RSS

madah

06.syuruthu qobuulisy syshaadataini (free download)

05.tahqiiqu sysyahadataini (free download)

04.Tahqiiqu ma’na syahadatain (free download)

03.Ma’na ilah (free download)

02.Makna asyhadu (free download)

01.ahamiyatu syahadatain (free download)

3.1.1.05.002, IKHLASH (silahkan download,gratis)

orgPEKA TERHADAP KONSPIRASI
1. Mukadimah
Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Rasulullah saw beserta keluarga para sahabat dan pengikut setia di jalan dakwahnya sampai hari kiamat.
Da’wah ilallah adalah masyru’ rabbani (proyek dari Allah) sepanjang zaman dan setiap ruang, dan para dai adalah para pelaksana proyek yang sangat besar itu. Dan telah menjadi sunnatullah bahwa dalam pelaksanaan proyek besar ini akan berhadapan dengan tantangan-tantangan besar, terutama dari kekuatan yang telah mapan dan hendak dirubah oleh gerakan dakwah ini. Tantangan dan ujian itu demikian berat dan besar namun ia tidak boleh menyebabkan berhenti dan tumbangnya dakwah, untuk dapat terus menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan melintasi rentang waktu yang tidak berbatas. Tantangan-tantangan dakwah seharusnya dirubah menjadi sarana efektif bagi proses pematangan kader-kader dakwah agar berkualitas unggul dan berdaya tahan prima.
Pertarungan dahsyat di medan dakwah antar haq dan bathil, mengharuskan kader-kader dakwah memiliki strategi yang baik dalam mempertahankan aset-aset dakwah yang sangat mahal dari segala bentuk ancaman yang akan membahayakan masa depan perjalanan dakwah.
Ditinjau dari obyek ancaman dakwah, maka ancaman itu dapat dikelompokkan pada:
a. Ancaman terhadap risalah (esensi) dakwah
b. Ancaman terhadap dai (aktivis/pemimpin) dakwah
c. Ancaman terhadap mad’u (pendukung/pengikut) dakwah
d. Ancaman terhadap wasa’il (sarana dan fasilitas) dakwah
Ditinjau dari sumber ancaman, dapat dibedakan menjadi dua jenis ancaman yaitu:
a. Ancaman Eksternal, seperti dari orang-orang kafir dan musyrik
b. Ancaman Internal, seperti yang ditimbulkan oleh kaum munafik dan sejenisnya.
Kepekaan kader dakwah dalam melindungi kelangsungan dakwah agar terus berkembang hingga akhir zaman inilah yang dikenal dengan al wa’yu al amni atau al hiss al amni.

2. Landasan Syar’iy
a. Firman Allah swt.
Artinya: Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah? Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama ) Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. QS. 3/Ali Imran: 52

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siaplah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama! QS. 4/An Nisa: 71

Artinya: Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat makanan-makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun. QS. 18/Al Kahfi: 19,

b. Hadits Nabi Muhammad SAW

Perintah Nabi Muhammad kepada kaum muslimin Makkah untuk berhijrah ke Habsyi, karena tekanan Quraisy Makkah yang semakin memberatkan kaum muslimin.
Artinya: Pergilah kalian ke Habsyi karena di sana ada raja yang adil (tidak menzhalimi pihak lain) dialah negeri baik yang Allah jadikan jalan keluar untukmu dari kesulitan ini. (Ibnu Hisyam II. 69)

Jabir bin Abdillah ra berkata: Rasulullah SAW berkata kepada para hujjaj di mauqif (tempat mereka beristirahat):
Artinya: Adakah seseorang yang membawa kami ke kaumnya, karena orang-orang Quraisy melarangku menyampaikan firman Tuhanku” HR. At Titmidzi

c. Qaidah Fiqhiyyah
“Dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil-mashalih”
Artinya: Menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mendapatkan keuntungan.

3. Taujih Rabbani dalam menghadapi ancaman

Ketika tekanan terhadap aktivitas dakwah semakin kuat, dan semakin membahayakan dakwah Nabi Muhammad pada sekitar tahun kelima kenabian, Allah swt memberikan taujih kepada kaum muslimin dengan menurunkan surah Al Kahfi, yang memuat tiga buah kisah mendalam tentang perlunya menyelamatkan dakwah Islam dari fitnah kaum kafir. Tiga kisah itu adalah:
a. Kisah Ashabul kahfi
Kisah ini adalah kisah anak-anak muda yang menyelamatkan agamanya dari dominasi kufr, ketika mereka merasakan ancaman besar terhadap aqidahnya yang bertentangan dengan aqidah raja yang zhalim. Gua menjadi pilihan mereka ketika tidak ada tempat lain yang bisa menyelamatkan agamanya. Inilah hijrah penyelamatan agama, seperti halnya hijrah kaum muslimin ke Habsyi. Firman Allah:
Artinya: (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini. QS. 18/Al Kahfi: 10

Tiga ratus tahun setelah mereka berada di dalam gua itu, pelajaran tentang kepekaan mendeteksi bahaya yang mengancam aqidah, mereka tunjukkan pada saat mereka mencari makanan dengan uang yang mereka bawa. Pesan itu adalah: Wal Yatalaththaf, berlemah lembutlah, berhati hatilah, dan jangan sampai ada orang yang merasakan keanehan pada diri mereka.
Status waspada terhadap keadaan yang belum dipahami dengan baik tetap mereka pegang, agar dapat menyelamatkan keyakinan mereka.

b. Kisah Musa dan Khidhr
Pelajaran penting dalam kisah ini adalah bahwa faktor-faktor perubah untuk suatu masalah tidak selalu terukur secara kuantitatif seperti yang ada dalam faktor zahir semata, masih ada faktor X yang masih tersembunyi yang dapat membalikkan kesimpulan, dari faktor yang terlihat itu.
Kasus perahu yang dirusak; secara zahir akan merugikan pemilik perahu itu, namun ada faktor tersembunyi yang membuktikan bahwa dengan cara dirusak itulah perahu itu dapat terselamatkan dari raja zalim yang merampas perahu-perahu nelayan yang bagus.
Kisah anak belia yang dibunuh, secara zahir adalah kejahatan terhadap hak hidup manusia, namun dalam kisah itu ada faktor tersembunyi yang dengan pembunuhan itu, terselamatkanlah anak dan orang tuanya sekaligus dari perbuatan durhaka di kemudian hari.
Sebuah tembok miring yang berada di sebuah kampung yang pelit, ternyata di bawahnya tersimpan kekayaan yang berlimpah untuk anak yatim, agar terjaga sampai mereka dewasa.
Kisah-kisah ini mengajak kita untuk tidak hanya berpikir realistis, kuantitatif semata, ada kenyataan di balik realita yang harus dicermati dengan seksama dan penuh waspada. Wallahu a’lam.

c. Kisah Dzul-Qarnain dan Ya’juj dan Ma’juj
Kisah ini memberikan beberapa pelajaran berharga, yaitu:
1. Tumbuhnya kesadaran masyarakat akan adanya ancaman bahaya Ya’juj dan Ma’juj, sehingga mereka merasakan perlunya tembok penyekat yang aman. Dan untuk kebutuhan ini mereka siap mengeluarkan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan tembok raksasa. Sebab tanpa kesadaran mereka akan adanya bahaya, maka mereka tidak akan pernah berpikir tentang tembok raksasa, apalagi sampai mengeluarkan dana. QS. 18/Al Kahfi: 94

2. Melibatkan dengan aktif anggota masyarakat untuk bersama-sama membangun tembok itu dalam membentengi diri mereka dari kejahatan Ya’juj dan Ma’juj, sehingga mereka menjadi berdaya, dan merasa memiliki tembok raksasa itu. QS. 18/Al Kahfi: 95

3. Pembuatan tembok baja yang kuat yang mampu menyekat dan mengurung pembuat kerusakan sehingga tidak dapat melakukan kejahatannya, sehingga bumi ini dapat betul-betul dinikmati oleh orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Peristiwa ini mengingatkan kita akan perlunya perlindungan fisik/material yang mampu melindungi keshalihan masyarakat dari ancaman kejahatan eksternal. QS. 18/Al Kahfi: 96
4. Tembok raksasa itu bukanlah segala-galanya, karena ia hanya menangkal serangan eksternal. Kewaspadaan tetap harus ditumbuhkan untuk mengantisipasi penyimpangan internal.

4. Taujih Nabawi dalam menghadapi ancaman
Rasulullah saw sangat hati-hati dalam menjaga kelangsungan dakwah ini agar dapat terus bertahan dan berkembang sampai akhir zaman. Salah satu contoh al wa’yul-amni yang sangat jelas adalah dalam peristiwa hijrah ke Madinah.
Hijrah Nabi ke Madinah adalah perintah Allah, yang pasti mendapat lindungan Allah. Tetapi dalam peristiwa itu Rasulullah saw melakukan perencanaan dan proses perjalanan yang penuh perhitungan.
Tengah hari Rasulullah menemui Abu Bakar agar menyertainya hijrah ke Madinah setelah turun izin dari Allah untuk berhijrah, pada saat yang sama terjadi kebulatan tekad orang Quraisy untuk membunuh Nabi.
Malam itu rumah Nabi sudah di kepung kafir Quraisy. Rasulullah keluar rumah tanpa mereka ketahui, menuju ke rumah Abu Bakar yang sudah menyiapkan kendaraan dan perlengkapan jalan termasuk mencarter Abdullah bin Uraiqith Ad Dailiy untuk menunjukkan jalan pintas ke Madinah.
Nabi dan Abu Bakar berangkat hijrah, dengan menelusuri jalan Madinah-Yaman, rute yang tidak lazim dilalui orang, sehingga mereka tiba di gua Tsur, dan menyuruh penunjuk jalan segera kembali ke Makkah untuk menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada Abdullah, putranya. Tiga malam Nabi dan Abu Bakar bermalam di gua itu, ditemani oleh Abdullah yang menjadi pengamat suasana Makkah pada siang harinya, untuk diinformasikan kepada Nabi pada malamnya.
Kafir Quraisy Makkah kelimpungan karena gagal membunuh Nabi, dan Nabi sudah tidak ada di Makkah, mereka mengejar ke arah Makkah-Madinah, tetapi tidak menemukan apa-apa, kemudian ke arah Makkah-Yaman, hingga mereka sampai di mulut gua Tsur. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali sarang laba-laba yang memenuhi gua itu, tetapi yang di dalam gua melihat mereka.
Ketika dirasa sudah aman Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan ke Madinah.
Rasulullah mengajarkan al wa’yul-amni untuk standar dakwah Islam bagi umatnya. Berbeda dengan apa yang dilakukan Umar bin Khathab ra yang menantang kafir Quraisy Mekah ketika ia berangkat hijrah ke Madinah.

5. Taujih Salafushshalih dalam menghadapi ancaman

Umar bin Khaththab ra berkata:
“Janganlah kamu membicarakan sesuatu yang tidak kamu butuhkan, dan kenalilah musuhmu, waspadailah sahabat-sahabatmu kecuali al amin (yang dapat dipercaya), dan tidak akan bisa dipercaya kecuali orang yang takut kepada Allah, dan janganlah kamu berjalan bersama orang fajir (durhaka) karena kamu nanti akan belajar kecurangannya, jangan sekali-kali kau buka rahasiamu kepadanya, dan janganlah kamu memusyawarahkan perasaanmu kecuali dengan orang-orang yang takut kepada Allah swt. (diriwayatkan oleh Abu Nuaim, dalam Hilyah. I. 55 )
Wallahu a’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: