RSS

RUMAHTANGGA

Nilai-nilai Luhur dalam Keluarga(FREE DOWNLOAD)
PILAR-PILAR RUMAH TANGA MUSLIM
Kita tidak boleh memperhatikan laki-laki dan mengabaikan wanita. Memperhatikan pemuda dan mengabaikan para gadis. Wanita adalah separoh masyarakat dan pencetak laki-laki. Seorang (akh) muslim jika tidak memiliki saudari (ukht) muslimah yang mampu melaksanakan pekerjaan rumah, maka akan mengharuskannya untuk menikah dengan gadis muslimah mana saja. Ia bisa gagal hidupnya atau berhenti dalam perjalanan da’wahnya.
Demikianlah jika kita mengabaikan penyiapan para akhawat muslimah, kita telah menghadapkan para pemuda muslim ke pintu kesia-siaan. Kemudian keluarga muslimah yang dibangun di atas taqwa adalah pondasi pembangunan negeri yang menjadi impian. Keluarga yang akan melahirkan generasi masa depan yang mampu meneruskan perjalanan da’wah dan memikul amanah.
Keharusan untuk memberikan perhatian kepada anak-anak dan pemuda dalam setiap marhalah (fase) usia mereka sehingga tumbuh di atas disiplin beragama yang benar dan persiapan yang layak untuk menjadi pemandu yang kokoh khususnya bagi generasi masa kini.Untuk itu peran utama kita sangat besar dan berkelanjutan sampai generasi berikut. Tidak memperhatikan satu generasi dari generasi yang ada akan terjadi ketidak sinambungan dan mengarah kepada bahaya besar.
Sebagaimana keharusan untuk memperbaiki diri, mengajak orang lain yang menjadi kewajiban asasi setiap muslim dan muslimah, ada kewajiban ketiga yang tidak kalah urgensinya adalah penegakan keluarga muslim. Sebagaimana profil kepribadian muslim adalah sosok aqidah, maka menjadi keharusan untuk mempersiapkannya agar menjadi model yang benar dan teladan mumpuni. Maka alangkah besar kebutuhan kita untuk memiliki keluarga muslim yang menjadi teladan, sebagai pilar kuat membangun masyarakat muslim. Keluarga memiliki peran kritis dalam menentukan kuat lemahnya masyarakat. Sebab keluarga adalah persemaian atau ruang tarbiyah anak-anak, membentuk mereka pada masa pembentukan dan persiapan. Keluarga memiliki pengaruh bentukan yang sangat dominan dalam kepribadian anak yang akan melekat sepanjang hidupnya.
Sungguh benar Rasulullah saw ketika bersabda:

( كل مولود يولد على الفطرة ، وأبواه يهودانه أو نصرانه أو يمجسانه )

“Setiap bayi yang dilahirkan berada dalam fitrah, dan kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau majusi.”

Berbicara tentang penegakan rumah tangga/keluarga muslim tidak cukup dengan sekilas , akan tetapi harus merujuk kepada apa yang pernah ditulis tentang keluarga, baik berupa karangan dan kajian. Namun dengan mengharap manfaat tulisan ini kami hanya bisa mengungkapkan rambu-rambu dan arahnya.

حسن الاختيار
PEMILIHAN YANG BAIK

Seorang akh dan ukht yang kami ajak untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain, harus mencari pasangan, yang tidak hanya sebagai pasangan suami isteri. Agar membangun keluarga muslimah di atas pilar taqwa sejak pertama melangkah, maka seorang akh harus memilih ukht dzatuddin (disiplin beragama) yang memahami perannya dalam hidup ini, sehingga menjadi pendukung terbaik bagi dakwah, membantu dan mengingatkannya jika ia lupa, memotifasi dan tidak membuat frustasi, menjaga amanahnya ketika ia tiada meski dalam waktu yang lama, menumbuhkan anak-anaknya dengan pertumbuhan yang islami. Demikian juga al ukht, agar selektif tidak menerima begitu saja calon suami kecuali pemilik aqidah yang bertaqwa kepada Allah, dan mampu membantunya mentaati Allah dan menggapai ridha-Nya.
Sunnah Rasulullah saw mengantarkan kita dalam hal ini dengan bersabda:

( تنكح المرأة لأربع : لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك )

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, statusnya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, maka kamu akan peroleh keuntungan”
.
Sebagaimana Rasulullah saw tidak menyetujui wali seorang wanita yang menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukainya. Hal ini memberikan hak pilih kepada setiap al ukht tentang calon suaminya.

الالتزام بحدود الإسلام
KOMITMEN DENGAN ATURAN ISLAM

Dan yang kami harapkan adalah agar aturan dan nilai-nilai Islam dapat kembali dominan dalam setiap fase pembentukan keluarga muslim, sejak dari khitbah, akad nikah,
penyiapan rumah, walimah, dst jauh dari adat dan kebiasaan yang destruktif, baik dari tradisi klasik maupun yang diimport dan bertentangan dengan syariat Islam, atau hal-hal lain yang menjadi sandungan dalam pross pernikahan, bisa berupa hal-hal yang mengurangi kesempurnaannya. Mengapa akad nikah tidak kita lakukan di masjid, dalam suasana bersih, jauh dari beraneka tradisi yang sering menyertai momentum ini, berlebihan dan prilaku lain yang menyimpang dari syariah Islam.
Boleh jadi hal ini akan ditolak orang hari ini, sebagaimana penolakan terhadap busana muslim, akan tetapi dengan seringnya kita melakukannya, maka pernikahan di masjid akan diterima sebagaimana diterimanya busana muslim. Sesungguhnya inilah pertarungan antara kemuliaan dan kehinaan. Dan jika kita komitmen dengan kemuliaan dan nilai-nilai Islam, kita akan mampu menampilkan kepribadian kita yang Islami.

– المودة والرحمة
KASIH SAYANG

Jika telah usai pemilihan pasangan di atas prinsip agama, dan langkah berikutnya telah dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, maka kita telah memulai membangu rumah tangga muslim di atas pondasi yang kokoh, yang akan menampilkan stabilitas, kebahagiaan, hakiki yang banyak dicari keluarga hari ini.
Kebahagiaan tidak akan datang dari luar hati, tidak akan dihadirkan oleh kekayaan, rumah tinggal, pakaian, dan perabotan; akan tetapi datang dari dalam jiwa karena taqwa kepada Allah, Yang Maha Pemberi kebahagian, kasih sayang. Maha Benar Allah Yang berfirman:

            ••  

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. “ (QS. Ar Rum: 21)

ولست أرى السعادة جمع مال ولكن التقي هو السعيد
Aku tak melihat kebahagian itu dalam tumpukan kekayaan, akan tetapi ketaqwaan itulah kebahagiaan

شواهد من الرحمة بين الزوجين في القرآن والسنة
KASIH SAYANG SUAMI ISTERI DALAM AL QUR’AN DAN AS SUNNAH

أيوب عليه السلام وزوجته

Allah berfirman:
                        •  •                     • 

“Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya) .” ( QS. Shaad: 41-44)

عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ عن النبي  قال : بينا أيوب يغتسل عرياناً خَرّ عليه رَجُلُ جراد ( ) من ذهب ، فجعل يَحْثَى( ) في ثوبه ، فنادى ربُّه :يا أيوب ألم أكن أغنيتك عما ترى ؟ قال : بلى يا رب ، ولكن لا غنى لي عن بركتك. (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra –dari Nabi saw bersabda: Ketika Nabi Ayyub mandi dengan telanjang tiba-tiba berjatuhan belalang dari emas, lalu ia kumpulkan belalang itu dengan bajunya. Lalu Rabbnya menyeru:”Wahai Ayyub tidakkah telah Aku berikan kekayaan kepadamu melebihi apa yang engkau lihat sekarang? Nabi Ayyub menjawab: “Betul Ya Rabb, akan tetapi aku tidak akan pernah merasa cukup dari berkah-Mu. HR Al Bukhari.
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Tidak ada hadits yang kuat menurut Al Bukhari tentang kisah Nabi Ayyub, maka cukup dengan hadits ini yang memenuhi syaratnya. Dan yang paling shahih dalam kisah Ayyub as adalah yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Juraij dan disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim.
Dari Anas ra: Bahwasannya Nabi Ayyub as diuji Allah selama sepuluh tahun, sehingga ia ditolak oleh semua orang yang dekat maupun yang jauh, kecuali dua orang saudaranya, yang membesoknya setiap pagi dan petang. Berkata salah satunya kepada yang lainnya: “Sungguh Nabi Ayyub telah melakukan dosa besar; jika tidak karena dosa itu tentu ia telah keluar dari ujian ini. Ucapan ini kemudian disampaikan oleh salah satunya tadi kepada Nabi Ayyub. Nabi Ayyub bersedih dan berdo’a kepada Allah saat itu. Lalu ia keluar untuk hajatnya, isterinya menuntunnya dengan memegang tangannya. Ketika Nabi Ayyub sudah selesai dari hajatnya, wanita itu terlambat menjemputnya. Allah swt memberikan wahyu kepadanya agar ia menggerakkan kakinya; Nabi Ayyub hentakkan kakinya ke tanah dan keluarlah mata air, ia mandi dengan air itu dan seketika kembali sehat. Kemudian datanglah isterinya menjemput, tetapi tidak mengenalinya, wanita itu bertanya kepadanya: Di mana Nabi Ayyub? Ia menjawab: Saya ini Ayyub….

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Abdullah ibnu Ubaid, ibnu Umair seperti hadits Anas, dan di akhirnya berkata: Lalu Nabi Ayyub bersujud dan berkata:

وعزتك لا أرفع رأسي حتى تكشف عني
“Demi Kemuliaan-Mu, aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Engkau sembuhkan aku, lalu Allah menyembuhkannya. Dan menurut Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas ra. Allah swt mengembalikan masa muda isterinya sehingga dapat melahirkan duapuluh sembilan anak laki-laki. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih dan Muhammad bin Ishaq dalam permulaan kisah yang panjang sekali, dan kesimpulannya adalah bahwa: Ada ……..

هلال بن أميه وزوجته
HILAL BIN UMAYYAH DAN ISTERINYA

Isteri Hilal bin Umayyah dengan setia melayani suaminya sejak ia dikucilkan bersama dengan tiga orang yang tidak ikut berangkat ke perang Tabuk, akan tetapi mereka bertiga ini jujur, tidak bikin sumpah dan membuat alasan dusta. Rasulullah membiarkannya dan menunda urusannya sehingga datang keputusan Allah.

عن كعب بن مالك قال : . . . ونهى رسول الله  المسلمين عن كلامنا أيها الثلاثة من بين من تخلف عنه فاجتنبنا الناس وتغيروا لنا حتى تنكرت في نفسي الأرض فما هي التي أعرف ، فلبثنا على ذلك خمسين ليلة .. . حتى إذا مضت أربعون ليلة من الخمسين إذا رسول رسول الله  يأتيني فقال : إن رسول الله  يأمرك أن تعتزل امرأتك ، فقلت: أطلقها أم ماذا أفعل ؟ قال : لا بل اعتزلها ولا تقربها . وأرسل إلى صاحِبَيَّ مثل ذلك . فقلت لإمرأتي : الحَقِى بأهلك فتكوني عندهم حتى يقضى الله في هذا الأمر .قال كعب : فجاءت امرأة هلال بن أمية رسول الله  فقال : يا رسول الله ، إن هلال بن أمية شيخ ضائع ليس له خادم فهل تكره أن أخدمه ؟ قال : لا ولكن لا يقربك . قالت : إنه والله ما به حركة إلى شيء ، والله ما زال يبكي منذ كان من أمره ما كان إلى يومه هذا . . . [ رواه البخاري ومسلم ]

Dari Ka’b bin Malik ra berkata: ….dan Rasulullah saw melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga yang tidak ikut serta bersama Nabi. Orang-orang menjauhi kami dan berubah wajahnya pada kami, sehingga dalam diriku bumi ini terasa bukan yang biasa kami tempati. Keadaan ini kami alami selama lima puluh malam…bahkan ketika sudah melewati empat puluh malam dari lima puluh itu, tiba-tiba utusan Rasulullah saw mendatangi kami dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw memerintahkanmu untuk menjauhkan diri dari isterimu. Aku bertanya: “Aku ceraikan atau apa yang harus aku lakukan? Ia menjawab: Tidak, hanya jauhi dia dan jangan kau dekati. Utusan itu menemui dua orang sahabatku seperti itu. Maka aku katakan kepada isteriku: “Pulanglah kamu kepada keluargamu, beradalah di sana, sehingga Allah memutuskan masalah ini. Ka’b berkata: “Maka datanglah isteri Hilal bin Umayyah menghadap Rasulullah saw, berkata: Ya Rasulallah, sesungguhnya Hilal bin Umayyah adalah orang tua yang sudah tidak berdaya, ia tidak memiliki pembantu, apakah engkau tidak memperbolehkan aku melayaninya? Rasulullah menjawab: Tidak, hanya jangan sampai ia mendekatimu (berhubungan suami isteri, red.). isteri Hilal menjawab: “Sesungguhnya Demi Allah, ia tidak lagi punya gairah apapun. Demi Allah, dia tidak berhenti menangis sejak masalahnya diputuskan sampai hari ini…. HR Al Bukhari dan Muslim.

من أقوال الفقهاء في تبادل الرحمة بين الزوجين :
BEBERAPA UNGKAPAN ULAMA TENTANG TIMBAL BALIK KASIH SAYANG ANTARA SUAMI ISTERI

الصبر عند إعسار الزوج
BERSABAR KETIKA SUAMI SEDANG KESULITAN

Ibnul Qayyim berkata: mereka berkata: “Allah swt mewajibkan kepada pengemban kebenaran untuk senantiasa bersabar atas suami yang sedang kesulitan, dan memotivasinya untuk bersedekah dengan tidak meminta haknya, dan selain dua hal ini termasuk kelewatan tidak dibolehkan bagi suami”.
Kami katakan kepada wanita ini (yang suaminya sedang kesulitan) sebagaimana yang pernah Allah firmankan: Kamu tunggu sampai ia mampu, kamu bersedekah. Tidak ada hak suami selain keduanya. Sedangkan yang dibutuhkan oleh prinsip syari’ah dan kaidahnya dalam hal ini adalah bahwa seorang laki-laki ketika memperdaya wanita bahwa ia punya harta. Lalu wanita itu menikah dengannya, dan ternyata kemudian terungkap bahwa ia orang yang tidak punya apa-apa, atau memiliki harta tidak mau memberi nafkah kepada isterinya, dan wanita itu tidak dapat mengambil apa yang ia butuhkan dari suaminya, langsung atau melalui hakim, maka ia boleh membatalkan nikahnya. Namun jika wanita itu menikah dengannya dan tahu kondisi sulitnya sejak semula, atau semula kaya lalu tertimpa sesuatu sehingga jatuh miskin, maka ia tidak boleh membatalkan nikahnya. Dan banyak orang yang tertimpa kesulitan ekonomi setelah semula mudah, akan tetapi tidak mengadukan suaminya kepada hakim untuk dipisahkan antar mereka. Wallahu a’lam

الصبر عند مرض الزوجة
BERSHABAR KETIKA ISTERI SAKIT

Ibnul Qayyim berkata: Para ulama mengatakan: Jika wanita tidak dapat menyenangkan suaminya karena sakit berkepanjangan, tidak mampu berhubungan suami isteri, suami tidak berkesempatan untuk membatalkan pernikahan, bahkan ia wajib menafakhinya dengan penuh meskipun isterinya tidak dapat berhubungan badan.
Ini artinya bahwa di antara makna kasih sayang adalah toleran ketika mendapatkan sebagian hak bersama, seperti hak berhubungan seks dan nafkah tidak dapat dipenuhi secara penuh.

تحقيق شمول العبادة
MEREALISASIKAN IBADAH YANG UNIVERSAL

Risalah kita dalam hidup ini adalah ibadah menyembah Allah, dan kita harus mengusahakan seluruh urusan hidup kita ini adalah mendekatkan diri kepada Allah, memohon pertolongan-Nya untuk dapat menyembah dan mentaati-Nya. Makan, minum, olah raga, belajar, bekerja, menikah, mendidik anak semuanya adalah ibadah dan taqarrub kepada Allah, kita usahakan agar semua itu mendapatkan ridha Allah dan menjauhi apa yang Allah murkai. Setiap akh dan ukht hendaklah menjadikan pernikahannya adalah ibadah yang keduanya mengharap balasan dan ridha Allah swt.
Dari itulah menjadi keharusan kedua belah fihak untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari adab, rambu-rambu, hak dan kewajiban, serta bersemangat untuk menegakkan kewajiban ini, komitmen dengan adab dan bekerja sama untuk kebaikan, ketakwaan dan mentaati Allah dalam pernikahannya.

Sungguh benar Rasulullah saw yang bersabda:

( رحم الله رجلاً قام من الليل فصلى وأيقظ امرأته فإن أبت نضح في وجهها الماء ، رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها فإن أبى نضحت في وجهه الماء ) رواه أبو داود بإسناد صحيح

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan isterinya. Jika isterinya tidak mau bangun ia percikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di malam hari lalu shalat, dan membangunkan suaminya, jika tidak mau bangun ia percikkan air di wajahnya.” ( HR Abu Daud dengan sanad shahih.)

الثقة المتبادلة
SALING TSIQAH/PERCAYA

Tatkala saling percaya antara suami isteri terpenuhi maka kebahagiaan ketenteraman jiwa akan terwujud, tidak ada prasangka, dan praduga, tidak pula mendengarkan berita-berita burung penuh dusta. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dalam naungan taqwa, dan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam sembunyi maupun nyata, dalam ada dan tiada (suami) sehingga suami merasa tenang, dan tsiqah bahwa isterinya hanya unutk dirinya dan mampu menjaga diri meski ditinggalkan dalam waktu yang lama. Isteri juga merasa bahwa suaminya hanya untuk dia saja. Dalam naungan tsiqah inilah keduanya tidak akan memberikan jalan bagi syetan ,jin dan manusia memasukinya.
Di antara hal penting yang harus diperhatikan pasagnan suami isteri adalah masing-masing tsiqah bahwa pernikahan yang dibangun di atas prasangka dan cemburu mustahil dapat bertahan lama, atau menenangkan hati keduanya. Karena seorang mukmin laki-laki dan wanita wajib memilih yang beragama sebelum pernikahan dilangsungkan. Wanita memilih orang yang beriman dan berakhlak.

Sabda Nabi: ” فا ظفر بذات الدين تربت يداك
“Maka pilihlah yang beragama, maka kamu akan beruntung”.

” إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه ” .
“Jika telah datang kepadamu orang yang engkau ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia”

Ketika pondasi kokoh, dan pilarnya kuat, keluarga terhormat, iman yang meramaikan hati, maka ketenangan akan datang, kejujuran akan bersemayam, buruk sangka akan sirna, hidup bahagia, dan keluarga akan memainkan peran utama dan kehidupan.

حض الشريعة على الثقة واجتناب سوء الظن بين الزوجين
SYARIAH MENDORONG TSIQAH, MENJAUHI BURUK SANGKA ANTARA SUAMI ISTERI

عن جابر بن عبد الله قال : قال رسول الله  : إذا أطال أحدكم الغيبة فلا يطرُق ( ) أهله ليلاً . ( وزاد مسلم : يتخونهم أو يلتمس عثراتهم ) . [ رواه البخاري ومسلم ]
Dari Jabir bin Abdillah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Jika salah seorang diantaramu telah lama tiada, maka janganlah mengetuk pintunya malam hari. (Imam Muslim menambahkan: mengkhianati atau mencari cari kesalahannya). HR Al Bukahri dan Muslim.

عن جابر بن عتيك أن النبي  كان يقول : ” من الغيرة ما يحب الله ، ومنها ما يبغض الله ، فأما التي يحبها الله فالغيرة في الريبة ، وأما التي يبغضها الله فالغيرة في غير ريبة . [ رواه أبو داود ]

Dari Jabir bin Atik bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda: Cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada pula yang dibenci Allah. Cemburu yang dicintai adalah keraguan, dan yang dibenci Allah adalah selainnya.( HR Abu Daud)

Sungguh tepat Rasulullah saw. Sebab fenomena tsiqah dan husnuzhzhan adalah membatasi cemburu hanya pada wilayah meragukan saja. Sedangkan cemburu di luar wilayah meragukan ini berarti kehilangan tsiqah dan dominasi su’uzhzhan. Tsiqah dari salah seorang pasangan akan menambah kejujuran, memelihara janji di fihak lain.

نماذج تطبيقية تؤكد وجوب حسن الظن :
CONTOH PRAKTIS KEWAJIBAN HUSNUZHZHAN

أولاً : من جانب الرجل
DARI SISI SUAMI
عن أبي هريرة أن أعرابياً أتى رسول الله  فقال : إن امرأتي ولدت غلاماً أسود ، وإني أنكرته ، فقال له رسول الله  : هل لك من إبل ؟ قال : نعم ، قال : فما ألوانها ؟ قال: حُمْرٌ. قال : هل فيها من أورق( ) ؟ قال : إن فيها لوُرْقا ، قال ، فأنَّي تُرى ذلك جاءها ؟ قال: يا رسول الله عِرْق نَزَعها ( ) . قال : ولعل هذا عرق نزعه . ولم يرخص له في الانتفاء منه. [ رواه البخاري ومسلم ]
Dari Abu Hurairah ra , bahwasannya seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah saw dan berkata:” Sesungguhnya isteriku telah melahirkan bayi laki-laki hitam, akan tidak mengakuinya. Rasulullah bertanya kepadanya: Apakah kamu punya onta? Ia menjawab: Punya. Tanya Nabi: Apa warnanya? Ia jawab: merah. Tanya Nabi: Apakah ada yang berwarna kehitam –hitaman. Jawabnya : Ada. Tanya Nabi: menurutmu dari mana datangnya warna kehitam-hitaman itu. Jawabnya: dari keturunanya. Sabda Nabi: barangkali ini juga keturunan bawaan. Rasulullah tidak memberikan peluang baginya untuk cuci tangan.” HR Al Bukhari dan Muslim.
عن أبي سعيد الخدري قال : كان ( في هذا البيت ) فتى منا حديث عهد بعرس ، فخرجنا مع رسول الله  إلى الخندق . فكان ذلك الفتى يستأذن رسول الله  بأنصاف النهار يرجع إلى أهله ، فاستأذنه يوماً فقال له رسول الله : خُذ عليك سلاحك فإني أخشى عليك قريظة . فأخذ الرجل سلاحه ثم رجع فإذا امرأته بين البابين قائمة ، فأهوى إليها الرمح ليطعنها به ، وأصابته غيرة ، فقالت له : اكفف عليك رمحك وادخل البيت حتى تنظر ما الذي أخرجني ، فدخل فإذا بحية عظيمة منطوية على الفراش فأهوى إليها بالرمح . . . [ رواه مسلم ]

Dari Abu Said Al Khudzriy berkata: Di rumah ini pernah ada seorang anak muda yang baru saja melangsungkan pernikahan. Kemudian kami berangkat ke Khandaq bersama Rasulullah saw. Anak muda itu meminta izin kepada Rasulullah saw pulang ke rumahnya di tengah hari. Rasulullah mengizinkannya pada hari itu dan mengatakan kepadanya: Bawalah senjatamu, karena sesungguhnya aku khawatir atas dirimu dari gangguan Bani Quraizhah. Anak muda itu mengambil senjatanya kemudian pulang ke rumahnya. Ia dapati isterinya berdiri di depan pintu. Anak muda itu cemburu dan hendak melepaskan anak panahnya ke arah isterinya itu. Isterinya berkata: Tahan anak panahmu dan masuklah ke dalam rumah, sehingga engkau tahu apa yang menyebabkan aku keluar. Anak muda itu masuk dan didapatiya sesekor ular melingkar di atas tempat tidurnya, lalu ular itu ia panah dengan anak panahnya… (HR Muslim)

ثانياً :من جانب المرأة
DARI FIHAK WANITA

عن عائشة قالت : لما كانت ليلتي التي كان النبي  فيها عندي ، انقَلَب ( ) فوضع رداءه( ) وخلع نعله فوضعها عند رجليه ، وبسط طرف إزاره ( ) على فراشه فاضطجع ، فلم يلبث إلى ريثما ظن أن قد رقدت ، فأخذ رداءه رُويدا وانتعل رويداً ( ) ، وفتح الباب فخرج ثم أجَافَه ( ) رويدا ، فجعلت دِرْعى ( ) في رأسي ، واختَمَرت ( ) وتقنَّعت إزاري ( ) ، ثم انطلقت على إثره حتى جاء البَقيع ( ) ، فقام فأطال القيام ، ثم رفع يديه ثلاث مرات ، ثم انحرف فانحرفت فأسرع فأسرعت فهرول فهرولت ، فأحضر ( ) فأحضرت فسبقته فدخلت فليس إلا أن اضطجعت فدخل فقال : مالك يا عائش حَشياً ( ) رابية ( ) ؟ ! قلت : لا شيء قال : لتخبريني أو ليُخبرني اللطيف الخبير . قلت : يا رسول الله بأبي أنت وأمي ، فأخبرته قال : فأنت السواد الذي رأيت أمامي ؟ قلت : نعم . فَلَهَدَني ( ) في صدري لهْدَة أوجعتني ثم قال : أظننت أن يحيف ( ) الله عليك ورسوله ! قلت : مهما يكتم الناس يعلمه الله ، نعم . قال: فإن جبريل أتاني حين رأيت فناداني فأخفاه منك ، فأجبته فأخفيته منك ، ولم يكن يدخل عليك وقد وضعت ثيابك ( ). وظننت أن قد رقدت فكرهت أن أوقظك ، وخشيت أن تستوحشي ( ). فقال : إن ربك يأمرك أن تأتي أهل البقيع فتستغفر لهم ، قالت : قلت: كيف أقول لهم يا رسول الله ؟ قال : قولي السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ،ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين ، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون. [رواه مسلم]

Dari Aisyah ra berkata: Pada malamku bersama dengan Nabi Muhammad saw di sisiku, ia ke tampat tidurnya ia letakkan selendangnya, ia lepaskan alas kakinya diletakkan di sisi kedua kakinya, ia hamparkan kainnya di atas tempat tidurnya lalu berbaring, tidak lama setelah mengira aku telah tidur, ia ambil selendangnya dan memakai alas kakinya pelan-pelan, dan membuka pintu lalu keluar, dan menutupnya pelan-pelan. Lalu aku pakai pakaianku di kepalaku, aku pakai penutup kepala, aku pakai kain sarungku, aku segera berangkat menyusul Rasulullah saw sehingga sampai di Baqi, Rasulullah berdiri lama, lalu ia angkat kedua tangannya tiga kali, lalu berbalik dan aku berbalik, aku percepat,Nabi percepat langkahnya, dan aku lebih cepat lagi, Nabi lebih mempercepat lagi dan aku lebih percepat lagi, sehingga aku bisa mendahuluinya, aku masuk rumah, belum sempat aku berbaring Nabi sudah datang dan bertanya: Ada apa engkau Hai Aisy bimbang dan jalan secepat itu. Jawabku: Tidak ada apa-apa. Kata Nabi: Sungguh engkau yang akan memberitahukanku atau Yang Maha Lembut dan Maha Memberitahukan yang akan memberitahuku. Aku berkata: Ya Rasulullah, demi ayah ibuku, lalu aku ceritakan kepadanya. Nabi bertanya: Engkaukah yang seperti bayangan hitam di depanku? Jawabku: Betul, sungguh telah terjadi tekanan di dadaku yang mengagetkanku. Nabi bertanya lagi: Apakah engkau menyangka bahwa Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu (memberikan jatah mabitnya untuk yang lain). Jawabku: Serapih apapun manusia menyembunyikan, pasti Allah mengetahuinya. Betul. Nabi bersabda: Sesungguhnya Jibril menemuiku, lalu menemuiku, aku jauhkan ia darimu, aku menemuinya jauh darimu, sebab ia (Jibril) tidak mau masuk pada saat engkau telah menanggalkan pakaianmu. Aku kira tadi kamu sudah tidur, sehingga aku tidak ingin membangunkanmu, dan aku tidak mau kamu ketakutan dalam kegelapan malam. Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Rabb-mu menyuruhku mendatangi ahli Baqi, memintakan ampunan bagi mereka. Aku bertanya: Bagaimana aku memintakan ampunan bagi mereka? Sabda Nabi: Ucapkan:

السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ،ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين ، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون

Salam atas penghuni rumah, dari orang-orang beriman dan kaum muslimin, semoga Allah merahmati yang telah mendahului kami dan yang akan menyusul, dan sesungguhnya Insyaallah kami akan menyusul. HR Muslim

Dan terakhir, diantara keharusan saling husnuzhzhan antara suami isteri adalah: menjauhkan diri dari mengungkit-ungkit masa lalu, yang berupa kesalahan sekecil apapun. Karena Allah swt telah memerintahkan untuk menutupi, seseorang menutupi kesalahan sendiri, kemudian ia menutupi kesalahan orang lain.
Maka tidak sepatutnya salah seorang suami isteri mendesakkan pertanyaan seperti: “Apakah cinta kita ini cinta pertama? Apakah pernah berhubungan dengan orang lain? Sesungguhnya pertanyaan ini adalah kebodohan. Jika dijawab dengan jujur dan dikatakan bahwa : ini bukan cinta pertama, atau dulu pernah berhubungan dengan yang lain, maka ini jawaban yang menghanguskan. Dan seharusnya pertanyaan bodoh itu dijawab dengan jawaban bijak, bukan dengan jawaban jujur, meski tidak sepenuhnya jujur.

فعن أم كلثوم بنت عقبة بن أبي مِعْيَط وكانت من المهاجرات الأول اللاتي بايعن النبي  ـ أنها سمعت رسول الله  وهو يقول : ” ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس ويقول خيرا ويَنْمِى ( ) خيراً ” . قال ابن شهاب : ولم أسمع يُرَخَّص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث : الحرب ، والإصلاح بين الناس ، وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها( )

Dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mi’yath, termasuk wanita muhajirah awal yang berbai’at dengan Nabi. Bahwasannya ia mendangar Rasulullah bersabda: “Tidaklah termasuk pendusta, orang yang mendamaikan antara manusia, ia berkata baik dan mentransfer berita yang baik. Ibnu Syihab berkata: Aku tidak pernah mendengar Rasulullah memberikan rukhsah (dipensasi) apapun dalam perkataan dusta kecuali dalam tiga hal, yaitu: ketika perang, mendamaikan orang dan percakapan suami isteri.

المشاركة في تحمل المسئولية
BERSAMA MEMIKUL TANGGUNG JAWAB

Di antara penyebab stabilitas, kebahagiaan hidup suami isteri adalah kebersamaan, musyawarah, dan bekerja sama, dengan menempatkan suami ssebagai pemimpin yang memiliki kata akhir dan kepemimpinan. Jika ada yang kurang dari norma di atas maka kekokohan dan kebahagiaan keluarga tidak akan terwujud.

           

…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya . QS. Al Baqarah: 228

               

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. QS. An Nisa: 34

Pengelolaan urusan rumah tangga akan sempurna apabila dilakukan dengan proporsional dalam atmosfir kebersamaan tanggung jawab, musyawarah, dan batas-batas ajaran Islam. Tidak berlebihan (boros) dan pelit (bakhil). Dalam atmosfir qana’ah, ridha, dan yakin bahwa dunia bukanlah rumah kenikmatan. Rumah Rasulullah saw pernah melintasi beberapa purnama tanpa ada api menyala di dapurnya.
Agar suami isteri merasakan amanah dan tanggung jawab. Semuanya adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Hendaklah masing-masing bertaqwa kepada Allah dalam mengelola amanah Allah kepadanya. Firman Allah:

        ••  

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; QS. At Tahrim: 6

Rasulullah saw bersabda:

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya, dan aku yang terbaik bagi keluargaku”.
Kami ingin ada standar yang benar dalam kepemimpinan. Kami melihat perhatian yang lebih ketika ada salah seorang anggota keluarga yang sakit secar fisik, akan tetapi kami belum melihat perhatian seperti itu ketika ada salah satu anggota keluarga kurang menunaikan hak-hak Allah, atau meninggalkan ajaran Islam, padahal terapi atas masalah terakhir ini harus lebih serius.
Masing-masing pasangan memiliki kebersamaan dalam suka-duka, urusan umum dan khusus. Teladan terbaik setiap keluarga muslim adalah Rasulullah saw bersama dengan keluarganya.

رسول الله  يشرك أزواجه فيما يهمه
RASULULLAH SAW MELIBATKAN ISTERINYA DALAM SUKA DUKANYA

عن عائشة أم المؤمنين قالت كان أول ما بدئ به رسول الله  من الوحي الرؤيا الصالحة في النوم . . . حتى جاءه الحق وهو في غار حراء ، فوجده الملك فقال:  . . . اقرأ باسم ربك الذي خلق . خلق الإنسان من علق( ) اقرأ وربك الأكرم . فرجع بها رسول الله  يرجف فؤاده ، فدخل على خديجة بنت خويلد ـ رضي الله عنها ـ فقال : زملوني زملوني ( ). فزملوه حتى ذهب عنه الروع ( ) ، فقال لخديجة وأخبرها الخبر : لقد خشيت على نفسي… [ رواه البخاري ومسلم ]

Dari Aisyah, Ummul Mukminin berkata: Wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw adalah mimpi yang baik dalam tidurnya… sehingga datanglah kebenaran itu ketika ia berada di gua Hira. Malaikat menemuinya dan mengatakan: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,” kemudian Rasulullah pulang dengan membawa ayat itu, berguncang hatinya. Ia masuk menemui Khadijah bint Khuwailid ra, dan berkata: selimutilah aku, selimutilah aku. Ia menyelimutinya sehingga hilang demamnya. Ia sampaikan dan ceritakan peristiwanya kepada Khadijah: “Aku khawatir akan diriku sendiri….. (HR Al Bukhari dan Muslim)

عن الميسور بن مخرمة ومروان … قالا . . . خرج رسول الله  زمن الحديبية. . . فلما فرغ من قضية الكتاب ( أي كتاب الصلح مع قريش ) ، قال رسول الله  لأصحابه : قوموا فانحروا ثم احلقوا . قال : فوالله ما قام منهم رجل حتى قال ذلك ثلاث مرات ، فلما لم يقم منهم أحد دخل على أم سلمة . فذكر لها ما لقى من الناس فقالت أم سلمة : يا نبي الله أتحب ( )ذلك ؟ أخرج ثم لا تكلم أحداً منهم كلمة ، حتى تنحر بُدْنك ( ) وتدعو حالقك فيحلقك . فخرج فلم يكلم أحداً منهم حتى فعل ذلك ، نحر بُدْنه ودعا حالقه فحلقه ، فلما رأوا ذلك قاموا فنحروا وجعل بعضهم يحلق بعضاً . .. [ رواه البخاري ]

Dari Al Maisur bin Makhramah dan Marwan …keduanya berkata: “Rasulullah berangkat di waktu Hudaibiyah. Setelah selesai membuat perjanjian dengan Quraisy, Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya: “Bangunlah, lalu sembelihlah hewan Qurban kalian lalu mencukur rambut. (perawi) berkata: Demi Allah tidak ada seorangpun yang bangun sampai Rasulullah mengulanginya tiga kali. Ketika tidak ada seorangpun yang bangun, ia masuk ke (tenda) Ummu Salamah. Rasulullah menceritakan sikap para sahabat tadi kepadanya. Ummu Salamah berkata: Wahai Nabiyallah, kamu ingin hal ini? Keluarlah, jangan bicaara sepatah katapun denga mereka, sehingga engkau sembelih hewan qurbanmu, dan engkau panggil tukang cukurmu untuk mencukurmu. Lalu Rasulullah keluar tanpa berbicara dengan seorangpun dari mereka, ia potong hewan qurbannya, ia panggil tukang cukurnya dan mencukurnya. Maka ketika para sahabat melihat hal ini, merka bangun memotong hewan qurbannya dan saling memotong rambut satu sama lainnnya… (HR Al Bukhari)

عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ قالت : قال النبي  : . . .. لقد هممت أن أرسل إلى أبي بكر وابنه فأعهد ( ) ، أن يقول القائلون أو يتمنى المتمنون ، ثم قلت: يأبى الله ويدفع المؤمنون . ( وفي رواية مسلم : ادعى لي أبا بكر ، أباك وأخاك ، حتى أكتب كتاباً ، فإني أخاف أن يتمنى متَمَنِّ ، ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر ) .[ رواه البخاري ومسلم ]

Dari Aisyah ra berkata: Nabi bersabda: Sesungguhnya aku berkeinginan untuk memanggil Abu Bakar dan anaknya, lalu aku berikan mandat kepadanya. Agar tidak ada lagi yang mengatakan macam-macam, atau berhayal macam-macam.lalu aku katakan: Allah menolak, dan kaum mukminin mendorong. (dalam riwayat lain imam Muslim: Panggil Abu Bakar ke sini, ayahmu dan saudaramu, sehingga aku menuliskan tulisan. Sesungguhnya aku takut ada orang-orang yang berharap. Ada orang yang berkata: “Aku lebih layak, Allah dan kaum mukminin menolak, kecuali Abu Bakar (HR Al Bukhari dan Muslim).
Al Hafizh Ibnu hajar berkata: Dalam hadits di atas terdapat: Seorang suami yang menyampaikan sesuatu kepada isterinya yang tidak disampaikan/dibuka kepada orang lain selainnya.

عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ زوج النبي  أن رسول الله  قال لها : ألم ترى أن قومك حين بنوا الكعبة اقتصروا على قواعد إبراهيم ؟ فقلت : يا رسول الله ، ألا تردُّها على قواعد إبراهيم ؟ قال : لولا حِدثان قومك بالكفر لفعلت . [رواه البخاري ومسلم ].
Dari Aisyah ra , isteri Rasulullah saw, bahwa Rasulullah saw berkata kepadanya: “Tahukah kamu bahwa kaummu ketika membangun Ka’bah, mereka tidak menyempurnakan pada pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim? Aku katakan: Ya Rasulallah, mengapa tidak engkau kembalikan seperti pada pondasi Nabi Ibrahim? Jawab Nabi: Jika tidak karena kedekatan kaummu dengan kekufuran sungguh akan aku lakukan”. (HR Al Bukhari dan Muslim).

وفي رواية لمسلم : ( ولجعلت لها بابين موضوعين في الأرض شرقياً وغربياً ، وهل تدرين لم كان قومك رفعوا بابها ؟ قالت : قلت : لا . قال : تعزُّزا أن لا يدخلها إلا من أرادوا ، فكان الرجل إذا هو أ راد أن يدخلها يدعونه يرتقي ، حتى إذا كاد أن يدخل دفعوه فسقط ) [206].

Dalam riwayat imam Muslim: Sungguh akan aku buat dua pintu, menempel ke tanah, timur dan barat. Tahukan kamu kenapa kaummu meninggikannya dari tanah? Aku jawab: Tidak tahu. Sabda Nabi: Untuk memuliakannya, agar tidak sembarang orang memasukinya, kecuali orang yang mereka inginkan. Jika ada orang yang ingin masuk sendiri, dibiarkan naik, sehingga ketika sudah hampir masuk mereka dorong hingga jatuh.

وفي رواية ثانية : ( فإن بَدَا لقومك من بعدي أن يبنوه ، فهَلُمِّى لأُرِيَك ما تركوا منه ، فأراها قريباً من سبعة أذرع . ..)

Dalam riwayat kedua: Jika setelah aku nanti ada kaummu yang hendak membangunnya, maka marilah aku tunjukkan kepadamu, bagian mana yang dahulu mereka tinggalkan.lalu Nabi menunjukkannya kira-kira tujuh dzira’….)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: dalam hadits pembangunan Ka’bah terdapat beberapa pesan… antara lain: perbincangan suami dengan isterinya membicarkan urusan umum.

عن عائشة قالت : أرِق النبي  ذات ليلة . ( وفي رواية عند أحمد : وعائشة إلى جانبه ، فقالت : ما شأنك يا رسول الله ؟ ) فقال : ” ليت رجلاً صالحاً من أصحابي يحرسني الليلة ” . إذ سمعنا صوت السلاح ، قال : من هذا ؟ قيل : سعد يا رسول الله ، جئت أحرسك . فنام النبي  حتى سمعنا غطيطه ( ) [رواه البخاري]

Dari Aisyah ra berkata: Suatu malam Nabi Muhammad berjaga (tidak dapat tidur) (dalam riwayat imam Ahmad: Aisyah ada di sisinya, ia bertanya: Ada apa wahai Rasulullah? Ia menjawab: Kalau ada orang shalih dari sahabatku yang menjagaku malam ini”. Tiba-tiba aku mendengar suara senjata (pedang), Nabi bertanya: Siapa ini? Dijawab: Sa’d Ya Rasulallah, aku datang untuk menjagamu. Lalu Nabi saw tidur sehingga aku mendengar suara ngoroknya. HR. Al Bukhari.

أزواج النبي  يشركنه في أمورهن
ISTERI-ISTERI MELIBATKAN NABI MUHAMMAD SAW DALAM URUSAN MEREKA

عن عائشة أنها قالت : جاءتني مسكينة تحمل ابنتين لها ، فأطعمتها ثلاث تمرات فأعطت كل واحدة منهما تمرة ، ورفعت
إلى فيها تمرة لتأكلها فاستطعمتها ابنتاها ، فشقت التمرة التي تريد أن تأكلها بينهما ، فأعجبني شأنها ، فذكرت الذي صنعت لرسول الله  فقال : إن الله قد أوجب لها بها الجنة .[ رواه البخاري ومسلم ]

Dari Aisyah ra berkata: Pernah datang kepadaku seorang wanita miskin bersama dengan dua orang putrinya; Aku berikan kepadanya tiga butir kurma, lalu ia bagikan kepada anaknya masing-maing satu butir, ia angkat sebutir kurma ke arah mulutnya untuk dimakan, tatapi anaknya memintanya, lalu ia belah kurma yang dimakannya itu untuk keduanya. Sikap wanita itu sangat menakjubkanku. Lalu aku ceritakan hal ini kepada Rasulullah saw, lalu bersabda: Sesunggunya Allah telah menetapkannnya karena sikapnya itu, dengan surga. HR Al Bukhari dan Muslim

عن ميمونة بنت الحارث ـ رضي الله عنها ـ أنها اعتقت وليدة ولم تستأذن النبي  ، فلما كان يومها الذي يدور عليها فيه قالت : أشعرت يا رسول الله إني أعتقت وليدتي ؟ قال : أو فعلت ؟ قالت : نعم . قال : أما إنك لو أعطيتها أخوالك ، كان أعظم لأجرك .[ رواه البخاري ومسلم ]

Dari Maimunah bint Al Harits ra bahwasannya ia telah memerdekakan budak perempuan sebelum meminta izin kepada Nabi SAW. Maka ketika hari gilirannya, ia bertanya: Apakah engkau tahu Ya Rasulallah, bahwa aku telah memerdekakan budak perempuanku? Nabi bertanya: Apakah sudah kamu lakukan? Jawabku: Ya, sudah. Sabda Nabi: Adapun jika engkau berikannya kepada paman-bibimu (dari ibu), maka lebih besar lagi pahalanya. HR Al Bukhari dan Muslim.

Kita menyaksikan keterlibatan Khadijah ra dalam meneguhkan Rasulullah saw, dan menenangkannya, berpartisipasi dalam menemukan kejelasan masalah yang dialami Rasulullah saw. Kepergiannya ke rumah Waraqah bin Naufal, meski bertentangan dengan Quraisy setelah itu, bahkan bertentangan dengan agama kaumnya. Kemudian kita lihat bagaimana Khadijah mengcovernya dan membiayai dakwahnya yang baru lahir. Khadijah merupakan pilar kuat bagi Rasulullah dan para sahabat sampai wafatnya. Kaum muslimin menyebut tahun wafatnya sebagai ‘Amul huzni (tahun dukacita ). Dalam peristiwa Hudaibiyah, dalam situasi kritis, hampir saja manusia binasa karena mendurhakai Rasulullah saw, Rasulullah saw masuk ke tenda Ummu Salamah, meminta pendapat dan dukungannya, lalu Ummu Salamah berikan isyarat yang mampu mengeluarkan dari situasi kritis dan menyingkirkan bahaya. Ummu Salamah memberikan langkah bijak yang diikuti Rasulullah saw untuk membawa para sahabat kepada kehendak Allah dan Rasul-Nya. Itulah pendapat yang paling nikmat, musyawarah dan langkah yang paling memuaskan. Demikianlah peran wanita shalihah yang memahami da’ahnya, berfikir untuk kemaslahatan agama dan dunianya, pendukung pendapat suaminya dalam kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa musyawarah dengan isteri terkadang lebih sukses daripada bermusyawarah dengan laki-laki. Hal ini juga menegaskan bahwa tidak boleh ada sikap meremehkan pendapat siapapun dalam umat ini. Dan bahwa wanita shalihah jika berada di belakang laki-laki shalih menjadi pendukung dan keberkahan bagi suami dan umat Islam.
Kita dapatkan Aisyah ra dalam beberapa situasi menghadirkan hal-hal besar. Menjadi penyimpan rahasia Rasulullah saw, termasuk dalam urusan khalifah (penggantinya), pembangunan Ka’bah di atas pondasi Nabi Ibrahim, dalam masalah jaga, dan lain sebagainya, seperti yang ada dalam hadits shahih.

– الإسهام في بناء المجتمع المسلم

KONTRIBUSI DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT MUSLIM

Sebagaimana kita menginginkan dari seorang muslim untuk menjadi gambaran pribadi nyata yang menggambarkan Islam, baik dari segi aqidah, ibadah, akhlak dan perilaku, kita juga menginginkan agar rumah tangga muslim menjadi praktek yang baik dan detil dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga.
Kita ingin melihat seorang suami muslim yang melaksanakan kewajibannya terhadap rumah tangganya sebagaimana telah ditentukan oleh Islam, dan seorang ayah muslim yang mengajarkan anak-anaknya dengan adab-adab Islam, memahamkan mereka urusan agama mereka, dan menyertai mereka di setiap tingkatan masa dari hidup mereka.
Kita juga ingin melihat seorang istri muslim yang menjadikan rumahnya taman bagi suaminya dimana ia beristirahat di dalamnya setelah merasakan beratnya berjuang, dalam rangka agar istri membantu suaminya dalam ketaatan pada Allah. Sungguh indah apa yang dikatakan seorang istri pada suaminya ketika sang suami hendak keluar dari rumahnya pada pagi hari : “Bertaqwalah pada Allah dalam urusan kami, dan janganlah engkau memberi kami makan kecuali yang halal lagi thayyib…”
Kita ingin melihat dalam rumah tangga muslim, seorang ibu muslimah yang menjaga anak-anaknya dan menumbuhkan mereka dalam ajaran Islam, dikarenakan dialah yang paling banyak menyertai mereka. Dan inilah risalah yang terpenting dari tugas perempuan, dimana musuh-musuh kemanusiaan berusaha untuk memalingkan seorang ibu dari risalahnya dengan berbagai macam cara dalam rangka menghancurkan eksistensi masyarakat.
Kita juga ingin melihat dalam rumah tangga muslim, anak laki-laki dan perempuan muslim yang beribadah pada Rabb mereka, berbuat baik pada ayah dan ibu mereka, berinteraksi dengan teman-teman mereka dengan adab-adab Islam, dan tidak muncul dari mereka perkataan atau perbuatan yang bertentangan dengan Islam.
Kita menginginkan sebuah rumah tangga muslim yang selalu memelihara silaturahim, memperhatikan para kerabat, dan memenuhi hak-hak mereka. Kita juga ingin melihat dari rumah tangga muslim contoh yang luhur yang telah diajarkan Islam dalam memperlakukan pembantu rumah tangga, maka pembantu juga makan apa yang mereka makan, memakai pakaian sama seperti yang mereka pakai, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang berat, dan jika memberi beban pekerjaan mereka ikut membantu.
Kita ingin melihat dari sebuah tangga muslim gambaran unik yang telah digariskan Islam dalam konteks interaksi yang baik dengan tetangga dan pemenuhan hak-hak mereka sebagaimana telah diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kita juga menginginkan sebuah rumah tangga muslim yang menampilkan gambaran teladan yang baik dalam setiap aspek kehidupan. Yang nampak dari pakaiannya yang islami, makanan dan minuman yang halal, akhlak yang baik, perilaku islami, cara hidup yang islami baik dalam kebiasaan, tradisi, dalam keadaan senang maupun susah. Dan dalam setiap hal tersebut menjauhi tabiat dan kebiasaan jahiliah serta tradisi-tradisi yang datang dari luar.
Maka tak dapat diterima jika seorang Da’i yang menyeru pada Allah yang menempuh jalan dakwah, lalai dan menyia-nyiakan kewajibannya dalam penyadaran setiap anggota keluarganya untuk menerapkan ajaran islam dalam setiap aspek kehidupan. Sesungguhnya orang yang tidak mampu menyadarkan keluarganya maka ia akan lebih tidak mampu untuk menyadarkan orang lain

9- حمل أمانة الدعوة والتوجيه :
MEMIKUL AMANAH DAKWAH DAN PENYADARAN UMMAT

Setiap keluarga muslim-sebagaimana kewajiban setiap individu muslim- wajib untuk melaksanakan kewajiban dakwah ilallah terhadap keluarga-keluarga yang berada di sekitarnya untuk dengan sikap sabar dan telaten. Dan dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, seorang istri sekaligus ukhti muslimah dapat menaklukkan hati para tetangganya dengan dakwah, sekaligus merubah perkumpulan-perkumpulan yang biasanya didominasi oleh ghibah dan obrolan tidak jelas menjadi perkumpulan yang diisi oleh pembelajaran dan pendalaman ajaran agama.
Maka medan dakwah sesungguhnya sangat membutuhkan seorang ukhti daiyah untuk melaksanakan perannya di tengah-tengah kaum sejenisnya sesama perempuan. Sesungguhnya perempuan oleh musuh-musuh Islam telah dijadikan penyebab kerusakan dan kemerosotan, oleh karenanya kita ingin menjadikan perempuan sebagai alat perbaikan dan pembinaan dalam rangka menyangga nilai-nilai yang mulia dan memerangi hal-hal yang hina.
Demikianlah kita ingin keluarga muslim menjadi mercusuar yang memberi petunjuk pada orang-orang yang tersesat, menyirnakan kegelapan dari sekitar mereka, dan memberi cahaya bagi mereka menuju jalan kebaikan. Dan bersamaan dengan semakin banyaknya keluarga muslim semacam ini, akan semakin tersambung lingkaran-lingkaran cahaya dan saling merapat antarsesamanya, hingga mendominasi seluruh masyarakat. Dan memungkinkan bagi pribadi muslim untuk mengukuhkan dirinya untuk memimpin masyarakat tersebut, hingga kemuliaan akan berkembang dan kehinaan akan terkikis, dan terbentuklah basis masyarakat yang beriman, bersih dan stabil bagi eksistensi Islam dan pemerintahan Islami.
Oleh karenanya, hendaknya setiap al akh dan al ukht bersemangat dan bersegera untuk mendirikan rumah tangga Islami yang menjadi teladan. Inilah langkah penting dan mendasar di atas jalan dakwah, maka mintalah pertolongan pada Allah, mudahkanlah dan jangan persulit. Dan petunjuk hanyalah milik Allah.

أساس بناء الأسرة
ASAS MEMBANGUN KELUARGA

Kaum materialis dan sekular berusaha untuk meruntuhkan bangunan masyarakat khususnya masyarakat islam, melalui usaha mereka untuk menetapkan peraturan baru mengenai pembentukan keluarga, sebagaimana tercantum dalam dokumen Konferensi Kependudukan di Kairo. Konferensi itu bertujuan untuk membuka kemungkinan pembentukan keluarga antara dua laki-laki, dua perempuan, dan antara laki-laki dan perempuan, tanpa sedikitpun memperhatikan tradisi-tradisi akhlak dan nilai-nilai agama dalam membangun keluarga. Hal ini menjadi tantangan bagi para aktivis harakah yang peduli untuk waspada dan memperingatkan tentang bahaya hal tersebut. Dan sudah terbentuk lembaga besar untuk mencegah usaha keji tersebut yang telah direncanakan oleh antek-antek Yahudi dalam Protokolat mereka.

النكاح أساس بناء الأسرة :
والنكاح معناه في اللغة : الضم والتداخل .
ومعناه في الشرع : عقد بين الزوجين يحل به الوطء.
وهو حقيقة في العقد مجاز في الوطء .وعلى الصحيح لقوله تعالى :
} فانكحوهن بإذن أهلهن { والوطء لا يجوز بالإذن .
وقال أبو حنيفة : هو حقيقة في الوطء مجاز في العقد لقوله r : ” تناكحوا تكاثروا ” . وقيل غير ذلك .
ويدل على القول الأول ما قيل من أنه لم يرد في القرآن إلا للعقد ، كما صرح به الزمخشري في كشافه في أوائل سورة النور ،ولكنه منتقض بقوله تعالى : } حتى تنكح زوجاً غيره { فإن المراد به الوطء بالإجماع . أهـ ” من نيل الأوطار حـ6 ” والأصل في مشروعيته: الكتاب ، والسنة ، والإجماع .
” أما الكتاب : فقول الله تعالى: } فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورُباع {

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: