RSS

QADHAYA ASASIYAH ‘ALA THARIQI DA’WAH

09 Jul

Jalan da’wah adalah jalan yang penuh berkah. Sungguh bagi seorang daiyah tidaklah masalah apakah da’wah itu yang menjadi bagian kita, ataukah justru kita yang menjadi bagiannya. Tetapi yang pasti, kehidupan tidak akan bernilai dan terasa hampa jika kita jauh dari da’wah.

Da’wah itu akan senantiasa berjalan dan berlangsung dengan atau tanpa kita (الدعوة ستسير بنا أو بغيرنا). Bila kita tidak bersama da’wah, kita tidak akan dapat mencari yang selainnya dan jika da’wah tidak menjadi bagian kita, ia akan bersama yang selain kita (إنك إن لم تكن بهم فلن تكون بغيرهم وإن لم يكونوا بك فسيكونون بغيرك).

1. Pandangan yang jelas (الرؤية الواضحة)
Pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang daiyah adalah pandangan yang jelas terhadap jalan da’wah, mengenal petunjuk-petunjuknya serta seluruh yang berkait dengannya. Hal ini membuat ia memiliki kejelasan jalan sejak langkah pertama. Sebaliknya, ketidakjelasan pandangan akan menjadikan ragu dan sangsi terhadap keselamatan perjalanannya. Bahkan akan menyebabkan ia dilanda kegoncangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dan takut meneruskan perjalanan.

Kejelasan itu meliputi:
► Tujuan (الغاية): الله غايتنا
► Sasaran (الهدف): تمكين دين الله  الدولة الإسلامية العالمية
► Pemahaman terhadap Islam dengan pemahaman yang menyeluruh dan bersih (الشامل والصحيح)
► Metode (المنهاج) dalam mencapai sasaran (5:48 شرعة ومنهاجا)  3 asas Daulah Islamiyah:
• kekuatan aqidah dan iman (قوة العقيدة والإيمان)
• kekuatan persatuan dan persaudaraan (قوة الوحدة والأخوة)
• kekuatan fisik dan senjata (قوة الجسد والسلاح)
► Internasionalisasi gerakan ( عالمية الحركة)

Manfaat pandangan jelas:
• memperjelas bahwa beramal dalam satu jama’ah memiliki syarat, janji dan komitmen
• melahirkan kepercayaan dan kemantapan ketika berhadapan dengan tribulasi da’wah
• memperjelas bahwa bersama rintangan dan ujian terdapat liku-liku perjalanan yang rawan sehingga melahirkan kewaspadaan
• melindungi dari penyimpangan (ketergesa-gesaan dan fenomena orang yang lebih terikat pada pribadi dari pada jama’ah) atau kelewat batas
• menjadikan pilihan orang mantap

2. Kesinambungan (الإستمرارية)
Kenapa banyak lembaga da’wah, jama’ah, organisasi atau parpol tumbuh kuat tapi kemudian melemah dan bubar bahkan tidak sedikit yang bubar sebelum tumbuh kuat? Sebab-sebabnya antara lain:
• tidak orisinal dan tidak memiliki kemampuan bertahan
• salah urus dan buruk manajemen
• tidak ada jaminan kesinambungan
• tidak memiliki kemampuan menghadapi tipu daya musuh
• lemah mengantisipasi berbagai konspirasi, dll.

Kesinambungan yang dimaksud di sini adalah:
• tetap adanya orang yang memikul beban da’wah
• berusaha mewujudkan sasaran-sasarannya
• mewariskannya kepada orang lain.

Faktor-faktor yang menyebabkan ketidaksinambungan adalah:
a. Faktor Eksternal: konspirasi musuh-musuh Islam, dengan cara:
• pendangkalan (التشكيك)
• melemparkan tuduhan (التهمة) jahat
• mendorong beberapa perkumpulan Islam menentang jama’ah dan menyebarkan pertentangan serta mengadu domba antar afrad

Yang harus diingat: kesinambungan da’wah dalam tahap ujian dan cobaan merupakan kemenangan, sedang tidak adanya kesinambungan berarti suatu kekalahan.

b. Faktor Internal
• melalaikan aspek tarbiyah dan ruhiyah; jika da’wah dan jihad diibaratkan sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah ruhiyah adalah humus dan pupuknya
• perselisihan dan pertentangan di dalam Shaff
Sebab-sebab perselisihan dan pertentangan:
1. perbedaan pemahaman dalam Islam
2. perbedaan uslub amal dan harakah dan di sekitar interaksi dengan kondisi dan situasi yang berlaku
3. bersumber dari urusan pribadi di antara afrad jama’ah akibat dijerumuskan oleh syaitan
4. ta’ashub kepada seseorang, kota, daerah dan ta’ashub jahiliyah lainnya
• munculnya perasaan sia-sia di kalangan aktivis ketika dilanda kekalahan menghadapi pertarungan dengan musuh

3. Pertumbuhan dan kekuatan (النمو والقوة)
Setelah terjaminnya kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan gerakan merupakan qadhiyah asasiyah.

Kesinambungan yang dikehendaki ialah disertai perluasan medan gerakan yang kontinyual dan kuantitas afrad dan simpanan gerakan yang semakin berkembang serta kekuatan struktur harakah, afrad, dan pirantinya yang semakin meluas.

Untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan antara hasil manuver dan kemampuan mentarbiyah: lebih baik melakukan penguran volume manuver dari pada hasil manuver da’wah yang banyak tetapi jelek disebabkan rendahnya kualitas tarbiyah.

Pertumbuhan dan perkembangan harus mencakup semua unsur: terbentuknya individu muslim, keluarga muslim dan masyarakat muslim  terbentuknya basis yang kokoh (قاعدة الصلبة). Dan ini dilakukan secara bertahap (التدرج).

Kekeliruan dalam masalah pembentukan masyarakat Muslim:
– seluruh anggotanya harus berkualitas seorang aktivis. Yang benar: wujudnya sejumlah individu dan keluarga Muslim ideal yang cukup di dalam masyarakat tersebut, sedangkan selebihnya terdiri dari anggota-anggota masyarakat biasa yang shalih dan memberikan respon positif terhadap harakah Islammiyah dan sasarannya serta menerima hukum-hukum Allah (3:104).
– Memandang masyarakat Muslim di negeri-negeri Muslim bukan sebagai masyarakat Muslim, tapi masyarakat jahiliyah  merupakan sikap hantam kromo

Pertumbuhan dan perkembangan hendaknya dibarengi kekuatan agar tidak lemah dan lembek. Sarana paling utamanya: terbiyah dan praktek lapangan (تدريب العمل).
Kekuatan ada 2: kekuatan asasi (aqidah, wihdah, dan silah) dan kekuatan dharuri (ilmu, dana, publikasi, kepribadian, dll)

4. Menjaga orisinalitas (المحافظة على الأصالة)
Agar harakah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran, maka ia harus menjaga dan memelihara orisinalitasnya. Sebab sekecil-kecilnya penyimpangan atau berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semakin besar sejalan dengan kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Untuk melindungi pemahaman yang benar, Imam Syahid Hasan Al-Banna meletakkan 20 Prinsip (أصول العشرين).

Tidak dapat dibayangkan sasaran besar (tegaknya agama Allah di bumi dan Daulah Islmiyah Alamiyah yang dipimpin sistem khilafah) akan tercapai, kendati dengan mempersembahkan nyawa dan mengorbankan apa saja, dengan pemahaman yang salah terhadap Islam.

Contoh praktis dalam menjaga orisinalitas pemahaman: ketika Ikhwan dilanda mihnah, muncul dua arus perubahan: ada yang menghendaki pembatasan aktifitas dan permasalahan serta pemahaman hanya terhadap beberapa aspek Islam yang tidak menimbulkan kecurigaan pemerintah dan mengundang berbagai kesukaran seperti persoalan hukum, perundangan dan jihad; ada satunya lagi yang suka mengkafirkan kaum muslimin umum secara serampangan. Imam Hasan Al-Hudhaibi menyelesaikannya dengan bijak dengan menerbitkan buku “Kita Du’at bukan Hakim” (نحن دعاة لا قضاة).

Memelihara orisinalitas berarti:
1. menjaga orisinalitas pemahaman terhadap Islam dibarengi dengan pemeliharaan orisinalitas sasaran
2. perhatian terhadap tarbiyah dan aspek ruhiyah
3. beriltizam dengan jalan da’wah dan tahapan-tahapannya, kendati jalan yang kita tempuh panjang
4. menjaga dan menata wujudnya prinsip syura
5. menekankan aktifitas produktif dengan tenang dan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan diri
6. memelihara sifat da’wah yang takamul dan I’tidal serta a’lamiyyah

6. Perencanaan dan pengembangan (التخطيط والتطوير)
Untuk mencapai sasaran, Amal Islami harus berjalan dengan perencanaan yang teliti, tidak boleh asal-asalan, spontanitas atau reaksioner.

Tugas utama perencanaan:
– menentukan sasaran, kemudian membagi sasaran antaranya dan menentukan skala prioritasnya
– mengkaji kondisi yang berkembang, mengetahui segala potensi yang dimiliki dan potensi apa yang sudah terpenuhi dan yang harus terpenuhi
– menentukan langkah dan program dalam mewujudkan setiap sasaran, menentukan sarana, prasarana dan aparat serta personil pelaksananya
– menentukan materi yang cocok untuk sempurnya pelaksanaan, membuat asumsi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi yang kadang-kadang mempengaruhi pelaksanaan program dan cara menghadapinya serta menentukan alternatif-alternatifnya
– melakukan perombakan unsur terkait, bila perlu
– menentukan pengawas yang terdiri dari kalangan pakar dan orang-orang yang berpengalaman dalam bidangnya untuk menjamin jalannya pelaksanaan berada dalam jalan yang benar tanpa ada penyimpangan

Terdapat perbedaan besar antara perencanaan da’wah dan perencanaan dalam lembaga-lembaga umum dan pemerintahan di dalam lapangan kehidupan materi. Perencanaan bidang materi lebih mudah dan dapat dikalkulasi melalui statistik, masa, perkiraan dan kemungkinan-kemungkinan. Sedang di lapangan da’wah terus-menerus mengalami perubahan karena umumnya berinteraksi dengan jiwa dan hati manusia.

Memang, semua urusan di dalam genggaman Allah. Tetapi hal ini tidak boleh dipertentangkan dengan perencanaan. Sebab Allah SWT memerintahkan berusaha dan mencari sebab-sebab.

Pengembangan ,pembaharuan dan pemanfaatan hal-hal baru harus terkendali oleh kaidah-kaidah yang bersumber dari ajaran-ajaran Islam serta adab-adabnya, agar dapat melahirkan kebaikan bagi manusia. Aqidah Islam, nilai-nilai, prinsip, akhlak, dan seluruh asas-asas yang id atasnya dibangun masyarakat utama bersifat tetap, tidak pernah mengalami perubahan. Sedangkan sarana dan prasarana, setiap saat harus dilakukan pengembangan dan pembaharuan untuk memenuhi tuntutan zaman.

7. Kesatuan pandangan (جمع كلمة المسلمين)
Realita kaum Muslimin: terkotak-kotak dan berserakan dalam berbagai parpol dan perkumpulan keagamaan. Jalan pertama untuk menyatukan: usaha menghidupkan akidah Islamiyah di dalam diri dan membangkitkan keimanan di dalam hati. Kemudian memperkenalkan kaum Muslimin akan hakikat agama Islam, keagungan dan kesyumulannya. Untuk mencapainya diperlukan kesabaran dan keteguhan dan menghindari penggunaan agitasi dan pemberontakan.

Berkenaan dengan perkumpulan keagamaan yang bekerja untuk mewujudkan satu atau beberapa aspek Islam, kita menghadapinya laksana seorang dokter atau sebatang pohon (mangga) dan berusaha menyatukan pandangan dan barisan dengan berpadukan kaidah: “kita bekerja sama dalam hal-hal yang sama-sama kita sepakati dan saling menghargai terhadap hal-hal yang di antara kita berbeda (نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضا فيما إختلفنا فيه)”.

Kewajiban kita untuk menyatukan kaum Muslimin:
– taat asas terhadap arahan-arahan Islam
– selalu menghindari setiap yang dapat melahirkan buruknya hubungan antara kita dan para aktifis lainnya di lapangan da’wah
– mendorong pemimpin-pemimpin jama’ah untuk melakukan koordinasi, saling memahami dan sedapat mungkin menyatukan sikap sebagai prolog bagi kesatuan perkumpulan mereka

8. Bekerja dalam lapangan da’wah (العمل في مجال الدعوة)
Karakter da’wah Islam: lebih mementingkan segi amaliyah dari pada di’ayah (kampanye) dan propaganda.

Urutan daerah da’wah: khayal  kata-kata  amal  jihad dan amal yang serius

Untuk memikul beban dan melaksanakan aktifitas da’wah yang medannya semakin luas dan aktifitasnya semakin beragam serta membutuhkan waktu dan tenaga besar, diperlukan orang yang memusatkan seluruh hidupnya untuk da’wah dan siap menghadapi berbagai kesulitan perjalanan da’wah. Ingat bahwa seorang da’iyah adalah orang yang hati dan pikirannya selalu sibuk dengan urusan da’wah (الداعية: اشتغال العقول والقلوب بالدعوة).

Setiap pribadi Muslim dituntut bekerja dalam lapangan da’wah, selain dituntut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain sebagai mata pencaharian untuk membiayai hidupnya dan kehidupan keluarga dan rumah tangganya. Setiap kita harus selalu mengaitkan urusan yang berhubungan dengan aktifitas kehidupan, kerumahtanggan, mata pencaharian dan lain-lainnya dengan kepentingan da’wah.

Pokoknya kita harus mengerahkan harta kita untuk mendukung amal Islami, kendati harta yang kita miliki merupakan sebagian dari keperluan kita. Amal Islami memerlukan dana besar, karena itu tidak cukup dari harta lebih.

Ada dua tipe manusia:
– kehidupannya sangat didominasi oleh amal da’wah
– kehidupannya sangat didominasi oleh tugas-tugas rutin mata pencahariannya

Pola kehidupan yang lurus dan ideal: mendekati pola kehidupan yang pertama setelah dilakukan perbaikan di dalamnya, dengan mendudukan amal kehidupannya secara benar (seimbang). Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara amal da’wah dan pekerjaan lainnya:
– banyaknya aktifitas da’wah yang dilakukan
– kegemaran berda’wah yang luar biasa semangatnya
– menumpuknya kegiatan dan beban akaibat buruknya manajemen atau perencanaan
– tidak cukup persiapan pendukung

Orang yang mencukupkan dirinya dengan pekerjaan pokoknya dan memberikan waktu dan tenaga sisanya untuk da’wah, akan diberkahi Allah dalam harta, kesehatan, isteri dan anak-anaknya.

8. Pewarisan dan regenerasi (التوريث والتحام الأجيال )
Sasaran besar yang sudah dicanangkan pencapaiannya tidak cukup hanya melalui satu generasi, tetapi melalui beberapa generasi. Untuk mencapainya jelas memerlukan pentahapan dan beberapa fase. Karena itu pewarisan da’wah adalah sangat penting. Pewarisan itu mencakup: tujuan, sasaran, wasilah, seluruh orisinalitas dan pengalamannya secara utuh dari generasi ke generasi, tanpa perubahan atau penyimpangan.
Setelah Daulah Utsmaniyah runtuh muncul berbagai khilaf dan peperangan antar-sesama pemerintahan Islam. Dunia Islam mengalami perubahan berupa kemorosotan menuju kehancuran yang cepat. Allah SWT kemudian memunculkan para du’at yang kemudian membentuk gerakan-gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin. Dewasa ini muncul pemuda dan pemudi Muslim yang konsisten dengan Islam.

Pewarisan da’wah mendorong terjadinya perubahan dalam arena aktifitas da’wah yang lebih baik. Ini tidak akan berjalan mulus hanya dengan buku dan risalah-risalah. Tapi harus dengan mu’ayasyah (koeksistensi) dan regenerasi antar setiap generasi. Sehingga setiap generasi akan tahu dan memahami karakter jalan dan rambu-rambu generasi sebelumnya.

Di bawah naungan mu’ayasyah dan regenerasi kebijakan dan pengalaman orang tua dakan menyatu dengan dinamika dan kekuatan pemuda. Muncullah pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan semangat pemuda (حماسة الشباب) dan kebijakan orang tua (حكمة الشيوخ).

Pada dasarnya setiap generasi akan mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru pada zamannya yang tidak didapat oleh generasi sebelumnya. Artinya aset generasi berupa pengalaman, eksperimen dan pelajaran akan semakin bertambah bersamaan dengan perjalanan generasi tersebut. Atas dasar ini kita mengharapkan generasi berikutnya akan lebih baik dan lebih banyak aktifitasnya serta lebih teguh iltizamnya dari pada generasi sebelumnya.

Semestinya setiap generasi mempersiapkan generasi berikutnya untuk memikul tanggung jawab dan menegakkan kewajiban dalam marhalahnya. Karena itu generasi baru harus dilatih tanggung jawab. Jika terjadi kekeliruan harus diperbaiki ketika itu juga. Kekeliruan dan kesalahan dalam latihan jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Langkah-langkahnya:
– melibatkan setiap anggota untuk turut memikirkan urusan da’wah
– dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan
– dilibatkan dalam manuver-manuver amal dan gerakan
– dilatih membuat perencanaan, evaluasi dan memahami positif dan negatifnya

Yang perlu diperhatikan dalam pewarisan:
– harus dihindari pemusatan tanggung jawab dan beban kepemimpinan hanya pada anggota tertentu untuk waktu yang lama
– memperhatikan fiqh amal jama’I (syarat, kewajiban, uslub di dalam berinteraksi dan ta’awun serta mempertegas seluruh qadhiyah asasiyah sebelumnya)
– menekankan tsiqah
– memahami benar sejarah perjalanan jama’ah
– memperhatikan dimensi ruh dan bekal perjalanan

Ringkasan buku: “QADHAYA ASASIYYAH Dalam Da’wah” karya Ustadz Musthafa Masyhur

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: