RSS

RINCIAN PATOKAN SALING MENASIHATI

05 Mar

Perlu rasanya dirinci beberapa patokan yang wajib diperhatikan berkaitan dengan praktek saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran,antara individu kader dan pimpinannya.
Pertama,kebenaran berada diatas segala-galanya dan semua orang harus tunduk dihadapannya,baik anggota maupun pimpinan
Allah swt berfirman,
49:1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya[1407] dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
[1407] maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.
4:65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
33:36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.
Seseorang dikenal karena kebenarannya,bukannya kebenaran dikenal karena orang. Kebenaran lebih berhak untuk diikuti. Bagi kita tidak ada pilihan kecuali mengambil kebenaran itu dari orang yang membawanya,dari anak kecil maupun dewasa, atau meskipun kebenaran itu dari musuh kita. Kita harus menolak kebatilan itu dari orang yang membawanya.entah ia anak kecil ataupun orang dewasa,atau meskipun itu dari kekasih kita.
Kedua,semua orang sejajar dihadapan kebenaran,baik anggota maupun pemimpin,bawahan maupun atasan.
Tidak ada penghubug seseorang dengan Allah swt kecuali taqwanya. Dihadapan syari’at Allah swt semua sama. Ketika prinsip ini tidak dipegang teguh,maka bangunan gerakan akan mengalami guncangan dan jadilah ia tempat bercokolnya kepentingan nafsu,bukan tempat kebenaran bertahta.
Demikian itulah,Rasulullah mengambil sikap tegas tatkala Usamah bin Zaid dating kepada beliau memintakan perlindungan hukum seorang wanita makhzumiyah yang mencuri,padahal usamah adalah orang yang dicintai Rasulullah saw. Beliau menolak tegas dan berkata,”Apakah engkau memintakan perlindungan dari hukum Allah?” lalu beliau berdiri dan berpidato,”Wahai manusia,sesungguhnya rusaknya orang-orang sebelum kamu adalah karena bila ada kaum bangsawan diantara mereka mencuri,maka mereka biarkan,akan tetapi apabila orang lemah yang mencuri maka mereka menegakkan sanksi hukum. Demi Allah,seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.”
Ketiga,pemimpin berhak melakukan ijtihad tentang sesuatu yang tidak ada teks dalil syariatnya.
Ia memiliki wewenang melakukan pilihan diantara keputusan yang dianggap paling baik. Apabila ijtihatnya salah,maka ia mendapat satu pahala.dan apabila benar ia mendapat dua pahala. Demikian juga para anggota, mereka punya kewajiban untuk mendengar dan menthaati,sepanjang perintah pemimpin tidak mengandung maksyiat.
Hal yang harus dimaklumi,bahwa hukum-hukum syariat itu berlaku untuk segala situasi dan kondisi,bukan hanya untuk situasi dan kondisi tertentu. Selain itu juga masih mempertimbangkan kekuatan dan kelemahannya,tradisi yang berlaku,serta perkecualian-perkecualian,juga mempertimbangkan kemampuan anggota ketika diamanahi tanggungjawab,agar ia menunaikannya dengan tanpa keluhan dan rasa berat.
Allah swt berfirman,
2:286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Dari sinilah kita bias memahami kaidah fiqh,”kesulitan itu bias mendapatkan keringanan.”
Dari sini pula kita boleh mengambil kaidah “memilih yang lebih ringan diantara dua kejelekan”,ketika kita harus memilih.
Dari sini pula kita mempertimbangkan kaidah “menghilangkan kerusakan didahulukan atas mengambil kemanfaatan”
Keempat, para individu anggota hendaknya saling menasihati sesamanya,demikian pula para pemimpin
Apabila ada persoalan yang mengandung kerancuan dan ketidak jelasan,maka hendaklah dilakukan tabayyun (konfirmasi). Bagi yang tidak sependapat,maka menyampaikan keberatannya dengan argumentasi yang berdasarkan syari’at. Apabila yang menetapkan lebih dari satu qaul (pendapat ulama mujtahid) maka argumentasi yang keberatan gugur dengan sendirinya. Namun apabila orang yang keberatan tadi bisa menunjukkan argumentasi yang lebih kuat,maka pemimpin hendaknya siap mengubah sikap dan meluruskan kekeliruannya.
Nasihat –sebagaimana dikatakan ibnul Atsir- adalah sebuah keinginan member kebaikan kepada yang dinasihati. Rasanya tidak mungkin mengungkapkan hakikat ini dengan satu kata yang bisa menghimpun maknanya selain ungkapan diatas.(an-Nihayah 4/148)
Amar ma’ruf berarti memerintahkan keutamaan dan kemuliaan akhlaq,secara lisan maupun tindakan. Sedangkan nahimunkar yakni mencegah perbuatan keji dan merusak,baik secara lisan maupun tindakan.
Dari pengertian ini,maka tidak mungkin amar ma’ruf itu dilakukan dengan perkataan dan perbuatan munkar. Semisal menuduh berbuat keji kepada kaum mukminin dan mukminat,menyebarkan berita dusta kepada orang-orang beriman,congkak,suka mencari kesalahan,menghasut,mengintai aib orang dan menyebarkan kebohongan dikalangan mereka.
Perilaku ini sendiri merupakan perbuatan munkar,maka bagaimana mungkin ia masuk dalam lingkup makna amar ma’ruf nahi munkar.
Kelima,penegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam syari’at islam hanya ditujukan terhadap sebuah kemunkaran yang tidak diperselisihkan dan tidak boleh ditegakkan terhadap masalah ijtihadiyah.
Tentang ini imam Ghazali berkata,”kemungkaran harus diingkari apabila kemungkaran itu sudah maklum hakikatnya tanpa perlu ijtihad. Adapun terhadap masalah ijtihadiyah,maka tidak ada amar ma’ruf nahi munkar baginya.”
Abul Hasan Mawardi berkata,”Tidak ada aksi amar ma’ruf nahi munkar terhadap suatu yang masih diperselisihkan,berdasar pengertian bahwa setiap mujtahid mendapat pahala.”
Keenam,dalam menegakkan tradisi nasihat-menasihati dan amar ma’ruf nahi munkar hendaknya diperhatikan syarat-syarat syar’i.
Antara lain:
a. Mencari kejelasan dan kebenaran berita sebelum mengambil langkah mengkritik atau menasihati. Demikian itu karena betapa banyak berita dan isu yang beredar santer,padahal sesungguhnya hanyalah isapan jempol belaka. Betapa banyak tuduhan maupun fitnah dibesar-besarkan oleh pembicaraan dari mulut ke mulut tanpa ada yang mau mengecek kejadian sebenarnya.
Rasulullah saw bersabda,
كَبُرَتْ خِيَانَةً تُحَدِّثُ أَخَاكَ حَدِيْثًا هُوَ لَكَ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ بِهِ كَاذِ بٌ
Adalah pengkhianatan besar apabila engkau berkata kepada saudaramu dan ia membenarkn omonganmu,padahal engkau berdusta. (HR Ahmad)
b. Memeriksa tujuan. Artinya,seseorang yang hendak melancarkan kritik dan member nasihat,seyogyanya memeriksa motivasi yang mendorongnya melakukan itu. Dikhawatrkan perbuatan itu kecampuran –meskipun sedikit-unsur nafsu,seperti iri hati dan dengki,juga motif-motif keji lainnya.
c. Memperhatikan cara. Hendaknya cara yang digunakan untuk memberikan nasihat dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah cara-cara yang syar’I tanpa bersentuhan dengan nilai-nilai munkar. Syarat sah sebuah nasihat adalah apabila dilakukan dengan kebenaran,bukan kebatilan. Allah swt berfirman,
وَتَوَاصَوْابِالْحَقِّ
Dan mereka berwasiat dalam kebenaran (al Ashr:3)
Oleh karena itu,maka nasihat sebaiknya dilakukan dengan menyendiri. Karena dalam kesendirian itu akan memberikan dampak lebih kuatdalam hati dan lebih terjaga dari kemungkinan masuknya bisikan syetan.
Ali bin Abi Thalib ra. Berkata,”Teguran dihadapan orang banyak itu semisal teguran keras.”
Nasihat dilakukan ditemptnya yang sesuai dan hanya diberikan kepada orang yang berkepentingan.
Imam Ibnul Qayim melihat bahwa Nabi saw mewajibkan kepada umatnya untuk menolak kemunkaran itu dimaksudkan untuk mendatngkan ma’ruf dan kebajikan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya,sehingga apabila upaya menolak kemunkaran itu justru mendatangkan kemunkaran lebih parah,ini tidak bisa dibenarkan.
Kemudian Ia berkata,”mengingkari kemunkaran itu ada 4 tingkatan:
1. Menghilangkan dan menggantinya dengan sebalikya.
2. Berangsur mengurangi,kalau tidak menghilangkannya sama sekali.
3. Menggantinya dengan sesuatu yang sama kadarnya dengan kemunkaran itu.
4. Menggantinya dengan yang lebih jelek dari padanya. Tingkatan pertama dan kedua merupakan kewajiban berdasarkan syari’at,ketiga menjadi bahan ijtihad,sedangkan yang keempat haram hukumnya. (Ihya’’ulumidin 2/280)
Ketujuh,tidak mengenal kemunkaran dengan cara yang tidak syar’i.
Berikut beberapa contohnya:
a. Mengintai kelemahan orang lain dengan memasang telinga maupun penglihatannya.
Rasulullah saw bersabda,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ اَفْسَدْتَهُمْ
Sesungguhnya engkau,apabila mengintai kelemahan manusia,maka hakikatnya telah merusak mereka. (HR Abu Daud)
b. Memata-matai orang baik langsung maupun tidak langsung,baik sendiri maupun beramai-ramai. Allah swt berfirman,
49:12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa tertimpa kejahatan(ma’siat) maka hendaklah menutupinya dengan penutup Allah swt. Sesungguhnya barangsiapa menunjukkan kepada kami kejahatannya,kami akan menegakkan untuknya Al-Qur’an.”
Dikatakan kepada Abdullah Bin Mas’ud bahwa pada jenggot si fulan terdapat tetesan khamr. Maka ia berkata,
إِنّاقَدْنُهِيْنَاعَنِ التَّجَسُّسِ وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْلَنَاشَيْءٌنَأْخُذْبِهِ
Sesungguhnya kita sudah dilarang untuk memata-matai orang. Tapi apabila telah tampak oleh kita sesuatu maka kita memberinya sanksi (HR Abu Daud)
Dikisahkan,suatu ketika Umar bin Khattab r.a. memanjat rumah seseorang. Ketika berada diatas,ia melihat penghuninya sedang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan dan ia membencinya. Orang yang dilihatpun berkata,”kalau saya telah malakukan maksiat kepada Allah dalam satu hal,maka engkau telah maksiat kepada-Nya dalam tiga hal. “Apa itu?” Tanya Umar r.a. Orang itu berkata,”Allah swt telah berfirman”janganlah kamu memata-matai…,”sedang engkau telah memata-mataiku. Allah swt berfirman,”masuklah kedalam rumah melalui pintu-pintunya….,”sedang engkau melongokku dari atas pagar. Allah swt berfirman,”janganlah engkau masuk kedalam rumah orang lain sehingga permisi dan mengucapkan salam kepada penghuninya…”sementara engkau tidak mengucapkan salam.” Mendengar ucapan ini Umar pun meninggalkannya,lalu bertaubat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Maret 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: