RSS

SIAPA YANG MAU MEMINJAMI الله ?

19 Jul

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Ba’da tahmid wa shalawat,
Kisah kaum yang banyak dicela didalam al-Qur’an karena keburukan sifat-sifat yang dimiliki oleh mereka adalah sifat tercelanya kaum bani israil, bahkan Allah swt al azizul hakim mengutuk mereka. Hampir disepanjang pemaparan al Qur’an yang dipaparkan adalah sifat tercela mereka. Hal ini bukanlah tanpa alasan dan tujuan, agar ia menjadi ibroh dan tidak terulang disejarah peradaban kaum muslimin, apalagi pengekoran terhadap prilaku mereka. Berita akhir-akhir ini sangat mencengangkan bahwa sebagian pembesar UEA adalah anggota klub-klub zionis, rotary, lion club dll.
Diantara sifat tercela bani israil yang dipaparkan al Qur’an adalah,
                                                          
2:246. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, Yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk Kami seorang raja supaya Kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. mereka menjawab: “Mengapa Kami tidak mau berperang di jalan Allah, Padahal Sesungguhnya Kami telah diusir dari anak-anak kami?”[155]. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang zalim.
Inilah tabiat khusus bani israil dalam mengingkari, khianat terhadap perjanjian, kesepakatan, berkelit tidak mau tha’at, menghindar dari tanggung jawab, berpecah belah, dan meninggalkan kebenaran yang nyata. Tetapi hal ini juga tabi’at jamaah yang belum matang pembinaan imannya. Ia juga tabi’at manusia secara umum yangtidak bisa dirubah kecuali dengan pembinaan iaman yang tinggi, lama dan mendalam pengaruhnya. Ia adalah tabi’at yang harus diwaspadai oleh para qiyadah danharus diperhitungkan didalam perjalanan yang berat, agar tidak terkejut oleh kemunculannya lalu tidak siap menghadapinya! (fi Zhilalil Qur’an)
Al-Qur’an pada dekade berikutnya juga memaparkan prilaku orang-orang yang berpenyakit hatinya juga melukan hal yang serupa,
                    ••              •            •    
4:77. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka[317]: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun[318].
Permulaan redaksi yang sama dengan ayat sebelumnya,menunjukkan persamaan karakter yang diulang, keberadaan kelompok ini dalam barisan Muslim hampir saja menimbulkan semacam keretakkan dan tidak adanya kekompakan antara kelompok yang lemah dan berkeluh kesah ini dengan orang-orang Mu’min yang berhati tegar dan tenang, yang telah siap memikul berbagai beban jihad, apapun resikonya, dengan penuh ketenangan, keyakinan dan tekad yang bulat dan juga semangat yang tinggi, tetapi pada proporsinya yang wajar. Semangat yang muncul ketika pelaksanaan tugas adalah semangat yang hakiki. Adapun semangat yang munculsebelum waktunya, boleh jadi hanya dorongan emosi saja dan akan menguap ketika menghadapi tantangan yang sesungguhnya! (fi Zhilalil Qur’an)
Yang lebih ironis, tak punya rasa malu, hilangnya ihtirom dan kesantunan adalah membiarkan dan menyuruh qiyadahnya bekerja sendirian sementara ia sibuk dengan urusan dunianya dan bersantai duduk-duduk menikmatinya.
      •           
5:24. Mereka berkata: “Hai Musa, Kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja”.
Demikianlah para pengecut itu merasa berat lalu melakukan keburukan dengan tanpa rasa malu, dan takut menghadapi bahaya lalumenghentakkan kaki mereka seperti keledai tidak mau maju! Sifat pengecut dan tindakan melakukan keburukkan tanpa rasa malu bukan dua hal yang saling berkontradiksi dan berjauhan, bahkan keduanya sering kali berpasangan. Seorang pengecut dihadapkan pada kewajiban lalu dia merasa takut, kemudian dia merasa berat karena takut menghadapi kewajiban sehinggan dia mencela kewajiban itu dan berbuat keburukan tanpa rasa malu terhadap seruan yang membebaninyadengan apa yang tidak dikehendakinya! Inilah kekurangajaran orang lemah yang hanya pandai berbicara lancang! Karena untuk bisa bangkit melaksanakan kewajiban memerlukan kesiapan menghadapi resiko. Mereka tidak bersama Tuhan bila ketuhanan mewajibkan perang kepada mereka.
Mereka mengatakan,” Kami tidak menghendaki kerajaan, kami tidak menginginkan kemuliaan dan kami tidak mengharapkan tanah yang dijanjikan……….jika untuk mendapatkan itu semua kami harus berhadapan dengan orang-orang besar! (fiZhilalil Qur’an)
Jelas ini tidak kita inginkan kemunculannya, namun kita juga harus bersiap-siap jika hal itu dikehendaki Allah swt untuk menguji dan membersihkan jama’ah ini dari kekotoran itu.
Lihatlah kelompok kecil dari mereka,hawariyyun dan bandingkan dengan mereka,
                 •     
3:52. Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.
Dan seperti itulah kita diperintahkan Allah swt,
                                      
61:14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Allahu Akbar!
Sekarang marilah kita beralih kepadagenerasi terbaik dari ummat ini yang Allah swt sanjung mereka dengan penghormatan dan pujian yang mulia, dan hendaknya kepada yang demikian kita menambatkan keteladanan.
Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra. Imam Qurthubi didalam tafsirnya juga mengutip kisah ini, juga dalam tafsir Ibnu katsir dan fiZhilalil Qur’an,
•     •            
2:245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
Tatkala ayat tersebut diturunkan, Abu Dahdah segera bertanya kepada Rasulullah saw,” Sungguh tebusanmu ayah dan ibuku ya Rasulullah! Bahwa Allah meminta pinjaman dari kita, padahal Dia sangat tidak membutuhkan pinjaman?” Nabi menjawab,” Ya, Dia ingin memasukkan kalian kesyurga dengan pinjaman itu.” Abu Dahdah berkata,” Kalau sekiranya aku meminjamkan suatau pinjaman kepada Tuhan-ku,apakah Dia pasti memberikan jaminan syurga bagiku dan bagi anakku Dahdahah?” Jawab Nabi,” Ya.” Lalu Abu Dahdah berkata,”Jika begitu,maka ulurkanlah tanganmukepadaku.” Maka Rasulullahpun melakukannya,kemudian Abu Dahdah berkata,” Sesungguhnya aku memiliki dua kebun, yang satu ada di kampong Safilah dan yang satu lagi ada dikampung “Aliyah; demi Allah hanya itu yang aku miliki, dan aku telah berbulat hati untuk meminjamkannya kepada Allah.” Rasulullah saw bersabda,” Salah satunya saja engkau pinjamkan kepada Allah, dan yang satu lagi untuk keperluan hidupmu dan keluargamu.” Abu Dahdah berkata,” Jika begitu, aku menjadikan engkau sebagai saksi,ya Rasulullah, bahwasannya yang paling baik dari kedua kebunku itu yang aku pinjamkan kepada Allah, yaitu kebun yang berisikan 600 pohon kurma.” Lalu Rasulullah bersabda,” Jika begitu, Allah pasti memberikan balasannya syurga.” Lalu Abu Dahdah pulang menjumpai istrinya yang sedang berada dikebun bersama anak-anaknya bernaung dibawah pohon kurma; Abu Dahdah berkata,” Tuhanku telah menunjukkanmu kejalan yang lurus, yaitu jalan kebaikan dan kebenaran; Aku telah menjadikan kebun yang ada di Wadad .sebagai pinjaman untuk selama-lamanya. Aku telah meminjamkannya untuk Allah dengan setulus hati, bukan karena ingin pujian atau sanjungan melainkan harapan balasan berlipat ganda di akhirat kelak. Maka berpindahlah engkau wahai istriku dari sini bersama anak-anak.Kebajikan itu tidak diragukan lagi adalah sebaik-baik bekal yang dipersiapkan seseorang menuju akhirat.”
Lalu Ummi Dahdah menyahut seraya berkata,” Beruntunglah penjualanmu! Semoga Allah selalu memberkahi yang engkau beli.” Kemudian Abu Dahdah menjawab dengan mengatakan,” Allah telah mengabarkan berita kebaikan dan kegembiraan bagimu, orang sepertimu telah mengorbankan apa yang dimiliki dan juga nasihat. Sungguh Allah telah memberikan kenikmatan kepada keluargaku dan mengaruniakan berbagai buah kurma yang terbaik dan yang segar. Seorang hamba hanyalah berusaha dan ia pasti mendapatkan hasil jerihpayahnya sepanjang malam dan ia akan menanggung resiko dari kesalahannya.”
Kemudian Ummu Dahdah menemui anak-anaknya dan mengeluarkan segala apa yang ada dimulut mereka dan yang didalam bungkusan-bungkusan mereka serta membawa mereka kekebun yang satunya.
Demikianlah kisah karakter orang-orang yang berharap dengan sungguh-sungguh mendapatkan syurga. Dan ini harus menjadi keyakinan kita, bahwa siapa saja yang bersungguh meneladani prilaku kebajikan mereka maka ia berhak mendapatkan syurga sebagaiman yang dijanjikan kepada Abu Dahdah dan keluarganya.
Wallahu a’lamu bishowwab.
Banjarbaru,ma’had ar Rosyad,19 juli 2013
Abi Tito

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juli 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: