RSS

KEMENANGAN ITU DARI SISI الله

11 Mei

Hidup adalah pertarungan, menang atau kalah adalah sunatulloh yang tidak mungkin terelakkan. Tidak satupun orang yang mau kalah tapi belum tentu dia tahu apa penyebab kekalahan, dan tidak satupun orang yang tidak mau jadi pemenang hanya masalahnya tidak semua orang tahu jalan kemenangan.

Kemenangan bukan sekedar yang penting menang, meskipun harus menggadaikan kemuliaan. Bukan kemenangan namanya jika harus menjual aqidah dengan harga rendahan, sungguh hina sebuah kemenangan jika harus menukar moral dengan barang gombal, jangan pernah katakan kemenangan yang diperoleh dengan dengan cara-cara pecundang. Tetapi kemenangan yang kita inginkan adalah kemenangan yang mampu mendatangkan berjuta kebaikan karena kemenganan adalah mata air keberkahan.

Tarian dunia agaknya lebih menggiurkan banyak orang, untuk kemudian yakin bahwa bersamanya ada kemenangan. Arus dunia bagi anak manusia sangat dahsyat luar biasa, sehingga kecintaannya kepada dunia terhunjam dalam ke dasar relung jiwa.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨)
“Dan sesungguhnya manusia amat sangat cintanya kepada dunia”
Kecintaannya sedemikian rupa sehingga dunia mengantarkan kepada keyakinan seakan-akan dunia membuat dirinya kekal
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (٣)
“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya”

Sihir dunia sedemikian hebat sehingga hampir semua anak manusia meyakini bahwa faktor utama kemenangan adalah material, ketersediaan SDM, cukupnya finansial dan terpenuhinya kebutuhan logistik.

Sejarah perjalan hidup anak manusia menjadi bukti betapa manusia menjadikan materi adalah segala-galanya. Hidup tanpa materi seakan hampa dan kehilangan daya. Ketika status sosialnya mapan, hartanya banyak dan jabatannya tinggi maka dia merasa memiliki segalanya. Ukuran kemenangan adalah materi, jika materi besar maka peluang menang besar jika materi kecil maka peluang menangnya kecil bahkan tidak ada.

Percaya diri orang yang hubbudunya begitu tinggi kepada materi, dia merasa tidak perlu lagi kekuatasn moral dan kekuatan spiritual. Perasaan ini begitu dalam merasuk ke dalam jiwa sehingga sombong dan melampaui batas dan menentang tuhannya menjadi kelogisan yang tidak dapat dihadang. Inilah buah ketika perasaaan jiwa kenyang dengan santapan dunia. Dengarlah baik-baik firman Dzat yang Maha mengetahui :
كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى (٦)أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (٧)
“Tidak sekali-kali tidak sesunguhnya manusia melampaui batas. Ketika dirinya merasa serba cukup”.
Makanan lain selain dunia membuat dirinya “muntah” karena sangat tidak cocok dengan selera jiwa. Rongga selain rongga dunia tidak memiliki tempat, yang ada hanya satu rongga yaitu rongga dunia.

Sejarah perjalanan hidup manusia mempertontonkan fragmen kehidupan dengan orientasi keduniaan. Ketika Nabiyulloh Nuh AS mengajak putranya Kan’an menaiki bahtera agar selamat dari adzab Alloh, sang anak menolak karena merasa dengan berlindung kepada material dirinya akan selamat dari kebinasaan.
قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ.
“Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang”. dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu Termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”.

Tipu daya materi memang sangat luar biasa, tidak hanya Kan’an yang bertawakal kepada materi untuk beroleh kemenangan, orang sesudahnyapun tidak mampu menjadikan Kan’an sebagai bahan pelajaran. Namrud sang diktator juga merasa gagah dengan harta dan kekuasaannya, keyakinannya mengalahkan Ibrohim AS begitu besar karena dia merasa memiliki segalanya. Api dalam genggamannya seakan mampu melumatkan Ibrohim dan menghabisi segalanya.

Sang Durjana Fir’aun mewarisi pendahulunya yang menjadikan materi segala-galanya. Kekuasaan, harta dan bala tentara menjadi “jimat” yang diandalkan untuk mampu membawanya kepada kemenangan abadi. Ujung semua tontonan penghamba materi, baik harta, status sosial atau kekuasaan adalah kehancuran yang membinasakan pemiliknya dan orang sekitarnya. Tidak titik, di Fir’aun cerita itu akan berakhir karena ternyata mereka yang antri dengan kehancuran masih memanjang. Cerita tersebut bukan monopoli para durjana, mereka para pembawa risalahpun bisa jadi korban dunia penuh getah.

Rangkaian kemenangan yang panjang membuat mabadi kemenangan menjadi kabur, pasukan besar, senjata yang memadai, gelora juang, keberanian nan menakjubkan dan heroisme perjuangan yang tak kunjung padam telah menyihir banyak orang seakan-akan itu semua penentu kemenangan dan tanpa sadar menyelinap dalam jiwa menjadi tuhan baru bagi para pejuang.

Bangga dengan jumlah, bangga dengan senjata, bangga dengan logistik dan bangga dengan perasaan selalu berjaya membuat mereka terpedaya, perasaan “pasti” menang begitu menguasai jiwa. Hunain adalah pelajaran besar namun banyak orang yang gagal mengambil pelajaran, karena kotoran kesombongan telah menjajah fikiran. Rangkaian kisah dan cerita gagal dalam perjuangan akan terus menggelinding sepanjang sejarah kehidupan, namun sayangnya banyak mereka yang tumbang meskipun ibrohnya sudah membentang.

Cerita dan kisah tersebut sebagian kita sudah hafal dan sangat hafal namun daya hafal kita tidak serta merta menjadi vaksin yang membuat kita menjadi kebal. Peristiwa tersebut sudah berulang sepanjang zaman, namun pengulangan tayangan yang terpapar tidak menjamin kita tidak terkapar. Teguran sang Kholiq sudah dalam bentuk tamparan namun berjuta manuisa tak kunjung mampu mengambil pelajaran. Lalu dimana letak sihir material yang katanya mampu mendatangkan segala kebaikan ? lalu apa artinya kekuasaan kalau ujung akhirnya adalah kedurhakaan ? patutkah kita masih berbangga dengan “kemuliaan” jika muaranya adalah kehancuran ?

Hari ini dan hari yang akan datang adalah hari-hari perjuangan, kita akan terus dihadapkan pada medan ma’rokah yang menentukan apakah kita akan beroleh kemenangan atau justru kita harus menelan pil pahit kekalahan. KPU baru saja mengumumkan partai yang bisa ikut pemilu, dan PKS menjadi salah satu pesertanya. Dari sisi modal material kita sudah sangat memiliki namun keyakinan kita bahwa kemenangan dari sisi Allohlah yang akan menentukan kemenangan.

Lawan-lawan politik, lawan-lawan da’wah dan sekutunya sudah lama menjadikan materi sebagai aqidahnya. Tuhan mereka adalah harta, sesembahan mereka adalah kekuasaan dan status sosial, yang jika dikalkulasi sungguh tidak berbilang. Jika tentara Alloh akan melawan mereka dengan bersandar kepada “tuhan mereka” maka sudah bisa dipastikan mereka akan tumbang.

Sungguh kerdil orang yang dibesarkan dalam rumah da’wah jika kemudian luntur mabadi da’wahnya dan beranggapan bahwa materi adalah segalanya. Dengarlah firman Alloh yang agung :
وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ الأنفال: 10
“Dan tidak ada kemenangan kecuali kemengan dari sisi Alloh sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

Sadarilah wahai manusia yang pelupa bahwa waspada itu sepanjang hayat…..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: