RSS

mempersiapkan diri layak di tolong-Nya

21 Feb

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Selanjutnya, Biarlah Allah yang Berbicara

Akhi dan Ukhti fillah….

Parameter kemenangan dan kekalahan yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah kemenangan atau kekalahan yang berkaitan dengan moral spiritual. Bahwa kesuksesan paling hakiki adalah kesuksesan akhirat. Seseorang tidak dilihat sejauh mana prestasi dunia yang dicapai, akan tetapi sejauh mana ia membangun mahligai kejayaan ukhrawi. Kecerdasan, dalam konteks ini bukan milik orang yang mampu menghapal banyak syair dan memecahkan persoalan-pesoalan hidup secara brilian, akan tetapi sejauh mana ia mampu mengendalikan dirinya dan merajut amal untuk tujuan jangka panjangnya. Bahkan yang berkaitan dengan fisik seseorang, jangan pandang remeh betis Ibnu Mas’ud yang kecil itu, karena betisnya itu lebih berat daripada Gunung Uhud di sisi Allah. Dan jangan pandang sebelah mata Barra’ bin Malik yang kusut masai itu. Sebab, Rasulullah pernah mengomentarinya,

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Bisa jadi seseorang kusut masai yang ditolak di pintu-pintu, namun ketika bersumpah dengan nama Allah Azza wa Jalla, pasti Allah mengabulkannya.”

Paradigma ini selalu beliau jelaskan kepada para sahabat yang kerapkali melihat persoalan berdasarkan pandangan kasat mata. Anas bin Malik meriwayatkan, ketika Allah menurunkan ayat,

`s9(#qä9$oYs?§ŽÉ9ø9$#4Ó®Lym(#qà)ÏÿZè?$£JÏBšcq™6ÏtéB4$tBur(#qà)ÏÿZè?`ÏB&äóÓx«¨bÎ*sù©!$#¾ÏmÎ/ÒOŠÎ=tæÇÒËÈ  

 “Tidaklah kalian mendapatkan kebajikan sampai kalian menginfakkan harta yang kalian cintai….” (Ali Imran: 92). Abu Thalhah berkata kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah kalian mendapatkan kebajikan sampai kalian menginfakkan harta yang kalian cintai…’ dan harta yang paling aku cintai adalah Bairuha, itu jadi sedekah untuk Allah dan aku harapkan kebajikannya dan pahalanya serta simpanannya di sisi Allah Ta’ala. Tempatkanlah, ya Rasulullah, sesuai petunjuk Allah kepadamu.” Rasulullah saw. bersabda, “Bakh bakh…, itu adalah harta yang menguntungkan.”

Ketika akhirat menjadi parameter serta puncak tujuan umat Islam, maka dunia pun berada dalam genggaman mereka.

Akhi dan ukhti fiillah….

Umat Islam berada dalam titik nadir kelemahan di segala bidang: ekonomi, politik, militer, teknologi, media massa, dan lain sebagainya. Dalam percaturan internasional, umat hanya menjadi objek mereka yang memiliki kekuatan itu. Lihatlah betapa tidak berdayanya umat ketika hak-hak mereka dirampas, kekayaan alam mereka dikeruk, bahkan lambang kebanggaan mereka dinodai. Tidak ada reaksi kongkret ketika situs sekitar Masjid Al-Aqsha digali Israel, juga ketika junjungan umat, Rasulullah saw. dilecehkan media massa Denmark.

Ketika kaum Muslimin kuat dan diperhitungkan oleh musuh-musuhnya, jangankan mereka berani menyentuh simbol-simbol yang dihormati kaum Muslimin, melecehkan makhluk lemah pun dapat mengundang turunnya pasukan tempur kaum Muslimin. Ibnul Atsir di kitabnya Al-Kamil meriwayatkan, seorang wanita dari Bani Hasyim menjadi tawanan Romawi, lalu ia berteriak, “Wa Mu’tashimah, (Tolonglah, wahai Mu’tashim…)” Dari istananya ia (Khalifah Mu’tahim) menjawab, “Labbaiki… labbaiki.” Dan serta merta ia mengirim pasukan untuk menolong wanita itu. Maka tejadilah Perang Ammuriyah

Akhi dan ukhti fillah….

Umat ini harus bangkit meraih kejayaannya kembali. Karena, hanya dengan cara itu mereka dapat meneruskan risalah nabinya, yaitu tersebarnya rahmat Allah ke alam semesta, melindungi orang-orang lemah, membela kaum tertindas, mengembalikan hak martabat wanita, dan mengembalikan masing-masing hak kepada yang berhak. Lebih dari itu adalah agar hanya Allah yang disembah dan tidak ada lagi fitnah di muka bumi serta agama hanyalah milik Allah semata.

öNèdqè=ÏG»s%ur4Ó®LymŸwšcqä3s?×puZ÷GÏùtbqà6tƒurß`ƒÏe$!$#¼ã&—#à2¬!4ÂcÎ*sù(#öqygtGR$# cÎ*sù©!$#$yJÎ/šcqè=yJ÷ètƒ×ŽÅÁt/ÇÌÒÈ  

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanyalah milik Allah semata. Jika mereka berhenti, sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39)

Syarat dan prasyarat menuju kebangkitan itu dimiliki umat Islam: sumber daya manusia, sumber daya alam yang tersedia di negeri-negeri Islam, sejarah umat Islam, dan tabiat agama Islam sendiri yang universal, yang selalu relevan bagi setiap bangsa pada setiap kurun sampai hari Kiamat. Islam diturunkan sebagai pedoman hidup dan tidak hanya berlaku untuk manusia pada satu generasi saja tanpa generasi yang lain. Al-Qur’an dan hadits adalah dua pusaka yang menjamin kejayaan umat jika keduanya dijadikan sebagai panduan hidup.

Untuk kembali kepada kejayaan dan kemenangan yang dicita-citakan itu, syarat pertama dan utama adalah kembali kepada Allah. Memurnikan akidah dan penghambaan hanya kepada Allah. Membangun harmonisasi hubungan dengan Allah dan menjadi hamba-hamba yang dicintai-Nya. Menjalankan kewajiban dan menghiasi diri dengan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Juga menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan kepada Allah.

Memakmurkan masjid dengan ibadah kepada Allah. Menjalin hubungan yang baik dengan tetangga dan kerabat. Tertunaikannya hak-hak Allah dan manusia dalam kehidupan ummat Islam. Juga tidak mengesampingkan kebutuhan akal terhadap ilmu. Menyiapkan kekuatan dalam berbagai bentuknya. Masyarakat yang harmonis dalam bingkai ketaatan kepada Allah.

Masing-masing orang menunaikan amanah yang diembankan kepadanya. Pemimpin menjadi pengayom yang melindungi rakyatnya, juga sebagai teladan dalam amal kebajikan. Rakyat tunduk dan patuh padanya dalam rangka taat kepada Allah. Orang tua menyayangi yang muda dan anak muda menghormati yang tua. Orang lemah merasa menjadi kuat karena mendapat perlindungan. Wanitanya menjaga kehormatan dan aurat terjaga hingga tindakan melampaui batas tidak merajalela. Peluang melakukan kebajikan terbuka lebar, sementara peluang melakukan kejahatan tereliminasi melalui gerakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Akhi dan Ukhti fiillah….

Jika itu semua terpenuhi dalam diri umat Islam, janji Allah yang berupa kemenangan dan kejayaan akan segera datang. Pasukan Allah yang terdiri dari berbagai macam makhluk-Nya akan bahu membahu bersama orang-orang beriman. Air, angin, api, udara, binatang, tumbuh-tumbuhan akan segera berpihak kepada orang-orang beriman. Adalah sunnatullah bahwa langit akan campur tangan ketika ada pergerakan bumi. Bacalah ayat-ayat ini,

$pkš‰r¯»tƒz`ƒÏ%©!$#(#þqãZtB#uäbÎ)(#rçŽÝÇZs?©!$#öNä.÷ŽÝÇZtƒôMÎm6s[ãƒurö/ä3tB#y‰ø%r&ÇÐÈ  

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

z`ƒÏ%©!$#ur(#r߉yg»y_$uZŠÏùöNåk¨]tƒÏ‰öks]s9$uZn=ç7ߙ4¨bÎ)ur©!$#yìyJs9tûüÏZÅ¡ósßJø9$#ÇÏÒÈ  

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)

tA$s%urãNà6š/u‘þ’ÎTqãã÷Š$#ó=ÉftGó™r&ö/ä3s94¨bÎ)šúïÏ%©!$#tbrçŽÉ9õ3tGó¡o„ô`tã’ÎAyŠ$t6Ïãtbqè=äzô‰u‹y™tL©èygy_šúï̍Åz#yŠÇÏÉÈ  

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina-dina.” (Ghafir: 60)

y‰tãurª!$#tûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäóOä3ZÏB(#qè=ÏJtãurÏM»ysÎ=»¢Á9$#óOßg¨ZxÿÎ=øÜtGó¡uŠs9’ÎûÇÚö‘F{$#$yJŸ2y#n=÷‚tGó™$#šúïÏ%©!$#`ÏBöNÎgÎ=ö6s%£`uZÅj3uKã‹s9uröNçlm;ãNåks]ƒÏŠ”Ï%©!$#4Ó|Ós?ö‘$#öNçlm;Nåk¨]s9Ïd‰t7ãŠs9ur.`ÏiBω÷èt/öNÎgÏùöqyz$YZøBr&4ÓÍ_tRr߉ç6÷ètƒŸwšcqä.Ύô³ç„’Î1$\«ø‹x©4`tBurtxÿŸ2y‰÷èt/y7Ï9ºsŒy7Í´¯»s9résùãNèdtbqà)Å¡»xÿø9$#ÇÎÎÈ  

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Terhadap ayat tersebut penulis kitab tafsir Fii Dzilalil Qur’an berkomentar, “Itulah janji Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari umat Muhammad saw. bahwa Allah akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, mengokohkan agama yang diridhai dan mengganti ketakutan mereka menjadi keamanan. Itulah janji Allah. Dan janji Allah itu benar. Janji Allah itu terjadi. Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Lalu apa hakikat iman dan hakikat kekuasaan tersebut?

Iman yang akan mendatangkan janji Allah adalah hakikat besar yang menenggelamkan seluruh aktivitas manusia dan mengarahkan semua aktivitas manusia. Keimanan yang dalam dan bersemayam di lubuk hati kemudian diterjemahkan dalam bentuk amal dan kegiatan. Semuanya diarahkan untuk Allah dan tidak ada yang diharapkan selain Allah. Adalah ketaatan dan kepasrahan total kepada Allah berikut semua perintah-Nya. Jiwa dan hati tidak akan patuh kecuali kepada apa yang pernah dibawa Rasulullah. Iman yang menenggelamkan manusia secara total dengan segenap perasaan dan gejolak hatinya, rindunya, kecenderngan fitrahnya, dan gerakan fisiknya….”

öNn=sùöNèdqè=çFø)s? ÆÅ3»s9ur©!$#óOßgn=tGs%4$tBur|Mø‹tBu‘øŒÎ)|Mø‹tBu‘ ÆÅ3»s9ur©!$#4’tGu‘4u’Í?ö7ãŠÏ9uršúüÏZÏB÷sßJø9$#çm÷ZÏB¹äIxt/$·Z|¡ym4žcÎ)©!$#ìì‹ÏJy™ÒOŠÎ=tæÇÊÐÈ  

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 17).

Diriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan melempar adalah lemparan kerikil yang dilakukan Rasulullah terhadap muka orang-orang musyrik, dan terkenalah orang-orang yang sudah tertulis dalam ilmu Allah akan mati karenanya. Menurut Sayyid Quthb, arahan ayat tersebut lebih umum, yaitu skenario Allah melalui lemparan Nabi dan kelompok Islam bersamanya.

Logika macam apakah kemenangan yang diperoleh 300 orang dengan senjata seadanya melawan 1.000 orang bersenjata lengkap di medan Perang Badar? Kemenengan dari mana yang dicapai 2.000 mukminin melawan 10.000 tentara Quraisy dengan sekutu-sekutunya di Perang Khandaq?

Akhi dan Ukhti fillah….

Jadikan diri kita sebagai umat yang layak mendapat kemenangan Allah melalui keimanan yang kita buktikan dengan amal perbuatan nyata. Selanjutnya, Allah yang bertindak dengan pasukan-pasukan-Nya. Wallahu A’lam.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Februari 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: