RSS

JUKNIS BARAMIJ LIQA USRAH

17 Mar

I. Iftitah:
a. Naqib tidak terlambat hadir dan dan selalu berupaya untuk memulai usrah tepat pada waktunya.
b. Melaksanakan aturan disiplin tepat waktu sesuai kesepakatan usrah sehingga terbangun perasaan bersalah bagi yang terlambat sekaligus termotivasi untuk selalu tepat waktu.
c. Usrah dapat dibuka tanpa menunggu semua a’dha hadir
d. Saat usrah dibuka semua a’dha berkonsentrasi dengan agenda usrah dan tidak diperkenankan sibuk dengan agenda pribadinya (main hp, …)

II. Tilawah & Tadabbur:
a. Dilakukan dengan khusyu’, setiap orang 1 halaman
b. Tidak diperkenankan berbicara, dan melakukan hal-hal lain yang bertentangan dengan kekhusyu’an tilawah
c. Bila ada agenda hafalan, dapat dilakukan setelah tilawah, namun jika waktu tidak memungkinkan tilawah dapat diganti dengan setor hafalan).

III. Kalimat Usrah:
a. Dilakukan oleh naqib dan tidak dapat dilakukan oleh a’dha lain kecuali jika naqib tidak hadir maka pesan (isi) kalimat usrah dapat dititipkan kepada salah seorang a’dha untuk disampaikan
b. Waktu: 5 – 10 menit
c. Ahdaf:
i. Menanamkan nilai-nilai tarbawi
ii. Membangkitkan himmah ’aliyah dan indhibath
iii. Membangkitkan motivasi belajar (hubbul ‘ilm)
iv. Menyelesaikan qodhoya tertentu
v. Mentazkiyah ruhiyah, fikriyah, dan khulukiyah a’dha
d. Tatacara penyiapan
i. Naqib mentadabburi al-Quran untuk disampaikan ke a’dha
ii. Naqib mengkaji kitab-kitab hadits
iii. Naqib mengkaji Sirah Nabawiyah
iv. Menggabungkan ketiganya
v. Hindari taujih panjang yang membosankan dan taujih singkat yang tidak berkesan
vi. Tidak ada pembahasan (dialog)
e. Jika kalimat usrah sukses, insya Allah seluruh rangkaian acara akan sukses
IV. Talaqqi Majmuah Rasail atau Tatsqif Usrah
a. Pelaksana:
i. Muwajjih yang diundang
ii. Naqib
iii. ‘Adha yang ditunjuk
b. Waktu: 30-60 menit
c. Ahdaf:
i. Menyatukan pemahaman
ii. Merealisasikan berbagai ahdaf marhalah dan muwashafatnya
iii. Mendalami dan merealisasikan ahdaf usrah
iv. Merangsang untuk ber’amal dengan penyajian yang teoritis-operasional (nadzariayan tathbiqiyan)
d. Tatacara penyiapan
i. Petugas membaca materi tertentu secara umum selama 20 menit
ii. Menentukan unsur-unsur tema melalui bacaan di atas
iii. Menggali nilai-nilai tarbawi dari tema tersebut
iv. Menggali rekomendasi operasional dan pelajaran-pelajaran yang bermanfaat
v. Dibuat beberapa pertemuan sesuai luas materi
e. Tatacara penyampaian
i. Kalimat Pembuka:
1. Petugas menanyakan ketidakhadiran a’dha
2. Pembicaraan diarahkan untuk membina suasana yang kondusif
ii. Penyampaian materi:
1. Ceramah untuk ibadah dan tazkiyah
2. Tanya jawab untuk fiqih
3. Kisah untuk tema-tema tertentu
4. Diskusi dan dialog untuk fiqh da’wah dan sirah
f. Dalam satu kali usrah, paling banyak 2 materi saja
g. Rumuskan tujuannya (objektifnya)
h. Berikan tugas praktek (tathbiqiy) atau rencana ‘amal yang hendak dilakukan
i. Adakan feedback berupa “tes”
j. Adakan tambahan waktu (extra time) untuk peserta yang terlambat atau berhalangan hadir

V. Mutabaah:
a. Hal-hal yang dimutabaahi:
i. Realisasi rencana program yang telah ditetapkan
ii. Tanggungjawab dan kerja setiap personal terhadap tugasnya masing-masing.
iii. Target kualitatif maupun kuantitatif program.
b. Mutabaah berfungsi memantau langkah demi langkah setiap program yang telah disepakati sehingga mencapai target yang diinginkan

VI. Ta’limat:
a. Naqib berupaya membaca dan memahami isi ta’limat sebelum disampaikan ke a’dhanya terutama yang terkait dengan kebijakan-kebijakan asasi jamaah.
b. Jangan mengomentari isi ta’limat dengan komentar negatif apalagi di depan a’dha, namun melakukan tabayyun kepada struktur yang mengeluarkannya.
c. Mencatat ta’limat yang perlu ditindaklanjuti dan memerintahkan a’dha untuk mencatat hal-hal yang terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya.

VII. Qadhaya & Rawa’i:
a. Qadhaya yang disampaikan terkait dengan masalah pribadi atau dakwah yang perlu mendapat perhatian atau solusi dari usrah. Jika tidak maka penyampaiannya harus mempertimbangkan ketersediaan waktu.
b. Jika terkait dengan aib seseorang, qadhaya tidak disampaikan di forum usrah namun didahulukan solusinya melalui pendekatan akhawi fardi atau disampaikan kepada pihak terbatas yang dipandang mampu membantu menyelesaikan masalah.
c. Rawa’i yang disampaikan lebih diutamakan hal-hal yang menambah ghirah a’dha usrah untuk memperbaiki diri, menumbuhkan semangat dakwah dan tarbiyah.
VIII. Evaluasi & Rencana Liqa selanjutnya:
a. Hal-hal yang dievaluasi adalah perjalanan dan agenda usrah hari itu dan masukkan untuk perbaikan di usrah mendatang.
b. Rencana Liqa selanjutnya berisi:
i. Tazkirah atau penyampaian tugas-tugas yang harus ditindaklanjuti oleh usrah atau a’dha.
ii. Menentukan jadual dan tempat liqa

IX. Ikhtitam:
a. Ditutup dengan doa terutama doa rabithah dengan memperhatikan adab-adabnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Maret 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: