RSS

Taujih

Transkrip Orasi Anis Matta di Konsolidasi Kader PKS Jateng
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ikhwan dan akhawat sekalian, kalimat pertama yang ingin saya sampaikan kepada antum semua adalah bahwa saya mencintai antum semua. Inni uhibbukum fillah. Karena cintalah kita berkumpul di sini, dan insya Allah atas nama cinta juga kita akan memenangkan Pilgub Jawa Tengah.

Saya juga ingin menyampaikan, salam cinta dari Ketua Majelis Syuro, Ustadz Hilmi Aminuddin kepada antum semuanya dan salam cinta dari mantan Presiden kita Ustadz Luthdi Hasan Ishaaq. Kita doakan mudah-mudahan Allah swt. memudahkan urusannya.

Ikhwah sekalian,

Apa yang disampaikan tadi oleh KH Budi (Budi Haryono .pen) mengingatkan saya kepada sebuah puisi. Puisi yang ditulis oleh murid dari nama yang disebutkan tadi yaitu Rumy. Rumy punya murid cinta yang hidup berabad-abad sesudah Rumy, namanya Muhammad Iqbal. Dan Muhammad Iqbal ini menulis tentang gurunya. Perhatikan baik-baik teksnya.

“Dan nafas cintamu, meniup kuncupku jadi bunga.”

Jadi beliau bercerita bahwa, cinta itu, kata Iqbal, membuat kuncup bunga itu merekah. Dan dimana-mana ada cinta, hidup itu pasti akan berkah.

Dalam waktu yang sangat lama saya selalu memikirkan satu hal, apa yang sebenarnya merupakan core value, nilai utama dari masyarakat Indonesia. Kita pasti punya nilai-nilai yang banyak. Tetapi nilai yang tertinggi bagi masyarakat Indonesia itu apa? Yang membedakan kita dengan masyarakat-masyarakat lain di dunia. Dan saya menemukan satu kata, yaitu harmoni.

Kita ini adalah bangsa yang ditakdirkan oleh Allah swt, hidup dari etnis yang sangat beragam. Mendiami sebuah wilayah yang terpisah-pisah dan terpisahnya jauh. Dimana dua pertiga dari wilayah kita itu adalah laut. Karena kita terpisah, satu sama lain sangat jauh. Dan terlalu beragam secara etnis, itulah yang membuat kita saling merindukan.

Perpisahan membuat kita rindu. Tetapi perbedaan yang ekstrim seperti ini membuat kita merindukan persatuan. Jadi jauh sebelum ada sebuah negara yang bernama Indonesia, yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, yang pertama kali hadir adalah pernyataan tekad untuk bersatu. Satu dalam bahasa, satu dalam bangsa itulah Indonesia, yang dideklarasikan pada hari Sumpah Pemuda.

Jadi perbedaan yang ekstrim membuat kita juga merindukan persatuan secara ekstrim. Di sini banyak etnis, banyak agama, dan banyak ideologi. Tetapi perbedaan itu semuanya terangkum menjadi satu, dan kita hidup secara harmoni dalam satu wilayah yang sama. Disebabkan karena kita semuanya mempunyai nilai-nilai utama dan yang paling tinggi dari nilai itu adalah harmoni. Kehendak untuk bersatu. Kehendak untuk hidup secara damai. Kehendak untuk menepis perbedaan, dan hidup dalam satu lingkar mufakat yang besar, dimana kita, insya Allah, tidak bisa dipecah-belah oleh bangsa-bangsa yang lain.

Itulah core value, nilai utama dari masyarakat Indonesia.

Dan beberapa tahun yang lalu, di depan teman-teman kami waktu itu. Saya menyampaikan sebuah ceramah dan sebuah makalah. Saya beri judul: Izinkanlah Kami Menata Ulang Taman Indonesia.

Sebab saya membayangkan bahwa Indonesia ini adalah sebuah taman, setiap orang di dalam taman ini adalah sebuah bunga. Dan setiap bunga itu punya warna sendiri.

Taman ini menjadi indah karena terlalu banyak bunga yang punya banyak warna di dalam taman itu. Coba bayangkan kalau ada satu taman yang bunganya cuma satu. Apa indah taman itu? Tapi coba bayangkan kalau bunga yang punya banyak warna itu, kita paksa melebur menjadi satu warna. Bunganya banyak, tapi warnanya dilebur jadi satu. Bagus tidak?

Bangsa ini menjadi indah, karena kita berbeda seperti bunga dalam taman. Jadi kalau saya ingin mendefinisikan, apa itu masyarakat Indonesia, saya bisa mengatakan bahwa masyarakat Indonesia itu adalah masyarakat bunga. The flower society.

Dan bunga ini ikhwah sekalian, kalau kita ingin memimpinnya dengan baik, kembalilah kepada puisi Iqbal. Tiupkan nafas cinta ke dalam bunga itu, maka dia akan mekar. Dan jika kita meniupkan nafas cinta ke dalam bunga itu, insya Allah tidak ada kekuatan lain yang akan menolak tiupan nafas cinta itu. Saya kira, dengan cara beginilah insya Allah kita akan memenangkan dan memimpin Indonesia di masa yang akan datang.

Tiupkan nafas cinta ke dalam republik ini, biar ia tumbuh menjadi bunga yang memenuhi taman Indonesia dan insya Allah bunga ini akan tumbuh mekar dalam taman itu.

Dan dengan cara seperti itu, ikhwah sekalian, kita merubah politik dari sebuah permainan yang berbahaya (dangerous game), yang isinya adalah character assassination, politisasi hukum, black campaign, kita rubah semuanya itu menjadi permainan orang dewasa yang lucu. Seru. Seperti dulu kita di sekolah dasar atau di SMP, mau memilih ketua kelas. Ada kampanye, ada pertarungan. Seru, tapi tidak berbahaya. Ada ketegangan, tapi orang tidak takut.

Politik sekarang menakutkan. Mengerikan. Karena itu anak-anak muda tidak mau ikut politik. Tidak suka politik. Dan itulah yang menjelaskan mengapa begitu banyak undecided voter. Mengapa begitu banyak orang yang apolitis. Bukan karena mereka tidak mau, tapi orang-orang sekarang memberikan tontonan politik seperti orang masuk ke dalam bioskop dan menonton film horor. Kenapa kita harus mengeluarkan uang untuk menakut-nakuti diri sendiri. Kita keluarkan uang, kita nonton, kita pulang membawa mimpi buruk. Sekarang kita ubah politik itu menjadi permainan yang seru. Ada sparkling-nya, ada sodanya, tapi tidak memabukkan. Kita merubahnya demikian.

Dan saya kira ikhwah sekalian, tempat pertama dimana kita ingin menguji teori ini adalah Jawa Tengah.

Secara budaya, diantara semua wilayah-wilayah yang ada di Indonesia ini, saya kira dan mudah-mudahan saya tidak salah, Jawa Tengah adalah masyarakat dengan budaya yang paling bisa memadukan segala hal yang tidak bisa dipadukan.

Dan ikhwah sekalian, apa yang saya bicarakan ini sebenarnya tadinya rencananya akan saya sampaikan setelah bulan Agustus. Sebagai bagian dari pidato 17 Agustus nanti. Tapi (apa yang disampaikan) Kyai Budi tadi ini, mengganggu pikiran saya. Dan saya harus menjawabnya.

Inilah teori kita tentang Indonesia. Dan saya kira dulu, kira-kira 16 tahun, menurut cerita Soekarno sendiri. Sebelum kemerdekaan. Ia mencoba menemukan, semua titik kesepakatan bersama yang bisa menjadi alat pemersatu bagi bangsa Indonesia. Soekarno menyadari bahwa kita ini tumbuh dari ideologi yang sangat berbeda. Dan ada yang menarik dalam sejarah ini. Para pemikir, ideolog-ideolog, terutama tiga ideologi yaitu Islam, sosialisme dan nasionalisme, berguru pada satu orang yang sama. Namanya Cokroaminoto. Dari sini ada murid yang bernama Soekarno, yang nanti mengembangkan ide nasionalisme tetapi dia juga mewarisi ide dasar sosialisme itu. Dari sini juga lahir nanti pemikir Islam yang namanya KH Agus Salim. Tapi dari sini juga nanti tokoh-tokoh merah Indonesia. Ada Muso dan ada Alimin. Lahir dari guru yang sama.

Jadi begitu ingin merdeka, Soekarno berfikir bahwa kita membutuhkan alat pemersatu, dan biarlah orang-orang ini dengan ideologinya sendiri-sendiri. Tetapi kita membutuhkan sebuah kesepakatan bersama. Kesepakatan itulah yang kemudian dirumuskan dalam bentuk Pancasila.

Di situ (Pancasila) ada Islam, di situ ada pluralisme, disitu ada nasionalisme disitu ada demokrasi berbasis Indonesia, di situ ada sosialisme. Tapi yang menarik adalah kata Soekarno, jika Pancasila ini kita peras, peras dan peras menjadi hanya satu kata, maka satu kata itu adalah artinya gotong-royong.

Coba kita perhatikan. Itu adalah ide tentang harmoni. Dan jika kita usut sejarah pemikiran politik Indonesia ini kita akan sampai pada satu ide. Tapi bila kita balik lagi ke sejarah penyebaran Islam di nusantara ini, ide ini pulalah yang diyakini pertama kali oleh para dai yang membawa Islam ke Indonesia. Itulah sebabnya, inilah kawasan dimana Islam masuk tanpa pertumpahan darah. Mereka menyenangi harmoni.

Dan karena harmoni itu, maka para dai ini mempunyai kebebasan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam itu. Saya tadi mengobrol, sambil mendengarkan Kyai Budi dan mengatakan, kita ini bisa saja bikin pengajian terlalu tegang, terlalu serius. Nah ini benar pengajian (yang dibawakan Kyai Budi H) ini tadi. Santai. Rileks. Tapi kontennya full, sama persis. Bagus juga mungkin kalau ada acara pengajian PKS diiringi dengan nasyid dan diiringi dengan musik-musik lokal, gamelan dan seterusnya.

Jadi inilah yang menjelaskan mengapa masyarakat kita menerima Islam secara apa adanya. Tanpa ada pertempuran.

Ikhwah sekalian, jika saya ingin masuk dari teori ini kepada persoalan yang antum hadapi, dalam Pilgub yang akan datang, saya bisa mengatakan bahwa antum hanya punya satu cara untuk memenangkan (Pilgub) ini. Yaitu melawan mitos. Mitos politik. Mitos politik yang mengatakan bahwa partai Islam tidak bisa memimpin republik. Mitos bahwa Jawa Tengah ini adalah basis fulan, bukan basis PKS. Untuk melawan mitos itu hanya ada satu cara: Bongkar!

Saya kira ini jalannya sudah jelas. Apa tadi salam 3 besarnya? Obah Kabeh Mudhak Akeh. Saya harus kursus ini (tertawa).

Iya kan? Itu mitos. Coba antum bayangkan, dulu 1000 tahun sebelum Islam datang ke nusantara ini, ada agama Hindu dan Budha di sini. Bisakah Anda bayangkan bahwa sebuah agama yang sudah tertanam selama lebih dari 1000 tahun, kemudian bisa ditembus oleh Islam. Dan saya kira orang-orang yang mengklaim bahwa Jawa Tengah adalah basis fulan, fulan dan seterusnya, tidak sampai 1000 tahun, kan? Sampai 1000 tahun? Lho era reformasi kan baru 15-an tahun. Iya kan? Jadi rileks sajalah. Bongkar ini semuanya, lawan mitos itu, sambil kita bernyanyi.

Dan ikhwah sekalian, kenapa saya ingin menggarisbawahi kata melawan mitos. Karena kemenangan itu pertama kali, jauh sebelum diumumkan oleh KPUD, kita umumkan dulu dalam fikiran kita. Kita umumkan dulu dalam perasaan kita semuanya. Mindset-nya dulu kita rubah.

Sebab lawan itu, ikhwah sekalian, menjadi besar atau kecil tergantung cara kita mengkonsepsinya. Kalau kita menganggap mereka besar, dia besar. Tapi kalau kita menganggap mereka kecil, dia akan menjadi kecil. Jadi kalau kita anggap bahwa klaim Jawa Tengah ini basis fulan, fulan dan seterusnya itu adalah sebuah mitos, hilangkan pertama kali mitos itu dalam kepala kita. Dan begitu mitos itu hilang dari kepala kita, kita bersihkan hati kita dari mitos itu. Begitu itu hilang, insya Allah jalan kemenangan antum jadi lempeng. Clear. Kita buang itu mitos (dari kepala kita). Kita buang dari hati kita mitos itu. Tinggal kita tadi, siapa bilang? Ini basis fulan, mengapa PKS tidak punya hak untuk mengklaim bahwa ini juga bisa menjadi basis PKS? Datang kepadanya dan sampaikan salam cinta dari PKS. Dan seperti yang saya katakan, jika antum semua datang dan meniupkan nafas cinta kepada orang-orang itu, bunga-bunga yang ada di Jawa Tengah akan mekar, insya Allah.

Dan dengan demikian, ikhwah sekalian. Antum akan melakukan pekerjaan yang berat. Ini kata salah seorang pemikir China lama, namanya Lau Tze. Tahu, kan? Dia mengatakan, kalau kita bekerja dengan cara begini maka kita akan bekerja sambil menyanyi. Artinya apa, kita melakukan tugas-tugas berat dengan cara dan hati yang riang.

Dan jika kita tarik ini ikhwah sekalian, ke dalam akar nilai-nilai kita sebagai muslim, kita juga akan ketemu dengan hal yang sama. Tahukah antum semuanya apa karunia Allah swt kepada kaum muslimin sebelum perang Badr berlangsung? Tahu karunianya? Dikasih tidur.

Jadi malam hari keesokan pagi ketika perang Badr akan berlangsung, malam harinya hujan rintik-rintik turun, hawanya dingin, kaum muslimin dikasih tidur. Tidurnya nyenyak. Mereka tidak memikirkan bahaya yang akan mereka hadapi besok. Seakan-akan yang mereka hadapi besok ini adalah sebuah funny game. Permainan yang lucu. Bukan sebuah dangerous game. Dikasih tidur. Begitu mereka bangun pagi, mereka segar.

Orang-orang Quraisy tadi malam pesta pora. Makanya kurang tidur. Waktu mereka bangun pagi-pagi, mereka tidak segar. Nah begitu berhadapan, baru mereka sadar.

Ikhwah sekalian, karena itu kita juga percaya bahwa dengan cara menidurkan mereka itu Allah swt menanamkan persepsi kepada kaum muslimin bahwa musuh yang akan kamu lawan ini tidaklah sebesar yang kamu duga.

Jadi ikhwah sekalian, perbaiki saja persepsi kita tentang lawan kita itu. Seperti kita juga perlu memperbaiki persepsi tentang Jawa Tengah ini. Kalau antum terus mempersepsi bahwa ini basis orang lain, insya Allah selamanya akan jadi basis orang lain. Tapi kalau antum dari sekarang mengatakan: Bongkar, Bongkar, Bongkar! Ini mitos! Insya Allah ini akan menjadi basis antum semuanya. Siapa yang bisa melawan pasukan cinta? Siapa yang bisa melawan pasukan cinta? Insya Allah tidak akan ada yang bisa melawan pasukan cinta.

Kalau kata Kyai Budi tadi, semua orang kita ayomi, orang kelas bawah kita ayomi semuanya, tukang becak kita ayomi, dan apa lagi tadi ada… (bertanya ke Kyai Budi H) janda-janda kita ayomi juga. Semua kita ayomi. Itu yang kita sebut dengan pasukan cinta.

Dan insya Allah dengan cinta seperti itu ikhwah sekalian, kita akan datang menawarkan sebuah persahabatan, sebuah persaudaraan, kepada semua orang. Dan biarlah orang lupa bahwa ia dari ideologi fulan, ideologi kanan, ideologi kiri, dia dari ideologi tengah, itu tidak penting.

Cinta yang membuat kita bersatu, bersahabat, bersaudara. Biarkanlah dia dengan ideologinya, tetapi dia bersama kita.

Rebut dulu simpatinya, nanti belakangan pelan-pelan kita rubah cara berfikirnya. Kata ulama-ulama dakwah, kasbul qulubi muqoddamu ‘alaa kasbil uqul, merebut hati lebih kita prioritaskan daripada merebut fikiran. Janganlah dulu merebut fikiran orang. Sebarkan dulu cinta. Kalau semua orang sudah simpati, insya Allah dia akan lebih terbuka menerima fikiran-fikiran kita.

Begitu cintanya hilang, karena itu katanya Imam Syafi’i, cinta itu membuat orang kehilangan daya kritis di dalam dirinya. Begitu kita cinta kepada seseorang, bahkan yang jelek-jelek pun kita pandang bagus. Iya kan?

Oleh karena itu ikhwah sekalian, kalau antum ingin meniupkan nafas cinta kepada semua orang, saya membayangkan bahwa setiap antum semuanya akan membuat data, list, dari seluruh warga dan pemilih di Jawa Tengah ini, antum temui mereka semuanya satu persatu. Jabat tangannya baik-baik, lihat matanya baik-baik. Sebarkan nafas cinta melalui mata antum semuanya. Biar dia merasakan, dan rasakan dalam jabat tangan itu ada setrum cinta yang mengalir ke tangan mereka itu. Begitu setrum cinta itu mengalir ke tangan mereka, insya Allah, dia akan berubah dengan sendirinya. Dia akan berubah.

Jadi ikhwah sekalian, mengapa saya mengatakan bahwa kita harus mengubah permainan politik dari permainan yang berbahaya menjadi permainan orang dewasa yang lucu, karena politik sekarang ini menjauhkan orang dari dirinya sendiri. Itu sebabnya saya kira, konfigurasi Jawa Tengah ini dalam Pilgub ini adalah mengkonfigurasi yang paling lucu diantara pilkada-pilkada yang lain. Coba kita lihat calon kita itu, koalisi yang mendukungnya. Calonnya birokrat. Cagubnya birokrat, cawagubnya dari partai lain, tapi tidak didukung partainya. Didukung oleh partai yang berupa-rupa warnanya. Ada PKS, Gerindra, ada PKB, Hanura, PPP, PKNU dan seterusnya. Rupa-rupa warnanya dan tidak saling berhubungan dengan cagub dan cawagubnya. Nah ini pertemuan yang lucu.

Mungkin ada orang yang bertanya, mengapa PKS tidak mengajukan kadernya? Saya tadi bicara dengan akh Fikri (Drs. H. A. Fikri Faqih – Ketua DPW Jateng) di mobil sebelum ke sini. Saya akan menjelaskan dalam kampanye deklarasi nanti. Tapi saya akan menjelaskan dulu kepada antum semuanya.

Dalam sistem demokrasi, partai politik itu mempunyai salah satu fungsi dasar sebagai school of leadership, sekolah kepemimpinan. Partai ini mesti merekrut orang, membinanya, menggodognya, melatihnya untuk menjadi pemimpin. Kalau dia sudah siap menjadi pemimpin, kita ekspor orang ini ke dalam sebuah lembaga yang kita sebut negara. Jadi user dari sekolah ini adalah negara.

Karena itu Umar bin Khattab mengatakan, ta’allamu qabla anta suudu, belajarlah sebelum kalian memimpin.

Nah ikhwah sekalian, kita kasih kesempatan kepada ikhwah untuk menetapkan siapa yang mau antum ajukan (dalam Pilgub) dari kader. Dan mereka mengatakan, tampaknya pada periode ini kita belum siap. OK. Karena kita juga mesti membuka dua kitab sekaligus. Satu kitab namanya kitab percaya diri, satu kitab lagi namanya tahu diri. Dua-duanya mesti kita baca secara obyektif. Iya kan? Tidak ada masalah. Jangan minder dengan keputusan itu. Itu tidak mencederai kita sebagai partai kader. Justru itu menunjukkan kedewasaan kita dalam menilai diri kita sendiri. Kita beri kesempatan kepada orang, dan waktu kita memberi kesempatan kepada orang kita bekerja full untuk mendukung orang itu. Semuanya siapapun yang nanti bekerja sama dengan PKS itu percaya, bahwa PKS adalah partai yang selalu memenuhi janji. Nanti tiba waktunya antum memimpin, insya Allah mereka juga akan mengatakan kalau antum berjanji dalam kampanye insya Allah pasti akan dipenuhi oleh kadidat PKS.

Nah ikhwah sekalian. Saya kira saya sudah menjelaskan mission imposible, yang sekarang ini menjadi tugas antum semuanya di Jawa Tengah. Dan saya tidak ingin mengatakan lagi kepada antum semuanya. No plan, no backup, no choice. Bongkar! Karena antum sudah tahu jalannya. Dan kata kuncinya cuma dua itu tadi. Yang pertama bongkar, yang kedua adalah permainan yang lucu. Funny game. Main-mainlah dengan cara ini. Dan insya Allah antum akan memenangkan pilkada Jawa Tengah.

Coba saya mau tanya dulu kepada antum semuanya. Kira-kira ikhwah sekalian, sebesar apa energi cinta yang ada di dalam diri antum, yang bisa antum tiupkan kepada setiap bunga yang ada di Jawa Tengah ini? Saya mau tanya dulu. Antum punya stok cinta yang banyak untuk bisa disebarkan di Jawa Tengah atau tidak? Banyak? Kurang yakin. Yakin? (massa: Yakin). Yakin? (massa: Yakin).Yakin? (massa: Yakin).Yakin? (massa: Yakin).Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

[Disampaikan Anis Matta di Semarang, 17-03-2013]

CITA-CITA UNIVERSAL DENGAN SEMANGAT UNIVERSAL
Akhi, aktivitas Islam, tekad yang kita inginkan kepada Anda ialah tekad universal. Tekad mencari ilmu dan mengamalkannya. Tekad berdakwah dan berjihad. Tekad beriman, yakin, sabar, dan ridha. Tekad melakukan amar ma`ruf, nahi mungkar, dan menyatakan kebenaran. Tekad memperbaiki diri sendiri dan memberi petunjuk pada manusia.
Kita tidak menginginkan tekad parsial, yang terbatas pada satu aspek. Itu tidak kita inginkan. Kita menginginkan orang, yang tekadnya menyeluruh di semua medan dakwah Islam. Tidak hanya disatu aspek tanpa satu aspek lainnya, atau diaspek tertentu dengan mengorbankan aspek lainnya. Kita menginginkan tekad sempurna dan universal.
Dalam hal ini, saya tidak menemukan perkataan lebih bagus dari perkataan Ibnu Al-Qayyim di bukunya yang bermutu, Tahiruqi Al-Hijrahtain wa Babu As-Sa`adatain, “Di antara manusia ada orang yang berjalan menuju Allah di setiap tempat dan sampai pada-Nya dari semua jalan. Ia jadikan aktivitas ibadahnya sebagai poros hatinya dan fokus pengelihatannya. Ia cari aktivitas ibadah itu dimana saja berada dan berjalan bersamanya kemana saja aktivitas ibadah berjalan. Setiap kelompok diberi tanda khusus. Di mana saja ibadah berada, orang tersebut Anda lihat disitu. Jika ibadah berbentuk ilmu, Anda mendapatinya bersama orang-orang berilmu. Jika ibadah berbentuk jihad, Anda menemukannya bersama barisan mujahidin. Jika ibadah berbentuk shalat, Anda mendapatinya bersama orang-orang yang berbuat baik. Jika ibadah berbentuk cinta, perasan selalu diawasi Allah, dan taubat, maka Anda menemukannya bersama orang yang cinta kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Ia selalu bersama ibadah dimana saja ibadah hendak pergi dan berjalan kepadanya dimana saja ibadah berjalan. Jika ditanyakan kepadanya, ‘Amal perbuatan apa yang ada inginkan?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin melaksanakan perintah-perintah Tuhanku, apa pun bentuknya, dimana saja tempatnya, membawa apa saja, membuatku bersatu, atau membuatku tidak bersatu. Aku hanya ingin melaksanakannya, merasa selalu diawasi-Nya saat itu, terhadap kepada-Nya dengan ruh, hati, dan badan. Aku telah serahkan barang kepada-Nya dan sekarang aku menunggu pembayaran dari-Nya.’ Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberi ,mereka surga.”


KATAKAN PADA ORANG-ORANG
MUNAFIK

Akhi, aktivitas Islam, orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya “sakit” akan berkata kepada Anda, “Apa Anda pikir keinginan Anda itu terwujud? Apa Anda kira Khilafah Islamiyah atau negara Islam akan berdiri? Itu semua tidak akan terwujud dan lebih mirip ilusi daripada fakta. Apa Anda pikir Amerika Serikat, Rusia, Eropa, dan Israel akan mengizinkan hal itu? Mereka musuh paling bebuyutan Islam dan negaranya?”
Mereka juga akan berkata pada Anda, “Anda menuju fatamorgana dan tertiup oleh agama Anda.”
Jika mereka berkata seperti itu kepada Anda, ingatlah firman Allah Ta’ala,

“(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya sakit berkata, ‘Mereka itu (Kaum Mukminin) ditiup oleh agamanya,’ (Allah berfirman), ‘Barangsiapa tawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (Al-Anfal: 49).

Katakan kepada mereka, “Khalifah Islamiyah akan kembali, kendati banyak kesulitan dan tantangan berdirinya Khalifah Islamiyah itu tidak diragukan lagi, kendati masih lama dan pertolongan Allah pasti datang.”
Katakan kepada mereka, “Bahkan, Allah akan menaklukkan Roma untuk kaum Muslimin, seperti pernah dijanjikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di hadits shahih dan seperti halnya Kostantinopel di taklukan sebelum ini. Kami harap Allah memberi lebih dari itu, yaitu menaklukan Kremlin dan Gedung Putih. Kenapa tidak, toh Allah Ta’ala berfirman,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antar kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia pasti menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia pasti merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada penyekutuan sesuatu apa pun dengan-Ku.’ (An-Nuur: 55).

Sedang kapan hal itu terjadi? Ini bukan tugas kami dan tidak di bebankan Allah Ta’ala pada kami. Sebab, kami hanya diperintahkan mengamalkan agama ini, membela syariat, dan mencurahkan seluruh potensi untuk tujuan ini. Sedang hasilnya, itu urusan Allah Ta’ala. Penyair berkata,

“Anda hanya bertugas menabur benih, bukan memetik hasilnya
Allah pendukung terbaik bagi orang-orang yang berusaha.”

Katakan kepada mereka, seperti dikatakan Nabi Ya’qub Alaihis Salam kepada anak-anaknya, setelah beliau kehilangan dua anaknya sekaligus, Yusuf dan Bunyamin,

“Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal.” (Yusuf: 94).

Katakan kepada mereka, “kendati cobaan dan penderitaan datang bertubi-tubi, kami mencium aroma kebahagiaan, kemenangan, dan kembalinya Khilafah Islamiyah, sekiranya kalian tidak menuduh kami lemah akal.”
Banyak orang yang berkata kepada Anda, “Anda ngacau sejak dulu.”
Dulu. Orang-orang munafik berkata kepada para sahabat setelah Perang Uhud, “kembalilah kalian pada agama kalian.”
Perkataan itu juga akan dikatakan orang-orang munafik kepada orang-orang beriman di setiap zaman dan tempat jika aktivis Islam mendapat musibah, atau hal-hal negatif terjadi pada mereka, atau mereka terancam dipenjara, siksa, pembunuhan, dan luka. Saat itu, mereka berkata kepada Anda, “Sudahlah, tinggalkan aktivitas dakwah Anda, karena agama inilah penyebab utama terjadinya rangkaian musibah ini. Agama inilah yang menghilangkan masa depan kalian, menjebloskan kalian ke jeruji penjara, dan mengusir kalian dari negeri kalian. Tinggalkan saja agama kalian ini, yang menjadi biang seluruh musibah, niscaya kalian selamat dan beruntung.”
Jika mereka berkata seperti itu kepada kalian, katakan kepada mereka,

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang beriman.” (Al-Hajj: 38)

katakan kepada mereka,

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” (Al-Hajj: 40).

Dan, katakan kepada mereka,

“Mengapa kami tidak bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami.” (Ibrahim: 12).

Serta, katakan kepada mereka,

“Sungguh kami mengada-adakan kebohongan bersarang kepada Allah, jika kami kembali kepada agama kalian, sesudah Allah melepaskan kami darinya. Dan kami tidak patut kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami hendakinya. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah saja kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan adil dan engkau Pemberi keputusan terbaik.” (Al-A’raaf: 89).

Orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya sakit akan berkata seperti dikatakan orang-orang munafik dulu tentang kaum Muslimin, korban kasus Ar-Raji’. Mereka dijebak orang-orang musyrik dan dibunuh semuannya. Ketika itu, orang-orang munafik berkata, “Ah, sungguh sial korban kasus Ar-Raji’ itu. Kenapa mereka tidak menetap saja dirumah bersama keluarga dan tidak usah menunaikan tugas sahabat mereka.” (Diriwayatkan Ibnu Hisyam). Sahabat yang mereka maksud ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Perkataan senada akan diucapkan kepada Anda, wahai aktivis Islam, setiap ada aktivitas yang terbunuh, atau penjara, atau keluargannya diusir. Seketika itu juga, orang-orang yang hatinya sakit berkata, “Kenapa mereka tidak duduk-duduk dirumah dan menyusahkan diri dengan merubah seabrek kemungkaran ini?”
Mereka juga akan berkata, “Ah seandainya para aktivis itu menetap di rumahnya masing-masing, diam saja, lebih serius memikirkan masa depan mereka, dan tidak usah berpikir mendirikan negara Islami!”
Jika orang-orang munafik berkata seperti itu, ingatlah bahwa Al-Qur’an pernah berkata tentang orang seperti itu jauh sebelum ini,

“Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan di persaksikannya kepada Allah isi hatinya, padahal ia menantang paling keras.” (Al-Baqarah: 204).

Sifat diatas tidak hanya berlaku pada orang bersangkutan, tapi berlaku juga pada para pengikut orang tersebut dan orang-orang yang berkata seperti itu di setiap zaman dan tempat. Jika Anda mendengar perkataan seperti itu, katakan kepada mereka, “Tunjukkan kami adalah menegakkan agama dan mendirikan negara adalah salah satu sarananya. Kami tidak mungkin mengorbankan tujuan, demi merealisir sarana.”
Katakan kepada mereka perkataan Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu Anhu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Anda tidak perlu takut, demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu.” (Diriwayatkan Al-bukhari, Muslim, Ahmad).
Kepada siapa saja yang beramal untuk Islam dan ikhlas karena Allah Ta’ala diseluruh amal perbuatannya, kami katakan, “Selagi kalian berada di atas kebenaran, kalian tidak perlu risau. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakan kalian. Sebab, kalian melakukan silaturrahim, membela syariat dan akhlak mulia, memerangi akhlak tercela, berdakwah kejalan Allah dengan konsep jelas, menyuruh hal-hal yang baik, melarang hal-hal mungkar, mengerjakan qiyamul lail, berpuasa disiang hari, dan lain sebagainya.”
Jika Anda mendengar perkataan orang munafik seperti diatas, ingatlah nenek moyang mereka,

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, ‘sekiranya mereka mengikuti kita, tentu mereka tidak terbunuh.’ Katakan, ‘Cobalah kematian dari diri kalian, jika kalian orang-orang yang benar.’ Janganlah kalian mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” (Ali Imran: 168-169).

Katakan kepada mereka, “Waraqah bin Naufal, yang berusia tua itu, melewati Bilal bin Rabah yang sedang disiksa, tapi dengan gagah berani, Bilal bin rabah tidak henti-hentinya ia berkata, “Allah Maha Esa. Allah Maha Esa.” Waraqah bin Naufal berkata, “Allah Maha Esa. Demi Allah, wahai Bilal, Aku bersumpah kepada Allah, jika kalian membunuh Bilal karena ucapan ini, aku akan menjadikan tempat meninggal Bilal sebagai tempat keramat.” (Diriwayatkan Ibnu Ishaq).
Coba renungkan pemahaman mendapat Waraqah bin Naufal itu, padahal ia tahu sedikit sekali tentang Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam, sebelum meninggal dunia. Namun, hatinya bersih, ikhlas, steril dari hawa nafsu, dan suci dari kemunafikan.


KAMI TUNGGU ANDA
MENOLONG ISLAM

Sekarang, kami tunggu aktivis Islam, terutama generasi muda, menolong Islam dan umatnya. Kami tunggu peran mereka seperti peran Abu Bakar saat memerangi orang-orang murtad, peran Khalid bin Al-Walid di Perang Yarmuk, peran Sa’ad bin Abu Waqqash di Perang Al-Qadisiyah, peran Shalahuddin Al-Ayyubi di Perang Hiththin, peran qataz di Perang Ain Jalut, pern Muhammad Al-Fatih di Kostantinopel, dan peran Sulaiman Al-Halbi saat menyerang Cliber.
Kami ingin bahagia, kendati sejenak sebelum meninggalkan dunia, melihat Khalifah Islamiyah dan menyaksikan benderanya berkibar ditimur dan barat. Juga memandang naungannya yang rimbun menyebarkan keadilan, kebenaran, sinar, dan petunjuka, ke dunia. Kami tunggu hari itu, dimana khalifah kaum Muslimin memandang awan, pergilah ke timur dan barat, niscaya pajaknya sampai juga ketangan saya.” Khalifah berkata benar dan dulu wilayah Islam memang membentang ke timur dan barat, hingga mencapai wilayah paling barat dan timur, serta kekuasan Khalifah mencakup semua wilayah, lalu daerah-daerah tersebut mendapatkan kebaikan, petunjuk, dan sinar.
Kita amat rindu datangnya hari Allah Ta’ala menaklukan Roma, sentral Kristen di dunia, yang dulu di prediksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan ditaklukan setelah Konstantinopel “Istambul” sudah ditaklukan Allah Ta’ala, melalui sultan agung Muhammad Al-Fatih, yang di puji di hadits,

“Konstantinopel akan ditaklukkan. Komandan perang paling baik adalah komandan perang Konstantinopel dan pasukan terbaik ialah pasukannya.” (Diriwayatkan Ahmad).

Ketika itu, Muhammad Al-Fatih sudah mempersiapkan diri untuk menaklukan Romawi, setelah sukses menaklukan Konstantinopel. Hal itu membuat pasukan Romawi cemas dan ketakutan. Muhammad Al-Fatih tidak puas sebelum merealisir proyek besar ini. Bukti kekalutan Eropa dan kecemasan mereka ialah gereja-gereja Eropa secara umum dan Roma secara khusus tidak henti-hentinya membunyikan lonceng selama tiga hari berturut-turut, sebagai bentuk ungkapan rasa suka cita mereka atas meninggalnya Muhammad Al-Fatih. Kita tungguh hari seperti itu, kendati lebih panas dari bara api. Kemenangan Islam itu puncak harapan seseorang di dunia. Sekarang, kita merasakan kebaikan dunia yang disebutkan di ayat,

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” (Al-Baqarah: 201).

Itu bukan istri shalihah, namun menolong Islam, seperti dikatakan sebagai ulama. Sungguh mulia kebaikan itu! Kebaikan seperti itu menghilangkan kegalauan dan kesedihan, kendati seseorang harus kehilangan keluarga, anak, harta, dan jabatan, demi merealisirnya. Kita lebih rindu hari Allah Ta’ala menolong agama-Nya, lalu Dia memuliakan wali-wali-Nya, daripada kerinduan kita kepada istri, anak, ayah, dan ibu, yang kita tinggalkan bertahun-tahun.
Kita merindukan hari seperti hari Uqbah bin Nafi’ mencebur ke Samudera Atlantik, dengan kaki kudanya, lalu berkata, “Demi Allah, andai aku tahu di seberang sana ada negeri, aku pasti menyerbunya di jalan Allah.”
Uqbah bin Nafi’ berkata saat memandang langit, “Tuhanku, kalaulah tidak terhalang lautan ini, aku pasti berjalan di banyak negeri, guna berjihad di jalan-Mu.”
Kita tunggu hari-hari seperti di atas dari Anda, wahai aktivis Islam. Apakah Anda siap merespon harapan ini? Apakah Anda menjawab seruan ini? Penyair berkata,

“Dukaku dan duka setiap orang merdeka
Ialah pertanyaan zaman, ‘Di mana gerangan kaum
Muslimin berada?’
Akankah masa lalu itu kembali lagi?
Sungguh, aku merindukan masa lalu itu
Bebaskan aku dari angan-angan kosong
Aku lihat angan-angan itu tak lebih dari ilusi semata
Berikan iman sebagai cahaya bagiku
Dan kuatkan keyakinan pada diriku
Aku sodorkan tanganku dan mencabut gunung
Serta membangun kejayaan, dengan harmonis dan kuat.”


AKTIVIS ISLAM ITU BUKAN
AKTIVIS TEMPORER

Akhi, aktivis Islam, aktivitas Islam itu bukan aktivis yang bisa Anda kerjakan di sebagian waktu, lalu boleh Anda tinggalkan pada waktu lain. Sama sekali tidak. Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalam Islam ini lebih dari itu. Islam bukan sembarang aktivis, seperti misalnya aktivitas budaya, atau olahraga, atau kepanduan, yang biasa Anda geluti saat kuliah, lalu Anda tinggalkan setelah lulus. Atau aktivitas yang Anda jalani ketika Anda membujang, lalu Anda tinggalkan setelah menikah. Atau aktivis yang Anda beri waktu sebelum Anda menduduki jabatan tertentu, lalu Anda tinggalkan jika Anda punya jabatan tertentu, atau sukses membuka klinik, atau apotek, atau kantor konsultan, atau sibuk studi S1 atau S2. Tidak. Aktivitas Islam sama sekali tidak seperti itu.
Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalamnya adalah penyembahan Anda kepada Allah Ta’ala. Dan, orang Muslim tidak berhenti dari aktivitas Islam, karena merupakan tuntutan penyembahannya kepada Allah Ta’ala, hingga detik akhir kehidupannya. Akhi, apakah Anda tidak membaca firman Allah Ta’ala,

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.” (Al-Hijr: 11).

Maksudnya, sembahlah Allah Ta’ala hingga kematian datang kepadamu. Al-Qur’an tidak mengatakan, “Sembahlah Allah hingga Anda lulus dari universitas, atau hingga Anda punya jabatan tertentu, atau hingga Anda menikah, atau hingga Anda sukses membuka klinik, atau kantor konsultan.”
Generasi salafush shalih memahami dengan baik ayat di atas. Kita lihat Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu masih ikut berperang di jalan Allah Ta’ala, saat berusia sembilan puluh tahun. Saya katakan berperang, bukan sekedar berdakwah, atau mengajar, atau mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Di samping mengerjakan aktivitas itu semua, Ammar bin Yasir berperang di jalan Allah Ta’ala, saat ia berada di usia, di mana tulang-tulang sudah lemah, tubuh loyo, rambut beruban, dan kekuatan menurun.
Abu Sufyan bin Harb Radhiyallahu Anhu memotivasi tentara untuk berperang, padahal si berusia tujuh puluh tahun. Begitu juga Al-Yaman dan Tsabit bin Waqsy. Keduanya berperang di Perang Uhud, kendati berusia lanjut dan diberi dispensi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau menempatkan keduanya di barisan belakang bersama kaum wanita. Kenapa kita pergi terlalu jauh? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakoni tujuh puluh empat tahun. Bahkan, beliau berumur enam puluh tahun saat hadir di Perang Tabuk, yang merupakan perang paling sulit bagi kaum Muslimin, dan memimpin kaum Muslimin di dalamnya.
Kenapa sekarang kita lihat banyak aktivis Islam tidak lagi menjadi aktivis Islam setelah lulus kuliah, atau menikah, atau sibuk bisnis, atau punya jabatan?
Mereka harus tahu bahwa permasalahan agama tidak main-main dan bisa disepelekan seperti itu. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan kalian menganggapnya ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah itu besar.” (An-Nuur: 15).

Mana baiat (ikrar), yang dulu Anda berikan di depan Allah Ta’ala, bukan hanya di depan manusia? Allah Ta’ala berfirman,

“Dan perjanjian dengan Allah itu diminta pertanggung jawabnya.” (Al-Ahzab:15).

Mana slogan, yang dulu sering Anda gembor-gemborkan,

“Kami bangkit di jalan Allah
Kami ingin meninggikan panji
Kami beramal bukan untuk partai
Tapi, kami siap menjadi tumbal bagi agama ini
Silakan kejayaan agama muncul kembali lagi
Atau darah kami tumpah karenanya.”

Akibat melanggar janji itu amat berat. Terutama, bagi orang yang tadinya tahu kebenaran, lalu berpaling darinya dan orang yang telah merasakan manisnya iman lalu terjerumus ke dalam kebatilan. Melanggar janji dengan Allah Ta’ala itu dosa paling besar kepada-Nya dan kaum Mukminin. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka barangsiapa melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu menimpa dirinya sendiri.” (Al-Fath: 10)

Orang yang dirayu jiwanya yang menyuruh kepada keburukan dan digoda setan untuk ingkar janji harus merenungkan firman Allah Ta’ala,

“Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, kami pasti bersedekah dan kami pasti termasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberi mereka sebagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). “ (At-Taubah: 75-76).

Ia juga harus merenungkan dengan baik hukuman adil, seperti disebutkan di ayat berikut,

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan di hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (At-Taubah: 77).

Aktivitas Islam itu agenda utama. Tragisnya, sebagian orang berhati sakit yang bergabung dengan ikhwah aktivis Islam di aktivitas Islam, di kampus, itu memandang aktivis Islam seperti proyek bisnis. Karenanya, proyek bisnis tersebut berakhir secara otomatis, bersamaan dengan selesainya waktu kuliah. Atau aktivitas Islam dianggap sebatas persahabatan di kampus, lalu bubar dengan berakhirnya masa studi.
Orang-orang seperti itu saya katakan orang-orang berhati sakit. Sebab, biasanya, penyakit muncul dari orang yang imannya lemah, hatinya sakit, tekadnya pas-pasan, dan makna iman tidak menancap kuat di hati. Umumnya, aib itu ada di hati, bukan di akal. Aib terjadi sebab iman tidak beres, bukan karena minimnya ilmu. Juga karena pengaruh syahwat, bukan karena ketidakjelaskan. Juga karena cinta dunia, bukan karena minimnya kesadaran. Siapa ingin melakukan terapi, ia harus pergi kepada orang-orang yang berhati bersih, guna menghilangkan kotorannya dan mengobati penyakitnya. Sayangnya, dokter itu tidak banyak pada zaman sekarang. Yang saya maksud dengan dokter di sini ialah dokter hati. Sedang dokter tubuh, maka segudang.
Sungguh, orang yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya itu lebih mementingkan kesenangan sesaat dengan mengorbankan kesedihan sepanjang tahun, menceburkan diri ke sumur maksiat, dan berpaling dari tujuan besar menuju tujuan picisan. Akibatnya, ia hidup di penjara setan, terombang-ambing di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu. Seorang penyair berkata,

“Ia menjadi seperti burung elang yang bulunya tercabut Ia merasa rugi setiap melihat burung lain terbang.”


JUMLAH BANYAK, TAPI
AKTIVITAS SEDIKIT

Sekarang, kita lihat jumlah ikhwah aktivis Islam sangat banyak. Bisa jadi, di satu kampung terdapat ratusan aktivis. Kendati jumlah aktivis Islam sangat banyak, tapi, jika Anda menghitung orang-orang yang beramal untuk Islam dengan serius dan tekad besar, serta layak mengemban predikat aktivis Islam, maka jumlah mereka tidak lebih dari puluhan. Bahkan, Anda dapat menghitung jumlah mereka dengan jari dan hapal nama-nama mereka. Mana jumlah banyak itu di medan amal dan kontribusi? Mana jumlah banyak itu di lahan dakwah, gerakan amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad? Mereka berperan sebatas “pengamat” dan cukup puas dengan peran itu. Mereka merasa cukup dengan pindah dari Islam menuju iltizam dengan Islam. Setelah itu, mereka berhenti di tahapan itu dan tidak ingin beranjak menuju tahapan lebih tinggi, atau hingga tahapan menyiapkan jiwa mereka untuk berkorban dan berkontribusi di beragam medan aktivitas Islam. Jika Anda bertanya kepada salah seorang dari mereka tentang kontribusinya untuk Islam, aktivitasnya di jalan agama, dan perannya di gerakan dakwah sejak ia bergabung ke dalam kafilah dakwah, maka ia menjawab bahwa dirinya hanyalah pendengar. Ya, ia hanya menghindari halaqah, pertemuan-pertemuan dakwah, seminar, membaca pernyataan dan buletin dakwah. Itu saja yang ia lakukan. Ia pasif dan tidak memberikan kontribusinya. Kadang, Anda lihat dia teledor, tidak berupaya menyiapkan diri di berbagai aspek. Kadang, selama setahun atau dua tahun, ia hanya membaca satu dua buku Islam. Padahal, untuk orang selevel dia, buku-buku itu harus dibaca tidak lebih dari satu pekan.
Realita ini membuang-buang sekian banyak potensi, yang semestinya bisa digunakan di banyak medan amal Islami; dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad. Orang-orang seperti itu hanya memberikan waktu sisa untuk Islam, atau sedikir harta dan tenaga. Mereka harus tahu bahwa Allah Ta’ala hanya menerima yang baik-baik (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Sebagaimana Dia tidak menerima makanan jelek yang Anda sedekahkan, Dia juga tidak menerima perbuatan buruk yang Anda pilih untuk diberikan kepada Islam. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian memilih yang buruk lalu kalian infakkan darinya.” (Al-Baqarah: 267).

Islam minta sebagian besar waktu, harta, dan usia emas remaja Anda. Itulah yang diinginkan Islam. Islam minta waktu semangat Anda, bukan waktu malas Anda. Islam minta waktu muda, kuat, dan sehat Anda, bukan waktu tua Anda. Ya, Islam minta sesuatu yang paling baik, mulia, dan agung, dari Anda.
Bukankah Anda tahu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bersedekah dengan seluruh hartanya di jalan Allah Ta’ala dan dakwah Islam? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.”
Tidakkah Anda tahu Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu mendanai sendirian pasukan Perang Tabuk? Bayangkan, satu orang mendanai pasukan lengkap dengan senjata, perbekalan, dan kendaraannya! Jumlah tentara yang ia danai saat itu lebih dari sepuluh ribu. Silakan bandingkan kontribusi Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu ini dengan realita kita sekarang. Banyak kaum Muslimin yang kaya raya, termasuk di dalamnya aktivis Islam. Tapi, kita tidak melihat orang yang berinfak untuk dakwah Islam-saya tidak mengatakan di satu kabupaten, atau kota, atau desa-dan menanggung beban dakwah. Yang saya maksud dengan beban di sini ialah aspek keuangan. Saya mengatakan beban dakwah, bukan beban jihad, sebab jihad membutuhkan dana yang tidak karuan banyaknya! Bisa jadi, tidak ada juga ikhwah aktivis yang siap menanggung beban finansial dakwah!
Ada aktivis dakwah yang bekerja di salah satu negara Teluk selama empat atau lima tahun, misalnya, hidup enak, dan serba kecukupan. Ia tahu betul apa yang dibutuhkan dakwah dan saudara-saudaranya sesama aktivis. Ia tahu seratus persen banyak keluarga aktivis, yang diuji di jalan Allah Ta’ala dan berjumlah ribuan setiap waktu, serta membutuhkan uluran tangan saudara-saudaranya. Kendati tahu itu semua, ia sama sekali tidak berpikir untuk berjihad dengan hartanya, hingga dalam jumlah minimal pun, sebagai ganti berjihad dengan jiwa, sepanjang ia bekerja tahunan di negara Teluk itu. Hatinya tidak tergerak untuk memberikan uluran tangan kepada keluarga mujahidin, agar ia punya tabungan kebaikan pada keluarga mereka! Ia tidak berinisiatif untuk berbuat seperti itu. Jika ia diingatkan seseorang, ia baru bersedekah. Itu pun dengan beberapa uang recehan, yang tidak dapat menggemukan badan dan menghilangkan lapar. Sedekahnya lebih banyak ditolak, daripada diterima. Bahkan, sedekahnya tidak sebanding dengan anggaran BBM mobilnya setiap hari!
Islam menginginkan orang yang mendermakan apa saja yang dimilikinya kepada agamanya. Ia berikan kehidupan, waktu, harta, tenaga, ruh, rumah, mobil, dan apa saja yang dimilikinya. Kita menghendaki orang yang menjual dirinya kepada Allah Ta’ala, dengan arti yang sesungguhnya. Kita menginginkan aktivis yang setiap harinya mempersembahkan kontribusi baru untuk Islam. Apakah Anda tidak kenal Mush’ab bin Umair Radhiyallahu Anhu? Ia pemuda tampan, parfumnya harum, bajunya paling mewah, dan idola gadis-gadis Quraisy karena kegantengan, nama besar, kemuliaan, dan nasabnya. Tidakkah Anda tahu, ketika ia masuk Islam, maka ia berikan apa saja yang ia miliki? Hingga, ia memakai baju tambalan ketika hidup dan kaum Muslimin tidak menemukan kain kafan untuk menutupi tubuhnya ketika ia meninggal dunia. Semasa hidupnya, ia setap hari mempersembahkan kemenangan baru untuk Islam di medan dakwah dan Islam. Ia dai Islam pertama di Madinah, figur penting di balik masuk Islamnya sebagian besar penduduk Madinah, dan peletak batu bata pertama cikal bakal berdirinya negara Islam di Madinah. Selain itu, ia tentara hebat, pemegang panji perang kaum Muslimin di Perang Uhud dan salah satu syuhada’ terbesarnya. Itulah bentuk kontribusi sejati untuk Islam, agama, dan gerakan dakwah.
Setiap Muslim harus bertanya kepada dirinya setiap waktu, sudah berapa orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala melalui dirinya dalam pekan ini? Berapa desa yang sudah saya kunjungi untuk berdakwah ke jalan-Nya? Apakah aku sudah mendakwahi sanak kerabatku, tetangga, dan orang tuaku, atau belum? Apakah aku sudah berusaha untuk memahami Islam, beramal dengannya dan untuknya? Aku sudah berinfak berapa untuk kaum Muslimin pada pekan ini? Sudah berapa keluarga yang mendapat cobaan yang aku bantu dengan tenaga dan hartaku? Sudah berapa banyak keluarga syuhada’ yang aku penuhi kebutuhan mereka? Berapa malam yang telah saya habiskan untuk memikirkan aktivitas Islam secara umum, atau kotaku, atau desaku secara khusus, atau kota dan desa sebelah? Aku melakukan amar ma’ruf nahi munkar berapa malam? Sudah berapa kali aku memerangi musuh-musuh Islam dan menimpakan kekalahan pada mereka? Aku sudah berapa kali bereaksi membela hukum-hukum Allah Ta’ala, kaum Muslimin, darah, dan kehormatan mereka? Aku sudah berapa kali mengunjungi orang sakit, atau mengajaknya kepada Islam, atau mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, atau mengunjungi saudaraku seagama, atau aku dakwahi pada pekan ini? Dan, pertanyaan-pertanyaan lain, yang perlu diajukan kepada diri Anda dari waktu ke waktu, guna mengetahui sejauh mana kelalaian Anda terhadap hak Allah Ta’ala. Lalu, Anda segera bangkit memperbaiki diri sebelum dihukum Allah, tidak diberi kesempatan beramal untuk agama-Nya dan bergabung di kalifah dakwah, yang disebutkan Allah Ta’ala,

“Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah nyata’.” (Yusuf: 108).

Dan, di rombongan yang disebutkan Allah Ta’ala di ayat berikut,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.” (Al-Baqarah: 207).

Bagaimana menurut pendapat Anda, jika buruh di perusahaan tidak berbuat apa-apa, tidak menghasilkan apa-apa, kerjanya hanya mengisi absen pada pagi hari, lalu pulang sore hari, dan yang ia lakukan di perusahaan hanyalah menonton teman-temannya bekerja dengan serius dan bersemangat? Kira-kira apa yang akan diperbuat pemilik perusahaan terhadap buruh seperti itu? Pemilik perusahaan pasti langsung memecatnya. Begitu juga aktivis Islam yang memahami Islam sebatas mengenakan baju gamis dan memanjangkan jenggot. Tapi, ia pasif, dalam arti tidak mempersembahkan apa-apa kepada Islam. Kalau pun memberi, maka sedikit atau berkualitas rendah.
Beberapa pemimpin gerakan dakwah dan aktivis Islam yang bekerja untuk Islam dengan serius dan bersemangat mustahil –kendati mereka telah mengerahkan seluruh tenaga mereka-mendirikan negara Islami atau minimal menunaikan beban amal untuk Islam dengan segala aktivitasnya di wilayah negeri Islam yang luas membentang. Siapa pun tahu sekarang para penguasa tiranik menghantam para aktivis Islam dengan “pukulan” bertubi-tubi. Akibatnya, para aktivis Islam harus berkorban lebih banyak lagi dan naik lebih tinggi di tingkatan amal untuk Islam. Lalu, ia siap mengemban amanah, yaitu amanah beramal untuk Islam. Ia juga harus belajar bagaimana semestinya ia berdakwah, men-tarbiyah, melakukan gerakan amar ma’ruf nahi munkar, jihad, memberdayakan orang lain, dan apa sa-ja yang dibutuhkan untuk tujuan ini, misalnya perte-muan maraton dan keahlian ini dan itu.
Aktivis Islam tidak boleh enak-enak di rumah menunggu ada orang yang melakukan sesuatu untuknya. Atau membawakan sesuatu baginya. Ia harus berusaha sekuat tenaga mengerjakan seluruh aktivitas Islam dengan semangat tinggi, rajin, kuat, dinamis, ceramat, dan baik, agar ia layak mendapatkan predikat berikut ini,

“Anda melihat banyak orang, tapi tidak melihat satu orang
Kadang, Anda lihat semangat ribuan orang itu pada satu orang.”

Islam memerlukan aktivis, yang berkata dari hati sanubarinya apa yang dulu dikatakan Sa’ad bin Muadz Rahiyallahu Anhu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Perang Badar, yang merupakan badai pertama yang menyerang negara Islam baru di Madinah, “Wahai Rasulullah, silakan kerjakan apa saja yang engkau inginkan. Kami bersamamu. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, andai engkau membawa kami mengarungi laut, lalu engkau membawa kami mengarungi laut, lalu engkau menyelaminya, kami pasti menyelaminya bersamamu dan tidak ada satu pun dari kami yang tertinggal. Kami senang engkau membawa kami besok berhadapan dengan musuh.” (Diriwayatkan Ibnu Ishaq).
Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu juga berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sambunglah tali siapa saja yang engkau kehendaki dan putuslah tali siapa saja yang engkau inginkan. Serta, ambillah harta kami semaumu. Apa yang engkau ambil dari kami itu lebih kami sukai daripada apa yang engkau sisakan untuk kami.” Ini perkatan paling jujur dan agung seorang tentara kepada komandannya dalam sejarah. Perkataan itu menggerakan denyut kehidupan dan kejujuran. Kendati perkataan itu terucap lebih dari empat belas abad yang silam, namun pengaruhnya tidak lapuk hingga hari Kiamat. Itu refleksi jujur tentang apa yang berkecamuk di perasaan kaum Anshar, di bawah pemimpin agung Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu, sebelum terucap di lidahnya yang jujur. Perkataan itu juga meninggalkan bekas mendalam pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mulia, sering tersenyum sekaligus rajin berperang. Sungguh, perkataan itu amat menyenangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menyemangati beliau untuk terjun ke medan perang. Beliau bersabda, “Berangkatlah kalian dan jangan khawatir, karena Allah telah berjanji memberiku salah satu dari dua kelompok. Demi Allah, sekarang aku seolah-olah melihat tempat terbunuhnya orang-orang musyrik itu.” (Diriwayatkan Ibnu Ishaq).
Sekarang, Islam amat membutuhkan tentara-tentara di semua tempat, yang hati dan lidah mereka menyuarakan perkataan Sa’ad bin Muadz Radhiyallahu Anhu dia atas, sejujur dia, dan berkata dari hati mereka kepada pemimpin mereka seperti yang dikatakan pahlawan pemberani Al-Miqdad bin Amr. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, berangkatlah ke tempat yang perintahkan Allah. Kami selalu bersamamu. Demi Allah, kami tidak berkata seperti dikatakan orang-orang Bani Israel kepada Musa, ‘Berangkatlah engkau dengan Tuhanmu, lalu berperanglah engkau berdua, sedang kami duduk di sini.’ Namun, berangkatlah engkau bersama Tuhanmu, sedang kami ikut berperang bersamamu.” (Diriwayatkan Ibnu Ishaq).
Katakan kepada para pemimpin gerakan kalian “Kami tidak menonton kalian beramal untuk Islam, berdakwah, mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar, menyuarakan kebenaran, dan berjihad di jalan Allah. Kami tidak akan berbuat seperti itu. Kami bersama kalian, kendati banyak rintangan dan kendala. Kami tidak membiarkan kalian berperang sendirian. Kami berperang bersama kalian, berkorban, berinfak, dan memberi bersama kalian. Laksanakan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepada kalian. Berjalanlah ke tempat yang ditentukan Allah dan rasul-Nya.”
Islam menginginkan orang Muslim berkata kepada dirinya, “Adilkah aku istirahat enak-enak, sedangkan saudara-saudaraku kelelahan? Pantaskah aku tidur nyenyak, sementara saudara-saudaraku di tempat lain disiksa? Baikkah tidak beramal untuk Islam, padahal sekarang kaum Muslimin menjalani kehidupan berat dan perang melawan musuh?”
Orang Muslim perlu berkata kepada dirinya, seperti dikatakan Abu Khaitsamah ketika ia terlambat menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Tabuk, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam disengat terik matahari, terkena angin dan panas, sedang Abu Khaitsamah enak-enakkan berteduh di tempat sejuk, makanan siap santap, dikelilingi istri-istri cantik, dan dekat dengan hartanya? Tidak, ini tidak adil.” (Diriwayatkan Ibnu Ihsaq dan Ath-Thabrani).
Perkataan agung di atas harus dikatakan orang Muslim secara umum dan aktivis secara khusus kepada dirinya. Ia berkata kepada dirinya, “Sebagian saudara-saudaraku seagama disiksa, sebagian lain diusir dari negeri mereka tanpa mendapatkan tempat berlindung, sebagian lain terbunuh dan terluka, sedang aku hidup enak, makan makanan apa saja yang aku sukai, minum minuman paling enak, berteduh di tempat rindang, bergelimang kenikmatan, dan tidak beramal untuk Islam? Aku biarkan saudara-saudaraku sendirian menanggung beban berat ini? Ini tidak adil dan obyektif. Demi Allah, aku akan menyusul saudara-saudaraku, lalu berjihad dengan mereka, berkorban di jalan Allah dengan mereka, dan bersama mereka, hingga aku merasakan apa yang mereka rasakan dan mengemban beban yang mereka emban.”
Akhi, Islam menginginkan Anda meniru Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diperintahkan Allah Ta’ala,

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Asy-Syarh: 7).

Maksudnya, jika engkau selesai mengerjakan ketaatan tertentu, maka lelahlah mengerjakan ketaatan lain. Dewasa ini kita membutuhkan taujih (pengarahan) Al Qur’an ini. Jika taujih ini kita paraktekkan di aktivitas keislaman kita, kita berhasil melakukan lompatan besar di perjalanan menuju kemenangan.
Taujih itu berkata kepada setiap orang Muslim, “Tidak ada lagi waktu istirahat. Jika Anda selesai melakukan salah satu ketaatan, segeralah kerjakan ketaatan lain. Jika Anda selesai melakukan salah satu aktivitas Islam, janganberhenti sampai di situ saja, karena merasa bangga dan cukup dengannya. Segeralah lelah mengerjaka amal lain. Jika roda amal Anda untuk Islam telah berputar, maka nyaris tidak berputar lagi selama-lamanya, atau kendati bisa berputar setelah itu maka berputar dengan lamban. Kebaikan itu menunjukkan kepada kebaikan yang sama. Sebuah ketaatan mengajak kepada ketaatan yang sama. Kemalasan dan menganggur juga seperti itu. Ingatlah selalu bahwa Anda berada di salah satu perbatasan wilayah Islam. Karena itu, Islam jangan sampai diserang lawan dari arah Anda. Jangan lupa posisi Anda,kendati sebentar. Jika itu Anda lakukan, maka musuh menyerang membunuh Anda dan orang-orang yang bersama Anda.”
Siapa tidak mengairi sawahnya sekali saja, atau beberapa kali, maka sawahnya rusak dan tanaman menjadi tidak subur. Orang Muslim harus meneruskan aktivitas malamnya dengan aktivitas siangnya, aktivitas paginta dengan aktivitas petangnya, dan aktivitas musim hujannya dengan aktivitas musim kemaraunya, dalam rangka beramal di jalan Allah Ta’ala.
Apakah Anda tidak tahu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang sebanyak dua puluh tujuh kali ketika berumur lebih dari lima puluh tahun? Ini belum termasuk sejumlah sariyah (serangan kecil-kecilan) yang ingin beliau ikuti, lalu beliau batalkan, karena khawatir memberatkan para sahabat, seperti disebutkan di hadits. Saya sudah membaca biografi orang-orang paling banyak jihad dan kebaikannya pada zaman kita, tapi saya tidak menemukan sesuatu apa pun dari salah seorang dari mereka yang bisa disejajarkan dengan jihad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, padahal usia mereka lebih muda dari usia beliau.
Mana orang-orang yang meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pewaris kenabian? Mana orang-orang yang menapaktilasi jalan beliau? Betul sekali apa yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di hadits,

“Manusia itu seperti seratus unta. Engkau nyaris tidak menemukan unta yang bisa dinaiki.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Kendati demikian, kita tidak lelah mencari “unta” yang bisa dinaiki, sanggup mengarungi beratnya perjalanan, sulitnya cuaca, minimnya perbekalan, dan beratnya beban.


MARI KITA PEGANG ERAT ASPEK-ASPEK
PEMBAWA KEMENANGAN

Pertolongan Allah Ta’ala itu mahal dan tidak diberikan kepada sembarang orang Muslim. Tapi, hanya diberikan kepada kelompok tertentu, dengan ciri-ciri khusus. Kelompok ini langsung disiapkan, dibentuk, dan di-tarbiyah Allah sendiri, agar layak berkuasa di bumi dan berhak mengemban amanah penegakan agama di seluruh dunia. Itulah Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok pemenang), yang disinyalir Rasulullah Shallallahu wa Sallam di hadits,

“Di antara umatku senantiasa ada orang-orang yang menang karena berpegang erat kepada kebenaran. Orang-orang yang menelantarkan mereka tidak dapat memberikan madzarat apa pun pada mereka. Hingga ketika Hari Kiamat telah dekat, mereka tetap seperti itu.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Generasi pemenang ini dalam perjalanannya menolong Islam tidak mengandalkan jumlahnya yang banyak. Mereka selalu minoritas, tidak banyak. Orang-orang beriman di setiap Zaman dan tempat menang atas musuh-musuh mereka, bukan dengan jumlah besar dan senjata mereka. Tapi, menang dengan agama ini, di mana Allah memuliakan mereka dengannya. Ini seperti dikatakan Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu di Perang Mu’tah, “Kita tidak memerangi musuh dengan senjata, kekuatan, dan pasukan besar. Kita memerangi mereka dengan agama ini, di mana Allah memuliakan kita dengannya.”
Jika Anda mempelajari seluruh perang kaum Muslim melawan musuh-musuh mereka, Anda lihat jumlah tentara dan senjata mereka tidak lebih banyak dari jumlah tentara dan senjata musuh-musuh mereka. Sungguh benar Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, yang kirim surat kepada panglimanya, Amir bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu, “Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu. Amma ba’du. Di suratmu, engkau menyebutkan jumlah besar pasukan Romawi. Sesungguhnya Allah tidak menolong kami bersama Nabi-Nya dengan banyaknya tentara dan senjata. Suatu ketika, kita berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kita hanya punya dua kuda serta kita bergantian naik unta. Di Perang Uhud, kita hanya punya satu kuda yang dinaiki Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau membantu siapa saja di antara kami yang tertinggal. Ketahuilah, orang paling taat kepada Allah ialah orang yang benci kemaksiatan. Taatlah lepada Allah dan perintahkan anak buahmu taat kepada-Nya.” (Diriwayatkan Ath-Thayalisi).
Ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala itu tidak dikhususkan kepada sembarang orang. Kemenangan dan kekalahan punya sebab-sebab tertentu. Siapa dikehendakinya Allah Ta’ala punya sebab-sebab pembawa kemenangan, ia ditolong Allah Ta’ala. Dan. Siapa tidak dikehendaki-Nya punya sebab-sebab pembawa kemenangan, maka silakan menyalahkan diri sendiri, Allah Ta’ala berfirman,

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kosong kalian dan tidak menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya ia diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (An-Nisa’: 123).

Jika gerakan dakwah ingin menang atas musuh-musuhnya, maka gerakan tersebut harus menyiapkan sebab-sebab kemenangan, sebagaimana dulu dilakukan generasi sahabat dan generasi tabi’in. Jika kita kaji sebab-sebab pembawa kemenangan dengan detail, maka buku ini tidak cukup. Karena itu, kita perlu mengkajinya secara global.
Di sirah diriwayatkan bahwa musuh mana pun tidak sanggup bertahan lama menghadapi sahabat-sahabat Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hingga Hireklius sekalipun. Ketika ia berada di Anthakiyah dan pasukan Romawi datang dalam keadaan kalah, ia berkata kepada mereka, “Celaka kalian. Jelaskan kepadaku tentang orang-orang yang berperang melawan kalian. Bukankah mereka manusia seperti kalian juga?” Pasukan Romawi menjawab, “Betul.” Hireklius berkata, “Siapa yang lebih banyak pasukannya; kalian atau mereka?” Pasukan Romawi menjawab, “Kami lebih banyak pasukannya beberapa kali lipat di semua tempat.” Hiraklius berkata, “Kalau begitu, kenapa kalian kalah?” Salah seorang tokoh Romawi berkata, “Karena mereka melakukan qiyamul lail, berpuasa di siang hari, menepati janji, memerintahkan hal-hal baik, melarang hal-hal munkar, dan adil sesama mereka. Sedang kita minum-minuman keras, berzina, menaiki kendaraan haram, ingkar janji, merampok, mendzalimi orang, memerintahkan hal-hal haram, melarang hal-hal yang diridhai Allah, dan membuat kerusakan di bumi.” Hiraklius berkata kepada tokoh itu, “Anda berkata benar kepadaku.” (diriwayatkan Ahmad bin Marwan Al-Malik dan Ibnu Asakir).
Dengan kecerdasannya, tokoh Romawi itu meringkas sebab-sebab pembawa kemenangan dan sebab-sebab pembawa kekalahan. Ia jelaskan bahwa pasukan Islam punya seluruh sebab pembawa kemenangan, sedang pasukan Romawi punya semua sebab pembawa kekalahan. Allah Ta’ala pun menolong siapa yang berhak ditolong dan menelantarkan siapa yang berhak ditelantarkan.
Sebab-sebab pembawa kemenangan dan kekalahan juga dijelaskan salah seorang intel Romawi yang dikirim Al-Qibqilar untuk menyelidiki kondisi kaum Muslimin. Itu terjadi setelah kedatangan Al-Qibqilar untuk menaklukan negeri-negeri Syam. Usai menjelaskan tugasnya menyelidiki kondisi kaum Muslimin, intel itu menjelaskan kepada Al-Qibqilar tentang kondisi kaum Muslimin, “Mereka biarawan-biarawan di malam hari dan pendekar-pendekar ulung di siang hari. Jika anak raja mereka mencuri maka mereka memotong tangannya dan jika ia berzina ia dirajam, untuk menegakkan kebenaran pada mereka.” Al-Qibqilar berkata kepada intelnya itu, “Jika laporanmu ini benar, maka perut bumi lebih baik bagiku dari pada berhadapan dengan mereka di atas permukaan bumi. Aku berharap Allah tidak mempertemukan aku dengan mereka, tidak me4nolongku dalam menghadapi mereka, dan tidak menolong mereka dalam menghadapi kami.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi).
Sebab-sebab pembawa kemenangan dan kekelahan juga dijelaskan salah seorang sahabat Thulaihah Al-asadi. Ketika Thulaihah Al Asadi melihat kekalahan sahabat-sahabatnya di medan perang, ia berkata, “Celaka kalian. Kenapa kalian kalah?” Salah seorang sahabatnya berkata, “Aku jelaskan kepadamu kenapa kita kalah. Setiap orang dari kita ingin sahabatnya mati lebih dulu. Lalu, kami bertemu orang-orang, di mana mereka semua ingin lebih dulu mati.” (Diriwayatkan Al-Walid bin Muslim dan Ibnu Asakir).
Sebab-sebab pembawa kemenangan dan kekalahan juga dijelaskan salah seorang intel Betrix Damaskus setelah kedatangan pasukan kaum Muslimin di salah satu wilayah Yordania. Intel itu berkata kepada Betrix Damaskus, “Aku baru saja datang dari orang-orang yang lembut. Mereka mengendarai kuda-kuda bagus. Pada malam hari, mereka biarawan-biarawan. Dan, pada siang hari, mereka pendekar-pendekar hebat. Jika Anda bicara dengan teman Anda, perkataan Anda tidak dapat dipahami teman Anda, karena suara mereka membaca Al-Qur’an dan dzikir begitu keras.” Betriz Damaskus menoleh kepada para pengikutnya, lalu berkata kepada mereka, “Sesuatu dari kaum Muslimin telah datang kepada kalian dan kalian tidak mungkin sanggup menghadapinya.”
Anda tahu kaum Muslimin mengoleksi kemenangan demi kemenangan. Anda juga tahu sebab-sebab pembawa kemenangan jika Anda tahu kondisi setiap tentara mereka. Ibnu Jarir berkata di Tarikh-Nya, “Ketika kaum Muslimin tiba di Al-Madain dan mengumpulkan rampasan perang, seseorang datang dengan membawa bejana, lalu memberikannya kepada penjaga rampasan perang. Teman-teman orang itu berkata, ‘Kita tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Ini tidak ada tandingannya di tempat kami.’ Kaum Muslimin berkata kepada orang itu, ‘Apakah engkau pernah mengambil salah satu rampasan perang ini?’ Orang itu menjawab, kenapa aku sekarang datang kepada kalian.’ Kaum Muslimin melihat ada hal istimewa pada orang itu. Mereka berkata, ‘Siapa Anda?’ Orang itu menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak akan menjelaskan siapa diriku kepada kalian untuk kalian puji dan disanjung orang-orang selain kalian. Aku memuji Allah dan ridha dengan pahala-Nya.’ Kaum Muslimin menyuruh seseorang membuntuti orang itu, hingga tiba di tempat sahabat-sahabatnya. Utusan kaum Muslimin bertanya tentang siapa sebenarnya orang itu, lalu ia mendapat informasi bahwa orang itu adalah Amir bin Abdu Qais.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir).
Ibnu Jarir juga menyebutkan, “Ketika pedang Ksira, ikat pinggang, dan perhiasannya diserahkan kepada Umar bin Kahththab Radhiyallahu Anhu, maka ia berkata, “Sungguh, orang-orang yang membawa ini adalah orang-orang jujur.” Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, “Engkau tidak minta-minta, karena itu, rakyatmu juga tidak minta-minta.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir).


MARI KITA JUJUR KEPADA
ALLAH

Jika seorang hamba jujur kepada Allah Ta’ala dan ikhlas karena-Nya di dakwahnya, maka itu berpengaruh besar pada dakwahnya dan para mad’u (obyek dakwah) yang melihat dengan mata kepala mereka, merasakan dengan hati dan jiwa mereka akan kejujuran sang dai. Mereka saksikan kejujuran sang dai di jiwanya yang tenang penuhy kedamaian, ridha, dan kekhusyukan. meReka lihat kejujurannya di wajahnya. Kedua matanya jujur. Begitu juga lidah dan kedua mulutnya. Senyumnya dan raut muka wajahnya jujur. Mereka melihat kewibawaan, cahaya, dan pesona, di wajah sang dai yang jujur. Mereka juga menyaksikan kekhusyukan dan ketenangan di sekujur tubuh dai yang jujur. Bahkan, saat lawan pun ketika melihat wajah dai yang jujur pasti berkata, “Dai ini jujur.” Ia berkata seperti itu, padahal belum pernah mendengar perkataan sang dai dan berdialog dengannya. Hal ini terjadi pada seseorang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, lalu berkata, “Apakah betul, engkau Muhammad bin Abdullah?” Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Orang-orang biasa memanggilku seperti itu.” Orang itu berkata, “Wajah seperti ini bukan wajah pembohong.”
Akhi, jika Anda mendapatkan warisan kejujuran, keikhlasan, dan keimanan, dari Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, dalam jumlah besar, Anda beruntung.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mewariskan uang. Tapi, beliau mewariskan dakwah yang harus disampaikan dan ilmu yang perlu Anda jadikan pedoman untuk men-tarbiyah diri sendiri dan orang lain. Beliau juga mewariskan petunjuk, ketakwaan, keimanan, kekhusyukan, keikhlasan, dan keyakinan. Jika Anda mendapatkan warisan itu semua dalam jumlah besar, maka manusia akan mendapatkan petunjuk melalui perantaraan Anda, denga cara yang paling mudah dan sederhana. Kadang, ada orang langsung komitmen dengan Islam dan mengamalkannya, lantaran melihat Anda. Kadang, ada orang lain mendapatkan petunjuk, hanya karena pernah duduk beberapa menit dengan Anda. Atau orang lain mendapatkan petunjuk, hanya karena is mengucapkan salam kepada Anda, lalu Anda membalas salamnya, atau karena Anda makan bersamanya, atau Anda tersenyum kepadanya. Atau ada orang lain mendapatkan petunjuk melalui perantaraan Anda, hanya karena duduk dengan Anda selama satu jam atau kurang dari satu jam, di perjalanan.
Tidakkah Anda lihat Addas, mantan budak Utbah bin Rabi’ah, masuk Islam di depan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, setelah mendengar dua kalimat yang keluar dari mulut beliau? Dua kalimat itu ialah, “Bismillah.” Itu diucapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum membentangkan tangan untuk menerima setandan anggur yang dibawa Addas untuk beliau. Ketika Addas tahu beliau itu nabi, Addas langsung mencium dua tangan dan dua kaki beliau, lalu masuk Islam. (Diriwayatkan Ibnu Ishaq dan Abu Nu’aim).
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meletakkan tangan di dada pemuda yang ingin berzina dan minta beliau mengizinkannya. Setelah beliau mengangkat tangan dari dadanya dan mendoakannya agar menjadi orang baik-baik, maka zina menjadi sesuatu yang paling dibenci pemuda itu, padahal sebelumnya merupakan sesuatu yang paling digemarinya. (Diriwayatkan Ahmad).
Hal yang sama terjadi pada orang musyrik yang datang dari Makkah menuju Madinah untuk membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena termakan provokasi Shafwah bin Umaiyyah. Sesudah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercerita kepadanya tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Shafwan bin Umaiyyah, orang musyrik itu berkata, “Aku bersaksi engkau utusan Allah.” (Diriwayatkan Ibnu Ishaq dan Ath-Thabrani).
Banyak orang melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu mencintai beliau setengah mati. Sesudah itu, mereka rela berkorban dengan apa saja, baik sesuatu yang mahal atau murah, dan jiwa, sebagai tumbal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Ya jika Anda mendapatkan warisan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam jumlah besar, Anda punya pengaruh besar dalam hal ini. Misalnya, dengan melihat wajahmu, orang lain mendapat petunjuk. Atau doamu kepada seseorang mampu merubah kondisinya menjadi lebih baik. Bahkan, senyuman Anda tanpa harus berbicara dengan obyek dakwah selama berjam-jam atau berhari-hari untuk menjelaskan fikrah Anda kepadanya atau menerangkan pendapat Anda tentang berbagai masalah penting, tapi, dalam beberapa detik, senyuman Anda mampu memasukkan sebagian petunjuk Anda dan warisan kenabian yang memenuhi hati Anda ke hati obyek dakwah dan batrei iman mengisi batrei imannya yang kosong.
Jika jatah warisan seseorang dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam semakin banyak, maka aroma keimanan, keikhlasan dan kejujurannya semerbak ke mana-mana. Tidak terbatas pada tempat ia berada atau waktu hidupnya sekarang, namun pengaruhnya tetap ada pada generasi-generasi mendatang.
Bukankah ucapan orang-orang seperti Mush’ab bin Umair, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khathtab, Abu Bakar, dan sahabat-sahabat lain, itu tidak henti-hentinya berkumandang di telinga berbagai generasi, termasuk generasi sekarang, hingga Allah Ta’ala mewarisi bumi beserta isinya? Padahal, mereka sekarang berada di kuburan masing-masing.
Bukankah kita hidup dengan hati dan seluruh perasaan kita bersama Khalid bin Walid Radhiyallahu Anhu ketika membaca biografinya? Kita merasakan detik-detik bigrafi tersebut dan seperti hidup bersamanya di medan perang, berperang dan berjihad bersamanya? Bukankah sekedar membaca buku-buku sirah itu menumbuhkan semangat jihad di hati, membuat seseorang menikmati mati syahid di jalan Allah Ta’ala, rindu bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat? Apa rahasia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hingga punya pengaruh begitu mendalam di jiwa? Itu baru dengan membaca sirah beliau. Bagaimana kalau kita melihat beliau dan berperang di bawah panji beliau?
Waktu empat belas abad tidak mampu menghapus pengaruh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sepertinya, beliau masih hidup, berperang di atas kuda, menyerang Persia dan Romawi.
Begitu juga, jika kita membaca biografi Umar bin Abdul Aziz cucu, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, maka kita khusyuk, menangis, dan hidup bersamanya. Seolah-olah, ia masih hidup; kita duduk dan bicara dengannya. Lalu, kita ingin membaca biografinya lagi, hingga berkali-kali, tanpa jenuh.
Mereka dan orang-orang yang sejalan dengan mereka adalah orang-orang yang namanya dibuat harum oleh Allah Ta’ala di dunia. Kendati mereka berada di kuburan, mereka dai kepada kebenaran dan petunjuk ke jalan lurus. Banyak generasi mendapatkan petunjuk melalui perantaraan mereka sesudah mereka meninggal dunia, sebagaimana generasi dulu mendapatkan petunjuk melalui meraka saat mereka hidup. Allah Ta’ala berkehendak memuliakan wali-wali-Nya, baik mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia, di dunia dan di akhirat. Ini karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepasa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Saya berdoa kepada-Nya, semoga kita mendapatkan sebagian karunia itu, meskipun sedikit. Akhi, kejar karunia ini dengan serius, niscaya Anda mendapatkannya. Siapa tidak memperolehnya dan gagal mencapai tingkatan ini, ia kehilangan banyak kebaikan.
Jika seseorang jujur kepada Allah Ta’ala dan ikhlas dalam upayanya menegakkan agama, otomatis ia jujur dalam segala hal. Ia tidak hanya jujur dalam perbuatan, perkataan, organ tubuh, jihad, dan dakwahnya. Pedang, senjata, dan perbekalannya pun ikut jujur.
Ini seperti disebutkan di sirah bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di rumah dari Perang Uhud, beliau menyerahkan pedang beliau kepada putri beliau, Fathimah Radhiyallahu Anhu. Beliau berkata kepada Fathimah, “Cucilah darah di pedang ini, hai putriku. Demi Allah, pedang ini jujur kepadaku di Perang Uhud.” Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah dan berkata kepadanya, “Tolong, cuci darah di pedang ini. Demi Allah, pedang ini jujur kepadaku di Perang Uhud.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, “Jika engkau jujur ketika perang, Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah juga jujur sepertimu.” (Diriwayatkan Ibnu Hisyam).
Pedang itu jujur, karena kejujuran pemiliknya. Ya, pedang itu tergantung siapa yang memegangnya. Saya tertarik dengan penyair yang berkata,

“Pedang Shalahuddin hanyalah batang kayu
Dan hati Shalahuddin, hamba yang membutuhkan ampunan Allah
Pedang Ali bin Abu Thalib, Abu Dujanah, dan Sahlbin
Hunaif berbeda dengan pedang-pedang lain
Sungguh, pedang-pedang itu mendapatkan kejujuran
Dan keikhlasan dari pemiliknya
Begitu juga pedang Shalahuddin
Sekarang, bisa jadi kita punya pedang
Tapi, kita tidak menemukan orang-orang sekaliber
Mereka yang menjadikan pedang itu jujur.”

Senapan di tangan orang seperti Khalid (penembak Anwar Sadat) dan orang-orang semisalnya tentu berbeda dengan senapan mana pun, kendati seluruh senapan itu berasal dari satu pabrik. Dan, peluru yang keluar dari mereka berbeda dengan peluru yang keluar dari orang-orang selain mereka.
Tidakkah Anda baca peluru jujur yang dilepaskan mujahid paling lemah dari jarak cukup jauh, tapi mengenai leher komandan musuh? Peluru jujur tersebut keluar dari senapan jujur, yang dibawa orang jujur kepada Allah Ta’ala dan ikhlas karena-Nya. Begitu juga peluru lain yang dilepaskan mujahid lain dan mengenai salah satu komandan lawan. Ketika itu, para dokter, tentara-tentara terluka, bahkan ahli bedah terpengarah kaget dengan peluru itu. Mereka menyimpulkan peluru tersebut bukan peluru biasa yang kita kenal, bahkan peluru jenis khusus! Mereka sampai seperti itu, karena keterperangahan mereka. Bagaimana satu peluru dapat menimbulkan luka sedemikian besar dan memecahkan tulang? Sungguh, itu peluru jujur, yang keluar dari senapan jujur dan dibawa orang yang jujur kepada Allah Ta’ala dan ikhlas karena-Nya.
Sekarang, kita punya pedang, tapi, kita tidak punya orang-orang seperti Ali bin Abu Thalib, Khalid bin Al-Walid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Amir bin Al-Ash, dan Ikrimah bin Abu Jahal! Kita punya pedang, tapi mana orang seperti Shalahuddin Al-Ayyubi? Hati seperti Shalahuddin Al-Ayyubi? Keikhlasan dan kezuhudan dan Shalahuddin Al-Ayyubi? Kita punya senjata, tapi mana orang-orang seperti Khalid dan teman-temannya, kezuhudan, kejujuran, kaikhlasan, kewara’an, dan tawadhu’ mereka. Dikatakan kepada seseorang, “Tolong lakukan ruqyah menjawab, “Surat Al-Fatihah sih ada, tapi mana orang seperti Umar bin Khaththab?”
Pedang tidak jujur, kecuali dibawa orang jujur. Pedang tidak ikhlas, kecuali orang yang berjihad dengannya itu orang ikhlas. Pedang tidak berpengaruh kuat pada musuh-musuh Allah Ta’ala, kecuali jika dibawa wali-wali-Nya sejati. Pedang tidak berakhlak, kecuali jika pemegangnya berada di atas manhaj Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan akhlak beliau. Saya tertarik dengan perkataan Musthafa Shadiq Ar-Rafi’I, yang kesimpulannya, “Akhlak tidak hanya milik kaum Muslimin. Pedang mereka pun juga punya akhlak. Tidakkah Anda lihat pedang-pedang mereka itu tidak membunuh anak-anak, orang lanjut usia, wanita, dan orang tua renta? Juga tidak memotong pohon dan kurma?” Anda betul, wahai Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i. Pedang-pedang kaum Muslimin tidak hanya membunuh kesombongan, ujub, riya’, kepongahan, dan pembangkangan, namun juga bertempur karena mencintai Allah Ta’ala’ meninggikan kalimat-Nya, dan menegakkan supremasi Islam, hingga perkataan orang-orang kafir menjadi rendah dan yang tinggi hanyalah perkataan Allah Ta’ala.
Jika seseorang jujur kepada Allah Ta’ala, dakwah, jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar yang ia jalankan, maka itu berpengaruh kuat di seluruh aspek kehidupannya. Tidak hanya berpengaruh pada pedang dan senjatanya. Tapi, apa saja akan ikut jujur bersamanya, hingga hewan kendaraannya sekalipun, yang ia naiki, gunakan untuk berjihad, dan pindah dari satu tempat ke tempat lain di jalan Allah Ta’ala, guna menegakkan panji-Nya dan menyebarkan agama-Nya. Sepertinya, kejujuran pindah darinya kepada hewan kendaraannya atau mobil yang ia pakai di jalan-Nya.
Jika Anda ingin tahu hal ini lebih jelas lagi, silakan baca tentang Al-Asyqar, kuda Khalid bin Al-Walid Radhiyallahu Anhu. Seseorang berkata kepada Khalid bin Al-Walid, “Pasukan Romawi begitu banyak, sedang pasukan kaum Muslimin sangat sedikit.” Khalid bin Al-Walid berkata, “Betapa sedikitnya pasukan Rimawi dan begitu banyaknya pasukan kaum Muslimin. Pasukan itu menjadi banyak dengan kemenangan dan menjadi sedikit dengan kekalahan, bukan dengan jumlah pasukan. Demi Allah, aku ingin Al-Asyqar sembuh dari sakitnya dan senjata mereka menjadi lemah.” Ketika itu, Al-Asyqir, kuda Khalid bin Al-Walid, berjalan tanpa sepatu. (Diriwayatkan Ibnu Jarir).
Al-Asyqar, kuda Khalid bin Al-Walid, tahu kejujuran di jihad dari pemiliknya. Keduanya sudah sering bertempur bersama. Keduanya juga sering melintasi perjalanan beribu-ribu mil dalam rangka jihad di jalan Allah Ta’ala. Bahkan, Khalid bin Al-Walid telah melewati Persia dan Romawi dengan mengendarai Al-Asyqar, pindah dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kemenangan ke kemenangan lain, tanpa bosan dan istirahat. Ia melewati masa-masa sulit dengan Al-Asyqar, berjalan dengannya siang-malam, mengarungi padang pasir, dan mengalahkan jagoan lawan. Maka, tak heran kaki Al-Asyqar menipis, karena terlalu sering berjalan. Khalid bin Al-Walid menghancurkan Persia dan Romawi, mungkin sekarang Amerika Serikat dan Rusia, di atas Al-Asyqar. Karena kejujuran Al-Asyqar dengan Khalid bin Al-Walid, maka Khalid bin Al-Walid berharap Al-Asyqar sembuh dari sakitnya, kendati misalnya jumlah pasukan Romawi bertambah banyak! Karena banyaknya pasukan Romawi tidak berarti apa-apa di depan kejujuran Al-Asyqar di jihad. Begitulah kuda dan unta kaum Muslimin ketika itu.
Para sahabat berkata, “Al-Qashwa’ (kuda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) tidak mau beranjak.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Al-Qashwa’ tidak mau beranjak bukan karena itu perilakunya. Ia tidak mau beranjak, karena di tahan oleh Dzat yang menahan gajah.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad).
Sebaliknya, jika kejujuran seseorang kepada Tuhannya minim, kemaksiatan dan dosanya banyak, maka itu berpangaruh pada segala hal, hingga hewan kendaraannya sekalipun. Sungguh benar salah seorang generasi salaf yang berkata, “Aku bermaksiat kepada Allah, lalu efeknya aku lihat pada istri dan hewan kendaraanku.”


JAUHI MAKSIAT

Sebagian ikhwah aktivis Islam menduga Allah Ta’ala akan mentolerirnya jika ia bermaksiat, sebab ia iltizam dengan Islam dan masuk dalam barisan aktivis Islam. Oleh sebab itu, maksiat itu perkara sepele dalam pandangan matanya. Terutama, jika ia sudah sekian tahun beriltizam dengan Islam dan kehilangan semangat religiusnya, karen satu dan lain hal yang tidak bisa disebutkan di sini. Jika ia menganggap sepele maksiat atau syubhat, maka ia dapati hukuman Allah Ta’ala cepat mengenai dirinya. Ia pun kaget, tidak habis pikir. Bisa jadi, sekarang ia mengerjakan salah satu dosa, lalu beberapa jam kemudian, ia merasakan akibatnya. Ia bingung ketika itu. Ia berkata kepada dirinya, “Dulu, aku mengerjakan ratusan dosa seperti dosa ini, bahkan dosa lebih besar lagi sebelum beriltizam dengan Islam, tapi aku tidak mendapatkan hukumannya. Kini, hukuman terasa cepat sekali, langsung, dan berat.” Jika aktivis Islam ini tahu agamanya dengan baik, ia pasti tahu bahwa Allah Ta’ala sangat cemburu jika hal-hal yang Dia haramkan dikerjakan orang. Dia lebih cemburu lagi jika hal-hal terlarang itu dikerjakan wali-wali-Nya, yang notabene orang-orang dekat-Nya dan orang-orang yang layak jauh dari maksiat.
Orang-orang yang mengemban risalah Islam harus lebih bertakwa kepada Allah Ta’ala, jauh dari dosa-dosa kecil, syubhat, dan dosa-dosa besar. Mereka melarang orang lain mengerjakan hal-hal haram, kenapa mereka malah mengerjakannya? Ini fitnah pada masyarakat awam jika sampai mereka tahu –dan mereka pasti tahu dan aktivis tersebut tidak lagi menjadi figur panutan, padahal semestinya ia harus menjadi tokoh panutan. Karena itu dan sebab-sebab lain, Allah Ta’ala berfirman,

“Jika kalian menyimpang sesudah kepada kalian bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Al-Baqarah: 209).

Para aktivis Islam di-hisap Allah Ta’ala dengan lebih berat dan sulit, daripada orang-orang lain. Setiap aktivis harus tahu bahwa antara Allah Ta’ala dengan siapa pun, kendati jabatannya tinggi, itu tidak ada hubungan kekerabatan. Allah Mahaadil dan Hakim adil.
Setiap aktivis Islam harus mengingatkan dirinya, dengan firman Allah Ta’ala,

“(Pahala dari Allah) itu bukan menurut angan-angan kosong kalian dan tidak menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (An-Nisa’: 123).

Ayat di atas dianggap sebagian sahabat sebagai ayat paling berat. (Diriwayatkan Ibnu Abu Hatim). Sedang saya menganggapnya ayat yang paling menakutkan orang Mukmin dan membuat bulu romanya berdiri.
Ayat di atas bicara kepada para sahabat. Siapa mereka? Bagaimana dengan kita, yang kebaikannya campur aduk dengan keburukan? Ayat di atas lonceng bahaya, yang ditabuh untuk menyadarkan setiap aktivis Islam. Ya, standar keadilan itu tidak hanya mengenai seseorang, setinggi apa pun martabatnya. Bal’am bin Baura’ tahu nama terbesar Allah Ta’ala, seperti kata orang. Namun, ketika ia bermaksiat kepada-Nya, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika Anda bawa maka ia menjulurkan lidahnya dan jika Anda biarkan maka juga menjulurkan lidahnya.
Dosa dan maksiat itu sumber petaka. Petaka terjadi karena dosa dan hilang karena taubat. Seorang syaikh berputar-putar di salah satu majlis, lalu berkata, “Siapa ingin selalu sehat, ia harus bertakwa kepada Allah.” Di sebutkan di hadits mulia,

“Seorang hamba diharamkan mendapatkan rizki karena dosanya.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dan Ahmad)

Seorang generasi salaf berkata, “Aku anggap sepele sesuap makanan, lalu aku memakannya. Sekarang, aku kembali ke belakang sejak empat puluh tahun yang silam.”
Sandal Abu Utsman An-Nisaburi putus dalam perjalanannya untuk shalat Jum’ah dan ia butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Ia berkata, “Sandalku putus, karena aku tidak mandi hari Jum’at.”
Ibnu Al-Jauzi berkata, “Di antara keajaiban hukuman di dunia ialah setelah tangan-tangan dzalim saudara Nabi Yusuf bereaksi dan Nabi Yusuf dibeli dengan harga murah, maka tangan-tangan mereka menengadahkan tangan dan meminta-minta, ‘Bersedekahlah kepada kami’.”
Kadang, hukuman itu tidak terlihat. Misalnya, seseorang melihat sesuatu yang diharamkan Allah Ta’ala. Akibatnya, cahaya hati nuraninya bermasalah.
Atau ia tidak mengendalikan lidahnya, lalu hatinya tidak lagi jernih. Atau lebih senang dengan makanan syubhat. Akibatnya, hatinya gelap, ia tidak bisa mengerjakan qiyamul lail, dan munajat.
Maksiat itu melahirkan maksiat yang sama. Jika maksiat sering dikerjakan, maka terjadi akumulasi maksiat.
Kadang, pelaku maksiat melihat tubuhnya segar bugar, hartanya banyak, dan tidak ada masalah dengan keluarganya. Ia mengira tidak dihukum, padahal ketidaktahuannya kalau ia sedang dihukum merupakan hukuman. Ya, sesuatu yang manis baginya berubah menjadi pahit, lalu yang ada adalah pahitnya penyesalan, kesedihan, dan kecemasan.
Diriwayatkan, seorang rahib Bani Israel bermimpi bertemu Allah Ta’ala. Ia berkata, “Tuhanku, aku bermaksiat kepada-Mu, tapi Engkau tidak menghukumku.” Allah berfirman, “Aku sudah sering menghukummu, tapi engkau tidak tahu. Bukankah Aku telah membuatmu tidak lagi dapat bermunajat kepada-Ku dengan manis?”
Kadang, di antara efek maksiat ialah Allah Ta’ala membuat seseorang dibenci manusia dan mereka menolak dakwahnya, karena sebab-sebab yang tidak jelas. Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu berkata, “Jika seseorang bermaksiat kepada Allah ketika sendirian, Allah membuatnya dibenci manusia, tanpa ia sadari.”
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah meringkas efek-efek maksiat di bukunya berjudul Al-Fawaid, dengan indah. Ia berkata, “Di antara efek maksiat ialah pelakunya tidak banyak mendapatkan petunjuk, pikirannya kacau, ia tidak melihat kebenaran dengan jelas, hatinya rusak, daya ingatnya lemah, waktunya hilang sia-sia, dibenci manusia, hubungannya dengan Allah renggang, doanya tidak dikabulkan, hatinya keras, keberkahannya di rizki dan umurnya musnah, diharamkan mendapatkan ilmu, hina, dihinakan musuh, dadanya sesak, diuji dengan teman-teman jahat yang merusak hati dan menyia-nyiakan waktu, cemas berkepanjangan, sumber rizkinya seret, dan hatinya terguncang Maksiat dan lalai membuat orang tidak bisa dzikir kepada Allah, sebagaimana tanaman tumbuh karena air dan kebakaran terjadi karena api.”
Ditanyakan kepada seorang generasi salaf, “Apakah pelaku maksiat itu merasakan manisnya ketaatan?” Orang salaf itu menjawab, “Tidak. Orang yang ingin bermaksiat juga tidak merasakannya.”
Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata, “Siapa merenungkan kehinaan saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mereka berkata, ‘Bersedekahlah kepada kami.’ Maka ia tahu betapa dosa itu menghinakan, kendati mereka telah bertaubat. Sebab orang yang pakaiannya utuh. Tulang yang pernah patah itu tidak dapat pulih seperti sediakala. Kalaupun bisa pulih, tulang tersebut lemah.”
Akhi, aktivis Islam, jauhi dosa yang disepelekan. Sebab, dosa bisa membakar satu negara. Hai orang yang berdosa berkali-kali, cobalah pikirkan apa yang membuat Anda berdosa?


KEMAKSIATAN ANDA BERPENGARUH
PADA GERAKAN DAKWAH

Kadang, petaka kemaksiatan seorang aktivis Islamatau sejumlah aktivis melebar mengenai gerakan dakwah, atau menimpakan kekalahan kepadanya, atau menyebabkannya mendapatkan ujian berat. Apalagi, jika kemaksiatan itu tergolong dosa besar, atau dikerjakan level qiyadah (pemimpin), atau dilakukan figur panutan, atau tidak dicegah secara maksimal oleh gerakan dakwah, atau taubat darinya bukan taubat nashuhah. Mahabenar Allah ketika berfirman,

“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kalian.” (Al-Anfal: 25)

Jika kita kaji Perang Uhud, kita temukan sebab kekalahan kaum Muslimin di dalamnya ialah indispliner sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4%, dari jumlah total pasukan kaum Muslimin ketika itu. Apa akibatnya? Tujuh puluh sahabat terbunuh, perut mereka dibelah, hidung dan telinga mereka dipotong-potong, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terluka, wajah beliau terluka, dan gigi antara gigi seri dengan gigi taring beliau tercabut. Kendati demikian, Allah Ta’ala memaafkan mereka, seperti dijelaskan Al-Qur’an,

“Dan sesunggunya Allah memaafkan kalian.” (Ali-Imran: 152).

Seseorang berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Bagaimana Allah memaafkan para pemanah, padahal tujuh puluh sahabat terbunuh?” Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Kalau sekiranya Allah tidak memaafkan mereka, tentu Dia menghabisi mereka semua.”
Itu semua akibat kemaksiatan, seperti dijelaskan Allah Ta’ala,

“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (di Perang Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (di Perang Badar) kalian berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini? ‘katakan, ‘Itu dari diri kalian sendiri”.” (Ali-Imran: 165).

Allah Ta’ala berfirman,

“Pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai.” (Ali-Imran: 152).

Masalah ini juga terlihat dengan jelas di Perang Hunain. Di awal perang, kaum Muslimin kalah, akibat sebagian dari mereka terlalu bangga dengan jumlah pasukan dan senjata, serta lupa kalau kemenangan datang dari Allah Ta’ala. Orang-orang yang bangga dengan jumlah pasukan dan senjata ketika itu orang-orang yang baru masuk Islam. Seorang dari mereka berkata, “Hari ini kita tidak kalah oleh pasukan yang jumlah tentaranya sedikit.” Akibat ujub seperti ialah seperti dijelaskan Al-Qur’an.

“Dan (ingatlah) Perang Hunaian, yaitu di waktu kalian congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).

Akhi, aktivis Islam, renungkan baik-baik firman Allah Ta’ala,

“Dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).

Saya katakan, gerakan dakwah yang ingin menegakkan agama di atas bumi itu harus lebih serius memberants kemungkaran di internal mereka, daripada kemungkaran di eksternal mereka. Sebab, jika mereka sukses memperbaiki kondisi internal mereka, mereka lebih sukses membenahi kondisi eksternal mereka. Bahkan, saya tegaskan, mereka tidak sukses memperbaiki kondisi eksternal sebelum mereka sukses membenahi kondisi internal mereka.
Sebelum mengakhiri pembahasan tentang kemasiatan, saya ingin menggarisbawahi masalah penting, yaitu kemaksiatan-kemaksiatan yang saya maksud ini bukan hanya kemaksiatn-kemaksiatan yang terlihat, tapi mencakup kemaksiatan-kemaksiatan batin, yang tidak terlihat. Kadang, kemaksiatan-kemaksiatan batin, misalnya riya’,ujub, dengki, ambisi jabatan, dan sombong itu lebih membahayakan, daripada kemaksiatan-kemaksiatan yang terlihat. Sebab, sesuatu yang tidak terlihat itu seperti kanker, yang menyebar secara cepat di tubuh dan menghancurkannya tanpa sakit dan tanda-tanda yang bisa dirasakan orang yang bersangkutan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kecuali, setelah beberapa waktu, di mana ketika itu, dokter sudah tidak dapat berbuat apa-apa dan obat juga tidak berguna lagi. Bukankah kekalahan kaum Muslimin di Perang Hunain disebabkan kemaksiatan yang tidak terlihat, yaitu ujub? Biasanya, orang yang bukan pakar sulit mendeteksi penyakit-penyakit batin, apalagi yang bukan pakar!
Hendaklah gerakan dakwah mewaspadai seluruh kemaksiatan. Para qiyadah-nya harus membersihkan hati mereka dan berusaha semaksimal mungkin membersihkan hati kader-kader mereka, dengan segala sarana yang disyariatkan Islam dan tulis di banyak buku. Mereka mesti tahu bahwa tindakan prefentif lebih baik dari tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan prefentif lebih baik daripada berjuta-juta uang untuk biaya kuratif. Mereka juga harus tahu bahwa terapi dan tindakan prefentif paling penting untuk mengatasi penyakit-penyakit batin ialah para tokoh dan figur panutan di gerakan dakwah hendaknya paling taat kepada Allah Ta’ala, hati dan organ tubuh mereka bersih dari segala syubhat, dosa-dosa kecil, dan dosa-dosa besar, baik dosa-dosa yang terlihat maupun tang tidak trelihat. Rakyat itu menurut perilaku penguasa mereka dan mengikuti pemimpin mereka, wallahu a’lam.


BERBAKTI PADA ORANG
TUA ITU WAJIB

Ada hakikat syar’i yang sudah diketahui seluruh ikhwah aktivis Islam tanpa kecuali, yaitu berbakti kepada kedua orang itu kewajiban agama paling penting dan durhaka kepada keduanya dosa besar. Mereka juga tahu wasiat yang disebutkan Al-Qur’an secara berulang-ulang dan mendorong mereka berbuat baik kepada kedua orang tua serta peringkat berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih tinggi dari peringkat perintah untul adil. Bahkan, Allah Ta’ala menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepada-Nya, di firman-Nya,
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’: 23).

Allah Ta’ala melarang seseorang berkata kepada salah seorang dari kedua orang tuanya, “Ah,” apalagi perkataan lebih dari itu.
Faktanya, masih ada sebagian aktivis yang belum lama beriltizam dengan Islam tidak menunaikan kewajiban ini, berbakti kepada orang tua, dengan baik. Mereka bukan saja tidak berbuat baik kepada orang tuanya. Lebih dari itu, mereka tidak adil terhadap keduanya, bahkan durhaka kepada keduanya. Kadang, ada aktivis Islam yang berkata kasar kepada ayahnya, atau menginggikan suara di atas suara ayahnya, atau tidak taat kepadanya dalam hal-hal wajib dan mubah, atau mengumpat ibunya, atau membentak dan mencelanya.
Khusus untuk mereka, saya katakan, sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua itu kewajiban agama, seperti halnya kewajiban berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan shalat. Dan, durhaka kepada orang tua itu dosa besar dan tidak lebih kecil dosanya dari dosa zina, mencuri, dan dosa-dosa besar lainnya. Bisa jadi, durhaka kepada kedua orang tua lebih berat bobotnya daripada dosa-dosa besar. Akhi, kenapa Anda memilah-milah Islam? Anda terima sebagian ajarannya dan tolak sebagian lain? Padahal, Anda lantang mengecam orang-orang sekuler, dengan berkata keras kepada mereka,

“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian lain?” (Al-Baqarah: 85).

Kenapa Anda melarang sesuatu, lalu Anda sendiri mengerjakannya? Seorang penyair berkata,

“Anda jangan melarang salah satu akhlak, kemudian Anda mengerjakan kebalikannya Ini aib besar jika Anda lakukan.”

Ingatlah bahwa Islam memuliakan orang tua, hingga pada taraf membolehkan Anda membatalkan shalat sunnah, untuk menjawab panggilan ibu atu ayah Anda. Itu terjadi jika salah sati dari keduanya memanggil Anda, tapi Anda sedang shalat sunnah.
Anda harus ingat kisah Juraij,ahli ibadah Bani Israel, dengan ibunya, seperti dikisahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

“Juraij orang ahli ibadah. Ia membangun biara dan menetap di sana. Pada suatu hari, ibunya datang ke biaranya, tapi ia sedang shalat. Ibunya berkata, ‘Juraij!’ Juraij berkata, ‘Tuhanku, ibuku memanggilku, tapi aku sedang shalat?’ Juraij memilih meneruskan shalatnya, lalu ibunya pulang. Besoknya, ibu Juraij datang lagi, tapi lagi-lagi Juraij sedang shalat. Ibunya memanggil, ‘Juraij!’ Juraij berkata, ‘Tuhanku, ibuku memanggilku, tapi aku sedang shalat?’ Juraij memilih meneruskan shalatnya, karena itu, ibunya memilih pulang. Esoknya, ibu Juraij datang lagi, tapi Juraij sedang shalat seperti dua hari sebelumnya. Ibu Juraij memanggil, ‘Juraij!’ Juraij berkata, ‘Tuhanku, ibuku memanggilku, tapi aku sedang shalat?’ Juraij lebih senang meneruskan shalatnya. Karena kesal, ibu Juraij berkata, ‘Ya Allah, jangan matikan Juraij, sebelum ia melihat wajah pelacur.’

Suatu ketika, orang-orang Bani Israel ngobrol membahas Juraij dan ibadahnya. Saat itu, ada wanita cantik sekali dan tidak ada tandingannya ketika itu. Wanita itu berkata, ‘Jika kalian mau, aku sanggup menggoda Juraij.’ Lalu, wanita itu menemui Juraij, tapi Juraij tidak bergeming untuk melihatnya. Setelah itu, wanita itu pergi menemui penggembala yang biasa tinggal di biara Juraij, lalu menggodanya. Penggembala itu pun menggauli si wanita, lalu si wanita hamil. Usai melahirkan anaknya, wanita itu berkata, ‘Ini anak Juraij.’ Orang-orang Bani Israel mendatangi Juraij, menyuruhnya turun, menghancurkan biaranya, dan memukuli Juraij. Juraij berkata, ‘Apa-apaan ini?’ Orang-orang Bani Israel menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini, hingga ia melahirkan anak.’ Juraij berkata, ‘Mana si jabang bayi?’ Orang-orang Bani Israel mendatangkan si bayi kepada Juraij, lalu Juraij berkata, ‘Izinkan aku shalat.’ Juraij pun mengerjakan shalat. Usai shalat, Juraij datang ke tempat bayi dan menekan perutnya, dengan berkata, ‘Nak, siapa sebenarnya ayahmu?’ Si bayi menjawab, ‘Penggembala itu.’ Orang-orang Bani Israel langsung menciumi Juraij dan berkata, ‘Kami akan membangun biara dari emas untukmu.’ Juraij berkata, ‘Tidak usah. Bangunlah biara dari tanah seperti sebelumnya.’ Mereka pun mengerjakan perintah Juraij.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Juraij mengerjakan salah satu shalat sunnah dan menolak membatalkannya, untuk menjawab panggilan ibunya. Ia menduga meneruskan shalatnya itu lebih baik, daripada menjawab panggilan ibunya dan berbakti kepadanya. Hal itu dikerjakan Juraij, hingga tiga kali di hari yang berbeda. Pada ketiga kejadian itu, Juraij tidak menjawab panggilan ibunya. Karena itu, ibunya mendoakan keburukan untuknya. Allah Ta’ala mengabulkan doa ibunya, untuk mengajarinya pelajaran penting tentang urutan skala prioritas dalam agama Allah Ta’ala. Juga untuk mengajarinya bahwa berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada keduanya itu lebih baik dan mulia dalam timbangan seorang hamba di akhirat, daripada sekedar shalat sunnah. Karena urgensi besar ini yang perlu diketahui Juraij, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkannya kepada umat beliau, sebagai bentuk yang ungkapan kasih sayang beliau kepada mereka, agar mereka, terutama orang-orang shalih, penegak agama, dan orang-orang selevel dengan Juraij, tidak melakukan kesalahan yang dulu dikerjakan Juraij. Sebab, hukuman bagi mereka lebih berat dari orang-orang yang levelnya lebih rendah dari level mereka.
Untuk ikhwah aktivis Islam yang tidak berbuat baik kepada orang tuanya juga saya katakan, ingatlah Uwais Al-Qarni, salah seorang generasi tabi’in yang pernah disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu,

“Aku datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama pasukan bantuan Yaman dari suku Murad dan Qarn. Tadinya, Uwais mengidap penyakit kusta, lalu Allah menyembuhkannya, kecuali kusta sebesar dirham. Ia punya ibu dan dan ia berbakti kepadanya. Jika ia bersumpah dengan nama Allah, maka Allah pasti mengabulkan sumpahnya. Jika engkau dapat minta dia memintakan ampunan untukmu, maka kerjakan.” (Diriwayatkan Muslim dan Abu Nu’aim).

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu selalu menanyakan kabar Uwais Al-Qarni setiapkali pasukan bantuan Yaman datang, hingga akhirnya bertemu dengannya. Ringkas cerita, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada Uwais Al-Qarni, “Mintakan ampunan untukku.’ Uwais Al-Qarni pun memintakan ampunan untuk Umar bin Khaththab.
Akhi, aktivis Islam, coba renungkan derajat tinggi yang diperoleh Uwais Al-Qarni dan betapa tingginya derajat itu! Demi Allah, jika saya menjelaskan ketinggian derajat itu di banyak halaman, maka itu tidak cukup. Cukuplah menjadi catatan kebanggan bagi Uwais Al-Qarni bahwa ia dipuji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau mengisahkan kisahnya kepada salah seorang sahabat. Bahkan, beliau menyuruh Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, yang tidak diragukan pamornya, untuk meninta Uwais Al-Qrani memintakan ampunan baginya. Apakah Anda tidak tahu Umar bin Khaththab, kedudukannya di agama Allah Radhiyallahu Anhu dan sisi-Nya? Selain itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa andai Uwais Al-Qarni bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, Dia mengabulkan sumpahnya. Lebih dari itu lagi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh para sahabat untuk meminta Uwais Al-Qrani memintakan ampunan untuk mereka jika mereka bertemu dengannya. Di salah satu riwayat versi Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Siapa di antara kalian bertemu dengan Uwais, hendaklah ia minta Uwais memintakan ampunan untuknya.” (Diriwayatkan Muslim).

Di riwayat lain disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Suruh dia memintakan ampunan untuk kalian.”

Uwais Al-Qarni mendapatkan kedudukan dan tempat setinggi itu, karena ia berbakti kepada ibunya. Mahasuci Allah. Bagaimana seandainya ayah Uwais Al-Qrani masih hidup, lalu Uwais Al-Qarni berbakti kepada keduanya? Ini tentu pelajaran berharga bagi siapa saja yang masih punya hati, telinga, dan mata.
Saya serukan kepada seluruh ikhwah aktivis Islam bahwa orang-orang yang paling berhak menerima dakwah kalian ialah orang tua, keluarga, dan sanak kerabat kalian. Apakah kalian tidak membaca firman Allah Ta’ala,

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara: 214).

Akhi, apakah Anda ingin masuk surga, sementara salah satu dari orang tua Anda masuk neraka? Apakah Anda mau disiksa pada Hari Kiamat, karena tidak mendakwahi orang tua, keluarga, dan sanak keluarga Anda, kepada kebenaran, petunjuk, dan cahaya Islam?
Saya juga menyerukan setiap aktivis Islam untuk bersikap lembut kepada seluruh manusia, lebih khusus kepada orang tua, keluarga dan sanak kerabatnya. Jika Anda melihat salah satu seorang dari orang tua Anda melakukan salah satu kemaksiatan, hendaklah Anda bersikap lembut saat mendakwahinya. Ingatlah, jika Anda melihayt kemungkaran pada orang tua Anda, maka menurut neraca syar’i, Anda hanya diperbolehkan menggunakan pilihan pertama dari tiga pilihan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Yaitu merubah kemungkaran tersebut dengan perkataan dan itu pun dilakukan dengan lembut dan tidak kasar. Anda hanya diperbolehkan tidak menaati keduanya dalam kemaksiatan. Sedang tidak menaati keduanya sepanjang hidup, hanya karena keduanya tidak mengerjakan salah satu kewajiban agama, maka itu tidak diperbolehkan. Anda harus taat kepada kedua orang tua Anda dalam perkara mubah, sunnah, atau wajib, kendati misalnya keduanya pelaku maksiat atau kafir sekalipun. Anda harus berinteraksi dengan baik kepada keduanya, mengabdi, dan berinfak kepada keduanya jika mampu.
Anda jangan membuat kedua orang tua Anda merasa Anda remehkan atau Anda membuat keduanya merasa sebagai barang buangan di rumah, sedang Anda “raja” tunggal di dalamnya. Lalu, Anda memukul saudara-saudari Anda, karena sebab tertentu atau tanpa sebab, serta sombong kepada mereka, dengan dalih Anda ingin merubah kemungkaran di rumah!
Kadang, sikap Anda seperti itu malah menjadi kemungkaran yang lebih besar, daripada kemungkaran yang masih diperdebatkan ulama. Andai Anda mendakwahi mereka dengan benar dan berdasarkan hati nurani, serta Anda mengajarkan agama kepada mereka, maka urusannya menjadi lancar seperti Anda inginkan atau lebih lancar dari prediksi Anda sebelumnya. Kadang, Anda menemukan, ternyata ada salah satu keluarga Anda yang jauh lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Ta’ala daripada Anda.
Menurut pengalaman panjang di kehidupan, saya dapati orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tua itu tidak bertahan lama di atas kebenaran dan hanya “melangkah” beberapa langkah di salah satu gerakan dakwah. Tidak lama setelah itu, ia tergoda oleh dunia dan berjalan terlalu jauh dari dunia dakwah. Barangkali, penyebabnya, wallahu a’lam, bahwa siapa tidak punya kebaikan pada kedua orang tuanya, yang menjadi penyebab keberadaannya di dunia, maka ia tidak punya kebaikan di Islam dan gerakan dakwah. Dai dan level qiyadah di gerakan dakwah harus bertanya kepada kader-kader di bawah mereka tentang hubungan mereka dengan orang tua dan keluarga mereka, serta enjoy mengamalkan firman Allah Ta’ala,

“Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’: 23)

Sebab, jika kemaksiatan seperti maksiat durhaka kepada orang tua itu tersebar luas maka meruntuhkan gerakan dakwah secara keseluruhan, menjadi pemicu Allah Ta’ala marah kepada mereka, dan turunnya kemurkaan-Nya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari itu semua.
Alhamdulillah, dalam kehidupan sehari-hari, kita perhatikan adanya hubungan akrab dan harmonis antara ikhwah aktivis Islam dan usrah (grup) mereka masing-masing. Setiap aktivis mencintai dan menghormati saudaranya sesama aktivis. Kita juga lihat sebagian besar usrah aktivis bisa beriltizam dengan Islam dan ajaran-ajarannya, dalam tempo waktu satu atau dua tahun. Bahkan, kira perhatikan di antara anggota usrah itu ada aktivis yang lebih kuat iltizam dan komitmennya dari aktivis lainnya. Ini kelebihan yang diberikan Allah Ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Ingatlah, bukan saja aktivis Islam yang sanggup tegar di atas kebenaran. Di sini, saya ingin bersaksi dengan jujur bahwa ayah, ibu, dan istri aktivis Islam itu juga menanggung beban penderitaan di jalan Allah Ta’ala selama bertahun-tahun. Mereka menjadi teladan kesabaran, ketegaran, di atas kebenaran, danberdiri setiap hari selama berjam-jam di bawah terik sinar matahari yang membakar di musim panas dan terkena hujan di musim hujan. Mereka merasakan penderitaan dan kesulitan yang lebih berat dari yang dialami aktivis Islam. Mereka menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dan sabar berpisah dengan anak-anak dan suami mereka. Mereka rela tidak makan enak, untuk mereka berikan kepada anak-anak mereka. Kadang, sebagian dari mereka tidur dalam keadaan lapar. Mereka sabar dan mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dalam menjalani itu semua. Orang tua dan istri aktivis melakukan jihad agung, yang tidak kalah –atau malah lebih besar-dengan jihad anak-anak dan suami-suami mereka. Keteguhan dan kesabaran para orang tua dan istri aktivis berpengaruh kuat pada ketegaran anak-anak dan suami mereka di atas kebenaran dan menanggung penderitaan di jalan Allah Ta’ala.


QIYAMUL LAIL ADALAH SEKOLAH
AKTIVIS ISLAM

Sungguh aneh bin ajaib, seseorang menyandang predikat aktivis Islam, tapi tidak pernah mengerjakan qiyamul lail. Bagaimana ini bisa terjadi?
Qiyamul lail itu kebutuhan utama setiap orang Muslim. Apalagi, bagi aktivis Islam dan pengemban amanah agama yang berat; dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan menyuarakan kebenaran. Bukankah Allah Ta’ala berfirman di Al-Qur’an,

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangi dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan.” (Al-Muzzamil: 14).

Kenapa ada perintah seperti itu? Pertanyaan ini dijawab Al-Qur’an,

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan berat.” (Al-Muzzammil: 5).

Kami (Allah) akan berikan kepadamu amanah yang sulit, beban berat, dan perintah-perintah yang membutuhkan tekad kuat dan semangat tinggi. Itulah amanah yang ditolak langit dan bumi, sebab merasa tidak mampu mengembannya, lalu dibebankan di pundak manusia. Siapa sih yang mampu mengerjakan tugas-tugas dakwah, tarbiyah, amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad, tanpa bekal yang bisa ia gunakan dalam perjalanannya menuju Allah Ta’ala? Tanpa bekal, perjalanannya terhenti di separoh perjalanan dan ia mati di tempat-tempat bahaya, sebelum tiba di tempat tujuan.
Sekolah qiyamul lail adalah sekolah paling agung, tempat orang Muslim men-tarbiyah dirinya, terkenal dengan Tuhannya, memahami seluruh makna nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Qiyamul lail sekolah untuk belajar khusyuk, tunduk, merendahkan diri dan bertaubat kepada Allah Ta’ala. Karena itu, qiyamul lail masuk dalam seluruh syariat, tanpa pengecualian.
Ketahuilah wahai aktivis Islam, bahwa ketundukan Anda pada malam hari adalah kunci kebesaran Anda di siang hari, sujud Anda pada malam hari adalah jalan kemuliaan Anda pada siang hari, senjata kemenangan Anda atas musuh-musuh Anda, rahasia kesuksesan Anda di dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad Anda.
Sulaiman Al-Halbi mengerjakan qiyamul lail sebulan penuh di Masjid Al-Azhar, sebelum membunuh Cliber. Ketika mengerjakan qiyamul lail, Sulaiman Al-Halbi berdoa kepada Allah Ta’ala dengan khusyuk, agar Dia memberinya kemudahan dalam membunuh musuh-Nya, Cliber. Ketika itu, Sulaiman Al-Halbi hanya punya senjata satu pisau, tidak lebih dari itu. Allah Ta’ala memberi kemudahan kepadanya. Ia dapat membunuh Cliber, komandan perang Perancis terkenal kedua setelah Napoleon dan koman dan invasi Perancis ketika itu. Selain Cliber, banyak tentara Perancis yang terluka, termasuk aktor invasi Peracis. Itu semua dilakukan satu pahlawan Islam, di markas pasukan Perancis.
Sedang Shalahuddin Al-Ayyubi, dengan instingnya yang Islami dan sensitif, serta pemahamannya mendalam tentang Islam, ia tahu bahwa qiyamul lail itu kunci utama kemenangan atas musuh. Ia tahu qiyamul lail adalah senjata ampuh di perang dan tidak punya tandingannya pada musuh. Karena itu, jika ia berjalan melewati kemah anak buahnya pada malam hari dan melihat tidak ada yang mengerjakan qiyamul lail di dalamnya, maka ia membangunkan mereka dan memarahi mereka, dengan berkata, “Saya khawatir kita diserang musuh malam ini dari kemah ini.” Ini pemahaman tinggi tentang Islam yang agung. Shalahuddin Al-Ayyubi menganggap tidak qiyamul lail sebagai celah, yang lebih berbahaya dari celah di benteng dan musuh bisa menyerang dari celah tersebut.
Semoga Allah Ta’ala merahmatimu, wahai Khalid! Betul, kaum Muslimin tidak menang atas musuh mereka dengan senjata dan pasukan banyak. Namun, dengan agama ini, di mana mereka atas musuh dengan ketaatan mereka kepada-Nya dan kemaksiatan musuh mereka. Kunci kemenangan itu terletak di tunduk dan khusyuk kepada Allah Ta’ala.
Sejak permulaan jihad hingga bertemu Allah Ta’ala, Khalid dan rekan-rekannya mengerjakan qiyamul lail dan berpuasa di siang hari. Mereka mengerjakan qiyamul lail berjam-jam dan membaca banyak surat Al-Qur’an ketika mengerjakan qiyamul lail. Seorang dari mereka suaranya merdu ketika membaca Al-Qur’an. Ia menangis dan membuat yang lain menangis. Mereka semua teladan dalam hal qiyamul lail, puasa, dan ibadah-ibadah lain, bagi siapa saja yang kenal mereka. Siapa pun yang pernah berinteraksi dengan mereka saat itu berkomentar, “Khalid dan rekan-rekannya seperti para malaikat dalam wujud manusia.” Karena saking banyaknya ibadah dan ketinggian spiritual mereka, maka mereka seperti mendaki ke langit, sementara mereka berada di bumi. Barangkali, ini dan sebab-sebab lain kunci sukses salah satu operasi jihad di abad ini. Allah Ta’ala menjadikan mereka diterima manusia di bumi. Siapa pun mencintai Khalid dan rekan-rekannya. Bahkan, musuh-musuh harakah (gerakan) Islam menghormati Khalid dan rekan-rekannya. Mereka merasakan bahwa Khalid dan rekan-rekannya adalah karunia Allah Ta’ala untuk mereka.
Seorang ulama aktivis Islam, sesuai penglihatanku dan penglihatan aktivis lainnya, tidak pernah meninggalkan qiyamul lail satu malam pun. Setiap malam, ia mengerjakan qiyamul lail sebanyak sebelas raka’at dan meng-khatam-kan Al-Qur’an. Ia tingkatkan frekwensi ibadahnya ini pada bulan Ramadhan. Padahal, ia lanjut usia, menderita diabetis, dan lain-lain. Kita, kaum muda, menderita diabetis, dan lain-lain. Kita, kaum muda, kelelahan jika shalat di belakangnya. Itulah yang terjadi, kendati kita saat itu akan masuk rumah sakit selama beberapa hari. Ikhwah aktivis Islam yang pernah tinggal satu rumah dengannya tidak sanggup mengerjakan qiyamul lail setiap malam. Pada suatu hari, setelah ulama itu keluar dari penjara, saya berkata, “Menurut hemat saya, penyebab paling penting selamatnya ulama ini ialah ia rajin mengerjakan qiyamul lail dan berpuasa di siang hari. Padahal, ia sudah berkali-kali dilarang dokter untuk berpuasa dan mengalami kehausan yang laur biasa akibat penyakit diabetis.”
Saya berkata lagi, “Barangkali, kunci rahasia kekuatan ulama itu dalam melawan kebatilan, kemampuannya menanggung penderitaan dan siksa, padahal ia berusia lebih dari lima puluh tahun, matanya buta, dan menderita banyak penyakit, ialah ia rajin mengerjakan qiyamul lail menguatkan hati, menumbuhkan semangat tinggi, dan ketinggian di jiwa. Kadang, Anda melihat seseorang lemah dan kurus, tapi ia punya tekad yang bisa meruntuhkan gunung dan menjebol tembok. Ia punya semangat seperti itu, karena selalu tunduk kepada Allah Ta’ala, khusyuk, dan takut kepada-Nya saja.”
Setiap aktivis Islam harus menghayati sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam,

“ Penyejuk matamu diletakkan di shalat.” (Diriwayatkan An-Nasai, Ahmad, dan Al-Hakim).

Seorang generasi salaf berkata, “ Aku senang jika malam datang. Sebab, hidupku terasa hikmat dengannya dan mataku terhibur dengannya, sebab dapat bermunajat kepada Dzat, yang aku sangat suka mengabdi dan tunduk di depan-nya,”
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu membagi malamnya menjadi tiga bagian: untuk dirinya, istri, dan putrinya. Hingga ketiganya bisa mengerjakan qiyamul lail. Qiyamul lail itu hiburan setiap aktivis Islam ketika ia pun banyak masalah dan kendala, atau mendapatkan penentangan, atau menerima musibah, atau ditangkap musuh. Dengan qiyamul lail, ia dapat berdiri di depan tuhannya dan pemiliknya, yang punya segala sesuatu dan jika menghendaki sesuatu, maka cukup berfirman, “Jadilah,” maka sesuatu itu menjadi ada. Ya, ia dapat berdiri di depan Allah Ta’ala, berdoa dan berharap kepada-Nya, mengadukan segala kesedian dan kegalauan kepada-Nya, minta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya. Lalu, munajat ini menghilangkan seluruh duka dan kesediannya. Bagaimana tidak, wong ia melimpahkan urusannya kepada pemilik kerajaan, langit, dan bumi?
Setiap aktivis Islam harus tahu bahwa kekhusyukan dan ketundukannya kepada Allah Ta’ala pada malam hari itu membuka pintu segala urusan dan hati. Juga penyebab terpenting ia diterima di bumi, lalu banyak orang dapatkan petunjuk, hanya dengan sebab sepele dan sederhana. Terkadang, pada waktu tertentu, hal itu terjadi tanpa sebab. Siapa memaksimalkan waktu malamnya, ia dilindungi di siang harinya. Dan, siapa memaksimalkan waktu siang, ia dijaga pada malam hari.
Akhi, aktivis Islam, qiyamul lail itu sekolah paling bonafide, yang akan mengajari Anda berhati tipis, mentarbiyah mata Anda mengucurkan airmata taubat, ke khusyukan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Juga memberi Anda spirit baru untuk beramal demi Islam dan bekal agung, yaitu tawakkal kepada-Nya. Juga memberi Anda keberanian melawan musuh-musuh Islam. Qiyamul lail membuat hati Anda kuat dan subur dengan iman. Hati adalah raja organ tubuh dan organ tubuh adalah pasukan. Jika raja baik dan kuat, maka pasukannya kuat dan menang. Begitu juga sebaliknya. Manusia berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya, bukan dengan organ tubuhnya, seperti dikatakan ulama.
Sebagian orang berkata, “Saya sibuk menangani banyak agenda amal Islam dan tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan qiyamul lail.” Untuk mereka, saya katakan kalian harus tahu dua hal berikut:
1. Qiyamul lail adalah amal untuk Islam. Bahwa, amal utama dan kebutuhanya. Qiyamul lail itu salah satu sarana penyiapan senjata secara efektif untuk gerakan dakwah dan negara Islam.
2. Setiap aktivis harus mengerjakan qiyamul lail, kendati hanya beberapa raka’at. Jika ia punya waktu luang dan badannya sehat, ia mengerjakanya lebih lama, dengan membaca satu juz Al-Quran, misalnya, dan banyak berdoa ketika sujud, serta membaca dzikir-dzikir lainnya.
Jika ia tidak punya waktu memadahi, atau badannya kurang fit, ia mengerjakan qiyamul lail beberapa raka’at, atau mengerjakan sebelas raka’at, tapi bacaan setiap raka’atnya tidak panjang. Sedangkan ia tidak mengerjakan qiyamul lail terus-menerus atau disebagian besar malamnya, maka ini tidak benar.
Aktivis Islam harus tahu bahwa jika seluruh kader dakwah mengerjakan qiyamul lail secara rutin saat senang, susah, sibuk, dan malas, maka gerakan dakwah punya prestasi besar, mengerjakan salah satu aktivitas Islam yang agung, dan bisa jadi amal itu lebih agung dari pada amal-amal lainya.
Saya ingatkan, bahwa mengerjakan dua hal sekaligus, yaitu beramal untuk Islam dengan serius dan mengerjakan qiyamul lail secara intens, itu membutukan semangat baja dan perasaan kuat dari setiap aktivis Islam bahwa itu urgen. Setiap aktivis harus ingat perkataan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, “Jika aku tidur malam hari, maka itu berarti aku menyia-nyiakan diriku. Dan, jika aku tidur siang hari, maka berarti aku menelantarkan rakyatku.” Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu dikenal rajin mengerjakan qiyamul lail dengan maksimal, padahal ia orang super sibuk, sebab penguasa dunia ketika itu. Karena besarnya perhatian Umar bin khaththab Radhiyallahu Anhu kepada qiyamul lail maka banyak sahabat dan tabi’in ingin menirunya dan menanyakan qiyamul lail setelah ia meninggal dunia. Bahkan, ada salah seorang sahabat menikahi salah satu mantan istri Umar bin Khaththab Radiyallahu Anhu, hanya karena ingin tahu sejauh mana qiyamul lail-nya Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, lalu ia bisa menirunya.
Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, yang merupakan khalifah kaum Muslimin dan penguasa dunia pada zamannya biasa meng-khatam-kan Al-Qur’an dalam tempo satu malam.
Abdullah bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhu juga seperti itu, kendati tugasnya banyak belum dan sesudah menjadi pemimpin. Ibunya, Asma’ Radhiyallahu Anha, berkata, “Abdullah bin Az-Zubair rajin mengerjakan qiyamul lail, berpuasa di siang hari, dan dijuluki merpati masjid.
Kenapa kita pergi jauh-jauh? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam super sibuk mengurus umat beliau, berjihad melawan musuh-musuh Islam sepanjang hidup, bekerja, berdakwah, mengajari umat, dan men tarbiyah para sahabat. Kendati demikian. Beliau tetap mengerjakan qiyamul lail sebelas atau tiga belas raka’at. Jika beliau sakit atau punya kendala, beliau mengerjakan pada siang hari.
Aktivis Islam, dai, pelaku gerakan amar ma’ruf nahi munkar, dan mujahid harus meneladani guru dan komandan agung mereka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Kesimpulannya, qiyamul lail itu pohon besar dan daunnya rimbun. Pohon tersebut menaungi hati dan tubuh sekaligus, serta selalu berbuah atas izin Allah Ta’ala.


BERDOALAH, KARENA DOA ITU
SENJATA SAKTI

Doa itu senjata sakti dan kadang disepelekan harakah Islam dalam banyak waktu. Doa juga ibadah, bahkan ibadah paling agung, seperti disebutkan di salah satu hadits. Doa itu senjata yang tidak pernah meleset, panah yang tidak pernah gagal mengenai sasaran, benteng kokoh tempat berlindung insan Muslim dan gerakan dakwah dari tindakan makar pembuat makar, kebengisan diktator, dan kesombongan orang sombong. Kepada siapa Anda berdoa, jika tidak kepada Allah Ta’ala? Kepada siapa Anda meminta, jika tidak kepada Dzat yang memiliki segala-galanya? Kepada siapa Anda berlindung, jika tidak kepada Allah Ta’ala, yang merupakan pemilik langit, bumi, dan apa saja yang ada di antara keduanya, serta jikaberkata kepada sesuatu, “Jadilah,” maka sesuatu itu menjadi ada? Dengan dzikir dan doa, orang Muslim secara umum dan aktivis Islam secara khusus berlindung kepada Allah Ta’ala, sebagaimana budak ketakutan berlindung di rumah tuannya. Aktivis Islam membutuhkan Allah Ta’ala, baik dalam urusan dunia, atau akhirat, atau dakwah, atau amar ma’ruf nahi munkar, atau gerakan jihad, atau kesulitan, atau kemakmuran, atau perang, atau masa damai mereka.
Jika jahiliyah tidak henti-hentinya melancarkan permusuhan dan kebencian kepada Islam dan pemeluknya, serta mengerahkan seluruh senjata untuk menghadapi kaum Muslim, maka gerakan dakwah, ketika itu, tidak boleh lupa senjata doa ini, yang sudah terkenal keampuhannya.
Hendaklah gerakan dakwah tahu bahwa lilin kemenangan hanya turun di tempat lilin doa, seperti dikatakan Ibnu Al-Qayyim. Di perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya dengan serius, hingga baju luar beliau jatuh, lalu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, cukup sudah doamu kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia akan menunaikan apa yang dijanjikan-Nyya kepadamu.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Panah doa pun meluncur mengenai orang-orang musyrik dan mengguncang tempat mereka. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tapi Allah yang melempar.” (Al-Anfal: 17).

Saat hijrah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melepaskan dua panah doa kepada Suraqah. Walhasil kuda Suraqah terperosok ke tanah setiap kali terkena panah doa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Suraqah baru berhenti dari kesalahannya setelah berjanji kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bahwa ia akan membiarkan keduanya meneruskan perjalanan. (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Jika orang Muslim terbiasa banyak berdoa dan berdzikir kepada Allah Ta’ala, Dia mengabulkan doanya. Pepatah mengatakan, “Siapa mengetuk pintu, maka pintu tersebut dibuka untuknya.” Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak ambil pusing dengan pengabulan doa dan lebih concern dengan doa. Jika aku diberi ilham untuk berdoa, doaku tentu dikabulkan.” Barangkali, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anahu memahami seperti itu, berdasarkan ayat,

“Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian’.” (Ghafir: 60).

Yahya bin Muadz Rahimahullah berkata, “Siapa hatinya dibuat Allah konsentrasi saat berdoa, maka Dia tidak menolaknya.”
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Jika hati seseorang konsentrasi saat berdoa, betul-betul merasa butuh, dan harapannya kuat, maka doanya dikabulkan.”
Jadi, doa itu penyebab datangnya kebaikan, kemenangan, solusi, manusia mendapatkan petunjuk, dan kelancaran di seluruh aktivitas-aktivitas Islam; berdakwa, tarbiyah, jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar.
Dengan doa, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh Alaihis Salam beserta kaum Mukmin dan menenggelamkan orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘Aku ini orang yang dikalahkan, oleh sebab itu, tolonglah aku.’ Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan Bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari.” (Al-Qamar: 10-14).

Dengan doa, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Yunus Alaihis Salam dari perut ikan paus. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Sesungguhnya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya termasuk orang-orang dzalim.’ Maka Kami kabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang beriman.” (Al-Anbiya’: 87-88).
Dengan doa. Allah Ta’ala menghilangkan musibah Nabi Ayyub Alaihis Salam. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku ditimpa penyakit dan Engkau Tuhan Yang Maha Penyanyang di antara semua penyayang”. Maka Kami kabulkan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya’: 83-84).

Dengan doa, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa Alaihis Salam dari Fir’aun dan pasukannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Maka Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkan aku dari orang-orang dzalim itu’.” (Al-Qashash: 21).

Dengan doa pula, Nabi Musa Alaihis Salam mampu mendakwahi Fir’aun dan “orang-orang pentingnya”, tampil gagah di depan tiranik keras kepala dan pejabat-pejabat berdosa itu. Ini tentu situasi sulit dan berat. Dan, tingkat kesulitannya hanya diketahui denganbaik oleh orang-orang yang menyuarakan kebenaran di segala tempat dan waktu. Allah Ta’ala berfirman,

“Musa berkata, “Ya Tuhanku, lapangkan untukku dadaku, dan mudahkan untukku urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku’.” (Thaha: 25-28).

Dengan doa, Allah Ta’ala membinasakan Fir’aun beserta pejabat-pejabat pentingnya, menghancurkan mereka, dan memantapkan eksistensi Bani Israel di atas bumi. Allah Ta’ala berfirman,

“Musa berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan di kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya permohonan kalian berdua dikabulkan’.” (Yunus: 88-89).

Contoh-contoh lain sangat banyak, hingga tidak bisa dihitung. Kesimpulannya, doa itu faktor penting datangnya kebaikan, hilangnya keburukan, turunnya rahmat, sirnanya penderitaan, dan tercapainya kemenangan.


CATATAN PENTING TENTANG
DOA

Akhi, aktivis Islam, di sini, saya tidak ingin bicara perihal syarat, etika, redaksi doa, dan hal-hal lain, yang terkait dengan doa. Pembahasan itu semua bukan di sini tempatnya, sebab semua itu sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang. Di sini, saya ingin mengetengahkan beberapa hal penting dan praktis tentang doa.

1. Berdoalah kepada Allah Ta’ala dalam Seluruh Urusan Anda

Setiap aktivis Islam harus menyampaikan doa, permintaan, dan permohonan petunjuk dan kemenangan, kepada Allah Ta’ala. Ia berdoa kepada-Nya dalam semua urusannya, hingga urusan kecil sekalipun. Jika ia terbiasa seperti itu, ia dilingkari petunjuk dalam semua aktivitasnya, Insya Allah.
Dalam urusan sepele pun, misalnya tali sandal putus, para sahabat berdoa kepada Allah Ta’ala. Jika Anda ingin mengajak seseorang untuk beriltizam dengan Islam, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberinya petunjuk melalui perantaraan Anda. Jika Anda ingin pergi ke salah satu desa atau kota untuk berdakwah, maka berdoalah kepada Allah Ta’ala. Jika Anda hendak pergi jihad, maka berdoalah lebih banyak lagi kepada Allah Ta’ala dan mintalah Dia menolong Islam dan Anda, memberkahi perang dan jihad Anda.

2. Manfaatkan Semaksimal Mungkin Waktu-waktu Dikabulkannya Doa

Ada fenomena membahayakan. Jika fenomena itu ada pada salah satu gerakan dakwah, maka gerakan dakwah tersebut tidak bersenjata dengan senjata doa dan bahaya besar mengancam eksitensinya. Misalnya, Anda lihat sebagian besar aktivis Islam di tempat Anda bermain bola pada hari Jum’at sore, atau begadang saat itu, atau ngobrol membahas tetek bengek dunia dan segala kesibukannya saat itu, atau membicarakan masalah-masalah yang tidak membutuhkan banyak tenaga atau bisa ditunda ke lain waktu. Sekali lagi, misalnya, Anda lihat aktivis sibuk mengerjakan hal-hal seperti itu pada waktu mulia itu, yang merupakan saat-saat terkabulnya doa, dzikir, dan shlawat untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sungguh mereka membuang senjata paling ampuh mereka dan tidak tahu kemuliaan saat –saat mulia itu. Membuang secara sia-sia waktu seperti itu otomatis membuang banyak sekali kebaikan dan keuntungan yang tidak bisa digantikan dengan sesuatu apa pun.
Begitu juga, jika Anda lihat sejumlah aktivis Islam mengerjakan hal-hal di atas pada hari-hari agung, seperti hari Arafah, apalagi jika mereka tidak berpuasa pada hari itu, tapi malah main bola dan hal-hal lainnya. Begitu juga misalnya hal-hal di atas mereka kerjakan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan, terutama malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan dengan shalat, dzikir, doa, tasbih, dan mengosongkan dirinya dari selain itu semua.
Anda cermati, setan, semoga kita dijauhkan Allah Ta’ala darinya, datang pada moment-moment mulia itu, untuk memalingkan aktivis Islam dari berdoa, dzikir, dan ibadah. Sebagai gantinya, setan menyibukkannya dengan hal-hal sepele. Kadang, setan mengondisikan sebagian aktivis Islam untuk mengajukan masalah bukan prinsipil yang semestinya tidak layak dilakukan mu’takif (orang yang beri’tikaf) di sepuluh hari terakhir bulan Rmadhan. Kadang, setan memprovokasi sebagian aktivis Islam untuk mengangkat tema-tema tidak prinsipil itu dengan ngotot, hingga menimbulkan perdebatan, suara gaduh, dan perseteruan, di malam-malam mulia, seperti malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Perdebatan panas itu pun berlangsung hingga fajar terbit dan “pasar” sudah buka. Akibatnya, mereka pagi itu menjadi orang-orang rugi dan tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Kadang, mereka menyia-nyiakan waktu delapan puluh tiga tahun lebih (lailatul qadr), karena ketidaktahuan mereka akan kemuliaan dan nilai waktu dan malam-malam mereka!

3. Jadikan Doa sebagai Kebiasaan Anda

Fenomena membahayakan lainnya ialah sebagian aktivis Islam mendapatkan musibah, atau bencana, atu cobaan, lalu mereka berdiskudi selama berhari-hari tentang penyebabnya. Kenapa hal itu terjadi? Bagaimana hal itu terjadi? Dan, lain sebagainya.
Kadang, sebagian aktivis Islam sibuk membahas hal-hal yang bukan menjadi otoritasnya. Mereka tidak menggunakan waktunya untuk banyak berdoa, dzikir, berlindung kepada Allah Ta’ala, tunduk kepada kebesaran-Nya, mengerjakan ketaatan baru yang belum pernah ia kerjakan, danbertaubat secara total dari dosa-dosa masa lalunya.
Saya pernah bersahabat dengan banyak orang yang tidak pernah berhenti berdoa, baik ketika atau tidak bersama orang lain. Jika mereka mendapatkan musibah atau ada musibah menimpa salah seorang kaum Muslimin, kendati berada di tempat jauh, maka mereka berkumpul, lalu orang paling shalih di antara mereka berdoa, dengan di-amin-kan yang lain. Jika salah seorang dari mereka selesai meng-khatam-kan Al-qur’an, ia mengundang ikhwah-nya dan mengajak mereka berdoa bersamanya. Hal itu terus terjadi, hingga akhirnya salah seorang dari mereka rutin khatam Al-Qur’an setiap hari, lalu ia berdoa dengan di-amin-kan yang lain. Jika salah seorang dari mereka sakit, maka tiga atau empat orang saudaranya menjenguknya, lalu mereka mendoakan kesembuhan untuknya, dengan doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jika salah satu saat terkabulnya doa tiba, misalnya sore hari Jum’at, saya lihat mereka berdoa, baik sendiri-sendiri atau berkelompok. Jika mereka mendapatkan kenikmatan, atau jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi, atau kemenangan, kendati sederhana, saya lihat mereka menyanjung Allah Ta’ala, bersyukur kepada-Nya, berdoa kepada-Nya. Saya juga lihat mereka sujud syukur, hanya karena mendengar dan mengetahui ada Ikhwah-nya mendapatkan kenikmatan. Begitulah. Doa menjadi salah satu kebiasaan mereka dan mereka mengerjakannya tanpa beban. Sungguh mulia bisa bersahabat dengan mereka!

4. Berdoakan untuk Kebaikan Kedua Orang Tua Anda, Orang-orang yang Punya Jasa pada Anda, dan Kaum Muslimin. Juga Berdoalah untuk keburukan Orang-orang Kafir

Sungguh aneh, ada aktivis Islam tidak pernah mendoakan kedua orang tuanya, baik ketika keduanya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Saya pernah menjumpai aktivis Islam, yang ayahnya atau ibunya meninggal dunia beberapa tahun yang silam. Herannya, selama bertahun-tahun itu, ia tidak pernah sekalipun mendoakannya! Demi Allah, ini bencana besar dan mirip dengan durhaka kepada orang tua.
Aneh lagi, ada aktivis Islam, yang syaikh, atau komandan, atau murabbi-nya (pembina) yang tadinya men-tarbiyah-nya meninggal dunia beberapa tahun yang silam, tapi ia tidak pernah sekalipun mendoakannya, atau memintakan ampunan untuknya! Ini penyimpangan dan penyelewengan!
Apa sih susahnya Anda mendoakan saudara anda atau syaikh Anda? Toh itu tidak menuntut apa-apa? Malah Anda sendiri yang akan merasakan manfaatnya! Disebutkan al hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Ad-Darda’Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Doa seorang Muslim kepada saudaranya tanpa sepengetahuannya itu dikabulkan. Ketika itu, di depannya ada malaikat. Jika ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata, ‘Amiin, dan engkau mendapatkan hal yang sama’.” (Diriwayatkan Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Imam Ahmad selalu mendoakan gurunya, yaitu Imam Syafi’i, setiap usai shalat. Suatu ketika, ia berkata kepada anak Imam Syafi’i, “Ayahmu salah satu dari enam orang yang aku doakan usai setiap shalat.”
Setiap aktivis Islam harus ingat –ketika berdoa- siapa saja yang punya kontribusi besar untuk Islam dan pengaruhnya terlihat nyata. Misalnya, orang yang pertama kali berdakwah ke jalan Allah Ta’ala di daerahnya, kampus, negaranya. Dulu, Ka’ab bin Malik Radhiyallahu Anhu rajin mendoakan Sa’ad bin Zurarah Radhiyallahu Anhu dan meminta ampunan untuknya, setiap kali mendengar adzan Jum’at. Anak Ka’ab bin Malik bertanya, “Ayah, kenapa jika setiap mendengar adzan shalat Jum’at, engkau mendoakan Sa’ad bin Zurarah?” Ka’ab bin Malik berkata, “Anakku, Sa’ad bin Malik orang yang pertama kali menyelenggarakan shalat Jum’at bersama kami di Madinah.” Anak Ka’ab bin malik bertanya lagi kepada ayahnya, “Berapa jumlah kalian saat itu?” Ka’ab bin Malik menjawab, “Empat puluh orang.” (Diriwayatkan Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
Setiap aktivis Islam harus rajin mendoakan pemimpinnya secara khusus, pemimpin kaum Muslimin secara umum, dan seluruh aktivis Islam yang berjuang untuk menolong Islam dan kaum Muslimin.
Aktivis Islam juga harus rajin mendoakan kaum Muslim yang menjadi tawanan di seluruh dunia. Para tawanan manusia yang paling berhak didoakan, sebab mereka menjalani penderitaan demi penderitaan, kesulitan demi kesulitan, dan berada di tangan musuh, yang dapat berbuat apa saja terhadap mereka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan qunut selama sebulan, guna mendoakan tiga tawanan Islam di Makkah. Ketika itu, orang-orang musyrikin menyiksa mereka dan merayu mereka untuk keluar dari Islam. Saat itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa,

“Ta Allah, selamatkan Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, dan Ayyasy bin Rabi’ah.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan An-Nasai).

Setiap aktivis Islam juga harus mendoakan keburukan bagi musuh-musuh Islam dan lawan-lawan kaum Muslimin, yang memerangi Islam dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah Ta’ala. Juga mendoakan keburukan bagi gembong-gembong kafir, tokoh-tokoh sekuler, dan orang-orang penting mereka, seperti dulu dikerjakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau melakukan qunut sebulan penuh, guna mendoakan keburukan bagi Ri’il, Dzakwan, dan Ushaiyyah, yang membunuh sahabat-sahabat beliau di sumur Ma’unah. Beliau juga mendoakan keburukan bagi Kisra, Raja Persia, yang merobek-robek surat beliau. Beliau berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia merobek-robek kerajaan Kisra, hingga habis.
Saya kagum dengan apa yang dilakukan Bilal bin Rabah Radhiyallahu Anhu setiap Shubuh. Seorang wanita kaum Anshar dari Bani An-Najjar berkata, “Rumahku rumah paling tinggi di sekitar Masjid Nabawi. Bilal mengumandangkan adzan Shubuh, Bilal datang ke rumah dan menunggu tibanya waktu Shubuh. Jika waktu Shubuh tiba, ia berjalan sambil berdoa, ‘Ya Allah, aku memuji-Mu dan minta bantuan-Mu dalam menghadapi orang-orang Quraisy, agar mereka tidak mengalahkan agama-Mu.’ Setelah itu, Bilal mengumandangkan adzan Shubuh.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Ishaq).
Mendoakan keburukan untuk para thaghut, pemimpin-pemimpin kafir, pasukan, pengikut, dan pendukung mereka, itu penting dilakukan. Banyak sekali hadits tentang hal ini. Hadits paling terkenal ialah hadits,

“Ya Allah, yang menurunkan Al-Kitab, menjalankan awan, dan cepat penghitungannya-Nya, hancurkan pasukan gabungan kafir itu.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, dan Ahmad).

Dan, doa-doa lain yang disebutkan di buku-buku tentang doa dan dzikir. Anda dapat membacanya di buku-buku itu. Saya tertarik dengan salah seorang aktivis Islam. Ia pelajar SMU, tangan dan kakinya lumpuh. Setiapkali ia jatuh, ia mendoakan keburukan bagi thaghut Mesir dan para “pembantunya”.

5. Doakan Orang-orang Awam kaum Muslimin, Agar mereka Mendapatkan Petunjuk

Setiap aktivis Islam tidak etis lupa mendoakan orang-orang awam kaum Muslimin, agar mereka mendapatkan petunjuk, kembali kepada kebenaran dan jalan lurus. Lebih khusus lagi, generasi muda kaum Muslimin. Hal ini penting dilakukan, demi meniru Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berdoa,

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Beliau juga berdoa,

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Dan doa-doa lainnya di tema ini. Doa-doa tersebut menjelaskan sejauhmana keprihatinan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada umat dan keinginan beliau agar mereka mendapatkan petunjuk. Bagaimana beliau tidak bersikap seperti itu, wong Allah Ta’ala berfirman tentang beliau,

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (Asy-Syu’ara’: 3).

Ini patut ditiru setiap aktivis Islam.


KENAPA DOA TIDAK SEGERA
TERKABUL?

Ada masalah penting yang perlu saya ingatkan kepada aktivis Islam. Yaitu, kadang, ada aktivis Islam berdoa kepada Allah Ta’ala dan minta sesuatu kepada-Nya. Ia berdoa dan berdoa, dengan mengiba kepada-Nya. Tapi, doanya tidak kunjung dikabulkan Allah Ta’ala. Sejak saat itu, ia tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan doanya dikabulkan Allah Ta’ala. Sikap seperti itu dilarang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Dioa salah seorang dari kalian dikabulkan selagi ia tidak buru-buru doanya dikabulkan. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Di riwayat Muslim disebutkan,

“Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta segera doa dikabulkan?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,’Hamba itu berkat, aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (Diriwayatkan Muslim)

Akhi, aktivis Islam, ketahuilah, ada banyak sebab kenapa doa tidak segera dikabulkan Allah Ta’ala dan ada hikmah besar di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut:
1. Bisa jadi, penyebab tertundanya pengabulan doa Anda dikarenakan Anda belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Kadang, bentuknya ialah Anda tidak menghadirkan hati Anda saat berdoa, atau waktu berdoa Anda bukan waktu dikabulkannya doa, atau Anda tidak khusyuk, merendahkan diri, dan syarat-syarat doa penting lainnya.
2. Kadang, tidak terkabulnya doa dikarenakan sebab tertentu, atau ada dosa yang Anda belum bertaubat darinya, atau ada dosa di mana Anda tidak bertaubat dengan jujur darinya, atau makanan Anda mengandung syubhat atau ada hak milik orang lain pada Anda dan Anda belum mengembalikannya. Karena itu, Anda harus bertaubat dengan taubat nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikannya hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya dia. Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.”

Juga disebutkan di hadits shahih,

“Lalu, Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambut acak-acakan, berdebu, dan menengadahkan tangan ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal, makanannya haram. Minumannya haram. Pakaiannya haram. Dan, diberi makan dari sumber haram. Bagaimana doanya dikabulkan?”
(Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad).

Akhi, aktivis Islam, Anda harus membersihkan “jalan-jalan” terkabulnya doa dari segala kotoran dosa.
3. Bisa jadi, Allah Ta’ala sengaja menyimpan pahala doa dan baru Dia berikan kepada Anda do akhirat kelak atau Dia menghilangkan keburukan dari Anda. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Jika di atas bumi ada orang Muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Dia mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak mengerjakan doa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim).

Di riwayat Al-Hakim ada tambahan,

“Atau Allah menyimpan pahala seperti doa itu untuknya.” (Diriwayatkan Al-Hakim).

Akhi, aktivis Islam, barangkali, ini lebih baik bagi Anda, sebab dengan disimpannya pahala doa di akhirat dan baru diberikan kepada Anda saat itu, maka itu mengangkat derajat dan martabat Anda. Saat itu, Anda berbahagia dan berharap seandainya seluruh pahala doa Anda disimpan dan baru dibagikan di akhirat.
4. Penundaan terkabulnya doa merupakan ujian baru dari Allah Ta’ala kepada seseorang. Allah Ta’ala ingin menguji iman orang itu, dengan doa tidak segera dikabulkan, setan membisikan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang Anda minta itu ada pada Allah. Kenapa doa Anda tidak segera dikabulkan?” Dan, bisikan-bisikan jahat lainnya. Orang Muslim harus melawan bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus tahu bahwa jika hikmah di balik doa tidak dikabulkan dengan segera ialah Allah Ta’ala ingin menguji hamba-Nya dengan cara memerangi iblis, maka hikmah itu sudah cukup baginya.
5. Hikmah lain doa tidak segera dikabulkan ialah orang Muslim tahu hakikat penting. Yaitu, ia hamba Allah Ta’ala, Allah itu pemilik segala-galanya, dan pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, dengan cara memberi atau tidak memberi. Jika Dia mau memberi, maka itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Dia punya alasan kuat di dalamnya. Anda juga tahu, ternyata Anda bukan buruh yang langsung marah jika gajinya tidak segera diberikan dan Anda tahu makna sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah Perdamaian Al-Hudaibiyah,

“Aku Rasulullah dan Allah tidak pernah akan menelantarkan aku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihat perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap orang Mukmin tidak berubah terhadap Tuhannya ketika doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin rajin beribadah kepada-Nya.
Setiap aktivis Islam harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub Alaihis Salam kehilangan anak kesayangannya, Nabi Yusuf Alaihis Salam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.”
Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub Alaihis Salam semakin meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, hilang, dan kedua matanya buta karena sedih. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa penderitaan ini semua suatu saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,

“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83).

6. Kadang, doa yang tidak segera dikabulkan itu membuat Anda selalu berdiri di depan Allah Ta’ala, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, jika permintaan Anda dikabulkan, maka Anda lebih sibuk, lalu Anda tidak ingat kepada Allah Ta’ala, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya inti ibadah. Inilah realitis sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan, maka kita tidak berlindung diri kepada Allah Ta’ala, seperti dikatakan Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah. Kadang, cobaan itu sendiri, saking beratnya, membuat Anda lupa Allah. Dan, jika ada sesuatu yang mengiuatkan posisi Anda di depan Allah Ta’ala, maka itu baik sekali bagi Anda. Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan dari Yahya Al-Bakka’ (yang suka menangis) bahwa Yahya Al-Bakka’ bermimpi bertemu Allah Ta’ala. Di mimpi itu, Yahya AL-Bakka’ berkata, “Tuhanku, aku sudah sering berdoa kepada-Mu, tapi Engkau tidak kunjung mengabulkan doaku?” Allah berfirman, “Hai Yahya, Aku ingin selalu mendengar suaramu.”
7. Jika doa Anda segera dikabulkan Allah Ta’ala maka bisa jadi Anda malah berbuat dosa, atau berdampak buruk pada agama Anda, atau fitnah bagi Anda, atau apa yang Anda minta itu sekilas baik bagi Anda padahal sebenarnya tidak baik bagi Anda. Terutama, bagi orang yang tidak berdia dengan doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengajukan permintaan tertentu kepada Allah Ta’ala.
Diriwayatkan dari salah seorang generasi salaf bahwa ia minta perang meletus kepada Allah, lalu ada suara yang berkata kepadanya, “Jika engkau ikut perang, engkau ditawan. Dan, jika engkau ditawan, engkau masuk Kristen.”
Setiap aktivis Islam harus memperhatikan doa-doa di Al-Qur’an dan Sunnah. Semua yang telah saya sebutkan mengingatkan kita pada firman Allah Ta’ala,

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (Al- Isra’: 11).

8. Setiap dia punya ketentuandan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini Anda berdoa Khilafah Islamiyah berdiri, lalu Anda tunggu itu terwujud besok pagi. Doa agung ini punya takaran, syarat, sebab, prolog, hasil, kerja keras, pengorbanan besar, kaderisasi generasi yang dididik Allah Ta’ala secara langsun dan Dia siapkan berkuasa di atas bumi. Adalah tidak realistis, salah seorang dari kita berdoa seperti doa tersebut hari ini dan minta terealisir beberapa hari lagi! Seorang ahli tafsir menyebutkan bahwa jarak antara doa Nabi Musa Alaihis Salam,

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepad Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan di kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kunci mati hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus: 88).

Dengan terkabulnya doa dan firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya permohonan kamu berdua dikabulkan.” (Yunus: 89).

Itu empat puluh tahun.

Mari kita kaji. Pihak yang berdoa adalah Nabi Musa Alaihis Salam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul Azmi, sedang pihak yang meng-amin-kannya ialah Nabi Harun Alaihis Salam, nabi mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika doa. Pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang notabene manusia paling dzalim, fasik, dan kafir, saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa Alaihis Salam tidak segera dikabulkan Allah Ta’ala. Itulah takaran dan kelebihan doa itu. Yang bukan sembarang doa. Point ini penting bagi siapa saja yang merenungkan dan mengkajinya.


PERBARUI IMAN ANDA

Akhi, aktivis Islam, perbarui iman Anda secara rutin. Rekonstruksi iman ini urgen bagi setiap orang Muslim secara umum dan aktivis Islam secara khusus. Sebab, kadang, karena sibuk mengerjakan tugas-tugas dakwah, atau mempelajari masalah-masalah dakwah, atau memikirkannya, atau mencurahkan segenap tenaga untuk aktivis Islam, atau aktivitas melawan musuh-musuh Islam dengan segala sarana yang disyariatkan Islam, itu membuat aktivis Islam tidak sempat mengurusi hatinya dan memberi perhatian penuh kepadanya. Padahal, orang Muslim berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya, bukan dengan orang tubuhnya. Kalaupun organ tubuh mengerjakan kebaikan, maka itu karena kebaikan hati dan semangatnya kepada kebaikan.
Jika aspek ini dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan serius, maka aktivis Islam kehilangan ibadah-ibadah batin, misalnya ikhlas. Bahkan, bisa jadi, aktivis Islam tidak punya keikhlasan sejak awal iltizamnya. Ibadah-ibadah batin lainnya, seperti jujur, yakin, zuhud, tawakkal, takut, taubat, menyerahkan diri, dan cinta Allah Ta’ala, juga hilang dari dirinya. Beberapa saat kemudian, sang aktivis ingin kondisi hatinya pulih seperti kondisi semula saat ia awal bergabung ke kafilah dakwah. Itu semua akibat ia tidak memperlihatkan hatinya. Jika itu terus terjadi, bisa jadi, Anda melihat sang aktivis banyak membicarakan hal-hal yang tidak berguna, misalnya makan secara berlebihan, atau berinteraksi dengan orang lain bukan karena pertimbangan agama, atau banyak tidur, atau bermalas-malasan, atau tidak berusaha mengatur waktunya, atau menghabiskan waktunya padahal-hal haram atau makruh. Kalaupun waktunya digunakan pada hal-hal mubah, maka itu secara berlebihan dan tanpa memperhatikan aspek agama atau dunia. Ia tidak menggubris perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk merekonstruksi iman, tanpa melihat kualitas iman, amal, dan posisinya di gerakan dakwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Perbaruilah iman kalian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ahmad).

Rasulullah Shalllallahu Alaihi wa Sallam sering bersumpah dengan kalimat,

“Tidak, demi Dzat yang membolak-balik hati.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Saya lihat ada kemerosotan pada sebagian aktivis dakwah, atau terjerumus ke dalam lautan syahwat dan syubhat. Kadang, hal ini betul-betul terjadi pada sebagian dari mereka. Penyebabnya tidak lain karena kurang memperhatikan aspek ini, memperbarui iman. Ini tanggung jawab bersama antara individu. Level qiyadah (pemimpin), dan gerakan dakwah secara umum.
Saya seringkali melihat beberapa aktivis mencapai jenjang tertentu di gerakan dakwah dan menghabiskan sebagian umurnya dengan manis bersama dakwah. Setelah itu, ia berbalik dan keluar dari barisan aktivis. Penyebabnya ialah karena ia tidak memperhatikan hatinya. Bagaimana ia berjalan, kehabisan bekal, dan tidak berbekal dengan bekal apa-apa lagi?
Bekal hatinya telah ia gunakan untuk mengarungi salah satu tahapan usianya dan habis di perjalanan. Akibatnya, ia tewas di tempat bahaya, yaitu kesesatan syubhat dan kehinaan syahwat. Beragam penyakit yang menyerang sebagian aktivis Islam di separoh perjalanan dakwah, misalnya cinta dunia, egois padahal dulunya itsar (lebih mementingkan orang lain atas kepentingan pribadi), rakus padahal sebelumnya zuhud dan wara’, bersikap kasar kepada kaum Mukminin padahal sebelumnya bersikap lembut kepada mereka, dekat dengan orang-orang dzalim padahal dulunya dekat dengan orang-orang beriman, ujub, sombong terhadap orang lain padahal sebelumnya rendah hati, congkak, dan menjadikan dirinya sosok penting padahal dulunya ikhlas; itu semua sebabnya karena hati tidak diberi porsi perhatian yang ideal dan iman tidak diperbarui individu, level qiyadah, dan gerakan dakwah itu sendiri. Semuanya bertanggung jawab dalam masalah ini.
Saya tertarik dengan penafsiran seorang syaikh tentang firman Allah Ta’ala,

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (An-Nisa’: 136).

Di kajian, yang ia berikan kepada aktivis, saat didera cobaan, ia berkata, “Kok Al-Qur’an minta mereka beriman, padahal mereka sudah beriman? Bahkan, ayat berbunyi, ‘Hai orang-orang beriman, berimanlah.’ Apa makna iman yang dimintakan pada mereka?”
Syaikh itu berkata lagi, “Ayat di atas minta mereka selalu memperbaharui iman, karena iman perlu diperbaharui secara rutin.”


BAGAIMANA KIAT MEMPERBARUI
IMAN?

Pertanyannya, bagaimana kiat memperbarui iman?

Jawaban tuntas pertanyaan di atas bukan dihalaman buku kecil ini. Di sini, saya akan membahasnya sekilas dan sekedar memberi isyarat yang kadang tidak perlu lagi dijelaskan. Barangsiapa bisa memahami isyarat itu, mengamalkannya, dan mengajarkannya kepada orang lain, ia beruntung. Rekonstruksi iman itu mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala, menyiapkan hati dan jiwanya.
Banyak sarana yang bisa dipakai orang Muslim untuk memperbarui imannya. Misalnya, ziarah kubur. Atau mengunjungi orang-orang shalih, orang-orang bertakwa, ulama tepercaya, dan orang-orang ikhlas. Atau membaca sirah generasi salaf, sirah orang-orang ahli ibadah, orang-orang zuhud, mujahidin, para pembela kebenaran, orang-orang sabar, dan orang-orang yang bersyukur. Atau acara yang membahas itu semua. Atau memikirkan “hari-hari” Allah Ta’ala. Atau meningkatkan porsi ibadah. Atau melaksanakan ibadah umrah, terutama pada bulan Ramadhan bagi orang yang mampu melaksanakannya. Atau menyendiri dengan diri sendiri setiap hari atau dari waktu ke waktu kendati sebentar. Atau memperbanyak khatam Al-Qur’an. Atau berdoa. Atau bersedekah. Atau qiyamul lail, saya hanya membahas sebagian dari hal-hal ini.

1. Membaca Sirah Generasi Salaf
Membaca sirah orang-orang zuhud membuat hati menjadi zuhud. Membaca sirah mujahidin dan syuhada’ membuat hati melayang-layang di langit, hingga seperti hidup bersama mereka, belajar pada mereka, dan berharap bisa menjadi salah seorang dari mereka. Bahkan, membaca sirah mujahidin membuat salah seorang dari kita seperti bergabung di barisan mereka, atau naik kuda berperang dengan mereka, dan menyerang di medan perang. Sirah Khalid bin Al-Walid, Sa’ad bin Abu Waqqash, Abu Ubadah Amir bin Al-Jarrah, Ikrimah, Al-Miqdad, dan Al-Mutsanna, itu menghidupkan hati siapa saja yang kenal mereka, memotivasi banyak orang untuk mati syahid di jalan Allah Ta’ala, mendorong orang berkorban, dan menyuburkan pohon Islam dengan darah syuhada’.
Karenanya, generasi sahabat mengajarkan perang-perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada anak-anak mereka, seperti mereka mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka.
Sirah tokoh seperti Khalid bin Al-Walid sudah cukup menghidupkan hati umat secara keseluruhan, meledakkan semangat mereka, dan menguatkan tekad mereka. Salah satu rezim sekuler melarang diajarkannya buku Abqariyatu Khalid, yang tadinya menjadi kurikulum SMU sejak beberapa tahun di negara itu. Sebab, sirah Khalid bin Al-Walid Radhiyallahu Anhu menimbulkan pengaruh signifikan pada murid-murid SMU di negara itu. Padahal, buku Abqariyatu Khalid bukan rujukan utama dan ideal untuk mengkaji biografi Khalid bin Al-Walid secara utuh. Kendati demikian, buku itu punya pengaruh besar pada umat, yang tadinya ghirah mereka nyaris mati.
Biografi Khalid bin Al-Walid dan semisalnya membuat orang Muslim meremehkan dunia, syahwat, dan kenikmatannya yang umurnya seumur jagung. Juga membuatnya cinta kematian dan berjalan di bintang, padahal tubuhnya ada di bumi. Juga membuatnya mengecilkan arti dirinya yang selalu memikirkan danlengket dengan perhiasan murahan, dunia. Biografi mereka seringkali menghilangkan ketakutan, kecemasan, dan bujuk rayu setan, dari hati manusia. Juga memotivasi hati mereka untuk bertawakkal secara benar kepada Allah Ta’ala.
Sedang membaca biografi orang-orang zuhud dan orang-orang shalih, maka menumbuhkan pohon zuhud di hati sekaligus mengairinya hingga tumbuh subur di dalamnya dan menghasilkan buah atas izin Allah Ta’ala.
Sedang biografi orang-orang ahli ibadah, maka men-tarbiyah jiwa manusia untuk gemar melakukan qiyamul lail, puasa, dzikir, berdoa, khusyuk, dan menangis karena takut Allah Ta’ala. Biografi orang-orang yang bertaubat menumbuhkan benih-benih taubat di hati manusia dan menggerakkan hati yang tadinya keras karena sangat jauh dari Tuhannya. Juga membuka kran-kran airmata penyesalan dan taubat pada mata yang tadinya tidak kenal menangis karena takut Allah Ta’ala.
Sebelum mengakhiri pembahasan tema ini, saya ingin mengingatkan dua hal penting:
1. Hendaknya aktivis Islam tidak hanya membaca bigrafi orang-orang shalih pada zaman tertentu. Tapi, semua biografi orang-orang shalih sejak zaman sahabat hingga zaman kita sekarang.
2. Membaca biografi orang-orang shalih tidak membuahkan hasil maksimal, kecuali jika ktivis Islam mengosongkan hatinya dari seluruh kesibukan. Ia hidup dengan perasaan, hati, dan seluruh organ tubuhnya, bersama biografi orang-orang shalih tersebut. Ia baca biografi mereka, dengan mengosongkan hatinya dari seluruh kesibukan yang menghalanginya menyelam di lautan mutiara biografi mereka. Sebaiknya diadakan acara tambahan, yaitu ada seorang aktivis yang menyampaikan hikmah-hikmah yang bisa diambil dari biografi tersebut, terutama yang terkait dengan keimanan. Sebaiknya aktivis yang menyampaikan hikmah disyaratkan berwawasan luas, bertakwa, shalih, sering memberikan dananya di jalan Allah Ta’ala, punya pemahaman mendalam tentang sirah dan sejarah Islam. Jika itu dapat kita lakukan, kita mengerjakan kebaikan besar. Tapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa syarat-syarat tersebut tidak ada pada banyak aktivis dan hanya ada pada sebangian kecil mereka. Kendati demikian, mereka punya pengaruh besar dalam merekonstruksi iman di gerakan dakwah.

2. Menyendiri dengan Diri Sendiri

Sarana lain untuk memperbarui iman ialah aktivis Islam menyendiri (khalwat) dengan dirinya sendiri. Khalwat di sini bukan khalwat untuk mengerjakan qiyamul lail, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Tapi, khalwat lain. Disebutkan di salah satu atsar bahwa orang berakal punya empat waktu. Salah satunya ialah saat ia menyendiri dengan dirinya sendiri.
Ber-khalwat sangat urgen bagi aktivis Islam. Dengan ber-khalwat, ia dapat berduaan dengan Allah Ta’ala, damai dan dekat dengan-Nya, serta merasakan lezatnya bermunajat kepada-Nya. Dengan ber-khlawat, aktivis Islam juga dapat mengevaluasi dirinya dan berduaan dengannya seperti posisi seorang mitra yang pelit di depan mitranya. Ia mengevaluasi dirinya tanpa mengharap pujian orang lain dan merasakan penyembahannya di depan Allah Ta’ala. Ketika ber-khalwat, ia ingat dosa, kemaksiatan, dan kelelaiannya, terutama kemaksiatan batin yang tidak diketahui sendiri. Ketika ber-khalwat, ia tumpahkan airmata penyesalan dan taubat. Ia juga menangis karena kebesaran-Nya. Barangkali, airmata jujur yang keluar dari matanya itu lebih bermanfaat baginya daripada sekian banyak amal yang ia banggakan selama ini.
Anda tentu heran pada aktivis Islam yang beriltizam dengan Islam sekian tahun, tapi Anda tidak pernah melihatnya menangis karena takut Allah Ta’ala dan malu kepada-Nya. Siapa kondisinya seperti itu, maka kontribusinya untuk agama nyaris tidak dikenang orang. Ia juga tidak masuk dalam kelompok “tujuh” yang dilindungi Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya, saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satunya ialah orang sendirian dzikir kepada-Nya, lalu kedua matanya mengeluarkan airmata. Perhatikan kata, “Sendirian,” di hadits tadi. Ya, orang tersebut menyendiri tanpa punya keinginan untuk cari pamor. Khalwat perlu dilengkapi dengan sikap ikhlas karena Allah Ta’ala. Ketika ber-khalwat, aktivis Islam mesti ingat nikmat-nikmat Allah Ta’ala pada darinya, saudara-saudaranya sesama aktivis, dan gerakan dakwahnya. Ia pikirkan bagaimana Allah Ta’ala memuliakan dirinya. Nikmat paling agung dan berharga dalam hal ini ialah nikmat petunjuk. Hati dan tubuhnya tidak henti-hentinya mengucapkan firman Allah Ta’ala,

“Dan kami sekali-kali tidak mendapatkan petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Al-A’raaf: 43).

Ia juga berpikir, kalaupun manusia menerima dirinya dan dakwahnya, maka itu bukan karena kefasikan lidahnya, atau keindahan bahasanya, atau daya tarik tutur katanya, atau ilmunya. Tapi, murni karena petunjuk Allah Ta’ala kepadanya, karunia-Nya kepada dirinya, dan kemurahan-Nya. Ia ingat tidak lupa bahwa Allah Ta’ala menjaga dirinya dan saudara-saudaranya sesama aktivis dari gangguan musuh-musuh Islam. Mereka sangat banyak pada zaman ini dan tangguh. Ia juga ingat Allah Ta’ala mengembalikan makar mereka kepada mereka sendiri. Itu terjadi, bukan karena ia telah berjihad, membuat perencanaan dakwah, bersiap-siap, menyerang, menghancurkan lawan, memberi jaminan keamanan, dan mengatur. Itu semua terjadi karena karunia Allah Ta’ala. Kalau bukan karena karunia-Nya, maka apa yang telah ia kerjakan menjadi penyebab musuh menguasai dirinya, saudara-saudaranya sesama aktivis, dan kehancuran saudara-saudaranya sesama aktivis. Allah Ta’ala berfirman,

“Tapi Allah menyelamatkan.” (Al-Anfal: 43).

Ia juga merenung, betapa semua nikmat ini perlu disyukuri dengan maksimal dan apakah ia telah menyukurinya?
Ketika melakukan khalwat, aktivis Islam ingat cobaan dan musibah yang terjadi pada dirinya dan saudara-saudaranya sesama aktivis. Bisa jadi, cobaan dan musibah itu terjadi karena dosa-dosanya, apalagi jika ia qiyadah. Ia pun menyadari firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah, ‘Itu diri kalian sendiri’.” (Ali Imran: 165).

Lalu, ia membulatkan tekad untuk bertaubat dari dosa-dosanya, menambal apa yang selama ini robek, dan memperbaiki kesalahannya. Ia bertekad melakukan hal itu jika melihat masih banyak hal pada saudara-saudaranya yang perlu ia perbaiki.
Seorang generasi salaf berkata, “Cobaan terjadi karena dosa dan cobaan hilang dengan taubat.”
Dalam ber-khalwat, ia membiasakan diri mengkaji dengan cermat sebab-sebab terjadinya cobaan dari aspek agama dan tidak hanya dari aspek dunia saja.
Banyak manfaat yang bisa diambil dari ber-khalwat. Buku ini tidak cukup untuk membahas itu semua. Dan, saya percaya Anda dapat memahami hal-hal lain yang tidak saya tulis di buku ini, dengan kecerdasan otak Anda.

3. Mengerjakan Pekerjaan-Pekerjaan Sederhana

Sarana lain untuk memperbarui iman ialah aktivis Islam rajin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang melatihnya bersikap rendah hati dan mengikis dorongan ujub dari dirinya yang selalu menyuruh kepada keburukan. Terutama, jika ia merasakan ada bibit-bibit kesombongan mulai merasuki dirinya atau ia diingatkan murabbi dan syaikhnya bahwa ada bibit kesombongan pada dirinya. Ia perlu mengerjakan ppekerjaan-pekerjaan sederhana itu, dengan syarat tidak mengorbankan pekerjaan-pekerjaan yang lebih penting. Contoh-contoh pekerjaan sederhana yang lebih penting. Contoh-contoh pekerjaan sederhana di sini ialaha membawakan sandal orang Muslim yang buta dan orang shalih di masjid. Atau mengenakan sandal orang buta tersebut ketika ia hendak keluar dari masjid, lalu mengantarkannya pulang hingga tiba di rumah. Atau membersihkan dan menyapu masjid. Atau membantu secara langsung anak yatim, orang sakit, dan memenuhi kebutuhan mereka. Atau membelikan beberapa kebutuhan salah seorang aktivis Islam yang sedang mendapat musibah. Ini sekedar contoh saja dan semua aktivis itu punya banyak manfaat yang tidak dapat dihitung di buku ini.
Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu membawa tempat air dari kulit di atas punggungnya, untuk ia berikan kepada sebagian rumah kaum Muslimin. Ketika ditanya kenapa ia berbuat seperti itu, ia menjawab, “Aku bangga dengan diriku, lalu aku ingin memberinya pelajaran (dengan berbuat seperti ini).” Ia juga mengobati unta yang menderita sakit kulit. Ia pernah berlomba dengan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu pergi ke rumah para janda kaum Muslimin, untuk memasak, atau menyapu, atau membuat tepung untuk mereka. Tapi, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu selalu unggul dalam hal ini.
Banyak hal yang bisa dikerjakan aktivis Islam dalam hal ini. Yapi, dengan syarat, ia tidak boleh menelantarkan pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih penting, seperti telah saya jelaskan sebelumnya.

4. Ziarah Kubur

Sarana lain untuk menperbarui iman ialah aktivis Islam rajin menziarahi kuburan. Ia duduk di sana, sembari merenung, berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang beriman yang telah meninggal dunia, serta ingat kematian. Ia berpikir, bagaimana seandainya ia sudah meninggal dunia dan disemayamkan di kuburan itu! Kira-kira ia dihisap Allah Ta’ala seperti apa? Bagaimana jawaban yang ia berikan kepada-Nya? Apakah ia menjadi orang beruntung atau sebaliknya?
Ia renungkan bahwa orang-orang yang dimakamkan di kuburan itu beragam. Ada orang kuat, orang lemah, orang dzalim, orang yang didzalimi, orang kaya, orang miskin, penguasa, rakyat biasa, remaja, orang tua, orang shalih, dan orang bejat. Mereka sekarang berada di bawah tanah, meinggalkan dunia dengan segala pesonanya dengan senang hati atau ogah-ogahan, berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai, dan tidak ada yang mereka bawa ke kuburan selain amal perbuatan mereka. Siapa amalnya baik, kuburannya menjadi taman surga. Siapa amalnya tidak baik, kuburannya menjadi kubangan neraka. Kita berlindung diri kepada Allah Ta’ala dari kuburan seperti itu.
Ketika menziarahi kuburan, ia ingat dosa dan kesalahannya. Ia konsentrasikan otaknya, lalu bertekad kuat tanpa ragu sedikit pun, untuk bertaubat dengan jujur dan beramal dengan serius untuk membela Islam.
Sungguh memprihatinkan, ada aktivis Islam yang tidak pernah menziarahi kuburan selama bertahun-tahun. Bahkan, ada aktivis Islam, yang salah seorang dari orang tuanya atau keduanya telah meninggal dunia sejak beberapa tahun yang lalu, tapi ia tidak pernah menziarahi kuburannya! Ini bukti sikap tidak berbakti kepada orang tua!
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan kaum Muslimin menziarahi kuburan, dengan bersabda,

“Ziarahi kuburan, sebab kuburan mengingatkan kalian kepada akhirat.” (Diriwayatkan Muslim, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Seorang wanita datang kepada Aisyah Radhiyallahu Anhu mengadukan hatinya keras, lalu Aisyah menganjurkannya rajin ingat kematian. Wanita itu mengerjakan perintah Aisyah, lalu hatinya tidak keras lagi dan berterima kasih kepada Aisyah atas nasihat yang ia berikan kepadanya.
Seorang ulama rajin menemani beberapa akitivis Islam melakukan ziarah kubur setelah shalat Shubuh dan ia memberikan nasihatnya di situ. Di salah satu nasihatnya, ulama itu berkata, “Jika Allah tidak menganugerahi kita mati syahid di jalan-Nya, kita akan disiksa dengan siksaan pedih. Sebab, dosa kita amat banyak, sedang amal perbuatan kita kecil.”
Usai berkata seperti itu, ulama tersebut menangis, dengan diikuti ikhwah aktivis Islam yang hadir di kuburan.
Para dai, mahasiswa, dan aktivis Islam, di Universitas Asiyuth membuat program ziarah kubur, sejak sepuluh tahun yang silam. Peserta ziarah kubur mencapai tiga puluh aktivis Islam dan dilakukan setelah shalat Shubuh hari Jum’at. Kita pergi bersama ke kuburan. Di kuburan, seorang aktivis Islam memberi nasihat, dengan nasihat mengesankan tentang kematian, kedahsyatan alam kubur, hari Kiamat, dan taubat. Setelah itu, setiap peserta menyendiri di setiap kuburan yang ada, guna memikirkan apa yang ada di sekitarnya, berdoa, khusyuk, dan bertaubat. Para peserta berbuat seperti itu hampir satu jam. Lalu, acara dilanjutkan dengan kumpul bersama, dalam keadaan diam, tanpa ada kata sepatah kata pun atau canda. Acara ini menghasilkan pengaruh luar biasa pada para peserta. Sungguh, kuburan mengingatkan mereka kepada akhirat, mendorong mereka bertaubat, men-tarbiyah diri mereka untuk zuhud terhadap dunia dan lebih mengutamakan akhirat, serta memperbarui keimanan mereka.

5. Mengunjungi Orang-Orang Shalih

Sarana merekonstruksi iman lainnya ialah berkunjung kepada orang-orang shalih, mujahidin, dan tokoh-tokoh senior di gerakan dakwah. Kunjungan kepada orang-orang seperti itu punya kesan positif dalam memperbarui iman dan mencemerlangkannya. Jika melihat wajah mereka saja bisa menjadi bekal berjalan di atas kebenaran, bagaimana kalau duduk dengan mereka, bersahabat dengan mereka, mendengarkan nasihat mereka, belajar pada mereka, mendengar kisah mereka, mujahidin lainnya dan orang-orang shalih? Juga tentang kezuhudan mereka terhadap dunia, kecintaan mereka kepada akhirat dan mati di jalan Allah Ta’ala, pengorbanan mereka untuk dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan jihad?
Kunjungan-kunjungan seperti itu mengisi batrei iman aktivis Islam yang kadang isinya habis. Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Jika tidak ada tiga hal, aku tidak ingin hidup lama di dunia.” Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu menyebutkan ketiga hal itu dan salah satunya ialah bersahabat dengan orang-orang yang suka memilih perkataan yang baik, sebagaimana buah-buahan yang baik dipilih banyak orang. Contoh dalam hal ini banyak sekali. Misalnya, Nabi Musa Alaihis Salam pergi untuk bersahabat dengan Khidhr Alaihis Salam dan belajar darinya. Padahal, kita tahu kemuliaan Nabi Musa Alaihis Sallam dan beliau lebih mulia dari Khidhr Alaihis Sallam. Kendati demikian, Nabi Musa Alaihis Salam berkata kepada Khidhr Alaihis Salam,

“Bolehkah aku mengikutimu, supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66).

Murid-murid Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu dan para pecintanya yang biasa belajar padanya menangis tersedu-sedu dan sedih karena berpisah dengan Muadz bin Jabal, yang menderita sakit hingga kemudian meninggal dunia. Mereka seperti itu, karena merasa akan kehilangan majlis iman yang agung dan biasa diisi Muadz bin jabal. Majlis tersebut memperbarui iman mereka dan mengajarkan ilmu pada mereka. Diriwayatkan dari Yazid bin Umairah yang berkata, “Ketika Muadz bin Jabal menderita sakit, yang membuatnya meninggal dunia, ia kadang tak sadarkan diri dan kadang siuman. Suatu ketika, ia tidak sadarkan diri dan kami mengiranya sudah meninggal dunia. Ia siuman, saat aku menangis. Ia berkata, ‘Kenapa engkau menangis?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak menangisi dunia yang telah saya peroleh darimu atau nasab antara diriku denganmu. Tapi, aku menangisi ilmu dan hikmah yang biasa aku dengar itu akan hilang.’ Muadz bin Jabal berkata, ‘Jangan menangis, sebab ilmu dan iman tetap berada di tempatnya. Siapa mencari keduanya, ia menemukan keduanya. Carilah keduanya seperti Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Beliau meminta kepada Allah dalam keadaan tidak tahu, sambil berkata, ‘Aku pergi kepada Tuhanku agar Dia memberiku petunjuk’.” (Diriwayatkan Al-Hakim).
Aktivis Islam juga bisa melakukan kunjungan kepada beberapa ayah syuhada’, orang-orang dekat syuhada’, dan teman-teman mereka, untuk mendengar sejarah syuhada’ itu, bagaimana mereka berinteraksi dengan Allah Ta’ala, manusia, dan keluarga.
Abu bakar dan Umar bin Khaththab mengunjungi Ummu Aiman, pengasuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena dulu beliau biasa mengunjunginya, guna bernostalgia dengan hari-hari beliau. Muslim meriwayatkan di Shahih-nya hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata,

“Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar bin Khaththab, ‘Ayo, kita pergi mengunjungi Ummu Aiman, sebab dulu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa mengunjunginya.” Ketika Ummu Aiman, ternyata ia menangis. Keduanya berkata kepada Ummu Aiman, “Kenapa engkau menangis? Toh apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Ummu Aiman berkata, “Aku menangis bukan karena tidak tahu apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tapi, aku menangis karena wahyu tidak akan turun lagi dari langit.” Ucapan tersebut menyentakkan Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, lalu keduanya ikut menangis bersama Ummu Aiman.” (Diriwayatkan Muslim).

6. Ingat Hari-Hari Allah

Sarana lain untuk merperbarui iman ialah Anda ingat hari-hari Allah Ta’ala. Allah menyuruh Nabi Musa Alaihis Salam mengingatkan Bani Israel tentang hari-hari-Nya, dengan berfirman,

“Dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah.” (Ibrahim: 5).

Sepertinya, itu salah satu tugas penting yang harus diemban Nabi Musa Alaihis Salam. Maksud ayat di atas ialah ingatkan Bani Israel tentang hari-hari, di mana pada hari-hari itu, Allah menyelamatkan mereka dan meneggelamkan Fir’aun beserta pasukannya. Ingatkan mereka tentang hari-hari Allah itu. Ya, hari-hari saat Allah menolong wali-wali-Nya memuliakan pasukan-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh-Nya. Ingatkan mereka tentang hari-hari spektakuler itu saat Allah memberikan kemenangan dan posisi kuat di bumi kepada wali-wali-Nya.
Puasa hari Asyura’ dijadikan sunnah dalam Islam, agar kita ingat hari agung saat Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa Alaihis Salam bersama orang-orang beriman dan menenggelamkan Fir’aun bersama pasukannya.
Sungguh, itu salah satu hari Allah Ta’ala yang amat agung. Karena itu, kita berpuasa pada hari tersebut setiap tahun, sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas kemenangan gilang gemilang itu. Pada hari itu, mari kita banyak berdoa minta Allah Ta’ala membinasakan fir’aun-fir’aun masa kini bersama pasukannya sebagaimana Dia dulu membinasakan Haman bersama pasukannya dan menenggelamkan mereka bersama atasan mereka, Fir’aun, di laut. Pada hari, mari kita banyak berdoa minta Allah Ta’ala menolong dan menyelamatkan kita dari tangan fir’aun-fir’aun, serta membuat kita berkuasa di bumi, seperti Nabi Musa Alaihis Salam dan orang-orang beriman bersama beliau.
Setiap orang Muslim harus rajin ingat hari-hari Allah Ta’ala, sembari merenungkan ibrah dan pelajaran iman yang bisa dipetik darinya. Ia mengingatkan dirinya tentang Hari Furqan (Perang Badar), Perang Khaibar, Penaklukan Makkah, Perang Bani Qainuqa’, Perang Bani An-Nadhir, dan Perang Bani Quraidhah. Ia ingat Perang Al-Yamamah, Perang-Al-Yarmuk, Perang Al-Qadisiyah, Perang Nahawand, penaklukan negeri-negeri Afrika Utara, penaklukan Andalusia, dan penaklukan Rusia Selatan. Ia ingat Perang Hiththin, Perang Ain Jaluth, Perang Konstantinopel, Perang Az-Zalaqah, dan Perang Al-Urak. Ia juga tidak lupa ingat hari Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh Alaihis Salam bersama orang-orang beriman, Nabi Hud Alaihis Salam, Nabi Shalih Alaihis Salam, Nabi Luth Alaihis Salam, Nabi Syuaib Alaihis Salam bersama umatnya masing-masing, menimpakan siksa pedih kepada orang-orang kafir dan para pembangkang.
Ia ingat hari Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Ibrahim Alaihis Salam dari api dan menjadikannya dingin dan menyelamatkannya. Juga ingat hari Allah Ta’ala mengganti Nabi Ismail Alaihis Salam dengan domba. Semua hari itu adalah hari-hari Allah Ta’ala yang perlu direnungkan, sebab mengandung banyak nilai-nilai iman yang tidak cukup ditulis hingga berjilid-jilid.
Jika aktivis Islam yang diberi ilmu oleh Allah Ta’ala memikirkan hari-hari itu, maka Dia memberi anugerah Rabbaniyah dan nilai-nilai iman, kepada hatinya. Lalu, hatinya sarat dengan keyakinan, tawakkal, taubat, kekhusyukan, ketundukan, kepasrahan, cinta, dan ikhlas karena Allah Ta’ala semata.
Aktivis Islam tidak hanya ingat hari-hari Allah Ta’ala yang sebagiannya telah saya sebutkan di atas, dijelaskan Al-Qur’an, buku-buku Sunnah, sirah, dan sejarah klasik. Ia juga harus ingat hari-hari Allah Ta’ala yang belum lama terjadi dan tidak boleh ia lupakan. Kadang, hari-hari Allah Ta’ala yang belum lama terjadi itu lebih besar pengaruhnya. Misalnya hari-hari Allah Ta’ala menghinakan Syamsu Badran, Shalah Nashr, Sya’rawi Jum’ah, dan Ali Shabri. Sungguh, Allah Ta’ala menghinakan mereka. Sebagian mereka dihinakan Allah Ta’ala pada zaman Gamal Abdun Nashir dan sebagian lain pada zaman Anwar Sadat. Mereka semua dulunya menghinakan dan menyiksa kaum Muslimin dengan beragam siksaan, terutama di Penjara Perang (di Mesir).
Di antara hari-hari Allah Ta’ala ialah hari terbunuhnya Anwar Sadat lengkap dengan perhiasannya oleh Khalid beserta rekan-rekannya.
Hari-hari Allah Ta’ala lainnya ialah hari-hari keruntuhan komunisme. Tidak hanya di Eropa Timur, tapi di seluruh dunia, termasuk Uni Sovyet sendiri. Tuhan tersebut (komunisme) yang telah disembah lebih dari separoh penduduk dunia itu runtuh. Orang-orang komunis tidak hanya menyembah patung komunisme saja. Mereka menolak agama dan eksistensi Allah. Runtuhnya patung komunisme dan Marxisme adalah salah satu bukti kebesaran Allah Ta’ala paling agung pada zaman ini dan salah satu hari-hari-Nya.
Hebatnya, keruntuhan komunisme secara serentak di Eropa Timur terjadi dalam tempo waktu tiga bulan! Mari kita renungkan usia imperalisme komunisme! Usianya tidak lebih dari tujuh puluh tahun. Selama berkuasa, rezim komunis memaksakan kehendak, memenjara, mengusir, dan menindas lawan-lawannya.
Anda harus tahu bahwa rezim komunis telah membunuh lebih dari dua puluh juta kaum Muslimin!
Akhi, aktivis Islam, bandingkan antara umur komunisme dengan umur Islam yang diperangi seluruh dunia tidak dilindungi satu negara pun! Bahkan, para pemeluknya mendapatkan beragam siksa di seluruh dunia. Kendati telah berusia empat belas abad, Islam tetap tegak dan kokoh.
Pikirkan bagaimana komunisme runtuh hanya karena melemahnya kekuatan negara komunisme dalam beberapa hari!
Sedang Islam, kendati dunia kompak memeranginya, tapi malah bertambah kuat dan mendapat pendukung. Allah Ta’ala berfirman,

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Ruum: 30).

Saya berdoa semoga Allah Ta’ala meruntuhkan dan melumatkan para penyembah salibisme, zionisme, sekulerisme, seluruh bentuk kekafiran dan syirik di atas permukaan bumi. Juga membersihkan bumi dari patung-patung itu, menyebarkan cahaya kebenaran dan sinar Islam. Itu semua tidak sulit bagi-Nya.
Hari-hari Allah Ta’ala sangat banyak. Ada hari-hari-Nya yang bersifat regional dan ada yang bersifat internasional, atau bahkan dalam skala pribadi, atau keluarga atau gerakan dakwah di salah satu negara. Yang penting, setiap aktivis Islam rajin ingat hari-hari itu dan mengkaji nilai-nilai iman yang terkandung di dalamnya. Barangkali, apa yang telah saya sebutkan itu cukup memadai.


Assalamu’alaikum wr.wb

Ikhwati fillah…..salah satu hikmah agung dari kisah Nabi Ibrahim adalah betapa besar cintanya pada Allah dan sebaliknya,pengakuan Allah betapa besarnya pula cinta Allah pada nabi Ibrahim.  Cinta yang bersambut inilah sesungguhnya harapan yang selalu menggema dalam setiap amal ibadah kita, selalu kita berharap semoga cinta kita yang tak bernilai ini dibalas dengan cinta pula oleh Allah swt.  Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku – yakni dalam tidurku – kemudian berfirman kepadaku, “Wahai Muhammad, katakanlah : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu.”

Semoga  sedikit tulisan ini bermanfaat untuk ikhwati fillah semuanya.

Wassamu’alaikum wr.wb

Muh Ihsanudin                                                                                                                          Ketua BPK DPW Kalsel

============================================

MENGGAPAI CINTA ALLAH

Dalam amal ubudiyah, cinta (mahabbah) menempati darjat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya bererti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.

Dalam buku “Mahabbatullah” Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahap-tahap menuju cinta Allah. Bahawasanya cinta sentiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu,dan di sanalah cinta Allah berlabuh.

Tahap-tahap menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:

1. Membaca al-Qur’an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidak lain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur’an agar difahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan “Membaca Al-Qur’an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia”.

2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardhu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, antaranya ialah: solat sunat, puasa-puasa sunat,sedekah sunat dan amalan-amalan sunat dalam Haji dan Umrah.

3. Melazimkankan zikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melalui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadar kecintaan seseorang terhadap Allah bergantung kepada kadar zikirnya kepadaNya. Zikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :”Aku bersama hambaKu,selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu”.

4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Mengutamakan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Ertinya ia rela mencintai Allah meskipun berisiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah darjat para Nabi, di atas itu darjat para Rasul dan di atasnya lagi darjat para rasul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah darjat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.

5.Kesinambungan musyahadah (menyaksikan) dan ma’rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesedaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma’rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma’rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af’al-af’al Allah dengan penyaksian dan kesedaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.

6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan menyampaikann kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan menghantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.

7. Ketundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu’. Hati yang khusyu’ tidak hanya dalam melakukan solat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan menyampaikan kepada cinta Allah yang hakiki.

8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Pada saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan solat malam agar mendapatkan cinta Allah.

9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.

Wallahua’lam.

 

 

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ikhwati fillah, sebagai upaya untuk terus mengokohkan kekuatan dan ruh tarbawi para kader serta terus membangun jalur komunikasi yang optimal, mulai bulan November ini ,BPK DPW   Kalsel mencoba memulai pengguliran ta’limat pekanan yang berisi berbagai macam informasi baik berupa taujih maupun info kegiatan baik dari struktur DPWmaupun DPD. Semoga upaya ini bisa menguatkan soliditas kita untuk terus istiqomah dalam da’wah yang sangat kita cintai ini.

Wassalaamu’alaikum wr.wb

M.Ihsanudin.                                                                                                                               ketua BPK

=====================================================================

Mengapa Harus Ada Pengorbanan

Ikhwati fillah…….

Bulan ini, Allah swt kembali mempertemukan kita dengan Momentum besar dalam kehidupan kita, momentum agung yang akan selalu abadi , momentum atas hakikat pengabdian dan pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya….Pengorbanan puncak Nabi Ibrahim atas perintah Allah untuk mengorbankan putra tercintanya…..

Ikhwati fillah…….

Dalam jiwa kita mungkin tcrsimpan satu pertanyaan; “Mengapa sungai sejarah kemanusian selalu harus dialiri oleh darah dan air mata? Mengapa kita harus selalu berkorban? Tidak bisakah Allah menjadikan hidup ini tenang , dimana manusia hanya menyembah-Nya, dimana manusia hanya punya satu agama, dimana manusia dimana manusia tidak berbeda dalam pikiran, jiwa dan watak, diumana dunia ini menjelma taman kehidupan yang indah?”

Allah mengetahui dengan baik bahwa setiap manusia menyimpan pertanyaan itu dalam batinnya. Sama seperti Allah juga mengetahui bahwa Ia bisa melakukan semua itu; Ia bisa membuat manusia hidup (damai dengan hanya satu agama, Tanpa pertentangan diantara mereka, tanpa konflik, tanpa darah dan air mata, dimana hanya ada kegembiraan, dimana hanya ada cinta, dimana hanya ada lagu-lagu kehidupan yang indah. Maka dengarlah Allah berfirman;

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja),..(QS:5: 48).

Begitulah akirnya Allah mempertemukan kita dengan hakikat ini; yaitu hakikat bahwa hidup sepenuhnya hanyalah ujian semata dari Allah, dan bahwa hanya ada satu kata kunci dalam setiap ujian; duri-duri di sepanjang jalan kehidupan ini harus dilalui dengan penuh pertanggungjawaban. Simaklah firmian Allah;

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS 67: 2,).
Tapi masih ada satu hakikat lain lagi yang membuat ujian kehidupan menjadi semakin berat dan rumit. Hakikat itu adalah ini; Allah ternyata tidak menurunkan Adam dan Hawa sendiri ke bumi. Allah menurunkan mereka berdua bersama Iblis yang akati menyesatkan Adam beserta segenap anak cucunya hingga hari kiamat dari jalan kebenaran. Selain Iblis yang ada di Iuar diri kita, di dalam diri kita sendiri juga terdapat unsur setan yang menjadi pusat pendorong kepada perbuatan jahat. Maka hakikat ini telah nienjadikan panorama kehidupan kita akan senantiasa dipenuhi konflik antara kebaikan dan kejahatan, antara kebenaran dan kebatilan, antara tentara Iblis dan tentara Allah. Di sini tidak ada pilihan untuk tidak memihak. Dan karenanya setiap orang pasti harus berkorban, sebab setiap orang pasti terlibat dalam pertarungan abadi ini. Kalau seseorang tidak berada dalam kubu kebenanan, pastilah dia berada dalam kubu kebatilan. Dan tidak ada kubu pertengahan.

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (‘Q.S: 2: 36)

Demikianlah kedua hakikat tersebut menjadikan pengorbanan sebagai keniscayaan hidup. Dan hanya ada satu hal yang kelak akan memutus siklus pengorbanan yang begitu melelalikan manusia ini; yaitu kematian! Ya. .hanya itu yang akan membebaskan kita dan pengorbanan.

Kalau pengorbanan telah melekat begitu kuat dalam tabiat kehidupan, maka begitulah pengorbanan menjadi wajah abadi bagi iman. Sebab Allah hendak memenangkan agama-Nya di muka bumi dengan usaha-usaha manusia yang maksimal. Marilah kita menyimak diaolog antara Saad Bin Abi Waqqas dengan Rasulullah saw berikut ini;

Dan Saad binAbi Waqqas; is berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah yang mendapat cobaan paling berat?” Rosulullah menjawab; “Para Nabi, lalu yang paling menyamai (kualitas) nabi. Dan seseorang akan diuji dengan sesuai dengan kemampuannya. Jika di dalam keagamaan terdapat kekuatan, maka cobaannya akan semankin keras. Dan Jika ada kelelamahan dalan agamannya, ia hanya akan diuji sesuai dengan kadar keagamaannya itu. Maka cobaan tidak akan pernah meninggalkan seorang hamba, hingga ia membiarkan hamba itu berjalan di muka bumi tanpa sedikitpun dosa.”HR Ibnu Najah dari Saad bin Abi Waqqas; sebagaian maknanya terdapat juga dalam shahih Bukhari dan Muslim)

Begitulah saudara-saudaraku, pengorbanan menjadi harga mati bagi iman; dimana geliat imanmu hanya akan terlihat pada sebanyak apa engkau berkorban, pada sebanyak apa engkau memberi, pada sebanyak engkau lelah, pada sebanyak apa engkau menangis; dan puncak dari segalanya adalah saat dimana engkau menyerahkan harta dan jiwamu sebagai persembahan total kepada Allah swt. Maka bertanyalah kepada diri sendiri; sudah berapa banyak yang engkau berikan? Sudah berapa banyak engkau meneteskan air mata?, Sudah berapa banyak engkau lelah?, Sudah berapa banyak?, Sudah berapa?, Sudah berapa banyak?

Begitulah saudara-saudaraku, pengorbanan menjadi harga mati bagi kemenangan. Setiap mimpi kemenangan dan kejayaan selalu diawali dengan kisah panjang pengorbanan. Maka Nabi lbrahim dinobatkan sebagai pemimpin umat manusia setelah Ia menyelesaikan kisah pengorbanannya yang begitu panjang dan begitu mengharubiru. Dan Rasulullah saw mencapai kemenangan akhirnya setelah melalui masa-masa pengorbanan yang penuh darah dan air mata.

Wallahua’lambishowab.

(dari berbagai sumber )



 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: