RSS

tiada hari tanpa MILITANSI

19 Feb

Militansi? Mungkin banyak orang yang merasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini. Kata militansi memang lebih sering dipandang negatif oleh masyarakat, apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang lantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Serikat. Orang seringkali mengaikatkan kata ini dengan “kekerasan”, “senjata”, “ketidak ramahan”, atau “intoleransi”. Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam militan”, yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap melakukan aksi “bunuh diri”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?
Bagi seorang Muslim yang baik, apalagi bagi orang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat, tapi untuk menjamin terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang indah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah bagaimanapun juga, adalah seorang yang berkomitmen pada Islam dan mengetahui bagaimana ia harus bersikap dan berbuat sesuai dengan tuntutan Islam.
Militansi menuntut totalitas dalam penerimaan dan pelaksanaan seluruh nilai-nilai serta amalia Islam. Ini seperti Umar bin Khattab yang memungsuhi Nabi sangat pada masa pra-keimanan, kemudian membela Nabi sangat setelah berjumpa hidayah. Milintasi menuntut kesungguhan dalam berjuang, seperti seorang sahabat yang membuag kurma-kurmanya di Perang Badar karena tak sabar menanti syahid. Milintasi memungkinkan munculnya visi yang sangat kuat, seperti Anas bin nadzar yang sudah mencium wangi surga ketika menginjakkan kakinya di peperangan Uhud, atau seperti para sahabat yang “melihat” surga dan neraka ketika tengah duduk di majelisnya Rasulullah SAW. Militansi akan melahirkan motivasi nan tinggi, seperti Amr bin Jamuh yang tetap ngotot pergi ke medan jihad dengan satu kakinya yang pincang.
Militansi mengharuskan adanya konsistensi, seperti jihadnya Abu Ayyub yang tidak kenal lelah kendati sudah tua usia, atau seperti amal seorang guru Imam Hanafi yang meninggal dunia tatkala shalat. Militansi mewajibkan kesabaran, seperti sabarnya Ayyub AS menanggung sakit, atau sabarnya Nuh AS berda’wah ratusan tahun. Militansi menggambarkan semangat, seperti semangat para tabi’in yang merantau ke beberapa negeri hanya untuk mencari sebuah hadits, atau seperti semangat belajar Imam Thabari dan Al-Biruni yang masih berdiskusi agama beberapa detik sebelum meninggalnya. Militansi berasal dari keyakinan yang dalam, seperti keyakinan Abu Bakar setiap saat pada “sahabatnya” tanpa perlu pembuktian rasional apa pun, atau seperti Abu Dzar yang menyakini janji Nabi tentang dirinya tanpa perlu membuktikannya secara langsung.
Militansi juga berarti keberanian, seperti keberanian Ibnu mas’ud membaca Al-Qur’an di depan musrikin Quraisy hingga dipukuli babak belur, atau seperti Khudzaifah yang seketika berdiri untuk mengintai musuh di malam yang gelap tatkala Nabi berkata “Qum…!” Militansi juga bermakna ketundukan dan kepasrahan pada Allah seperti ibadahnya Abu Darda yang nyaris melupakan hak-hak diri dan keluarganya. Atau seperti infaqnya Abu Bakar dan Abdurrahman bin Auf yang nyaris mengabaikan kebutuhan diri dan keluarganya. Militansi bermakna kecintaan yang mendalam pada Nabi SAW seperti Bilal yang tak sanggup melantunkan adzan setelah wafatnya Nabi, atau seperti Ibnu Umar yang berharap tapak-tapak untanya mengenai bekas tapak unta Nabi dalam setiap perjalannya. Dan akhirnya, militansi adalah istiqamah di jalan-Nya, sebagaimana istiqamahnya Ali, Salman, dan seluruh sahabat lainnya, yang tak pernah bisa digoda dunia hingga akhir hayatnya. Wa laa tamuutunna illa wa antum muslimunn ‘dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim’.
Seperti itulah makna militansi bagi seorang muslim sejati, dan terutama bagi seorang aktivitas da’wh. Karena itu, ia seharusnya dipegang teguh setiap saat. Ia harus menjadi slogan abadi yang terus mengawal dan mengiringi perjalanan hidup seorang aktivis da’wah. Tiada hari tanpa militansi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Februari 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: