RSS

JIDDIYYAH ciri kader militan

26 Feb

Tujuan da’wah jangka panjang adalah khilafah fil ard ‘memimpin dunia’. Untuk mencapai cita-cita besar itu diperlukan umat yang kuat dan hebat yang berbasis pada kader-kader militan yang bercirikan penuh keseriusan. Mereka mengutamakan kerja dari pada hanya sekedar pandai mengkritik. Berinisiatif dari pada hanya sekedar menunggu perintah, memahami betul akan tugas dan perannya dalam hidup ini, dengan usaha maksimal disertai dengan pendekatan diri kepada Allah dalam rangka meraih bimbingan dan pertolongan-Nya.
Definisi jiddiyah adalah: menjalankan tugas-tugas syari’i, tarbawi, tanzhimi, dan da’awi dengan cepat, tepat, mengerahkan seluruh potensi secara maksimal serta dapat mengatasi segala hambatan yang dihadapinya demi terlaksananya tugas tersebut secara optimal.

Syarat-Syarat Jiddiyah
Dari definisi di atas maka jiddiyah memiliki 5 syarat :
1. Al-istijabah al-fauriyah (responsif).
2. Al-azmul qowiy (kesungguhan yang kuat).
3. Al-mutsabarah (tabah dan ulet).
4. Taskhirul kullil imkanat (mengerahkan seluruh potensi).
5. Mughalabatul ‘adzar (dapat mengatasi segala permasalahan yang dihadapi).

Al istijabah al fauriyah
Kader militan adalah kader yang ketika mendapatkan tugas dan mendengar perintah dari qiyadah (pemimpin, murobbi, atau pembina) meresponnya dengan cepat tanpa ragu-ragu dan berkomentar, karena ia memahami bahwa tugas dan perintah yang datang dari qiyadah adalah untuk segera dilaksanakan bukan untuk didiskusikan. Demikanlah para sahabat memahami perintah, ketika turun ayat yang mengharamkan khamar (Al Maidah [3]: 90-91). Begitu mereka mendengar perintah untuk meninggalkan khamar langsung mereka tinggalkan seraya berkata intahaina…intahaina (kami telah tinggalkan…kami telah tinggalkan). Contoh lain, tentang perpindahan kiblat dari Masjid Aqsha ke Masjidil Haram (Al Baqarah [3]: 143). Di saat mereka sedang shalat datang berita tentang telah berubahnya arah kiblat, mereka langsung berbalik arah dari menghadap ke utara (arah Baitul Maqdis) menjadi menghadap ke selatan (arah Ka’bah), sehingga masjid tempat mereka shalat saat itu diberi nama Masjid Qiblatain (masjid dua qiblat) dan contoh yang ketiga adalah mengenai para wanita sahabat dalam melaksanakan perintah menutup aurat (hijab) (An-nur: 31). Begitu mereka mendengar perintah memakai hijab melalui para suami mereka, langsung mereka laksanakan perintah itu. Selain itu masih banyak contoh-contoh lainnya

Al azmul qawiy.
Aktivis dan kader da’wah harus memiliki semangat dan kesungguhan yang kuat, karena amanah yang diembannya sangat berat. Di antara do’a Rasul: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari hutang yang membelenggu dan tertindas oleh orang-orang jahat”. Dan Umar bin Khaththab berdoa “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ketidakberdayaan orang saleh dan adidaya orang jahat” . di dalam surat Ali Imran ayat 146 Allah telah menjelaskan sifat kader militan: “Dan betapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang setia, tidak lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu/loyo dan tidak menyerah kepada musuh, Allah menyukai orang-orang yang sabar”. Para sahabat yang baru saja selesai perang Uhud dalam kondisi luka-luka dan belum sempat istirahat menerima tugas baru yaitu mengejar pasukan musyrikin Quraisy dalam perang Hamra Al Asad, mereka melaksanakan perintah qiyadah (Rasul) walaupun harus dengan menandu dan mengendong sebagian sahabat yang tidak mampu berjalan. Kita tahu betapa sahabat Mus’ab bin Umair pada perang Uhud membawa panji pasukan Islam, tangan kanannya putus terkena pedang musuh lalu panji dipegang dengan tangan kiri, kemudian tanga kirinya pun terrputus lalu ia merangkulnya dengan kedua sikunya dan terus maju sampai ia syahid.

Al mutsabarah
Kerja da’wah adalah kerja besar yang tidak akan berakhir kecuali dengan kematian. Perjalanan da’wah penuh dengan ujian, cobaan, tantangan, dan rintangan. Tidak ada yang sanggup menjalaninya kecuali orang-orang yang telah menjadikannya tugas pokok dan utama yang tidak bisa dikalahkan dengan kegiatan apa pun, keberlangsungan da’wah dan kebehasilannya menjadi fokus perhatiannya, seperti yang telah dicontohkan oleh Rosulullah, beliau tidak mengenal letih, lelah, capek, jenuh, atau malas. Beliau tidak pernah lemah semangat dan putus asa, tidak pernah menyerah atau mundur. Ketika orang-orang kafir Quraisy musuh da’wah mengancam untuk menghabisi nyawanya, ia berkata: “Demi Alah sekalipun mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan da’wah, aku tidak akan berhenti berda’wah dan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku mati dijalannya. Para sahabat generasi terbaik yang langsung di bawah asuhan Rasul meneruskan jalan Rasul. Mereka berda’wah dengan meninggalkan kampung halaman, negeri dan tanah air, isteri, anak, dan harta benda sehingga panji Islam berkibar di seluruh penjuru dunia. Kehidupan mereka adalah jihad yang tak henti-henti dan pengorbanan yang tanpa batas dalam membela Islam.

Taskhir kullil imkanat,
Da’wah menuntut para aktivis dan kader untuk mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki berupa pemikiran, harta, waktu, tenaga, jiwa dan raga. Sehingga tidak ada potensi yang dimilikinya kecuali telah diberikan untuk kepentingan da’wah. Saat ini sebagian besar kader belum maksimal dalam memperjuangkan da’wah, kita baru memberikan sisa potensi untuk da’wah, sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, dan sisa dana. Sehingga hasilnya pun belum terlihat nyata. Allah telah mengingatkan kita, katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluagamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintaidari pada Alah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-taubah [9]: 24). “Sesungguhnya Alah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu meeka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alah di dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menempati janjinya (selain) dari pada Alah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah [9]: 111)

Mughalabatul ‘adzar
Amanah da’wah hanya dapat diemban oleh orang-orang yang memilih azimah (idealisme yang tinggi) bukan orang yang memilih tujuan yang rendah, senang dengan hidup santai dan rileks, memilih istirahat dan tidak mau susah. Da’wah hanya dapat dikerjakan oleh orang yang dapat mengalahkan udzur bukan pandai membuat udzur, berusaha maksimal untuk terus aktif di medan jihad dan memberikan kontribusi yang terbaik buat da’wah. Salah satu contoh sahabat bernama Amru bin Jamuh, seorang tua renta yang kakinya pincang dan matanya nyaris buta. Begitu mendengar seruan jihad ia langsung menyatakan ingin bergabung ke dalam barisan para mujahidin walaupun ketiga orang anaknya melarang, dengan alasan mereka sudah mewakili keluarga dan sudah sangat cukup udzur baginya untuk tidak ikut jihad. Tapi apa komenarnya? Ia berkata masalahnya adalah surga. Apakah kalian dapat memberikan jaminan suga buat saya, kalau saya tidak ikut jihad? Hingga kahirnya ia mendapat restu dan do’a dari rasul: “Ya Allah masukanlah ia ke dalam syurga dengan kakinya yang pincang!” Akhirnya ia mati syahid di medan perang. Ia tidak menjadikan udzur sebagai hambatan dan penghalang untuk ikut berperang, walaupun tidak bisa mengangkat senjata tapi dengan ia bergabung ke dalam barisan mujahidin dapat menjaga barang-barang milik tentara di belakang, ia selalu berpandangan positif ingin memberikan kontribusi langsung dan nyata untuk da’wah

Urgensi Jiddiyah
 Jiddiyah merupakan sifat asasi serta akhlak yang harus dimiliki oleh kader dan aktivis da’wah yang telah berjanji setia kepada Allah, menjual dirinya untuk hidup dan mati demi da’wah.
 Jiddiyah dalam da’wah merupakan suatu keniscayaan, karena hanya dengannya amanah risalah dan kewajiban da’wah akan dapat diemban dan terealisasi dengan maksimal.

Ciri-Ciri Jiddiyah
 Menjaga dan memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan berguna untuk da’wah
 Menghindari dari banyak bergurau dan bercanda. Di antara wasiat Imam Al Banna adalah “Janganlah kamu bercanda karena umat yang sedang berjihad tidak mengenal canda. Demikian juga dengan Shalahuddin Al-Ayyubi yang berkata: “Sungguh saya malu kepada Allah melihat saya tertawa sementara Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha) berada digenggaman orang-orang salibiyin.
 Memiliki azimah ‘idealisme’ yang berat dan tidak memilih kemudahan-kemudahan. Karena da’wah tidak tegak di atas rukhshah.
 Melaksanakan tugas dengan segera, tidak menunda pekerjaan hari ini sampai besok, tidak lamban, dan tidak malas.
 Selalu mengintropeksi diri, memperbaharui janji kepada Allah dan selalu istighfar serta taubat atas segala dosa dan kelalaian.
 Dalam kondisi siaga penuh menanti perintah.

Ikhwah fillah jadilah aktivis harokah dan aktivis da’wah, jangan menjadi penonton, komentator, atau pengamat da’wah. Jadilah orang yang produktif, dan jangan menjadi orang yang pandai mengkritik. wallahu a’lam

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 26 Februari 2012 in Uncategorized

 

One response to “JIDDIYYAH ciri kader militan

  1. Wahid Muslim

    4 Juni 2012 at 2:55 pm

    Subhanaullah sebuah wawasan yang sangat berharga, ilmu yang berharga. Namun kapan kita mampu merealisasikannya sementara kita berpecah belah dengan sesama muslim. Dan malah banyak yang berkasih sayang dengan orang kafir.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: