara merupakan salah satu sifat yang akan mengotorkan hati. Sikap itu juga pada gilirannya akan menjadi salah satu indikasi kemunafikan, bila yang dibicarakan menjadi lebih banyak dari amal yang dilakukan. “Orang mu’min sedikit bicara dan banyak bekerja, sedangkan munafik banyak bicara dan sedikit bekerja.”

Sebenarnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap bersih, hingga ia bisa memberi fatwa yang jernih. Banyak cara yang bisa dilakukan agar “air” terus mengalir dan membasuh hati, sehingga hati tetap bersih dari “debu” dan kita mampu menangkap suaranya. Semua sarana itu tersimpul pada aktifitas memperbanyak amal-amal ibadah. Shalat, dzikir, tilawah Al-Qur’an, shaum, zakat dan sebagainya seperti yang kita lakukan pada setiap program usbu’ ruhiyyah, semua itu akan menjadi pembersih bagi hati. Lihatlah Al-Qur’an surat Ali Imran ayat134 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang atau sempit, mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain adalah orang-orang yang disukai Allah.

Itulah salah satu cara menangkap suara hati di saat-saat yang paling sulit, bahkan. Seperti ketika marah. Mampukah kita melakukannya? Semoga Allah memberikan hidayah taufiq kepada kita semua. Amiin ya robbal’alamin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: